Monday, November 22, 1999
Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire

Derbyshire adalah sebuah daerah wisata yang letaknya di antara Manchester dan Sheffield di Inggris bagian tengah. Tempat ini betul-betul indah. Rumah-rumah tua terbuat dari batupasir kuning kecoklatan, dengan sedikit warna kehijauan-kehitaman akibat cuaca. Pepohonan berwarna-warni musim gugur – kuning dan merah keemasan. Karena yang dijual di situ adalah keindahan pedesaan Inggirs, maka itulah yang dipertahankan dan dipertontonkan. Rumah-rumah makan dibuat bergaya pedesaan dengan perapian kayu, kursi-meja kayu dengan taplak kotak-kotak, pokoknya semua khas pedesaan tua Inggris seperti di film-film. Walaupun mungkin bangunannya baru, bagian luarnya tetap dibuat bergaya pedesaan kuno.

Perjalanan ke Derbyshire cukup menyenangkan, apalagi setelah kami keluar dari motorway dan mulai melewati jalan-jalan pedesaan. David, supervisorku, yang menyetir mobil, sedang Wayne manajer kami duduk di sampingnya. Aku di belakang, melamun memandangi warna-warni musim gugur. Sapi dan domba sibuk makan rumput di padang.

Kami berhenti di Bakewell, sebuah desa kecil yang luar biasa indah dengan sungai jernih dangkal mengalir di tepinya. Angsa dan burung-burung ramai bermain di air - kok tidak kedinginan ya, pikirku. Sedangkan aku walaupun sudah berbalut jaket tebal, kaus kaki tebal dan sarung tangan serta syal masih juga menggeletar kedinginan.

Kami mampir ke sebuah pub khas pedesaan Inggris, memesan tiga cangkir kopi dan tiga buah kue scone. Baru pertama kalinya dalam hidup aku melihat dan merasakan scone (semacam roti), yang adalah makanan tradisional khas Inggris. Karena tidak tahu bagaimana cara makan scone dengan benar, aku mencontek Wayne. Dia membelah scone menjadi dua bagian, lalu mengolesinya dengan selai. Aku ikut berbuat sama. Tapi kata Wayne, "Jangan mencontek aku, karena aku juga tidak tahu mesti bagaimana. Nyontek David saja, dia kan orang Inggris asli." Lalu kami berdua memperhatikan cara David makan scone. Rupanya scone yang panas itu diiris dua, lalu dioles mentega dan krem, baru dioles selai. Mentega dan krem meleleh karena panas. Hmmm... enak sekali. Dan jelas membuat gemuk. Tapi di udara dingin begini makanan panas seperti ini betul-betul membantu melawan dingin, maka aku tidak peduli tentang menjadi gemuk.

Lalu perjalanan dilanjutkan. Menara-menara gereja dengan lukisan kaca warna-warni tampak di setiap desa, bersinar-sinar kena cahaya matahari. Lalu sampailah kami di saat makan siang, di sebuah pub yang lagi-lagi khas pedesaan Inggris, namanya Ye Olde Chesire Cheese. Di sana sudah berkumpul rombongan G&G (geologists & geophysicists) dari London: Patrick, Phil, Stuart, Neil, dan Richard. Juga dari Pakistan: Ahmed dan Andrew. Juga ada guide kami, Chris dan Rossella. Lalu kami disuruh makan. Yang lain memesan steak, aku memesan fish and chips, karena perutku masih kenyang oleh scone. Ternyata yang terhidang di mejaku kemudian adalah “ikan paus” dan chips karena ikan yang di piring itu panjangnya kira-kira 25cm. Ternyata ini porsi makan standar di sini – pantas badan mereka besar-besar.

Lalu dimulailah field trip itu. Suhu 5 derajat Celcius, sudah cukup dingin buatku yang anak tropis ini. Tapi membuatnya lebih menyakitkan lagi. Apalagi di atas Windy Knoll, stopsite pertama kami yang betul-betul sesuai dengan namanya. Bibir dan jemariku sudah biru dan kaku. Di tengah-tengah sengatan angin dingin di atas pegunungan itu, kami harus menyuruk-nyuruk dan memanjat-manjat bukit, di antara bebatuan yang kondisinya tidak layak untuk jadi singkapan (alias batuan yang tersingkap di permukaan tanah, yang biasanya kami – para geologiwan - pelajari), betul-betul seburuk singkapan di Indonesia (yang karena adalah daerah tropis yang banyak berhujan, singkapannya jarang yang berkondisi segar).

Sementara Chris terus menerus mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memacu kami berpikir, dan Neil dan Patrick sibuk berdiskusi, aku sibuk berusaha menutupi badanku rapat-rapat. Aku heran orang-orang ini masih bias berpikir dalam kondisi cuaca seperti ini. Tapi sepertinya aku tidak sendirian, kelihatannya David juga sibuk mencari tempat yang bebas dari angin dan Wayne sama sekali tidak mau mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana. Buku panduan malah mereka tinggal di mobil. Sedangkan aku masih berusaha membawa dan membaca buku panduan. Walaupun itu berarti jari-jariku harus jadi kaku di balik sarung tanganku.

Akhirnya penyiksaan tersebut berakhirlah. Kami berkendara menuju tempat penginapan yang astaga... ternyata adalah sebuah puri, persis seperti cerita-cerita Lima Sekawan. Di atas pintu gerbang ada lambang keluarga pemilik puri itu. Dari gerbang menuju ke puri jalannya berkelok-kelok, sempit dipagari oleh dinding batu tinggi, dengan penerangan obor. Lalu tiba-tiba sampailah kami di halaman yang sangat luas yang ditaburi kerikil putih. Di seberang halaman itu ada padang berumput dengan danau kecil di tengahnya, dibatasi oleh bukit kecil.

Aku diantar masuk ke kamar di lantai dua sayap selatan, satu-satunya yang akan tinggal di sayap itu. Yang lain tinggal di sayap utara dan lantai tiga. Tenyata kamarku besar sekali. Dengan tempat tidur besar bak tempat tidur seorang putri di tengahnya. Ada perapian di samping kanan, dan sofa-sofa di samping kiri. Kaca-kaca berbingkai indah bertebaran di mana-mana. Lukisan-lukisan tua raksasa, dengan gambar orang-orang tua jaman Victoria memandangku tajam. Aku takut.

Kamar mandi juga tidak kalah besarnya. Bath tub-nya ada di tengah ruangan, antik dan berkaki dengan ukir-ukiran. Ada lukisan juga. Obyeknya, atau lebih tepat subyeknya karena lukisan foto itu tampak hidup sekali, adalah seorang wanita jaman Victoria. Wajahnya kaku, garis matanya kejam. Hah. Aku tambah takut. Buru-buru aku mandi dan membanting pintu keluar dari kamar mencari teman. Tapi di luar kamar di dinding dekat tangga ada banyak lagi lukisan-lukisan seperti itu. Mata mereka seperti mengikuti langkahku. Bah... seram betul sih.

Lalu aku buru-buru masuk ke ruang pertemuan dan mencoba memaksakan diri untuk berpikir, mencoba menangkap apa yang sedang dibicarakan dan mencoba memahami pertanyaan-pertanyaan. Susah bukan main. Karena aku mengantuk bukan main. Waktu makan malam aku hampir jatuh tertidur di meja. Di sebelahku Peter Cockroft GM Pakistan yang sempat tinggal lama di Indonesia mencoba mengajak ngobrol dengan Bahasa Indonesia-nya yang aneh itu. Sewaktu pelayan masuk melayani kami dia berkata,"Aneh ya, ada pembantu kok bule." Aku tertawa. Memang aneh ternyata, melihat bule-bule melakukan pekerjaan kasar: tukang sampah, tukang gali, pembantu.

Malam makin larut tapi walaupun sudah setengah tertidur, karena yang lain belum mau naik ke atas, aku ikut juga duduk di bar. Ah, okelah minum sedikit lagi, supaya cepat tidur dan tidak perlu ketakutan. Padahal waktu makan malam aku sudah menghabiskan dua gelas anggur.

Waktu akhirnya semua berangkat naik ke atas, aku masuk kamar, membanting pintu, lari dan melompat ke atas tempat tidur, dan langsung menutup diri dengan selimut, menghindari pandangan mata para wanita dan pria tua jaman dahulu di lukisan-lukisan itu.....

(bersambung)


Posted at 09:13 pm by koeniel

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON