Pagi itu dengan gugup aku bangun dan mandi, lalu buru-buru memanaskan sup kalengan yang kubeli kemarin malam di Stasiun Victoria. Kulahap bersama roti panggang bermentega (oh, aku pingin nasi!). Lalu setelah berkali-kali mencek laporan-laporanku, aku turun ke bawah. Ternyata mereka belum datang. Jam sembilan tiga puluh baru Phil datang. Ternyata presentasiku dijadwalkan jam 11. Richard sedang libur, maka kupakai saja kamar dan komputernya. Wuah... emailku sudah melewati limit. Kuhapus satu-satu sambil menunggu waktu, sambil membaca kabar dari Jakarta...
Lalu jam 11 tibalah. Sebetulnya aku gugup sekali, apalagi di depan Patrick yang betul-betul Inggris itu, dan di depan Neil yang cerdas sekali itu. Tapi kujalani saja. Kujelaskan semua yang kami lakukan dalam studi Pangkah, seperti waktu aku menjelaskannya pada Graham. Kulompati bagian-bagian yang terlalu detil. Ternyata semua lancar. Ada banyak pertanyaan, sebagian bisa kujawab, sebagian tidak. Ya, wajarlah. Yang penting semua terlewati. Hurray!!
Makan siang dengan mereka. Makanan Italia, tapi aku sudah tidak begitu lapar. Terlalu gugup mungkin :) Setelah itu, kembali ke kamar Richard, aku bekerja sebentar, menyusun rencana kerja untuk Pangkah. Banyak sekali yang harus dikerjakan. Banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab. Studi ini cuma membuka jendela, menunjukkan jalan, tapi jalan itu masih panjang. Lalu setelah pamit kepada mereka, aku naik ke atas, mengepak barang-barangku dan mengucapkan selamat tinggal pada flat sepi itu.
Kuseret-seret koper menuju stasiun Victoria karena aku memutuskan untuk naik tube saja. Naik taksi pasti mahal sekali. Aku lupa bahwa di Victoria Station aku harus menggotong koper dan ranselku lewat tangga biasa. Entah bagaimana aku melakukannya. Yang jelas sampai tangga pertama aku sudah terengah-engah. Untung di tangga kedua seorang lelaki bersedia membantu. God bless you mate. Dan seorang lagi membantu di tangga ketiga. Ternyata masih banyak juga orang baik hati di London yang dingin ini. Di London yang setiap orang berusaha menghindari bertatapan mata dengan orang lain, di London yang orang-orangnya suka bersembunyi di balik koran dan walkman, masih banyak orang baik hati.
Lalu aku naik tube. Lalu turun untuk pindah ke tube lain menuju Heathrow. Ternyata penuh sekali. Persis seperti bis-bis kota di Jakarta, cuma di sini tidak ada yang bergelantungan, karena kalau pintu tidak bisa ditutup kereta tidak bisa berjalan. Koper dan ranselku betul-betul menyita tempat. Bolak-balik aku minta maaf. Tapi aku tidak sendirian, berpuluh-puluh orang secara otomatis mengucapkan "Sorry" setiap kali menyenggol atau merasa mengganggu orang lain. Beribu-ribu "sorry" terlontarkan di kereta itu sore itu.
Waktu akhirnya sampai ke Heathrow aku lega sekali. Punggungku mulai sakit akibat menggendong ransel. Kusambut trolley dengan bahagia. Bebanku hampir mendekati limit: 28,5 kilo.
Jadi perjalananku hampir berakhir. Kuisi beberapa kartu natal bergambar lukisan Monet dan kukirimkan pada mereka-mereka yang telah berbaik hati membagikan persahabatan dan keramahan pada orang asing. Lalu kuletakkan pantatku di kursi empuk ruang tunggu Business Class. Ah enak memang jadi orang kaya atau terhormat. Terbang dengan Business Class kita betul-betul dimanusiakan. Ruang tunggu selalu penuh makanan dan minuman gratis, fasilitas lengkap. Dan di pesawat? Tempat duduk besar dan lega, tempat kaki luas. Pramugari menyapa kita dengan nama, "Miss Murti, would you like more drink?" Dan champagne dan wine bertebaran. Kumanfaatkan betul. Minimal satu gelas anggur setiap kali makan... kapan lagi?!?! :D
Maka begitulah setelah dua belas jam penerbangan yang menyenangkan, tidur nyenyak delapan jam di antaranya, kemudian satu jam menikmati ruang tunggu business class dan toko buku di Changi airport, dan satu setengah jam lagi penerbangan menuju ke Jakarta, sampailah kembali aku ke tanah air, tempat nasi yang rasanya enak, dan mimpiku berakhir sudah. Seperti biasa, mimpi berakhir maka kita kembali ke dunia nyata... "Taksi Mbak, ke mana Mbak." "Seratus ribu, ayo Mbak." "Ke mana Mbak, Halim? Seratus ribu sudah termasuk tol Mbak..." "Nggak ada lagi itu Blue Bird bah, yang ini sajalah."
(Selesai)