Saturday, September 20, 2008
Jodoh jilid 2

Dua tahun yang lalu aku menulis tentang jodoh. Di situ kubilang tadinya kukira istilah jodoh itu terjemahan dari soulmate. Ternyata bukan. Terjemahan soulmate adalah belahan jiwa, dan jodoh adalah belahan jiwa plus plus. Plus plus di sini adalah perkawinan. Kubilang waktu itu kukira aku sudah menemukan jodohku tapi ternyata belum. Aku sudah menemukan belahan jiwaku, tapi dia bukan jodohku karena dalam lingkup kultur Indonesia ada syarat lain - ikatan perkawinan. Karena itu waktu itu lalu kubilang aku tidak ingin mencari jodoh, aku sudah cukup bahagia dengan belahan jiwaku.

 

Bukan hal yang gampang karena keputusan itu jelas bertentangan dengan norma dan kultur sekitar. Sampai bosan kami mendengar pertanyaan, "Apa lagi sih yang kalian tunggu?"  Mau marah nggak sih, mendengar pertanyaan seperti itu dari orang-orang yang tidak mengerti persoalan yang kami hadapi. Seringkali untuk gampangnya aku pura-pura tidak punya pacar saja. Pura-pura jomblo, lebih gampang.

 

Tapi aku tidak bisa menipu teman-teman dekat, apalagi mereka tahu ada banyak masalah-masalah lain yang dulu kami hadapi, badai-badai yang membuat hubungan kami naik-turun dan putus-sambung, tapi akhirnya sudah kami selesaikan. Makanya kepada mereka kujelaskan masalah terakhir yang kami hadapi - alasan kenapa kami tidak bisa menikah juga. "Karena menurut Gereja Katolik dia masih menikah." Kepada teman-temanku yang melongo itu kujelaskan bahwa kekasihku pernah saling menerimakan sakramen perkawinan dengan seorang perempuan yang dulu dikasihinya. Mereka sudah bercerai secara hukum tapi di Gereja Katolik tidak ada istilah cerai, dan dia tidak bisa menikah lagi.

"Tapi kan ada annulment Nyil?"

"Kasusnya gak bisa di-nullify, gak ada alasan."

"Bikin-bikin gak bisa ya?"

"Gila lu, emangnya pengadilan kita, bisa dibikin-bikin. Ini Gereja bok. Lagian buat apa si bo'ong. Mo nyari berkah kok pake cara nggak bener. Ya sama aja gak dapet berkahlah."

"Lho lha kalian nikah sipil aja toh."

"Yeeee... kalo bisa begitu mah udah dari kemaren-kemaren bok. Di Indonesia tuh nggak ada nikah sipil, adanya pencatatan. Nikahnya musti tetap secara agama."

"Oh gitu. Ya wis nikah di greja lain aja Nyil, kayak Katon."

"Yah itu mah namanya cuman formalitas, memperalat gereja. Gak lah."

"Nunggu mantannya mati Nyil? Atau pake pembunuh bayaran aja."

"Hehehehe... iya ya. Udah pendosa ini, sekalian aja lebih berdosa lagi hihihi... Tapi males juga kan kalo ketangkep terus dipenjara."

"Iya, brarti lu ma dia kan berdosa banget Nyil, nurut Gereja Katolik. Uda kepikiran gitu?"

"Ya udah si. Ya berat si....... Gak tau gue mau bilang apa. Dosa mana ya klo gue njalanin ini sama klo gue jadi orang miserable."

"Ortulo bilang apa?"

"Ya sedih pastilah."

"Yah, susah dong. Lu ganti cowok aja Nyil."

"Gilalu, kalo mo ganti cowok mah dari dulu-dulu aja. Repot-repot gue jabanin bertahun-tahun mosok sekarang gue lepas. Gak bisa say, gue udeh cinta mati ama yang satu ini. Lu tau sendiri brapa kali gue pacaran, tunangan, putus-sambung. Yang ini yang paling bisa bertahan je."

"Kok lu yakin dia bakal setia ama lu. Istrinya aja dia tinggal."

"Ya gak tau juga sih. Tapi pertanyaannya bisa dibalik, kok dia yakin gue bakal setia ama dia. Udah brapa kali gue gak setia ama tunangan-tunangan gue dulu?"

"Iya ya, kok klean berdua bisa yakin gitu loh, yang ini yang terakhir."

 

Bagaimana pernah yakin? Tapi kupikir cinta kami saat ini cukup kuat, kami berdua bukan cuma kekasih tapi juga sahabat. Kami bisa saling menerima apa adanya, saling tahu kelemahan-kelemahan kami, dan tidak merasa perlu mengubah si pasangan. Karena dia yang bisa menenangkan gejolak-gejolak jiwaku, yang bisa membuat aku tidak ingin berpaling lagi. Karena aku merasa dia belahan jiwaku.

 

Waktu berlalu dan akhirnya semua menerima bahwa betul si bandel ini sudah menemukan belahan jiwanya. Mungkin orang tuaku juga sudah putus asa, karena umurku makin bertambah-tambah. Kata Bapakku waktu kekasihku menghadap dan melamarku, sebetulnya beliau tidak setuju karena menurut Gereja Katolik dia masih menikah. Tapi kalau memang cinta kami sedemikian besar, apa boleh buat. Dulu Yakub juga merebut berkah dan hak kesulungan dengan menipu dan berbuat curang, tapi dari keturunannya bisa lahir Sang Penyelamat. Siapa tahu walaupun perkawinan kami tidak sepenuhnya menurut 'jalan yang benar' suatu saat bisa membawa berkah. Yah Pak, paling tidak berkahnya adalah membuatku bahagia, kataku. Beliau cuma tersenyum sedih. Tapi lalu diambilnya kamera dan diberikan padaku lalu dimintanya kekasihku untuk berdiri diantaranya dan ibu. Ah, berarti beliau menerima kekasihku jadi bagian keluarga. Sambil memotret mereka sebetulnya air mataku hampir menitik, ah Bapak dan Ibuku yang baik hati itu.......

 

Begitulah akhir cerita masa pacaran kami yang penuh liku, maju mundur, putus sambung, yang hampir selalu dijalani berjauhan jarak, yang dibumbui dengan tubrukan antar budaya, yang dibebani dengan sisa-sisa masa lalu. Seperti dalam dongeng tadi pagi kami bergandengan tangan mengucap janji. Sayangnya memang tidak ada adegan berjalan di dalam gereja menuju ke altar. Janji saling setia  kami – dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, dalam susah dan senang, dalam kaya dan miskin - 'hanya' diucapkan di muka seorang petugas catatan sipil Singapura, dua orang dekat yang jadi saksi, dan di muka orang-orang yang kami cintai. Apakah ini hubungan yang tidak diberkati? Entahlah, mungkin memang tidak.Bisakah kami melangkah tanpa Berkat? Entah. Tapi yang jelas orang-orang yang kucintai ada di sini, menguatkan.

 

Di depan mereka dia memasangkan sebuah cincin di jari manis kiriku. Bukan seperti yang lalu yang bermata berlian, yang ini bundar polos. Katanya melambangkan ikatan yang tak terputuskan. Kupasangkan juga cincin yang serupa di jarinya. Semoga harapan itu tercapai - tak terputuskan sampai mati. Hari ini diriku terasa lengkap lagi. Jari manis kiri yang terasa kosong dan ringan semalam karena tidak lagi dilingkari cincin tunangan, sekarang sudah terasa normal lagi. Semoga, kalau memang benar dia jodohku, semoga belahan jiwaku ini akan menemaniku sepanjang hidup.

 



Posted at 08:46 pm by koeniel
Comments (14)  




Friday, September 19, 2008
Cincin

Sudah hampir setahun cincin bermata berlian ini melekat di jari manis kiriku. Walaupun kecil, kilaunya indah sekali, sehingga aku yang tidak terlalu bisa mengapresiasi perhiasanpun sering terpesona. Sesuai tradisi di kampungnya, kekasihku memberikan cincin ini sebagai tanda ikatan dan janji, bahwa kami akan melangkah bersama menuju ke tahap berikut. Tadinya aku sempat protes - kenapa kok cuma aku yang pakai cincin, aku yang 'diikat', mana tanda pengikat di jarimu? Tapi dia cuma tertawa dan berusaha menjelaskan bahwa di kampungnya memang begini tradisinya, bukan seperti tradisi tukar cincin di sini.

 

Waktu pertama menunjukkan cincin ini ke Bapak Ibu dulu aku berharap mereka akan tersenyum bahagia. Ternyata walaupun tersenyum kelihatan juga masih ada waswas di wajah mereka.

 

Memang wajar, karena ini bukan cincin pertama yang kubawa pulang. Sebetulnya ini cincin ketiga yang kubawa pulang dan kutunjukkan pada orang tuaku, bersama dengan lelaki-lelaki yang memberikannya. Gedubrak. Tiga kali tunangan? Hehehe... kedengarannya memang parah sekali ya. Tapi begitulah adanya jalan hidupku.

 

Cincin pertama biasa-biasa saja, murah, karena kami sama-sama tak berduit waktu itu. Cincin itu masih ada di kotak perhiasanku di Jakarta. Si lelaki yang memberikannya? Entahlah dia sudah pergi dari hidupku, semenjak aku menyakiti hatinya dan kemudian memutuskan hubungan kami. Jalan kami jarang bersimpangan dan aku hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Terakhir kudengar sih dia belum menikah juga. Rasa salahku padanya tak pernah bisa hilang.

 

Cincin kedua adalah sepasang cincin emas polos sederhana, yang saling kami pertukarkan sesuai tradisi di Indonesia. Kami memakainya di jari manis kiri kami, rencananya akan dipindah ke jari manis kanan di hari perkawinan. Tapi hari perkawinan itu tidak pernah terjadi. Sekali lagi bara-bara di dada membuatku lupa akan komitmen. Pengakuan berakhir pembalasan dendam. Hasilnya sebuah hubungan yang rusak yang tidak akan bisa dipaksa menjadi baik kembali. Maka kami berpisah dan sepasang cincin itu - yang kami namai Oin & Gloin terinspirasi buku-buku The Lord of the Rings favorit kami - terkubur dalam sepi di pinggiran gurun Mojave yang kering kerontang. Lelaki yang memberikannya? Kami masih berteman, walaupun rasanya belum saling memaafkan. Kabar masih sering terdengar, lewat dunia maya, tempat kami awalnya bertemu.

 

Cincin-cincinku dulu itu adalah saksi perjalananku menjadi dewasa. Perjalanan penuh badai dan carut-marut, pilihan-pilihan yang bobrok, seseorang yang ingin mencapai dan mencapai, tapi lupa pada orang-orang sekeliling. Lupa pada cinta dan sayang, janji dan kesetiaan. Sesorang yang gampang tergoda, senang bermain api dan karenanya sering terbakar.

 

Tapi kuharap cincinku yang sekarang ini bertengger di jemari seseorang yang sudah dewasa, kapal yang sudah capai berlayar dan siap berlabuh. Rasanya sih iya. Lelaki yang memasangkan cincin ini juga pernah punya cincin lain yang jadi saksi proses pendewasaan dirinya. Tapi rasanya kami sekarang sama-sama sudah dewasa. Sudah siap membuat komitmen yang lebih matang. Jiwa kami bukan lagi air bergelombang yang liar menumbuk-numbuk tebing. Jiwa kami sudah seperti air tenang di teluk sunyi.

 

Maka harapku besar sekali pada cincin ini. Semoga bisa bertahan. Tapi malam ini dia akan kulepas. Enggan sekali rasanya, tapi harus kulepas. Sekilas sebelum kotak kututup terlihat pendar kilaunya. Jariku terasa aneh, ringan dan terlihat kosong, ada yang kurang di situ.

 



Posted at 08:45 pm by koeniel
Comments (2)  




Thursday, September 18, 2008
Cinta jilid 5

Hari itu ulang tahun ibuku dan kebetulan aku ada di Jakarta. Kuundang kekasihku untuk datang. Saat bertemu ibu, diciumnya pipi ibu kiri kanan seperti adat kampungnya. Kulihat ibuku sedikit jengah lalu tertawa-tawa geli. Maklum ibuku perempuan Jawa yang agak kuno – tidak biasa dengan acara cipika cipiki dengan lelaki asing. Apalagi kekasihku brewokan, makanya ibuku merasa geli.

 

Tapi aku lumayan kagum juga dengan usaha ibu untuk menyesuaikan diri dan menerima kebiasaan-kebiasaan ‘aneh’ dari kekasihku, dan berusaha menerimanya sebagai bagian dari keluarga. Aku sampai terharu. Misalnya tentang anjing kesayangan kami, Chocolate. Buat ibuku, anjing bukan bagian dari keluarga. Anjingku dulu tidur di luar, tidak di rumah. Oleh ibu, Nero dulu dirawat dengan baik, tapi tidak disayangi, hanya ditolerir. Lain sekali dengan Chocolate yang sudah kami anggap seperti anak, kami gendong-gendong, sayang-sayang dan kami cium-cium. Buat ibuku tentu saja itu kebiasaan aneh yang susah diterima. “Tinggalnya di dalam rumah?” Tanyanya suatu ketika. “Iya mam, malah sering dibawa tidur ma dia.” Beliau kelihatan kaget dan tidak setuju. Tapi waktu Chocolate dibawa datang lalu dia kupeluk-peluk dan kubiarkan menjilatiku, Ibu kelihatan menunjukkan toleransinya. Beliau, walau dengan sedikit takut-takut, berusaha mengelus kepala Chocolate. Dan dibiarkannya Chocolate bermain di dalam rumah. Adikku saja lumayan kaget mendengarnya, “Serius mbak, bawa Chocolate ke rumah? Dan Ibu gak papa?”

 

Pada hari Paska kekasihku mengirimkan sms ucapan selamat Paska, lalu sembari bercanda bertanya kapan ibu akan memasak rawon atau rendang lagi. Memang kekasihku suka makanan Indonesia dan rendang serta rawon buatan ibu adalah favoritnya. Lama tidak ada jawaban, lalu wajahnya jadi kuatir. “Menurutmu bapak-ibumu akan menjawab smsku atau tidak? Apa bahasaku kurang sopan ya?” Kukatakan bahwa dia tidak perlu kuatir. Bapak-ibu tidak selalu memegang telepon mereka. Betul, beberapa jam kemudian ada jawaban, bapak menyatakan terimakasih, dan kalau kekasihku ingin rendang atau rawon dia bisa kirim sms, ibu bakal memasakkan makanan itu untuknya dan dia boleh datang ke rumah untuk mengambilnya. Wajah kekasihku langsung bersinar-sinar dan dia berjingkrak-jingkrak. Lucu juga melihat orang dewasa bertingkah begitu. Kekasihku lumayan jauh lebih tua dariku, 8 tahun, tapi saat itu dia kelihatan seperti anak-anak. “Lihat nih, rasanya aku sudah dianggap bagian dari keluargamu ya? Mereka sayang aku juga ya?” Katanya sembari penuh harap. Dia ingin jadi bagian keluargaku, katanya, dan ingin dianggap anak juga oleh ibu dan bapakku.

 

Suatu saat aku sedang mengobrol dengan Ibu di belakang. Sementara kekasihku mengobrol dengan Bapak di teras depan. Tetangga banyak bergerombol di depan pagar. Memang selalu begitu, kekasihku dan Chocolate selalu jadi tontonan tetangga. “Hah? Si oomnya doyan krupuk?” “Yeee, orang dia rendang aja doyan kok, bude tuh yang bilang.”  “Ya ampun, itu anjingnya makan wortel. Emang anjing makan wortel mak, bukannya anjing makannya daging ya?” “Eh itu anjing  masih kecil apa udah gede sih, kok badannya pendek banget gitu.” Kami jadi sudah biasa. Kekasihku juga cuek saja dijadikan tontonan begitu. Dia tetap mengobrol dengan Bapak.

 

Kata kekasihku tadinya mereka mengobrol biasa tentang hal-hal umum, tapi lalu tiba-tiba Bapak bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan anakku?” Wah kekasihku langsung bingung, apa maksudnya ya, apakah ini sebuah tes lagi, seperti waktu pertama dulu? Lalu dijawabnya hati-hati, “Kami baik-baik saja. Apa Bapak kuatir?” Jawab Bapak, “Yah, saya tahu sendiri betapa keras kepalanya anak itu. Bukan hal yang gampang dihadapi.” Kekasihku lalu menjawab, “Ah ya tapi kami saling mengerti kok. Saya biasanya switch myself off kalau dia mulai begitu.” Bapak kelihatan lega, “Oh begitu. Baguslah. Kamu harus sabar ya menghadapi dia.”

 

Rupanya Bapak masih kuatir tentangku. Apa aku selama ini memang sangat sulit dihadapi ya? Apa ini yang membuat hubungan-hubunganku dulu selalu gagal? Sambil berpikir begitu kuperhatikan kekasihku, mau bertanya padanya apa aku ini betul-betul parah. Tapi dia malah sedang tersenyum-senyum sendiri. Ternyata dia bangga dan bahagia sekali Bapak curhat padanya. Bolak-balik dipamerkannya kotak-kotak makanan yang dibawakan ibu untuknya. Kali ini cuma sayur gori (nangka), tempe goreng dan krupuk. Tapi dia senang sekali.

 

Setelah itu malah beberapa kali kekasihku pergi dengan Bapak dan Ibu tanpa aku, entah menengok rumah yang baru dibangun, entah mengajak mereka makan siang di restoran. Dia tetap tidak bisa bahasa Indonesia (memang tidak berbakat belajar bahasa, guru bahasa Indonesianya pun mengeluh) dan ibuku tetap tidak bisa bahasa Inggris. Tapi mereka lumayan akrab, entah bagaimana caranya berkomunikasi. Malah pernah dia pamer, bahwa ibuku sekarang sudah tidak jengah lagi saat dicium pipi brewokannya.

 

Suatu saat ibuku terpaksa dilarikan oleh tetangga ke rumah sakit, padahal tidak ada siapa-siapa lagi di rumah – Bapak di kantor, tidak bisa dihubungi, aku jauh di Singapura, adik perempuanku di Lembata di ujung timur sana dan adik lelakiku di Bandung. Begitu mendengar kabar itu kekasihku langsung pamit dari kantor dan menuju rumah sakit. Di situ dia duduk di samping tempat tidur ibu selama dua jam dalam diam, tidak bisa berkomunikasi karena keterbatasan bahasa, sampai akhirnya Bapak datang. “Ndak bosen Yang?” “Yah, aku kasihan sama ibumu,” jawabnya.

 

Aku jadi terharu karena orang-orang yang kucintai ini saling berusaha mendekatkan diri. Apa ini demi aku ya? Berarti mereka memang betul-betul sayang padaku.

 

 

 

 


Posted at 08:44 pm by koeniel
Comments (2)  




Wednesday, September 17, 2008
Cinta jilid 4

Ibuku perempuan Jawa, seperti yang sudah sering kuceritakan. Bukan berarti beliau perempuan yang selalu nrimo. Ibuku cukup keras juga. Beliau bisa marah dan menusuk dengan kata-kata. Apalagi akhir-akhir ini beliau sering setres. Kami semua tau sebabnya. Ibu ingin kami, anak-anaknya, mendapatkan pasangan seperti yang diimpikannya – Katolik, berpendidikan, punya karir, Jawa. Katanya bibit, bebet, bobot itu penting, supaya kami bahagia.

 

Tapi kami besar di jaman yang berbeda dengan Ibu. Lagipula Bapak membesarkan kami dengan pandangannya yang modern dan sedikit liberal. Seperti yang digambarkan Kahlil Gibran, Bapak menganggap kami anak-anak panah. Dibiarkannya kami terbang setelah lepas dari busurnya. Jadilah kami punya pandangan dan prinsip-prinsip yang kadang berbeda dengan mereka. Bahagia menurut kami bisa dicapai tidak dengan standar dan jalur yang digelar Ibu.

 

Entah apa Ibuku menyesali gaya mereka mendidik kami. Karena berkali-kali kami pulang membawa pasangan-pasangan yang bukan seperti yang seideal Ibu harapkan. Ada yang diterimanya dengan senyum, ada yang diterima dengan pandangan dingin. Kebanyakan akhirnya bisa meluluhkan Ibu. Waktu aku putus dengan pacarku yang pertama, Ibu yang menangis lama dan seperti patah hati berbulan-bulan. Hal yang sama terjadi terhadap pacar-pacar adikku perempuan. Bahkan setelah mereka berpisah dengan adikku, mereka masih senang menelepon Ibu. Tapi ada juga yang sampai sekarang masih tetap menerima pandangan dingin beliau. Tidak ada restu di situ.

 

Waktu kubawa kekasihku ini ke hadapan Bapak-Ibu untuk pertama kalinya, aku bukannya tidak takut. Aku mengharapkan restu Bapak-Ibu, tapi tidak yakin bakal mendapatkannya. Aku takut Ibu bakal memberikan pandangan dinginnya pada kekasihku. Waktu kekasihku datang, hanya Bapak yang menemui. Ibuku menghilang di dapur. Aku jadi makin takut. Bapak bisa diajak berbicara dengan kepala dingin, dan aku yakin beliau akan bisa mengerti. Tapi Ibu selalu bicara dengan hati, tidak mudah dihadapi.

 

Supaya ibu mau menerima, sebelumnya sudah kuceritakan pada Ibu apa yang kuceritakan pada Bapak, tentang kekasihku. Malah kuceritakan juga hal-hal lain yang tidak kubilang pada Bapak - seperti bahwa dia pernah menggendongku kemana-mana ketika aku lumpuh, dia pernah terlumuri muntahku dan mencretku. Lelaki mana lagi yang bisa kubegitukan tapi lalu masih menganggapku putri raja yang saat kentutpun tidak bau. Aku katakan pada Ibu aku tau kekasihku bukan calon menantu ideal, tapi aku berharap Ibu mau menerimanya karena aku mencintainya.

 

Tapi ternyata sebetulnya aku tidak perlu bercerita apa-apa. Ibuku sudah percaya kami saling mencintai. Sebegitu mudah? Ataukah beliau sudah putus asa dan menerima siapapun si lelaki, asalkan putrinya ini segera menikah? Kata Bapak tidak begitu. Kata Bapak Ibu sudah menerima kekasihku walaupun dia tidak ideal. Entah kenapa, Ibu tidak pernah menjelaskan. Mungkin beliau cuma merasa kekasihku bisa diandalkan dan bakal bisa membahagiakanku.

 

Yang jelas Ibu saat itu menghilang ke dapur bukan karena enggan berjumpa dengan kekasihku. Ibuku hanya bisa bahasa Jawa dan Indonesia, dan beliau mungkin sudah menyerahkan tugas mewawancarai kekasihku pada Bapak. Beliau lalu menghilang  ke dapur untuk memasak. Begitu kami selesai bicara, Ibu sudah siap dengan masakannya yang sedap. Beliau tahu kekasihku suka sekali masakan buatannya karena aku sudah bercerita bahwa aku dan kekasihku suka berebut makanan yang dibungkuskan Ibu untuk aku. Lalu sejak saat itu Ibu tidak pernah cuma membuat satu bungkusan makanan, tapi dua - satu untukku dan satu untuk kekasihku.

 

 


Posted at 08:43 pm by koeniel
Make a comment  




Tuesday, September 16, 2008
Cinta jilid 3

Waktu kubawa kekasihku pada Bapakku beliau menarik nafas panjang. Lalu diterjangnya kekasihku dengan segala macam pertanyaan yang langsung, tegas. Apa niatmu  terhadap anakku. Siapa kamu, bagaimana latar belakangmu dan berbagai pertanyaan lain yang sebetulnya beliau sudah tau jawabannya. Belakangan beliau minta maaf, katanya beliau tidak ingin kasar, mungkin masalah keterbatasan berbahasa. Pada intinya Bapak tidak ingin menyakiti atau menakuti, beliau hanya ingin memastikan aku akan bahagia.

 

Kutanya kekasihku apa dia tersinggung. Dia tertawa. Tidak, katanya. Hanya kaget. Menurut kursus 'budaya Indonesia' yang pernah diikutinya, orang Jawa kalau berbicara berputar-putar. Seperti Pak Tarjo, supirnya yang tidak pernah bisa bilang ya atau tidak sehingga kami selalu harus menebak-nebak apa dia sebetulnya sedang berkata 'ya' atau malah sedang berusaha menyampaikan 'tidak' dengan jawabannya yang panjang-panjang itu. Tapi Bapakku betul-betul menembaknya dengan langsung, lurus, tegas, tepat, tanpa tedeng aling-aling. Tidak tipikal Jawa. Tapi kekasihku merasa itu lebih baik, lebih mudah dihadapi.

 

Lagipula dia kagum sekali pada usaha Bapak melindungiku. Dia pikir Bapak pasti mencintaiku betul-betul sehingga beliau juga mau memastikan kekasihku juga mencintaiku dan bakal bisa membahagiakanku. Menurutnya dia bisa banyak belajar dari Bapak. Lalu dia tertawa dan berkata sudah untung dia cuma ditembaki dengan pertanyaan, bukan dilempar dengan tombak. Memang Bapak punya sebuah tombak tua, yang sering jadi bahan guyonan kami - bahwa kalau dia tidak segera melamarku, Bapak akan melemparinya dengan tombak itu. Tapi hari itu tombak yang biasanya ada di ruang tamu tidak ada lagi di situ. Ternyata tombak itu ada di kamarku. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri, apa ya maksud Bapakku :)

 

Beberapa hari kemudian sebelum aku kembali ke Singapura Bapak memanggilku, lalu bertanya, apa aku yakin kekasihku benar-benar mencintaiku, apakah aku benar-benar mencintainya, apa aku bakal bahagia bersamanya dan apa aku sudah siap dengan segala halangan dan kesulitan.

 

Kujelaskan bahwa aku yakin benar-benar mencintai yang satu ini karena kami sudah melewati banyak badai bersama, dan nyatanya bukan makin berkurang, rasa itu semakin dalam. "Kayak di lagu-lagu pop itu loh pak," kataku cengengesan. Tapi Bapak tidak ikut tertawa.

 

Maka kulanjutkan lagi dengan serius. Aku tahu dia mencintaiku karena dikejarnya aku kemana-mana. Ditinggalkannya karir dan kehidupannya di tempat kami dulu pertama bertemu, di Pakistan, lalu dicarinya pekerjaan di Indonesia, supaya dekat denganku. Waktu aku 'lari' ke Singapura, dicarinya alasan-alasan supaya sering bisa berkunjung ke sana. Aku tahu dia mencintai aku karena dia mendukung ambisi-ambisiku, karena dia membiarkanku berkembang. Dia membiarkan aku terbang dan berlayar, dan karenanya aku selalu ingin kembali padanya.

 

Aku tahu kami saling mencintai karena kami sudah saling tahu kelemahan masing-masing, tapi tidak ingin saling merubah. Dengan pacar-pacarku yang dulu beda sekali - banyak hal yang tidak kusenangi di diri mereka yang ingin kuubah, begitu sebaliknya dengan mereka. Dengan yang satu ini ada juga hal-hal yang tidak kusenangi, tapi kuterima dia apa adanya dengan segala kebiasaan-kebiasaannya. Demikian sebaliknya. Dengan pacar-pacarku dulu juga seringkali aku mendahulukan ambisi dan keinginanku. Tapi tidak dengan yang ini. Rasanya hubungan kami lebih 'laid back', tidak ambisius. Dan dalam banyak hal kami klop, komunikasi lancar. Kami tidak saling menyimpan rahasia, tidak ada saling jaim dan jaga gengsi. Kami saling curhat. Kami kekasih sekaligus sahabat. Bukan berarti kami tidak pernah berantem.Tapi persoalan selalu bisa selesai dengan komunikasi.

 

Bapak bertanya, bagaimana dengan hubungan kami yang sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya dijalani dengan jarak jauh. Apakah aku tidak pernah kuatir dia tidak setia dan apakah aku tidak akan tergoda (eh, Bapak memang betul-betul mengenali aku dan masa laluku). Kujawab bahwa aku sekarang sudah jauh lebih dewasa dari dulu, tidak lagi suka mencari 'thrill' tapi sudah merasa ingin mapan. Lalu orang sering kuatir karena Jakarta tempat penuh godaan terutama buat lelaki-lelaki asing seperti kekasihku. Tapi aku percaya padanya. Kami selalu berhubungan lewat telepon, email dan instant messenger. Hampir setiap saat kami selalu berkomunikasi. Lalu dia juga cinta sekali pada kedua anjing kami Chocolate dan Coffee. Dia selalu memilih untuk pulang dan bermain dengan mereka ketimbang pergi ke bar. Dan yang penting di antara kami ada rasa saling percaya.

 

Lalu Bapak bertanya lagi, bagaimana dengan masa lalunya dan apakah aku sudah siap menghadapinya. Kuakui ini memang termasuk masalah paling berat yang kuhadapi, tapi ini sudah pernah kuhadapi berkali-kali dan selama ini bisa lewat. Bukan hal yang gampang, tapi rasanya masalah-masalah itu melatih aku jadi lebih dewasa, tidak seegois dulu, melatihku jadi lebih rendah hati, lebih bisa mengalah.

 

Dan itu semua bisa kulewati juga lagi-lagi karena aku sudah menerima dia apa adanya. Tidak ada ambisi atau tuntutan besar yang kuberikan padanya. Kuterima dia dengan segala beban yang dipanggulnya. Lagipula aku juga punya masa lalu yang harus diterimanya. Setan besar bernama cemburu bukan tidak pernah mampir. Tapi untungnya kami sudah dewasa sekarang, sudah bisa mengendalikan diri dengan baik. Aku percaya padanya dan dia percaya padaku.

 

Bapak bertanya apa aku sudah siap menghadapi kesulitan perkawinan antar bangsa. Kujawab sudah. Kukatakan kesulitan bukan akan datang dari kami, karena aku sudah biasa hidup di tengah budaya-budaya barat dan dia sudah biasa hidup di tengah budaya-budaya timur.

 

Kesulitan selama ini datang dan masih akan terus datang dari lingkungan, yang masih belum terbiasa dengan pasangan antar bangsa. Misalnya, aku sering sekali menerima tatapan atau komentar yang merendahkan karena mereka mengira aku ini perempuan nakal yang mencari uang dengan menghibur orang asing hanya karena kami berjalan bergandengan tangan. "Itulah, salah satu hal yang membuat Bapak kuatir," kata Bapakku. Kujawab bahwa apapun yang kita lakukan selalu akan ada orang yang berpandangan berbeda dengan kita. Kalau setiap kali kita harus menuruti apa kata semua orang kita akan mandeg. Kukatakan kami memilih untuk cuek dengan pandangan stereotip orang lain. Memang susah dan sering menyakitkan, tapi ya biarlah orang lain tenggelam dalam kebodohan mereka, begitu kujawab.

 

Lalu Bapak mengeluarkan sebuah buku besar bersampul kuning. Ternyata isinya panduan dan segala macam informasi mengenai perkawinan antar bangsa, yang dikeluarkan sebuah organisasi bernama Srikandi, kumpulan perempuan-perempuan yang menikah dengan lelaki-lelaki bangsa lain.  "Lho, Bapak dapet dari mana nih?" Ternyata begitu mendengar aku dan kekasihku akan serius Bapak lalu sibuk mencari-cari informasi. Beliau bahkan menghubungi seorang pengurus Srikandi dan bertandang ke rumahnya untuk mengobrol dan bertanya-tanya tentang kesulitan-kesulitan perkawinan antar bangsa.

 

Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa. Waktu kuceritakan pada kekasihku tentang apa yang dilakukan Bapak, dia terpana. Waktu bertemu Bapak lagi dia bilang pada Bapak bahwa dia begitu mencintai aku, sebesar cinta Bapak padaku. Dan dia bilang bahwa dia tidak akan kalah berusaha melindungiku. Seperti Bapak.

 


Posted at 08:41 pm by koeniel
Comment (1)  




Monday, September 15, 2008
Cinta jilid 2

Cincin berlian mungil di jari manis kiriku ini tidak diberikan dalam suasana romantis seperti di film-film. Tidak ada cowok tiba-tiba berlutut di depanku lalu membuka kotak kecil berisi cincin sembari menanyakan apa aku mau menikah dengannya. Juga tidak ada candle light dinner, bunga mawar, perjalanan romantis, malam berbintang, kunjungan kejutan atau pernyataan cinta bertubi-tubi. Tapi cincin ini diberikan dengan cinta. Itu aku yakin.

 

Cincin ini diberikan padaku saat diam-diam ada badai yang mencoba muncul di keluargaku tahun lalu. Saat aku kuatir betul akan adik-adikku, yang keputusan-keputusannya, sama sepertiku mungkin, kontroversial kalau dihadapkan dengan nilai-nilai tradisional Bapak dan Ibu. Aku jadi kuatir sekali akan Bapak-Ibuku. Ibuku sudah beberapa waktu emosinya naik turun. Kalau sedang kambuh beliau bisa marah-marah tidak keruan, atau menangis sendirian dan berbicara yang tidak-tidak. Aku tahu Ibu ingin sekali aku segera menikah. Tapi ibu juga susah sekali memikirkan adik-adikku, ingin mereka mendapatkan pasangan yang ideal menurutnya. Padahal pasangan-pasangan adik-adikku sama sekali bukan standard ideal Ibu. Setelah mendengar pengakuan adik-adikku aku jadi pusing. Aku tahu ini bakal membuat keadaan Ibu lebih parah. Aku jadi setres, sering melamun dan tidak bisa tidur bermalam-malam.

 

Lalu lelaki belahan jiwaku itu datang dan membawaku ke toko perhiasan. "Aku tidak tau apa-apa tentang perhiasan perempuan," katanya. "Jadi tolong pilih sendiri cincin pertunangan kita."  Ha? Padahal saat itu kami masih belum tau kapan akan melangkah ke tahap berikutnya dalam hubungan kami. Aku sendiri waktu itu belum yakin apakah kami akan melangkah lebih jauh, atau bagaimana, dengan segala halangan yang ada. Lagipula sebelum-sebelumnya dia begitu tidak senang dengan tekanan sosial yang datang dari kanan-kiri memaksa kami menikah di saat kami belum siap.

 

Tapi dia tau dengan memberikan cincin ini padaku, sebagai tanda keseriusannya, dia bisa sedikit menghibur Bapak-Ibuku yang begitu kuatir akan anak-anaknya. Setidaknya kalau kami berdua terlihat serius dan siap melangkah lebih jauh, beban Bapak-Ibu sedikit terkurangi.

 

Sebetulnya dia tidak perlu melakukan itu semua. Tapi katanya dia mau jadi bagian dari keluargaku, walaupun keluargaku cukup eksentrik dan sedikit dysfunctional seperti The Addams Family. Makanya aku yakin, walaupun tidak diberikan dalam suasana romantis seperti di film-film, cincin berlian mungil di jari manis kiriku ini diberikan dengan penuh cinta.  

 

 


Posted at 08:40 pm by koeniel
Make a comment  




Tuesday, June 10, 2008
Tidak Gaptek

 

Hari ini saya sedang sial. Eh, bisa dilihat sial bisa dilihat untung sih. Ceritanya begini. Saya dan seorang kolega mendadak diminta ke Jakarta oleh seorang klien untuk mengevaluasi secara teknis dan ekonomis sebuah aset minyak dan gas yang mau mereka beli. Ternyata sesampainya di Jakarta kami baru tahu bahwa si pemilik aset merasa belum siap membuka data-datanya. Akibatnya kami jadi setengah menganggur. Loh kok bisa urusan jutaan dolar begini tidak terorganisasinya. Ya bisa saja. Sekarang ini di Indonesia banyak “pemain baru”, kelompok-kelompok yang punya duit lebih yang kepingin ikut menikmati rejeki emas hitam alias minyak yang harganya menjulang tinggi ini, seringkali tanpa punya gambaran jelas bagaimana bisnis minyak, terutama dari sisi teknis, dijalankan.

 

Dari satu sisi ini untung karena saya jadi bisa berada di Jakarta gratis, bertemu dengan keluarga, makan makanan Indonesia yang enak-enak dan seterusnya, tanpa harus bekerja terlalu keras. Di sisi lain sial karena saya hari ini jadi terkatung-katung tidak punya kantor atau tempat untuk bekerja, padahal proyek-proyek lain masih banyak yang harus dikerjakan juga.

 

Akhirnya yang saya lakukan adalah membuka ‘kantor’ di sudut sebuah jaringan warung kopi internasional. Di sini saya membuka laptop, menyambungkan modem yang berisi sebuah sim card yang bisa menghubungkan komputer saya dengan jaringan 3.5G, dan mulailah saya berhubungan dengan kolega-kolega di kantor. Sesekali imil dan telepon berdering. Dan pekerjaan pun bisa dilaksanakan dengan lancar tanpa saya harus duduk di kantor saya, dan saya bisa bekerja sembari menyeruput minuman dan mengunyah penganan yang enak tapi berkalori tinggi. Dan ah ya, saya bisa ‘beristirahat’ sewaktu-waktu dari bekerja untuk mengisi blog saya seperti ini (oke, oke, ini namanya korupsi waktu kerja, tapi saya toh tidak akan mengklaim waktu setengah jam yang saya buang untuk kegiatan personal ini sebagai waktu kerja – ini namanya bekerja dengan flexible hour hehehe...)

 

Dari dulu saya memang penggemar teknologi. Bagaimana tidak, sebagian besar masa pacaran, dari dulu hingga sekarang, hampir selalu saya jalani dengan jarak jauh. Makanya teknologi tinggi jadi penting. Mulai dari sekedar telepon, sms, imil, chatting. Di tas laptop saya selalu ada web camera kecil, yang bisa kami pakai untuk saling memandang kalau kangen.

 

Kolega saya sering terkesima kalau melihat berbagai gadget dan pernak-pernik elektrik yang ada di tas komputer saya. Mereka pikir saya ini canggih sekali. Padahal tidak juga, banyak istilah-istilah aneh yang sering dipakai anak-anak muda jaman sekarang, atau teman-teman IT yang saya tidak mengerti. Tapi teknologi yang penting dipakai untuk berkomunikasi jarak jauh selalu saya coba ikuti. Supaya komunikasi dengan kekasih saya tetap lancar, saya memang tidak boleh terlalu gaptek. Efek sampingnya ya begini ini, saya bisa buka kantor di mana saja tanpa kesulitan, tidak seperti kolega lain yang harus memanfaatkan fasilitas business centre di hotel.

 

Eh, tapi hari ini saya tidak perlu memakai teknologi tinggi buat memandang wajah kekasih saya. Bisa langsung!

 

Jakarta, 10 Juni 2008

 

 


Posted at 12:21 pm by koeniel
Comments (3)  




Tuesday, May 06, 2008
Muka Jawa jilid 1

 

Ini sebenarnya tulisan tentang stereotyping. Apa ya bahasa Indonesianya tepatnya? Beberapa kamus mengindonesiakannya sebagai klise, tapi rasanya belum tepat. Yang jelas saya mau bercerita tentang bagaimana kita suka menilai orang hanya berdasarkan penampilannya. Padahal penilaian itu belum tentu benar.

 

Muka saya ini sering dibilang secara bercanda oleh teman-teman dekat sebagai muka yang "eksotis" atau "klasik". Secara gampang bisa dibilang saya ini punya muka khas Jawa. Bukan Jawa yang aristokratik walaupun saya juga konon kata Mbah punya gelar aristokrat yang dibuktikan dengan surat asal-usul yang resmi ditandatangani oleh pejabat kraton Solo, tapi Jawa yang rakyat biasa. Coklat gelap, bulat, dengan tulang pipi rendah dan pipi yang tembam. Lalu kalau dilihat dari samping hampir rata, kerna hidung saya pesek. Masih ingat seleb Srimulat jaman dulu, Yati Pesek? Bisalah kami dibilang bersaudara kalau hanya melihat hidung. Badan saya juga khas Jawa, dengan torso pendek dan semlohai, tidak langsing tipis tinggi seperti perempuan-perempuan cantik modern yang sering terlihat di televisi atau majalah, yang seperti setengah Kaukasian. Makanya saya tidak pernah merasa pantas memakai tank top, kerna badan saya kelihatan lebih pantas berbalut kebaya seperti mbakyu penjual jamu langganan ibu di Jakarta yang seksi moleg dan semok itu. Pokoknya penampilan fisik saya memang bisa dibilang "ndeso" atau "kampung", kalau standar penampilan "modern" dan "kota" itu seperti yang banyak menghiasi majalah-majalah perempuan.

 

Rupanya muka dan penampilan Jawa ndeso pada seorang perempuan muda ini melahirkan stereotyping tertentu. Misalnya di lapangan terbang. Walaupun saya ini geologiwati dengan gelar S2 dari universitas luar negeri, yang bekerja sebagai konsultan di luar negeri dengan gaji setara dengan geologiwan produk luaran, tetap saja saya sering dicegat di pintu keluar Cengkareng, lalu dengan kasar diminta menunjukkan paspor. Rupanya saya dikira TKI yang bekerja sebagai pembantu di negara asing. Sering saya pulang ke Jakarta dari Singapura Jumat malam langsung dari kantor, masih berbaju resmi dengan blazer dan sepatu tinggi, pokoknya seperti pekerja kantoran deh, tapi tetap saja dicegat lalu dimintai paspor dengan kasar. Dikira pura-pura menyamar dengan pakaian kantor padahal bekerja sebagai pembantu.

 

Kalimat terakhir di atas itu bukan interpretasi saya lho. Itu betul kata-kata petugas perempuan yang minggu lalu dengan kasar membentak saya karena saya malas mengeluarkan paspor dari dalam tas dan bertanya mengapa saya harus menunjukkan paspor sedang orang lain tidak.

 

Sebetulnya bukannya saya tidak mau dikira pembantu. Toh jadi pembantu juga pekerjaan terhormat. Apalah bedanya seorang pembantu atau seorang perawat atau seorang dokter atau sekretaris atau insinyur atau geologiwan? Semua pekerjaan yang kalau dilakoni dengan profesional dan jujur ya pekerjaan yang terhormat. Dikira TKI ya juga tidak apa-apa, lha wong memang saya ini TKI kok, karena saya ini orang Indonesia yang bekerja di luar negeri.

 

Yang menyebalkan itu karena perlakuan kasarnya. Entah kenapa para petugas ini kalau menghadapi kekasih saya yang berkulit putih Eropah, atau rekan saya yang berwajah Tionghoa, dan ibu-ibu bersanggul tinggi khas pejabat bisa berlaku sopan. Tapi kalau menghadapi TKI atau orang yang dikira TKI seperti saya dan beberapa teman perempuan muda lain yang berwajah "kampung" lalu berubah perilakunya menjadi arogan dan seringkali kasar pula.  Apa mereka merasa kedudukan dan jabatan mereka lebih tinggi dari "sekedar" pembantu, sehingga merasa jumawa dan layak memandang rendah?

 

Yang saya pertanyakan juga kenapa para TKI ini harus diperlakukan beda saat mau keluar dari bandara? Sebetulnya apa beda saya, yang juga pekerja migran, dengan mereka, sehingga setelah para petugas tahu saya bukan TKI saya bisa keluar lewat jalur biasa, sedangkan mereka harus keluar lewat jalur khusus? Banyak berita soal mereka diperas sana-sini, apakah di "jalur khusus" itu mereka diperas dan dimintai uang ini itu? Sedangkan mereka tidak berani melakukan hal yang sama terhadap saya!

 

Lalu yang terakhir, saya pikir para petugas di bandara yang kerjanya menyortir TKI dan non TKI ini sepertinya masih bermental inlander. Sepertinya kok pada pikiran mereka perempuan muda yang berwajah ndeso hanya bisa jadi pembantu. Sekali lagi bukan bermaksud merendahkan profesi pembantu loh. Saya hanya mau mempertanyakan mengapa mereka tidak bisa membayangkan perempuan-perempuan semodel ini juga bisa jadi pekerja migran terdidik, bisa bekerja di luar negeri dengan profesi lain selain pembantu?

 

(Wah, susah betul menulis tentang hal ini. Saya tidak ingin dibilang arogan atau merendahkan profesi pembantu, seperti berkali-kali saya tegaskan. Tapi susahnya, kalau di dalam masyarakat kita pembedaan itu ada, susah sekali untuk tidak terjebak ke dalam sistem pengkelas-kelasan ini.)

 

Tapi sudahlah, yang penting dipertanyakan sebetulnya, kenapa sih perlu ada semacam pengkastaan, sehingga pekerja migran semacam para mbak-mbak TKW ini perlu diperlakukan berbeda dengan pekerja migran lain semacam saya?

 

Singapura, 6 Mei 2008

 


Posted at 04:26 pm by koeniel
Comments (8)  




Wednesday, April 23, 2008
Untuk Gaia jilid 1

 

Pas betul. hari ini hari Bumi dan tadi pagi hujan deras sekali. Seperti Ibu Gaia menangis mengingatkan kita bahwa manusia sudah terlalu banyak merusak bumi atas nama pembangunan, kesejahteraan, kemajuan ekonomi dan sebagainya. Rakus. Tapi sudahlah, sudah banyak toh yang pastinya akan berbicara tentang ini, yang penting dilakukan hari ini adalah mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih bisa dilakukan untuk gantian memberi kepada Gaia, jangan cuma mengambil saja.

 

Beberapa hari yang lalu seorang rekan kerja, Sidsel perempuan muda asal Denmark yang idealis sekali, datang lalu menjogrokkan pantatnya ke kursi di seberang meja kerja saya. Dia bilang dia merasa dia sudah mengkhianati prinsip hidupnya dengan bekerja di dunia minyak. "Harusnya aku bukan jadi petroleum geologist tapi jadi volcanologist saja," katanya. Setelah dia selesai berkeluh kesah panjang lebar saya bilang bahwa saya percaya seorang pekerja minyakpun bisa jadi pecinta lingkungan.Bukan cuma menghibur diri sebagai salah satu pekerja minyak, tapi saya memang termasuk yang percaya bahwa setiap orang bisa berbuat sesuatu, dan walaupun kelihatannya impact-nya cuma kecil, tapi kalau semua orang melakukan, hasilnya bakal terasa juga. Industri minyak toh tetap harus ada. Aktivis lingkungan juga butuh bensin untuk naik kendaraan untuk berkampanye. Yang penting gaya hidup kita sehari-hari yang harus ditata sebaik mungkin supaya lebih ramah lingkungan.

 

Jadi hari ini saya sisihkan satu jam selama makan siang untuk berhitung, hal apa yang sudah saya lakukan dan apa yang masih bisa saya lakukan. Tentu saja hari ini makan siang saya tidak mengandung daging merah sama sekali, karena seperti yang diberitakan di Discovery News baru-baru ini, beberapa studi menunjukkan bahwa daging merah adalah penghasil gas rumah kaca terbesar dibanding sumber protein lain seperti ikan atau ayam. Walaupun saya penggemar berat daging babi dan sapi, akhir-akhir ini konsumsi kedua jenis daging itu saya kurangi. Yah, lebih bagus juga sih untuk kesehatan.

 

Oke mari berhitung. Semenjak pindah ke Singapura saya tidak lagi memakai mobil pribadi. Buat apa, wong transportasi umum di sini bagus sekali kok. Satu poin saya berikan pada Ibu Gaia. Sayangnya saya masih sering sekali terbang, baik untuk pekerjaan maupun pribadi. Lha bagaimana, semua yang saya cintai – belahan jiwa, dua anjing kesayangan, serta keluarga saya masih di Jakarta semua je. Ah, berarti satu poin untuk Ibu Gaia tadi jadi terambil lagi. Sedihnya.

 

Tapi saya menanam tanam-tanaman yang saya taruh di balkon. Lalu saya juga mendaur ulang semua sampah kertas, botol plastik dan kaleng. Botol plastik dan kaleng saya cuci dan keringkan lalu saya kumpulkan dan seminggu sekali saya bawa ke tempat sampah daur ulang di kantor. Sampah kertas juga begitu. Yang penting-penting saya hancurkan dulu dengan mesin shredder (yang pakai tenaga tangan bukan tenaga listrik). Yang lain saya pisah-pisahkan lalu saya buang di tempat sampah daur ulang di kantor. Kadang orang di kereta bingung melihat bawaan saya – tampang pekerja kantoran, tapi bawaannya kayak tukang pungut barang bekas :)  

 

Beberapa teman heran kok saya mau repot-repot membuang waktu menyortir sampah lalu menggotong-gotongnya ke tempat sampah khusus. Saya belajar dari calon ibu mertua saya. Di Irlandia masyarakat dipaksa untuk mendaur ulang sampah-sampahnya. Sampah daur ulang diangkut gratis oleh pemerintah, tapi sampah yang tidka disortir dan didaur ulang dihargai tinggi. Semakin banyak sampah tidak didaur ulang semakin tinggi dendanya. Akibatnya masyarakat di sana terpaksa sadar lingkungan. Tiap hari calon ibu mertua saya memproses sampah rumah tangganya, mencuci dan menyortirnya, lalu menaruhnya di luar sesuai jadwal. Hari Senin sampah plastik, hari Rabu sampah kertas, hari Jumat sampah kaleng, dan seterusnya. Sampah organik beliau jadikan kompos di sudut halaman.

 

Saya dan kekasih sedang membangun rumah di Jakarta. Di rumah kami juga akan ada sudut untuk membuat kompos. Akan ada biopores dan sumur resapan. Kami akan pakai panel surya untuk lampu halaman dan pemanas air. Rumah dirancang dengan banyak ventilasi dan atap dan dinding dipasangi insulasi supaya tidak perlu terlalu banyak energi dipakai untuk mendinginkan ruangan di dalamnya. Kami akan coba kombinasi kipas angin dan dehumidifier ketimbang AC. Kami akan melapisi dinding dengan tanaman rambat dan memasang taman di atas dak atap. Yang paling ambisius adalah sistem greywater, alias kami akan mendaur ulang air bekas cuci dan dari wastafel, mencampurnya dengan air hujan dan memakainya lagi untuk menyiram toilet, menyiram tanaman dan sebagainya.

 

Kami juga meminta kontraktor sebisa mungkin memastikan kayu-kayu yang dipakai bukan hasil penebangan liar. Entah ini mungkin atau tidak, tapi kami bilang bahwa kami tidak ingin kayu murah yang hasil rampokan bumi. Shower head dan keran-keran juag dipilih yang punya sistem mencampurkan udara ke dalam semprotan air, sehingga air tetap terasa mengalir kencang walaupun volume yang dikeluarkan lebih kecil dari yang biasa. Memang dengan segala rupa permintaan supaya rumah kami jadi lebih ramah lingkungan ini akhirnya biaya jadi membengkak. Tapi kami sudah bertekad. Kalau kita tidak memulai dari diri sendiri, tidak bakal ada perubahan.

 

Ini baru sebagian usaha kami mengurangi perampokan atas Ibu Gaia. Besok saya coba ingat-ingat lagi, apa yang sudah dan masih bisa kami lakukan.

 

 

Singapura, Hari Bumi 2008

 

 


Posted at 12:04 am by koeniel
Comments (4)  




Thursday, March 13, 2008
Anti Stiletto

 
Selama ini saya selalu kagum pada perempuan-perempuan muda Singapura. Bukan, bukan karena kebanyakan dari mereka langsing-langsing (sepertinya hampir 90% perempuan muda Singapura tidak punya masalah kelebihan berat badan). Bukan juga kerna mereka kelihatan trendi-trendi dan bergaya. Saya kagum pada keahlian mereka di dalam MRT.

MRT alias Mass Rapid Transport adalah kereta pengangkut massa yang jadi tulang punggung transport publik di Singapura. Kereta ini yang saya pakai setiap hari pagi dan sore ke dan dari kantor. Juga ke mana-mana di negri ini. Ini mode transportasi pujaan saya. Setelah bertahun-tahun mengalami menyetir mobil berjam-jam di kemacetan Jakarta, MRT buat saya seperti limusin. Walaupun saya tinggal jauh di luar kota, kantor di tengah kota bisa saya capai dalam waktu 30 menit. Tidak perlu stres kena macet!

Tapi walaupun tingkat kenyamanannya sangat jauh di atas mikrolet dan metro mini Jakarta, bahkan lumayan jauh di atas Trans Jakarta alias busway (yang masih kena macet), bukan berarti MRT sepenuhnya nyaman. Memang gerbong-gerbongnya sangat bersih dan ACnya lumayan dingin, tapi karena ini alat transportasi paling utama, saat-saat jam sibuk penuhnya bisa seperti kaleng sarden. Lalu kalau kondekturnya belum ahli, laju kereta seperti tersendal-sendal, saat mengerem kita bisa terpental-pental.

Nah di saat-saat seperti inilah kekaguman saya pada perempuan-perempuan muda Singapura meningkat. Mereka ini bisa berdandan rapi ala pegawai kantor, chic, trendi, wangi, sembari menggembol tas bermerek di tangannya, dengan sepatu cantik berhak tipis tinggi alias stiletto, lalu berdiri di dalam gerbong MRT yang penuh sesak, tanpa berpegangan. Tangannya malah dipakai entah untuk memegang koran atau buku atau PSP. Mereka lalu sibuk membaca atau main game, sembari kupingnya disumpal earphone yang mengalirkan musik dari MP3 player. Saat kereta tersendal-sendal dan penumpang lain terpental-pental, perempuan-perempuan chic ini dengan anggunnya memindah-mindahkan titik berat badan, sehingga tidak perlu terpental-pental, masih tanpa berpegangan. Rasanya inilah 'the ultimate MRT passenger'. Saya ingin sekali bisa seanggun mereka.

Tapi hari ini pengidolaan saya berakhir. Impian saya hancur. Ternyata mereka tidak sesempurna yang saya kira. Pagi ini seperti biasa saya naik kereta yang sudah lumayan penuh, sedikit mendesak-desakkan badan saya di antara penumpang yang sebagian berbau wangi dan sebagian berbau kari. Di depan saya ada salah satu perempuan anggun dengan keahlian naik MRT yang kelihatannya sudah tingkat tinggi. Bajunya keren, tasnya cantik, dan sepatunya... amboi, haknya tinggi dan tipis sekali. Dia sibuk membaca tabloid, tanpa berpegangan.

Tapi tiba-tiba, saat kereta berhenti terhentak si sebuah stasiun dan penumpang terpental-pental, perempuan ini ikut terpental! Dan sedihnya, hak tipis tinggi sepatu merah mengkilatnya, yang seperti pisau tajamnya itu, mendarat langsung di kaki saya yang cuma berbungkus sepatu sandal butut. Aaaarrrggggggggh. Mulut saya menganga, mata terpejam lalu saya meringis-ringis kesakitan sementara kaki saya, di tempat hak sepatu setajam pisau tadi menancap, berdarah. Kulitnya tersobek, dan darah merembes keluar, duuuuh perihnya!

Dan apa yang dilakukan si perempuan yang tadinya saya kagumi itu? Dia cuma menengok sebentar, sama sekali tidak melontarkan sepatahpun kata maaf, apalagi merasa kasihan pada perempuan agak gemuk berkaki besar dan berpakaian asal-asalan dengan tas ransel di punggungnya, yang sedang membungkuk-bungkuk kesakitan gara-gara stiletto-nya ini. Lalu dengan anggunnya dia menyibakkan rambutnya dan melangkah anggun keluar kereta. Kurang ajaaaaaarrrr!

Saat itu juga pupuslah kekaguman saya pada perempuan-perempuan itu. Kepingin saya mengejar dia lalu menjambak rambutnya yang dicat setengah pirang itu. Tapi saya sadar itu bukan hal yang patut dilakukan. Saya mungkin harus memahami bahwa para dewi itu juga manusia, sesekali mereka bisa melakukan kesalahan. Tapi kenapa harus pada saat memakai stilettoooooo????? Duh sebalnya. Apa saya harus memakai steel-toed safety shoes yang dulu saya pakai waktu kerja di anjungan pemboran minyak, supaya kaki saya selamat? Menurut saya sih sepatu stiletto harusnya dilarang di MRT! Huh!
 

 

Posted at 08:26 pm by koeniel
Comments (6)  




Next Page


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON