Jadi, London lagi. Setiba di King's Cross, kuseret-seret barang-barangku menuju ke kereta bawah tanah, dan kunaiki kereta menuju stasiun Victoria. Setibanya di Victoria... aduh, ternyata tangga naiknya bukan tangga berjalan! Aku tercenung bingung. Bagaimana caranya menggotong barang-barang raksasaku ini? Lalu ya sudah, kutabahkan hati dan kuangkat koper itu. Satu tangga, satu tangga. Lalu tiba-tiba sebuah suara, "Do you need help?" A help sent from heaven! Lelaki itu menggotongkan koperku sampai atas. Hampir kucium kakinya. Tapi cuma kubilang terima kasih banyak dan dia bilang it's okay. God bless you sir! Sambutku dalam hati. Lalu kuseret koperku menuju ke Lower Belgrave Street, tempat kantor Premier berada.
Penjaga di bawah mengulurkan kunci dan kartu magnetis untuk mengoperasikan lift. Cuma aku yang ada di flat tiga kamar itu. Berarti dalam gedung enam lantai itu hanya ada aku di lantai enam dan si satpam di lantai satu. Si satpam bilang, "If you need anything just give me a shout." Aku cuma tersenyum kecut, lalu naik ke atas. Di atas gelap gulita. Ah tapi toh di sini tidak ada lukisan-lukisan menyeramkan seperti di Hassop Hall. Jadi aku sedikit lega. Lalu kubikin teh panas, mandi, dan masuk ke ruang tengah. Kunyalakan tivi, ada sky channel. Dan banyak lagi saluran lain. Dari mulai kartun sampai porno. Ah, segan. Lalu aku keluar, menyeberang stasiun dan mencari internet cafe. Duduk di situ sampai tengah malam.
Paginya aku siap-siap dengan pakaian sweater dan jaketku. Tapi tidak perlu syal dan cukup satu kaus kaki. London cukup hangat dibanding Aberdeen! Dan hari itu matahari bersinar! Pertama kubeli tiket travelday card dan kupilih tube menuju ke Tower of London. Tapi ternyata di sana antrian panjang sudah memenuhi jalan. Ah... segan.
Jadi aku berjalan-jalan saja di sekitar situ. Melihat-lihat gedung-gedung tua. Menyenangkan sekali. Jalan-jalan sepi sekali, toko-toko tutup. Lalu kubaca peta dan kulangkahkan kaki menuju St. Paul's Cathedral, katedral tua yang ikut terbakar dalam the Great Fire of London tahun 1666. Kubah Katedral yang dibangun kembali setelah kebakaran itu sedang direnovasi. Tapi tetap saja sangat menggetarkan. Di dalam ada kebaktian yang masih berlangsung, jadi aku cuma berkeliling-keliling di bagian luar, di belakang dan di ruang bawah tanahnya. Dari atas terdengar nyanyian umat. Rasanya damai sekali.
Berikutnya, Charing Cross! Sudah tengah hari dan perutku lapar, maka kubeli burger di Burger King dan kukunyah-kunyah sambil mempelajari peta. Lalu berlari-lari kecil aku menuju ke the British Museum, museum terkenal itu. Oh... aku tenggelam dalam sejarah, dalam kultur tinggi bangsa-bangsa yang hilang. Membayangkan berada di jaman para Firaun di Mesir, menjelajahi tanah Yunani dan kuil-kuil Aphrodite dan Zeus, mengikuti kejayaan dan kehancuran bangsa Romawi, lalu bertualang ke Siria dan Cina.
Rupanya aku menghabiskan dua jam lebih di situ. Maka berlari-larilah aku menuju Charing Cross, pusat buku London. Dan mulailah aku menenggelamkan diri dalam lautan buku-buku. Surga.... Kujelajahi satu persatu took-toko buku di situ, mulai dari yang di tingkat tiga sampai yang di basement, dari yang mewah sampai yang tua, kecil dan berdebu. Dari yang menjual buku baru sampai yang menjual buku bekas. Waktu akhirnya semua sudah kusatroni, matahari sudah tenggelam. Sudah lewat setengah lima sore. Buru-buru aku berlari menuju ke National Gallery. Aku mau sekali lagi, mungkin untuk terakhir kalinya, menikmati lukisan para pelukis Impressionist pujaanku. Kupandangi lukisan Monet, Renoir dan Pisarro, sampai penjaga mengumumkan bahwa museum ditutup. Ah.....
Maka berakhirlah hari itu. Aku berjalan pulang melewati teater-teater dan pasar malam di Piccadily Circus. Besok aku harus memberikan presentasi kepada tim G&G di London, jadi sebaiknya tidak pulang terlalu malam.
(bersambung)