Lalu hari-hari sibuk dengan deadline yang membuntuti kami. Hari-hariku dimulai jam 7 pagi, mandi cepat-cepat, lalu sambil menggeletar kedinginan berbungkus handuk berjongkok di samping pemanas ruangan, baru memakai baju setelah geletar badan terkurangi. Lalu makan pagi di bawah, lalu membungkus diri rapat-rapat dengan berlapis-lapis baju serta syal, kaus tangan dan dua lapis kaus kaki, dan baru memberanikan diri keluar. Berjalan kaki 15 menit, lalu mulai bekerja.
Neil yang banyak membantuku. Dia mengajari aku mengamati fasies seismik, bolak-balik aku disuruh menginterpretasi, kemudian dikoreksi olehnya. Lalu di sore hari, Graham akan duduk di sebelahku dan meminta aku mengulang apa saja yang sudah diajarkan hari itu. Kalau salah, semua diulang lagi. Gila betul.
Rabu malam aku berjanji ketemu dengan Mark Cadman, mantan bosku. Tapi dia datang tidak sendirian, ada Dave Brittan juga di situ, bekas manajer drilling kami dulu. Lalu sepanjang malam kami mengobrol ngalor-ngidul, terutama mengenang hari-hari bersama di kantor Premier di Jakarta. Pertama kami mengobrol di sebuah pub di Ferryhill, tidak jauh dari tempat tinggalku. Lalu sementara Mark pulang, Dave dan aku makan malam di sebuah restoran Thailand. Akhirnya bertemu nasi goreng! Lumayan enak juga, bumbunya terasa, walaupun nasinya tidak seenak nasi di rumahku.
Lalu kami ketemu lagi dengan Mark di sebuah pub lain, juga sebuah gereja yang diubah jadi pub. Tapi kali ini tidak ada hiasan-hiasan aneh mengerikan seperti di Slain Castle, jadi biasa-biasa saja. Kami mengobrol panjang dan lebar, mengenang masa lalu, membicarakan situasi Indonesia dan obrolan lain sebangsanya. Waktu mendengar bahwa sebelum menuju ke London dari Aberdeen aku ingin mampir ke York, Dave menawariku untuk tinggal di York di rumah ibunya. Aku agak kaget mulanya, dan sedikit enggan, karena sungkan. Tapi setelah kupikir-pikir, karena aku akan cuma tinggal sebentar sekali di York, yang terbaik adalah punya seseorang untuk mengantarku di sana, dan memilihkan tempat-tempat yang betul-betul menarik untuk dilihat. Jadi kuterima tawarannya. Jam dua belas malam baru kami pulang, Mark yang mengantarku, kami berjalan melewati gedung-gedung Aberdeen tua. Tempat yang indah sekali. Tapi malam itu betul-betul dingin, 2 derajat Celcius.
Akhirnya hari Jumat hari terakhir pun tiba. Malamnya sudah kupak semua barangku. Koperku jadi penuh dan berat sekali, karena berisi buku-buku hasil kekalapanku di toko buku. Ranselku kukosongkan, siap diisi dengan segala macam report dan bahan-bahan penunjangnya. Paginya, sehabis mandi aku bersiap, dan waktu kutengok keluar jendela.... oh... salju!! Oh... seperti inilah yang namanya salju. Indah sekali. Putih melayang-layang turun. Aku melamun memandanginya. Lalu buru-buru aku membungkus diri dan keluar, ingin merasakan seperti apa salju itu.
Ternyata tidak enak. Sama seperti biasanya, udara sangat dingin, angin bertiup kencang sampai aku enggan membuka payung. Payungku gampang sekali rusak (buatan Indonesia? Tidak didesain untuk cuaca ganas seperti itu?). Jadi kututup saja kepalaku dengan topi mantel. Salju melayang-layang jatuh ke mantel, ransel dan sarung tanganku, lalu mencair. Sampai di kantor aku sudah basah dan kedinginan. Orang-orang di kantor semua tertawa, nah akhirnya kamu melihat salju. Iya, kataku. Tapi salju itu tidak enak. Lalu kata mereka ini belum salju yang sebenar-benarnya. Ini hanya salju bulan November-Desember. Salju bulan Januari lebih menyenangkan, tidak mencair di jaket, tidak membuat basah dan bisa untuk main papan luncur atau bola salju.
Lalu, sekali lagi aku harus menjelaskan pada Graham, apa saja yang sudah kupelajari, menerangkan padanya satu persatu bagian-bagian studi yang kami lakukan. Beberapa kali salah, dan perlu diulang, tapi akhirnya proses yang panjang itu selesailah (setelah mulutku panas dan kering). Graham mengangguk. Oke, kita sudah selesai, katanya. Horeeee!!!! Lalu kami berfoto bersama, Graham dan Neil mengantarku sampai ke taksi, dan Neil mengantarku sampai ke stasiun.
Masih cukup ada sinar matahari waktu keretaku beranjak ke selatan menuju Edinburgh. Pemandangan sungguh indah. Di luar kota salju bertumpuk-tumpuk di halaman dan atap rumah-rumah pedesaan. Tanah pertanian putih tertutup salju. Beberapa ladang penuh tanaman mati terkulai kedinginan, kejam tapi indah. Di kejauhan pegunungan tertutup salju putih tebal, dengan bintik-bintik kehijauan hutan pinus di sana-sini. Persis gambar-gambar di kartu Natal. Tapi sekarang aku tahu, lebih enak memandang itu semua dari dalam kehangatan rumah (atau kereta)....
(bersambung)