Aberdeen di pagi hari. Aku memaksakan sepiring cereal dan sepotong roti panggang masuk ke perutku (yang sebetulnya sangat mendambakan nasi!). Waktu nyonya rumah menawarkan sarapan telur dan bacon, kujawab, “No.. no.. thank you.” Tidak lagi ah, terlalu besar untukku. Lagipula makanan seperti itu pasti melejitkan tingkat kolesterol dalam tubuhku.
Lalu, berbungkus rapat, kumulai perjalanan menuju kantor. Angin bertiup-tiup keras sekali dan dinginnya menusuk tulang. Tanganku beku. Padahal hari ini tidak terlalu dingin, hanya sekitar 7-8 derajat Celcius. Tapi rupanya angin inilah penyiksa manusia-manusia Aberdeen...
Ini hari ulang tahunku, tapi di sini begitu jauh dari keluarga dan teman-temanku. Maka aku terus berjalan…..
Kantor yang hangat sungguh menyenangkan. Kantor mungil yang hanya berisi 5 orang: Graham, Chris, Rossella, Neil dan Alun. Begitu berantakan dan sibuk. Neil pendek, ganteng, bibirnya seksi seperti Brad Pitt, sudah kawin dengan dua anak (saying!). Alun tinggi ramping, tampan dan ramah sekali, kami seumur. Tapi susah sekali memahami omongannya. Logatnya aneh dan bicaranya cepat sekali. Sama susahnya dengan memahami Graham yang keturunan Rusia, yang kalau berbicara tidak pernah membuka mulut. Rossella the Italian dan Chris the English-lah yang menjadi bintang kantor itu - tanpa candaan mereka kantor jadi sepi. Dari jendela tampak jalan utama di Aberdeen kota mungil itu. Burung-burung camar ribut berkaok-kaok sambil terbang di atas gedung-gedung. Kami dekat sekali dengan laut, maka udara pun berbau air asin...
Kami langsung tenggelam dalam pekerjaan. Mereka ini betul-betul profesional dan ahli sekali! Bolak-balik aku terpaksa dibuat kagum oleh ketepatan pengamatan dan keluasan pengetahuan mereka. Hidup mereka penuh diisi oleh batugamping dan di otak mereka batuan karbonat adalah sesuatu yang mereka hidupi sehari-hari. Maka bergelutlah aku dengan sayatan-sayatan tipis di bawah mikroskop sehari penuh, hanya diselingi oleh berjalan cepat di tengah angin dingin kencang menuju ke toko kecil penjual sandwhich, dan kembali lagi ke kantor. Sambil mengunyah sandwhich berisi tuna, kami kembali bekerja. Waktu jam enam sore akhirnya tiba aku merasa lega. Lelah sekali badanku. Cepat-cepat kami keluar, karena ini hari Kamis, dan kata Rossella, inilah satu-satunya hari saat toko buka sampai jam 9 malam. Biasanya toko tutup jam lima!
Setelah mampir ke stasiun bis membeli karcis untuk berjalan-jalan ke Edinburgh hari Sabtu nanti, aku menenggelamkan diri di sebuah toko buku. Surga!! Buku-buku yang biasanya hanya kulihat di katalog di internet, semua ada di sini! Surga!
Jam sembilan. Sebelum mereka terpaksa mengusirku, aku buru-buru keluar. Lapar. Buru-buru aku mampir di sebuah restoran siapsaji makanan Cina, dan memesan nasi goreng. Aku kangen nasi! Sampai di penginapan buru-buru kusantap nasi goreng itu, tapi ternyata rasanya tidak enak. Betul-betul tidak enak. Nasinya kering, dan bumbunya tidak terasa. Sial. Kapan aku bisa makan nasi enak?!?!.....
(bersambung)