Di Edinburgh aku harus ganti kereta. Sialnya, ternyata karena cuaca buruk ada kereta yang dibatalkan, maka keretaku jadi penuh sekali. Reservasi tempat duduk dibatalkan, dan tempat dudukku disikat orang. Koperku sudah terlanjur kutaruh di rak koper di ujung gerbong itu, terlalu berat untuk menyeret-nyeretnya dari gerbong ke gerbong. Maka kutinggal saja di situ dan kubawa ransel (yang sebetulnya juga sangat berat) dan tas kameraku ke gerbong di depannya. Untung masih ada satu tempat duduk. Aku berharap gerbong sebelah akan kosong dan aku akan bisa pindah ke situ mendekati koperku. Tapi ternyata kereta makin penuh, penumpang terpaksa berdiri di lorong-lorong. Aku kuatir tidak sempat turun dan mengambil koperku. Jelas tidak mungkin menyuruk-nyuruk di antara para penumpang menuju ke gerbong sebelah. Waktu empat jam kemudian kami tiba di stasiun York, aku bersusah payah membawa ransel dan tas kameraku dan akhirnya berhasil membebaskan diri dari himpitan penumpang. Lalu kulempar ranselku keluar dan masuk lagi kuambil koper besarku. Tepat setelah itu kereta berjalan. Fiuuuhhh....
Malas membawa koper super besarku, kutinggal saja dia di locker di stasiun. Lalu kutelpon ibu Dave, namanya Maureen. Lima belas menit kemudian beliau bersama suaminya, Graeme, datang menjemputku. Mereka ramah sekali. Walaupun baru kenal aku bisa mengobrol panjang lebar dengan mereka tanpa merasa malu. Paginya kami berangkat dengan mobil mereka. Di siang hari di dalam kota York yang mungil dikelilingi tembok asli dari jaman Romawi dan Abad Pertengahan itu kita dilarang mengendarai mobil. Mobil harus diparkir di luar kota. Tapi kota York sendiri sangat kecil, bisa dikelilingi dalam beberapa jam. Maka kami memarkir mobil di tempat parkir khusus sedikit di luar gerbang kota, lalu kami berjalan ke kota. Sayangnya cuaca sedikit buruk. Hujan turun rintik-rintik, tapi sepasang nenek-kakek itu, Maureen dan Graeme, dengan penuh semangat menunjukkan padaku hal-hal yang menarik di York.
Kenapa aku memaksakan diri menggotong-gotong barang-barangku ke York, bukankah lebih gampang langsung naik pesawat ke London? Karena menurut yang kubaca di buku, York adalah kota kecil tua yang sangat menarik. Kota yang sangat kuat bekas-bekas sejarahnya. Tembok bekas Romawinya masih ada, bekas-bekas peninggalan jaman Viking ditemukan di situ, dan juga bekas-bekas budaya Abad Pertengahan. Ternyata memang York betul-betul luar biasa. Bangunan-bangunannya terbuat dari bata merah, sangat khas. Beberapa yang besar, gereja, katedral, terbuat dari batupasir coklat, tapi yang lain dari bata merah tanpa polesan. Sangat unik. Jalan-jalannya kecil, tersusun dari batu-batu, di kiri-kanannya berbaris toko-toko dan pub-pub, yang masih menggunakan bangunan asli bermodel lama, jaman Victoria, Georgia dan Elisabeth. Indah betul.
Pertama kami mengunjungi Jorvik, sebuah museum yang dibangun sebagai replika desa bangsa Viking yang dijumpai dalam penggalian arkeologi di situ. Di dalam Jorvik, kita seperti berada di desa Viking di tahun 400 an. Luar biasa. Lama sekali kami berada di situ. Di situ ditampilkan bagaimana para arkeolog menemukan sisa-sisa kehidupan desa itu, dan merekonstruksikannya. Suatu pekerjaan raksasa yang melibatkan berpuluh-puluh orang selama bertahun-tahun! Betapa dedikasi yang besar. Sebuah penghormatan besar kepada ilmu pengetahuan dan sejarah bangsa mereka.
Lalu kami minum teh di sebuah cafe, yang lagi-lagi adalah sebuah bekas gereja. Tapi kali ini cafe itu dimiliki oleh gereja yang ada di dekatnya, dan dijalankan oleh relawan-relawan gereja. Suasananya menyenangkan, banyak anak kecil. Lalu kami berjalan lagi, kali ini ke Katedral, atau Minster, York. Bangunan indah yang megah. Bagian depannya sempat terbakar karena sambaran petir, tapi lalu direkonstruksi dan direnovasi kembali.
Seperti ketika mengunjungi Katedral Durham, ada sesuatu yang menggelitik hati di sini, sesuatu yang selalu aku rasakan setiap kali berada di bangunan tua seperti itu. Sungguh butuh biaya besar merawat bangunan seperti ini, berapa banyak yang mereka habiskan? Dua poundsterling per menit. Seandainya uang itu dipakai untuk memberi makan kaum miskin... Tapi ini warisan sejarah manusia. Tanpa sejarah kita bisa kehilangan akar. Lagipula katedral ini indah dan manusia perlu keindahan. Dan bangunan ini adalah cerminan seni, hasil karya tangan dan hati manusia, indah, agung. Di sini manusia bisa menangis haru karena keindahannya. Mungkin seperti juga piramid yang dibangun dengan darah manusia........
Lalu kami berjalan lagi, menuju ke beberapa bangunan bersejarah lain, seperti bekas bangunan biara tua, separuh hancur, bangunan tempat tinggal raja, bekas rumah sakit abad pertengahan, dan suatu sudut tembok kota, tempat kita bisa melihat bahwa tembok itu dibangun di atas pondasi Romawi. Lalu kami berjalan lagi ketengah kota, melihat sebuah bangunan bersejarah, yang langit-langitnya terbuat dari palang-palang kayu tua berusia paling tidak dua ratus tahun. Dari gedung itulah kelompok pioneer pertama dibiayai untuk melayari lautan menuju Dunia Baru, Amerika.
Begitulah, sehari penuh kami berjalan kaki menyusuri sejarah. Dan waktu kereta bergerak meninggalkan stasiun dan Maureen dan Graeme, orang tua temanku Dave yang sudah berbaik hati menampungku dan mengenalkan York padaku itu, sedikit hatiku kutinggal di sana....... I love York!
(bersambung)