Derbyshire adalah sebuah daerah wisata yang letaknya di antara Manchester dan Sheffield di Inggris bagian tengah. Tempat ini betul-betul indah. Rumah-rumah tua terbuat dari batupasir kuning kecoklatan, dengan sedikit warna kehijauan-kehitaman akibat cuaca. Pepohonan berwarna-warni musim gugur – kuning dan merah keemasan. Karena yang dijual di situ adalah keindahan pedesaan Inggirs, maka itulah yang dipertahankan dan dipertontonkan. Rumah-rumah makan dibuat bergaya pedesaan dengan perapian kayu, kursi-meja kayu dengan taplak kotak-kotak, pokoknya semua khas pedesaan tua Inggris seperti di film-film. Walaupun mungkin bangunannya baru, bagian luarnya tetap dibuat bergaya pedesaan kuno.
Perjalanan ke Derbyshire cukup menyenangkan, apalagi setelah kami keluar dari motorway dan mulai melewati jalan-jalan pedesaan. David, supervisorku, yang menyetir mobil, sedang Wayne manajer kami duduk di sampingnya. Aku di belakang, melamun memandangi warna-warni musim gugur. Sapi dan domba sibuk makan rumput di padang.
Kami berhenti di Bakewell, sebuah desa kecil yang luar biasa indah dengan sungai jernih dangkal mengalir di tepinya. Angsa dan burung-burung ramai bermain di air - kok tidak kedinginan ya, pikirku. Sedangkan aku walaupun sudah berbalut jaket tebal, kaus kaki tebal dan sarung tangan serta syal masih juga menggeletar kedinginan.
Kami mampir ke sebuah pub khas pedesaan Inggris, memesan tiga cangkir kopi dan tiga buah kue scone. Baru pertama kalinya dalam hidup aku melihat dan merasakan scone (semacam roti), yang adalah makanan tradisional khas Inggris. Karena tidak tahu bagaimana cara makan scone dengan benar, aku mencontek Wayne. Dia membelah scone menjadi dua bagian, lalu mengolesinya dengan selai. Aku ikut berbuat sama. Tapi kata Wayne, "Jangan mencontek aku, karena aku juga tidak tahu mesti bagaimana. Nyontek David saja, dia kan orang Inggris asli." Lalu kami berdua memperhatikan cara David makan scone. Rupanya scone yang panas itu diiris dua, lalu dioles mentega dan krem, baru dioles selai. Mentega dan krem meleleh karena panas. Hmmm... enak sekali. Dan jelas membuat gemuk. Tapi di udara dingin begini makanan panas seperti ini betul-betul membantu melawan dingin, maka aku tidak peduli tentang menjadi gemuk.
Lalu perjalanan dilanjutkan. Menara-menara gereja dengan lukisan kaca warna-warni tampak di setiap desa, bersinar-sinar kena cahaya matahari. Lalu sampailah kami di saat makan siang, di sebuah pub yang lagi-lagi khas pedesaan Inggris, namanya Ye Olde Chesire Cheese. Di sana sudah berkumpul rombongan G&G (geologists & geophysicists) dari London: Patrick, Phil, Stuart, Neil, dan Richard. Juga dari Pakistan: Ahmed dan Andrew. Juga ada guide kami, Chris dan Rossella. Lalu kami disuruh makan. Yang lain memesan steak, aku memesan fish and chips, karena perutku masih kenyang oleh scone. Ternyata yang terhidang di mejaku kemudian adalah “ikan paus” dan chips karena ikan yang di piring itu panjangnya kira-kira 25cm. Ternyata ini porsi makan standar di sini – pantas badan mereka besar-besar.
Lalu dimulailah field trip itu. Suhu 5 derajat Celcius, sudah cukup dingin buatku yang anak tropis ini. Tapi membuatnya lebih menyakitkan lagi. Apalagi di atas Windy Knoll, stopsite pertama kami yang betul-betul sesuai dengan namanya. Bibir dan jemariku sudah biru dan kaku. Di tengah-tengah sengatan angin dingin di atas pegunungan itu, kami harus menyuruk-nyuruk dan memanjat-manjat bukit, di antara bebatuan yang kondisinya tidak layak untuk jadi singkapan (alias batuan yang tersingkap di permukaan tanah, yang biasanya kami – para geologiwan - pelajari), betul-betul seburuk singkapan di Indonesia (yang karena adalah daerah tropis yang banyak berhujan, singkapannya jarang yang berkondisi segar).
Sementara Chris terus menerus mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memacu kami berpikir, dan Neil dan Patrick sibuk berdiskusi, aku sibuk berusaha menutupi badanku rapat-rapat. Aku heran orang-orang ini masih bias berpikir dalam kondisi cuaca seperti ini. Tapi sepertinya aku tidak sendirian, kelihatannya David juga sibuk mencari tempat yang bebas dari angin dan Wayne sama sekali tidak mau mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana. Buku panduan malah mereka tinggal di mobil. Sedangkan aku masih berusaha membawa dan membaca buku panduan. Walaupun itu berarti jari-jariku harus jadi kaku di balik sarung tanganku.
Akhirnya penyiksaan tersebut berakhirlah. Kami berkendara menuju tempat penginapan yang astaga... ternyata adalah sebuah puri, persis seperti cerita-cerita Lima Sekawan. Di atas pintu gerbang ada lambang keluarga pemilik puri itu. Dari gerbang menuju ke puri jalannya berkelok-kelok, sempit dipagari oleh dinding batu tinggi, dengan penerangan obor. Lalu tiba-tiba sampailah kami di halaman yang sangat luas yang ditaburi kerikil putih. Di seberang halaman itu ada padang berumput dengan danau kecil di tengahnya, dibatasi oleh bukit kecil.
Aku diantar masuk ke kamar di lantai dua sayap selatan, satu-satunya yang akan tinggal di sayap itu. Yang lain tinggal di sayap utara dan lantai tiga. Tenyata kamarku besar sekali. Dengan tempat tidur besar bak tempat tidur seorang putri di tengahnya. Ada perapian di samping kanan, dan sofa-sofa di samping kiri. Kaca-kaca berbingkai indah bertebaran di mana-mana. Lukisan-lukisan tua raksasa, dengan gambar orang-orang tua jaman Victoria memandangku tajam. Aku takut.
Kamar mandi juga tidak kalah besarnya. Bath tub-nya ada di tengah ruangan, antik dan berkaki dengan ukir-ukiran. Ada lukisan juga. Obyeknya, atau lebih tepat subyeknya karena lukisan foto itu tampak hidup sekali, adalah seorang wanita jaman Victoria. Wajahnya kaku, garis matanya kejam. Hah. Aku tambah takut. Buru-buru aku mandi dan membanting pintu keluar dari kamar mencari teman. Tapi di luar kamar di dinding dekat tangga ada banyak lagi lukisan-lukisan seperti itu. Mata mereka seperti mengikuti langkahku. Bah... seram betul sih.
Lalu aku buru-buru masuk ke ruang pertemuan dan mencoba memaksakan diri untuk berpikir, mencoba menangkap apa yang sedang dibicarakan dan mencoba memahami pertanyaan-pertanyaan. Susah bukan main. Karena aku mengantuk bukan main. Waktu makan malam aku hampir jatuh tertidur di meja. Di sebelahku Peter Cockroft GM Pakistan yang sempat tinggal lama di Indonesia mencoba mengajak ngobrol dengan Bahasa Indonesia-nya yang aneh itu. Sewaktu pelayan masuk melayani kami dia berkata,"Aneh ya, ada pembantu kok bule." Aku tertawa. Memang aneh ternyata, melihat bule-bule melakukan pekerjaan kasar: tukang sampah, tukang gali, pembantu.
Malam makin larut tapi walaupun sudah setengah tertidur, karena yang lain belum mau naik ke atas, aku ikut juga duduk di bar. Ah, okelah minum sedikit lagi, supaya cepat tidur dan tidak perlu ketakutan. Padahal waktu makan malam aku sudah menghabiskan dua gelas anggur.
Waktu akhirnya semua berangkat naik ke atas, aku masuk kamar, membanting pintu, lari dan melompat ke atas tempat tidur, dan langsung menutup diri dengan selimut, menghindari pandangan mata para wanita dan pria tua jaman dahulu di lukisan-lukisan itu.....
(bersambung)