Coretan Musim Semi: 1. Semi
Selamat pagi kawan, aku menulis padamu dari sebuah internet cafe yang penuh
manusia di belakang stasiun Victoria yang juga penuh manusia. Bukan kawan,
ini bukan April Mop joke, memang saat ini hatiku yang selalu gelisah ini
sedang terbawa jauh dari kampung halaman. Bukan, ini juga bukan salah satu
dari perjalanan avontur yang biasa kulakukan. Kali ini pekerjaankulah yang
membawa kaki-kakiku yang selalu gelisah ingin berjalan ini ke sini, tempat
ini. Ke negara yang hari-harinya mendung. Negara yang kucintai dan kukagumi
karena kesejarahannya, negara yang sangat berbau ketuaan. Di kota-kotanya
aku selalu merasa tokoh-tokoh dalam buku-buku kesayanganku akan melompat
keluar dari halaman-halamannya. Rasanya, walaupun aku berada di tengah
kerumunan manusia modern, gedung-gedung tua dan katedral-katedral megah itu
membawaku ke ratusan tahun lalu, saat Mary Queen of the Scot masih
berkuasa, saat kereta-kereta kuda masih menguasai jalanan......
Anyway, pagi ini suhu 12 derajat Celcius. Not too bad. Pertama kali aku
menginjakkan kaki di bagian bumi ini satu setengah tahun yang lalu, saat
itu suhu 3 derajat celcius di bawah nol. Saat itu negeri ini berada di
penghujung musim gugur dan dipenuhi warna coklat, kuning, merah dan emas.
Indah. Saat ini sudah musim semi. Daun-daun mulai tumbuh kembali, banyak
cinta di udara. Kemarin kulangkahkan kakiku menapaki trotoar sepanjang
pusat kota, begitu banyak pasangan dilanda cinta, mereka berpelukan dan
berciuman di jalan-jalan, di taman dan di kafe-kafe. Tapi kunikmati
kesendirianku kawan, merambahi jalan dan menikmati keindahan gedung-gedung
tua....
Trafalgar square, masih penuh dengan burung. Patung Raja George ke IV dan
Laksamana Nelson yang gagah masih penuh dengan tai burung. Setiap saat aku
memandang patung-patung ini di mataku manusia modern menghilang, dan
kepalaku dipenuhi dengan adegan-adegan di masa lalu.... National Gallery,
masih menyimpan karya-karya para pelukis impressionist yang kukagumi.
Seperti biasa kupilih suatu bangku di muka lukisan van Gogh yang misterius,
dan merenunglah aku
Misa pagi di Katedral tua. Gedung megah yang besar, dan tua. Duduklah aku
di dalamnya di bawah atap batanya yang hitam dan berkerak, di bawah
kolom-kolom raksasa dari granit dan marmer dan serpentinit (maaf kawan,
aku masih seorang geologist. Batu buatku selalu menyimpan keindahan, maka
batu-lah yang kuperhatikan). Rasanya diri ini mengecil dan mengecil. Maka,
diri yang kecil ini pun ingin menangis...........
London, 1 April 2001
Posted at 02:27 pm by
koeniel