Monday, July 14, 2003
Sekelumit Tentang Pakistan & Islamabad

street kids  click picture for photo album

Islamabad terletak di bagian utara Pakistan, mendekati daerah pegunungan, tidak jauh dari Himalaya. Pakistan punya puncak K2 yang termasuk puncak tertinggi di dunia setelah Everest.

Islamabad adalah ibukota dan pusat pemerintahan Pakistan, tapi bukan pusat perdagangan. Pada tahun 50an pemerintah Pakistan memindahkan ibukota dari Karachi, yang kota besar dan pusat komersial di pantai laut Arab di selatan, ke Islamabad. Mungkin karena menghindari kekumuhan dan keruwetan kota besar Karachi, atau untuk mencari tempat yang lebih sejuk karena Karachi panas dan lembab, atau mungkin yang lebih aman?

Kalau dianalogikan, seperti keinginan Sigit Suharto memindahkan ibukota ke Jonggol. Tapi kalau mau dianalogikan benar-benar supaya mirip ya Jonggolnya dipindah ke Malang. Sejuk dan jauh! :) Catatan: sejuk di sini adalah relatif. Islamabad yang di kaki pegunungan memang lebih sejuk dari kota pantai, tapi untuk ukuranku masih tetap sangat panas! Suhu minggu lalu mencapai 45 derajat C. Tapi di musim dingin Islamabad juga bisa cukup dingin, 10-12 derajat Celcius.

Karena sengaja dibangun sebagai ibukota, Islamabad sangat rapi dan teratur. Kota kecil ini punya jalan-jalan yang lebar, sangat bersih dan teduh dengan pepohonan. Tidak ada kemacetan dan keramaian lalu lintas. Semua tenang dan menyenangkan. Gedung-gedung pusat pemerintahan terkumpul jadi satu di satu blok. Kedutaan-kedutaan besar juga terpisah di satu blok sendiri.

Jadi kalau India ingin menghancurkan Pakistan, gampang sekali - kirim saja satu bom nuklir ke Islamabad. Semua anggota pemerintahan dan parlemen akan hancur, termasuk kantor tempat aku berada sekarang, yang berada di gedung yang sama dengan Kementrian IT dan Komunikasi.

Lho ada kementrian IT di sini? Ya, dan teknologi informasi di sini cukup maju rupanya. Yang jelas hubungan internet sangat mudah didapat dan cukup murah. Kartu prabayar untuk sambungan internet bisa dibeli di mana-mana. Saluran broadband sudah bisa dinikmati di hampir setiap sudut kota Islamabad. Ada juga internet wireless dengan radio.

Di sini setiap pagi aku bisa menikmati pemandangan indah - perbukitan dan pepohonan, karena rute dari staff house tempatku tinggal, ke kantor melewati jalan di sepanjang kaki perbukitan Marghalla. Di sisi yang lain ada berderet-deret rumah-rumah mewah - besar dan megah. Semua beratap rata, sehingga mengingatkan akan suasana California Selatan. Sebetulnya bukan cuma model arsitekturnya yang mengingatkan akan kota Irvine di California Selatan, tapi juga kerapian dan kebersihannya.

Begitu rapinya Islamabad sampai aku merasa malu. Kok kita tidak bisa sebersih dan serapi ini ya? Padahal penduduknya sama kumuhnya! Tapi ternyata wajah Islamabad bukan merupakan wajah Pakistan. Islamabad bagi Pakistan adalah seperti Pondok Indah bagi Jakarta. Pondok Indah memang makmur, tapi Jakarta bukan hanya Pondok Indah.

Rumah yang kutempati di sini besar dan mewahnya seperti salah satu rumah-rumah di Pondok Indah. Ada 10 kamar di staff house ini, masing-masing berukuran besar, dengan fasilitas serupa hotel. Di kamar mandi pribadiku yang luas ada bath tub dan ada barang favoritku - meja wastafel yang terbuat dari batugamping foraminiferal-algal, yang memperlihatkan beribu-ribu fosil mungil foraminifera dan algae - binatang-binatang yang dulu, berjuta-juta tahun yang lalu, semasa hidupnya sibuk berenang-renang ria di laut dangkal yang kaya matahari.

Kota Islamabad yang teratur ini dibangun dalam bentuk sektor-sektor. Tiap sektor terdiri dari perumahan-perumahan, serta taman dan kompleks pertokoan atau markaz. Staff house tempatku tinggal terletak di sektor F-8. Jalan di depan staff house dikelilingi oleh rumah-rumah yang sama besar dan mewahnya. Di rumah-rumah besar seperti inilah para politisi dan kaum kelas atas Pakistan tinggal. Di sini juga para ‘expatriate’ dan pegawai-pegawai kedutaan tinggal.

Yang mengherankan, walaupun Islamabad penuh berisi masyarakat kelas atas dan kaum pekerja asing berdaya beli besar, tidak ada sama sekali pertokoan besar seperti plaza atau mall yang menjamur di Jakarta. Supermarketpun hanya ada sekelas IndoMaret. Markaz atau pertokoan F8 yang ada di dekat Staff House di tengah-tengah sektor F8 hanya terdiri dari beberapa deret toko kecil, kumuh dan berdebu, yang mengelilingi lapangan parkir. Tidak jauh beda dengan Pasar Muntilan di Jawa Tengah sana! Tidak ada supermarket kelas atas seperti Matahari-nya Citos atau Hero Kemang dan Kemchick. Ke mana orang-orang kaya ini berbelanja?

Pertokoan terbesar di sini adalah Markaz F-6 dan F-7. Di kedua tempat ini masing-masing ada sebuah toserba mini sekelas toserba Ramayana di pasar Kramat Jati. Sisanya adalah deretan toko-toko yang walaupun menjual barang-barang bermerek asli seperti Armani, Gucci dan Hush Puppies, harus bertetangga dengan toko-toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari, baju anak-anak, sepatu, dan buku bekas, yang tidak ada glamornya sama sekali. Tidak ada sama sekali kesan wah dari pertokoan-pertokoan yang ada di sini, seperti yang dimiliki oleh plaza-plaza dan mall-mall di Jakarta.

Selain tidak adanya pertokoan modern, umumnya para ‘expat’ mengeluhkan ketiadaan ‘nightlife’. Sebagai negara muslim yang lumayan ketat mengikuti aturan Islam, Pakistan melarang keberadaan hiburan malam semacam diskotek, pub atau bar. Alkohol juga - resminya - dilarang. Bioskop sama sekali tak ada. Maka acara sosial biasanya dilakukan di rumah-rumah, atau bagi para pekerja asing di klub-klub, yang kadang menerapkan persyaratan keanggotaan yang cukup berat. Tapi, tanpa perlu menjadi anggota, hanya dengan membuntuti teman-teman asing di kantorku yang menjadi anggota, dalam 4 malam pertama sudah kukunjungi dua klub, yaitu UN Club dan British Club. Di bar dalam kedua klub itu berderet-deret minuman beralkohol tersedia, bebas untuk dibeli dan dinikmati. Selain kedua klub itu masih ada Australian Club, Canadian Club dan Chinese Club.

Suasana di dalam klub tidak jauh berbeda dengan pub-pub di UK atau kafe-kafe di Jakarta. Hanya bedanya dengan yang ada di Jakarta, di sini tidak ada ‘ayam Pakistan’ alias bar girl atau gadis-gadis yang menunggu pasangan berduit untuk membelikannya minuman. Di UN Club pengantarku menunjukkan seseorang kepadaku dan berbisik bahwa pria itu adalah atase militer Algeria, yang hampir tiap malam selalu duduk santai di salah satu sofa di sudut ruangan, dengan bergelas-gelas alkohol di sekelilingnya. Malam itu perempuan di depannya sibuk menarikan tari perut, khusus buatnya!

Bukan tidak ada orang Pakistan yang doyan alkohol. Nyatanya pada saat salah satu teman kantor berulang tahun dan mengundang kami untuk 'have a drink or two' di rumahnya, banyak sekali yang datang dan ikut mencicipi anggur dan bir yang disediakan. Untuk warga asing dan warga Pakistan yang non-Muslim disediakan kartu ijin khusus untuk membeli minuman keras yang adalah produksi dalam negeri Pakistan sendiri. Pabrik minuman alkohol Murree Brewery punya kompleks yang cukup besar di kota sebelah dan merekalah pemasok pusat-pusat penjualan miniman beralkohol yang pembelinya hanyalah orang-orang yang memiliki kartu ijin khusus ini. Seperti cerita umum d negeri-negeri sedang berkembang, korupsi banyak terjadi, maka walaupun alkohol dilarang seorang yang tidak memiliki kartu ijin tetap bisa mendapatkan alkohol. Caranya? Belilah alkohol dari orang-orang yang memiliki kartu ijin.

Seperti kusebutkan tadi, Islamabad tidak mencerminkan kondisi Pakistan yang sebenarnya. Wajah Pakistan yang sebenarnya baru terintip olehku waktu suatu malam diajak berkeliling Rawalpindi, kota tetangga Islamabad. Rawalpindi yang lahir di sekitar 1840an akibat dijadikan daerah markas tentara Inggris, buatku tampak seperti Jakarta, tapi minus gedung-gedung bertingkatnya. Lalu lintas Rawalpindi semrawut, persis lalulintas Jakarta. Bus-bus kota dan angkot berhenti seenaknya di tengah jalan, orang-orang menyeberang di mana-mana. jembatan penyeberangan sangat sepi, dan pagar pembatas jalan banyak yang berlubang - sekali lagi, persis Jakarta!

Pasar di Rawalpindi mengingatkanku pada pasar Jatinegara. Sampah di mana-mana. Bau tidak sedap memenuhi jalan. Kakilima dipenuhi pedagang yang sibuk meneriakkan dagangannya. Kain-kain dan barang dagangan lain digelar sepanjang jalan, hanya dialasi terpal atau plastik. Pedagang makanan juga banyak di mana-mana. Yang sedikit mengherankan, di Jakarta aku tidak pernah kuatir membeli makanan kakilima, tapi di sini rasanya cukup menakutkan untuk mencoba makanan berdebu dan berlalat itu! :o

Islamabad, 14 Juli 2003


Posted at 11:51 am by koeniel

Mariana afnie
February 3, 2014   07:49 AM PST
 
Aku pengeeen banget ke pakistan, gue byk teman di pakistan, di rawalpindi, lahore, islamabad, abbotabbad, dll, tp kpn ya..?
Name
October 20, 2013   10:03 PM PDT
 
Nice story... but I'm afraid to come pakistan..
the north face jackets
October 24, 2012   06:16 AM PDT
 
Good stuff as per usual, thanks. I do hope this kind of thing gets more exposure.,211655,http://my-musings.blogdrive.com/archive/111.html
Links of London Outlet
April 30, 2012   03:17 AM PDT
 
Wow. I've been reading your stuff for about a year now and this is basically the only sh*t I dont agree with. Give atleast a little credit where credit is due. Kobe got his ass kicked by this so called fluke. So what? Chill out. No one said the Rockets were the best team.,787267,http://my-musings.blogdrive.com/archive/111.html
Moncler Jakke
April 30, 2012   03:16 AM PDT
 
Liked you on Facebook, too. =),307973,http://my-musings.blogdrive.com/archive/111.html
security equipment
November 1, 2011   02:32 PM PDT
 
You have some interesting thoughts! Perhaps we should contemplate about attempting this myself.
cctv karachi
October 5, 2011   03:27 PM PDT
 
really great post
Buy Viagra online
June 29, 2011   06:12 AM PDT
 
hiburan malam semacam diskotek, pub atau bar. Alkohol juga - resminya - dilarang. Bioskop sama sekali tak ada. Maka acara sosial biasanya dilakukan di rumah-rumah, atau bagi para pekerja asing di klub-klub, yang kadang menerapkan persyaratan keanggotaan yang cukup berat.
Web Design
March 1, 2011   07:12 PM PST
 
Really the blogging is spreading its wings rapidly. Your write up is a fine example of it.
Huck Towel
March 1, 2011   06:54 PM PST
 
I would like to say that it is very interesting to read your blog.
Web Designing
February 14, 2011   01:45 PM PST
 
very pleased to find this site.I wanted to thank you for this great read!!
Mahiya
February 13, 2011   10:35 AM PST
 
Hiii...aku pengen banget ke Islamabad dan tahu tentang G10 Markez..boleh kasih info gak? atau boleh gak aku punya No.HP yg posting cerita ini? terimakasih sebelumnya
Dyah
January 9, 2010   07:12 AM PST
 
Hii.. jadi merinding bacanya..
G mau ah punya suami orang pakistan.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON