Paginya kami mengucapkan selamat tinggal pada Hassop Hall, puri mewah tempat kami berlindung selama tiga hari. Di pagi hari puri itu terlihat antik dan indah, tidak seseram di waktu malam. Domba-domba merumput di tepi danau. Karena ini akhir musim gugur, awal musim semi, maka jam 8 pagi, matahari baru mulai muncul menggapaikan jemarinya ke langit yang lalu jadi biru ceria.
Sementara yang lain kembali ke selatan menuju London, aku bersama Chris dan Rossella akan berkendara ke utara, menuju Aberdeen dalam 8 jam perjalanan. Kami berkendara perlahan, mampir di puri Chatsworth yang indah dan megah. Tua dengan batu-batu kecoklatannya. Padang rumput luas terbentang di sekelilingnya, dibelah sungai. Kastil tua itu, seperti tempat-tempat tua lain, sudah jadi milik negara, sebagai salah satu warisan bangsa, karena sulit sekali bagi keluarga pemiliknya untuk membiayai perawatannya.
Menempel di salah satu sisi padang rumput adalah desa penunjang puri itu, dengan gereja indahnya. Seperti layaknya puri-puri lain, selalu ada desa yang hidup bersimbiosis mutualisma dengan puri.
Lalu kami berkendara lagi ke utara. Melesat melalui motorway. Semua mobil berjalan cepat sekali di sini, tapi sangat teratur. Mereka sangat tidak mau melanggar peraturan. Lalu kami berhenti di suatu kota yang bernama Durham, yang terkenal dengan katedral tuanya yang indah, satu-satunya yang terbuat dari batugamping (yang lain biasanya dari batupasir). Tiang-tiangnya terbuat dari batugamping yang dipoles, dengan fosil-fosil Lithostrotion maccoyanum bertebaran menghiasinya. Langit-langit melengkungnya yang tinggi tidak berhias ataupun dilukis sedikitpun. Polos, memberi kesan gagah.
Di sebuah ruangan paduan suara sedang berlatih lagu-lagu natal. Kami berhenti di koridor, tertunduk haru mendengarkan musik indah di sebuah gereja tua...
Makin ke utara penduduk makin jarang, jalanpun makin lengang, lalu kami memasuki perbatasan Skotlandia. Dan akhirnya, di bawah sinar bulan purnama yang luar biasa besarnya, kami memasuki Aberdeen.
Aberdeen! Kota granit abu-abu! Di bawah sinar bulan purnama butiran mineral feldspar dari granit yang menjadi dinding tiap rumah tampak berkelip-kelip. Bangunan-bangunan granit bersinar-sinar di sela-sela cabang-cabang pohon tak berdaun... Sayangnya, begitu keluar mobil keindahan menjadi tak terasa. Dingin begitu menggigit. Angin bertiup kencang. Jam sepuluh malam kami tiba di B&B (bed & breakfast, alias motel) tempat aku tinggal. Begitu sampai aku langsung menyelipkan diri di bawah selimut tebal dan semua jadi gelap....
(bersambung)