Sehari lagi berlalu bergulat dengan pekerjaan. Hari ini hari Jumat, casual day untuk kantor Jakarta, tapi di Oolithica tiap hari adalah casual day. Alun dan Graham selalu hanya ber-Tshirt dan jeans. Menyenangkan sekali. Hari ini aku berusaha memahami petrophysics yang dikerjakan untuk Ujung Pangkah-1. Rasanya aku sudah belajar analisis log banyak sekali, tapi tetap saja rasanya bodoh terus. Malam itu, sepulang kerja Aberdeen sudah sepi sekali. Dingin dan berangin.
Aku buru-buru ke supermarket yang sudah hampir tutup, membeli sandwhich tuna untuk makan malam. Siang sandwhich tuna, malam sandwhich tuna. Tapi apa mau dikata, sandwhich ham atau keju membuat perutku mual. Dasar perut Jawa!
Sabtu pagi-pagi sekali aku keluar dari penginapan dan buru-buru berjalan kaki ke terminal bis. Enak sekali hidup di kota kecil seperti ini, kemana-mana bisa selalu dengan jalan kaki! Dan trotoar luas, tanpa pedagang kaki lima, sehingga kita bisa berjalan enak. Semua orang berjalan kaki atau naik bis. Di sini mencari parkir susah sekali, dan mahal. Jadi orang lebih memilih naik kendaraan umum, tapi kendaraan umum di sini juga nyaman dan tepat waktu, jadi tidak ada ruginya tidak memiliki mobil pribadi.
Perjalanan ke Edinburgh dengan bis menyenangkan sekali, walaupun aku sulit sekali paham apa yang diomongkan oleh ibu tua orang Skotlandia yang duduk di sebelahku. Aksennya itu! Aku yakin dia bicara bahasa Inggris, kedengarannya dia bicara Bahasa Inggris. Tapi kok aku tidak tahu artinya?!
Pemandangan pedesaan Skotlandia indah sekali, agak berbeda dengan pedesaan Inggris. Lebih liar. Laut di sebelah kiriku, pegunungan yang tidak terlalu tinggi ada jauh di kananku. Di antara jalan dan pegunungan terhampar tanah-tanah pertanian dengan rumah-rumah antiknya. Di ladang tampak domba-domba dan gulungan-gulungan jerami. Tiga jam perjalanan jadi tidak terasa sama sekali. Setelah menyeberangi sebuah teluk melalui jembatan besar, sampailah kami di Edinburgh.
Edinburgh dengan istana tuanya! Edinburgh yang tua dan indah dengan gereja-gereja antiknya! Aku turun dan menggabungkan diri dalam lautan manusia, penduduk desa yang berbelanja dan turis-turis. Monumen Scott untuk penulis terkenal Sir Walther Scott tampak di kejauhan. Waktu sudah dekat kupandangi patungnya. Oh, begini toh wajah pengarang buku itu. Dari dalam otak manusia cerdas ini mengalir jalinan cerita mengasyikkan Ivanhoe dan Rob Roy, yang membuatku terpesona berjam-jam beberapa tahun yang lalu.
Lalu istana Edinburgh, di puncak sebuah volcanic neck, gunung api yang sudah mati. Dan di istana Edinburgh itulah, di situlah kubayangkan semua yang terjadi di masa lalu. Perang berkecamuk, orang-orang yang mempertahankan warisan bangsa dan harga dirinya, orang-orang yang mengkhianati bangsanya. Di balik dinding-dinding batu ini sejarah terasa kuat sekali. Di penjaranya orang-orang mati dan dibunuh. Di kamar-kamarnya raja-raja lahir dan mati. Mary Queen of Scott pernah berkuasa di sini, walaupun dia benci sekali istana batu dingin ini.....
Edinburgh yang tua, coklat dan indah! Di jalan-jalan batunya aku merasa berjalan di masa lalu. Kubayangkan kuda-kuda berlari di sepanjangnya, membawa pria-pria muda yang menjemput makhluk-makhluk muda cantik lembut berbaju mewah keluar dari gereja-gereja tua. Kubayangkan pria-pria membungkuk hormat pada wanita tua angkuh yang duduk anggun di kereta. Aku merasa berada dalam buku-buku Scott!!! Akhirnya kutinggalkan Edinburgh dengan penyesalan, sambil mengunyah sepotong burger dari Burger King (karena di sini makan sambil berjalan tidak dianggap tidak sopan)....
(bersambung)