Minggu pagi di Aberdeen. Aku bangun kesiangan, buru-buru mandi dan menunggu Rossella dan suaminya Andy di pojok jalan. Lalu kami berjalan bersama ke gereja. Matahari bersinar cerah. Misa di dalam katedral tua. Ternyata banyak juga pengunjungnya. Aku agak kaget, karena dalam pandanganku orang-orang barat sudah tidak butuh gereja. Tapi toh ternyata masih banyak juga yang butuh mengalami Misa seperti pagi ini.
Pulang dari Misa di luar hujan lebat. Di sini memang cuaca bisa berubah mendadak. Maka segala perlengkapan mesti sudah disiapkan. Kupakai payungku, lalu kami berjalan ke luar. Rencana berjalan-jalan ke seputar Aberdeen terpaksa dibatalkan. Tapi aku minta supaya kami berjalan melewati pekuburan tua di halaman sebuah katedral yang kelihatan dari pinggir jalan. Aku selalu tertarik dengan pekuburan tua. Apalagi dari abad-abad 15-16. Yang ini dari abad 18-19. Nisannya besar-besar, banyak yang berhias patung-patung. Aku betah di situ, seandainya tidak hujan mungkin bisa sesiang penuh aku berjalan dari nisan ke nisan. Lalu kami masuk ke dalam gereja yang adalah katedral Gereja Presbyterian. Di tiap kota di Inggris Raya ini selalu banyak gereja, karena ada banyak macam denominasi. Bentuk gereja-gereja itu serupa. Di Aberdeen ada tiga katedral, satu Katolik, satu Presbyterian dan satu Anglikan, seandainya tidak tulisan jelas menyatakan katedral dari denominasi mana mereka, aku tidak bisa membedakan satu dengan yang lain, begitu miripnya!
Dari situ di bawah hujan lebat kami pergi ke Museum Maritim yang terletak di pinggir laut. A great museum. Di situ terekam kehidupan Aberdeen, mulai jaman kejayaannya sebagai sebuah pelabuhan ikan, sampai menjadi pelabuhan minyak. Minyak pertama yang menjayakan Aberdeen adalah minyak ikan paus, lalu sekarang ini minyak bumi. Di tingkat teratas ada sebuah miniatur platform alias anjungan produksi minyak dan gas bumi, kusebut miniatur karena memang bukan dalam ukuran aslinya, tapi sebagai sebuah miniature, platform itu besar juga! Miniatur helikopternya sebesar lenganku. Aku jadi terkenang akan kehidupanku di rig.
Dari museum kami menuju ke Slain Castle, sebuah bangunan bekas gereja antik yang diubah menjadi pub. Banyak gedung gereja yang diubah menjadi pub atau cafe, tapi yang satu ini memang kurang ajar (menurutku). Di dalamnya kita serasa masuk ke kerajaan setan. Gelap, tapi banyak lampu-lampu kecil berwarna kemerahan. Di sudut-sudut terpasang patung-patung setan, atau makhluk-makhluk semacamnya. Foto dan lukisan-lukisan Frankenstein, Dracula dan monster-monster memenuhi dinding. Para pelayan berdandan seperti vampir. Bad taste.
Lalu Rossella dan Andy berbelanja. Sore itu pertokoan penuh orang berbelanja Natal. Saat itu untuk pertamakalinya semua lampu-lampu Natal di jalan-jalan dan di Pohoh Natal besar di pusat kota dinyalakan. Di pinggir-pinggir jalan dan di pertokoan banyak kelompok musik memainkan lagu-lagu Natal, mengalahkan suara hujan dan angin.
Rossella orang Itali, dia suka sekali masak dan makan. Suaminya, Andy, orang Inggris asli, profesinya tukang masak profesional. Malam itu mereka akan memasak dinner buatku. Makan malam yang luar biasa enak di flat mereka yang sempit. Pertama kami makan Caprese, salad yang dibuat dari keju mozzarella, tomat dan minyak zaitun. Nyam nyam... Lalu pita bread panas, sejenis roti tak beragi makanan orang Yunani atau Asia tengah, dengan berbagai macam saus: salsa dan guacamole dari Meksiko dan Hummous dari Syria. Lalu pasta ravioli dengan saus tomat terenak yang pernah kurasakan. Nyam..nyam..
Malam itu aku terpaksa menginap di rumah mereka karena di luar angin mengamuk kencang dan hujan tidak berhenti turun. Tapi paginya cuaca bagus. Aku bangun pagi-pagi sekali (jam tujuh pagi, tapi di musim dingin jam tujuh masih gelap, karenanya masih pagi sekali, mataharipun belum keluar) dan langsung memandang ke luar jendela, ke laut. Ya, rumah mereka adalah salah satu dari deretan rumah batu granit yang ada di tepi laut. Dari jendela kelihatan kelap-kelip mercu suar... lalu kami berjalan-jalan di tepi pantai. Dingin sekali, dengan angina yang sibuk berusaha meniup topi dan syalku. Tapi burung-burung sudah mulai bergiat mencari mangsa.
Satu hal yang mengherankan bagiku, mereka, Rossella dan Andy, tidak mandi!! Aku bingung. Jelas tadi malam kami tidak mandi. Kulihat bathtub mereka penuh dengan barang-barang. Jadi aku tidak bias mandi juga. Maka aku Cuma mencuci muka dan menggosok gigi, walau badan ini terasa lengket minta dicuci. Lalu pagi hari, kupikir mereka akan menyingkirkan barang-barang dari dalam bathtub dan lalu mandi, ternyata tidak! Mereka cuma sekedar menggosok gigi, mencuci muka dan berganti baju. Hah.. pantas minyak wangi berderet-deret di situ. Payahnya, aku tidak biasa dengan itu, badanku rasanya gatal sekali! Aku butuh mandi, dua kali sehari seperti biasa! Biarpun habis mandi aku harus menggeletar kedinginan, aku selalu butuh mandi!
(bersambung)