Coretan Musim Semi: 10. Akhir Mimpi
Melayang meninggalkan kota bata merah
yang dingin dan basah
Duduk di singgasana besar empuk
Sandarannya bisa dimundur jauh
Topangan kaki menyangga nyaman
Dilayani bak ratu
Sampanye dan anggur berkali-kali ditawarkan
suara terhambur penuh keramahan
pesawat kelas bisnis selalu menyenangkan
kita jadi raja
Dan dengan ini mimpi sebulanpun berakhir
kusapa langit Jakarta gelap dengan senang
di kepala terbayang... lagi-lagi...
kepulan nasi hangat, teri, sambel dan lalap
ah, sebentar lagi.
dikuping terdengar
sambutan keramahan khas kampungku
"Taksi Mbak!" "Ini saja, bukan taksi gelap."
"Halim? Seratus lima puluh."
"Sini, Mbak, sini. Yang ini aja."
"Ayo, naik taksi sama saya saja. Enggak bahaya."
"Ya ayo dah seratus ribu."
Jakarta, 1 Mei 2001
Posted at 08:00 pm by
koeniel
 |  |  |
maludonk March 5, 2007 07:37 AM PST
Jangan naik taxi yang lagi mangkal / stop di pojok bangunan / pinggir jalan. Kemungkinan besar taxi seperti itu sudah di modifikasi argo nya. Kalo mau naik taxi, sebaiknya pilih taxi yang sedang on the way / berjalan di jalanan, bukan yang lagi berhenti gitu. Lebih bagus lagi (walau lebih mahal), panggil pake telp.
Baru kejadian di saya sendiri. Pergi dari Tebet ke Majestik pake BlueBird, plus macet dan hujan, cuma Rp 27.000. Pulang pake taxi JAKARTA METRO warna putih, dengan rute sama, habis Rp 33.000.
Ciri ciri taxi itu :
a. mangkal di parkiran toko busana/kain di pintu belakang pasar Majestik (Keb Lama), dekat gerbang keluar bayar tiket parkir pasar Majestik
b. ia bukannya keliling pake mobilnya di jalanan, tapi demi hemat BBM, lebih suka mangkal dan sibuk menawar nawarkan jasanya
c. taxi nya jelek, bau, tidak terawat
d. gaya setir nya juga sembarangan, beberapa kali hampir menabrak obyek di depannya
e. yang tentu saja, argo nya gila gilaan |
 |