Jam tiga dini hari aku sudah terbangun, mataku terbuka lebar tidak mau ditutup, seperti malam kemarin di London. Tadinya aku tidak yakin mengapa aku susah sekali kembali tertidur. Setelah kuhitung-hitung ternyata ini adalah jam pagi hari di Jakarta. Jetlag. Kuintipkan kepala keluar dari selimut..... Sialan, lukisan-lukisan itu! Kututupi lagi kepalaku dengan selimut. Karena masih tidak bisa tidur juga kuambil buku panduan dan kubaca, isinya tentang seismik stratigrafi di batuan karbonat. Kupelajari sampai habis.
Pagi jam tujuh. Masih gelap sekali. Aku tidak begitu ingin makan, tapi perut harus panas sebelum keluar dalam udara dingin itu. Jadi kupaksakan juga menikmati sarapan mewah gaya Inggris: telur, susis, bacon, kacang merah dan tomat. Kata Patrick, "Ini bukan kebiasaan kami sehari-hari lho. Kami tidak hidup semewah ini." Oh... rupanya mereka sehari-hari juga biasanya bersarapan pagi roti panggang dan cereal. Jadi di sini aji mumpung juga.
Tapi untung aku memaksa makanan panas itu masuk dalam perut, karena sehari itu lagi-lagi kami disiksa harus berjalan dalam kabut, dengan dingin yang menusuk tulang. Walaupun aku sudah berbaju berlapis-lapis dengan hanya mataku yang kelihatan, toh aku masih menggigil kedinginan. Lalu Chris memberi aku pertanyaan, otakku sudah buntu. “Ayo Nila, berpikirlah, ayo Nila, berpikir, malu dong dengan semua bos-bosmu semua di sini,” kataku dalam hati. Cling! Ide itu muncul dan ah... ternyata jawabanku betul. Jadi aku tidak perlu malu. Lalu aku bersembunyi di belakang supaya tidak diberi pertanyaan lagi.
Hari itu kami berjalan banyak sekali, naik turun bukit. Kakiku pincang. Susah sekali mengejar orang-orang ini, mereka berjalan cepat sekali dengan kaki mereka yang panjang-panjang itu. Kata David sambil tertawa, “Wah, kasihan sekali kamu ya, kakimu pendek. Pasti repot mengejar kami.” Terpaksa aku tertawa juga walaupun sebetulnya ingin bersumpah serapah. Kalau dia tahu aku harus bersusah payah menyamai langkah mereka, mengapa mereka tidak memperlambat jalan selain cuma bersimpati?
Tapi aku jadi sadar, bahwa ternyata memang iklim juga membentuk manusia. Dalam kabut dingin itu aku jadi berpikir, betapa beruntungnya kami di Indonesia, berlimpah sinar mentari! Tapi dalam iklim kejam beginilah orang ditempa. Mereka harus tetap bekerja, bergerak dan berpikir dalam cuaca sadis seperti ini.
Hari ini kami harus masuk merangkak-rangkak ke dalam gua, tapi sepertinya tidak ada yang berniat melakukan itu. Aku langsung bersembunyi di belakang bersama David menghindari tunjukan. Walaupun aku pernah jadi caver, tapi berbasah-basah ria dalam cuaca begini? No way. Ternyata yang menawarkan diri untuk masuk ke dalam gua mewakili kami adalah Patrick, si Worldwide Exploration Manager, dan Neil, anak buahnya, makhluk tercerdas dalam kelompok itu. Lama juga mereka di dalam gua. Waktu akhirnya keluar kembali, muka dan badan mereka sudah coklat berlumpur. Kami semua tersenyum kecil. Bos yang paling tinggi berbalut lumpur sementara kami tetap bersih...
Sorenya lagi-lagi kami harus mendengarkan presentasi dan dipaksa untuk berpikir. Seperti kemarin aku harus berjuang melawan kantuk. Lalu makan malam resmi yang luar biasa. Pertama-tama kami berdiri-berdiri di ruang makan mencomoti hors d'ouvres, sambil memilih menu dan mengobrol sana-sini. Menunya cukup membingungkan. Ada berbagai macam makanan pembuka, lalu makanan sela, lalu makanan utama. Aku memilih sekenanya: koktail udang, sup bawang, ikan panggang. Lalu kami harus duduk resmi, dengan berbagai sendok, garpu dan pisau di sisi-sisi piring dan tiga gelas di depanku. Satu gelas dituangi air putih, satu anggur pembuka dan satu lagi anggur untuk makanan utama. Kuhabiskan semua anggur itu. Kapan lagi bias minum anggur gratis. Enak sekali rasanya setengah mabuk..... Aku jadi lebih ceria dan dengan gampangnya mengobrol dengan pria-pria di kanan dan kiriku.
Lalu makanan datang silih berganti, semua cuku aneh buatku, sehingga mengundangku untuk mencicipi walaupun perutku sudah padat sekali. Lalu tiba-tiba kereta makanan penutup tiba, penuh berisi tart, kue, pie, krem karamel, dsb. Wah, sadarlah bahwa aku sudah salah taktik. Seharusnya jangan makan terlalu banyak sehingga masih bias menikmati makanan penutup yang lezat-lezat ini. Tapi kuminta juga sepiring krem karamel. Hmmm nyam nyam..... Segelas lagi anggur. Makin nikmat rasanya, badanku terasa ringan dan senyum makin mengumbar. Lalu makan malam ditutup dengan segelas kopi dan beberapa potong coklat. Malam itu aku tidur dengan nyenyak tanpa takut pada lukisan (dan tanpa mimpi menjadi gemuk!!).
Esok paginya kami harus, lagi-lagi, merambat-rambat pinggiran bukit dan tepian jurang, memanjat bebatuan sekali-sekali, ditengah angin kencang. Bukk... seseorang terpeleset di belakangku. What am I doing here, tanyaku dalam hati, tersiksa sekali. Yang paling melegakan dari hari-hari trip ini adalah waktu makan siang, waktu kami semua masuk ke dalam kehangatan pub khas pedesaan Inggris, menyantap makanan-makanan berporsi raksasa dan minum segelas bir serta secangkir kopi panas. Sehingga badan jadi hangat kembali dan darah kembali mengalir di jemari yang tadinya beku.
Tapi setelah itu kembali kami harus menyusuri jalan-jalan licin di antara pepohonan. Tapi alangkah senangnya, waktu akhirnya di sore hari terakhir itu matahari muncul! Maka tampaklah keindahan Derbyshire dengan kemercik air sungai jernih dan warna-warni musim gugurnya! Dengan buah berry merah di ranting-ranting gundulnya!
Lalu dengan penuh kebanggaan David mengajak kami melewati Sheffield, kota masa mudanya. Memang indah!
Malamnya lagi-lagi kami harus melewati waktu-waktu presentasi dan memaksakan diri untuk berpikir. Malam itu, kami semua harus menyusun kesimpulan hasil field trip. Untunglah teman sekelompokku adalah Phil, yang sangat bersemangat dan ambisius. Hahaha... kubiarkan saja dia bekerja dengan penuh semangat untuk kelompok kami.
Lalu lagi-lagi makan malam mewah itu. Tapi kali ini aku sudah siap. Makan sedikit saja, demi dessert yang menawan!! Dan dengan lagi-lagi tiga gelas anggur, lukisan-lukisan itu tidak lagi terlalu menakutkan...
(bersambung)