Sunday, June 29, 2003
Assalamualaikum & Shukriya

street kid islamabad   click picture for photo album

Assalamu'alaikum & Shukriya. Kedua kata ini adalah senjataku dalam berkomunikasi dengan orang-orang Pakistan. Walaupun banyak di antara mereka yang lancar berbahasa Inggris, tetap saja salam damai Assalamu’alaikum dan Shukriya, kata terima kasih dalam bahasa Urdu, sangat dihargai.

Orang-orang Pakistan pada umumnya ramah, dan sangat helpful. Hanya saja, mereka punya penyakit yang biasanya dibenci para pendatang dan juga sering membuatku merasa jengah - yaitu kebiasaan untuk memandang, to stare. Mereka bisa memandang lekat tanpa merasa jengah ataupun tanpa merasa kasihan pada obyek yang dipandanginya. Mereka akan terus memandangi orang asing lekat-lekat, tanpa merasa perlu membuang muka pura-pura tidak memandang apabila kepergok sedang memandangi.

Maka itulah, menjadi berbeda dan menarik perhatian bukanlah sesuatu yang menyenangkan, dan hal inilah yang membuat hari-hari pertamaku di sini tidak nyaman. Kebanyakan orang Pakistan memakai pakaian tradisional mereka sehari-hari. Para lelaki memakai khameez, kemeja longgar yang panjangnya minimal selutut - hampir seperti jubah, dan shalwar, celana panjang longgar. Mereka kadang memakai topi haji, kadang tidak. Para perempuannya juga memakai shalwar dan khameez versi perempuan, blus longgar yang panjangnya selutut dan celana panjang gombrong, dengan dilengkapi dupatta, selendang, yang disampirkan di bahu atau dipakai untuk menutupi kepala.

Di kantorku para lelaki memakai baju gaya eropa: kemeja, pantalon dan dasi. Akan tetapi para perempuan tetap memakai shalwar dan khameez. Maka itulah aku, dengan kemeja, blazer dan celana panjangku, jadi kelihatan sangat berbeda dan selalu mengundang pandangan yang membuat jengah.

Sejauh pandanganku yang baru beberapa hari berada di sini, masyarakat Pakistan adalah masyarakat yang sangat maskulin, a very male oriented society. Di tempat-tempat umum seperti pasar dan di jalan-jalan lelaki sangat mendominasi. Jarang ada perempuan berjalan sendirian.

Di kantorku yang modern ini, yang adalah perusahaan milik asing, hanya ada kurang dari 15% pegawai perempuan. Selain dari seorang akuntan dan dua orang PR, sisanya adalah sekretaris atau administrator. Pekerjaan teknikal belum merupakan domain perempuan di sini.

Tidak banyak perempuan kelihatan bekerja di luar rumah. Para penjaga toko dan petugas kebersihan gedung serta office helper dan tukang masak, semua laki-laki. Di pagi pertama bekerja di kantor, aku sempat terkejut juga bertemu seorang laki-laki di kamar mandi perempuan! Rupanya memang tidak ada petugas ‘cleaning service’ perempuan di sini. Pengurus rumah tangga dan pembantu di staff house juga seluruhnya laki-laki. Maka walaupun merasa sangat jengah, terpaksa juga kucucikan pakaian dalamku pada mereka! :o Lha mau dicuci sendiri juga percuma - mereka tiap hari toh harus membersihkan kamar dan kamar mandiku juga!

Begitu jarangnya profesional wanita di sini, sehingga rasanya ada sedikit kekakuan dalam perlakuan mereka terhadap diriku. Sepertinya mereka, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah, sedikit bingung dan tidak tahu harus bagaimana memperlakukanku. Padahal mereka pernah punya Benazir Bhutto yang seorang perdana menteri!

Di kantor pun, walaupun sebagian besar pekerja pernah mengenyam pendidikan universitas, bahkan sebagian di luar negeri, kadang masih kutangkap rasa ragu mereka ketika harus berhadapan denganku, berdiskusi dan bekerja bersama. Maka pendidikan dan pendidikan di luar negeri tetap tidak bisa dijadikan patokan. Ketika seorang teman asing diundang makan malam di rumah seorang rekan Pakistan yang bersekolah bertahun-tahun di luar negeri, pada saat makan malam dilakukan sang istri dan anak-anak perempuan menghilang ke dapur dan hanya sesekali keluar saat melayani si suami, anak lelaki dan tamu menyantap makan malam.

Di jalan-jalan dan di pasar, kekakuan ini terasa sekali dan membuatku jadi bingung juga. Menurut salah seorang teman asing yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini, di Pakistan kaum pria sudah dipisahkan dari kaum wanita sejak kecil, sehingga dunia mereka memang sangat machismo. Anak lelaki juga sangat lebih dihargai daripada anak perempuan. Seorang anak perempuan selalu diajari untuk melayani kebutuhan saudara-saudara lelakinya, tidak peduli apakah itu kakak atau adik. Kebutuhan lelaki selalu nomor satu.

Tapi bukan berarti mereka tidak ramah. Hafeez Jr si supir malam yang selalu setia mengantarku pulang kantor tak henti-hentinya menawariku untuk berkeliling Islamabad (yang bisa dikelilingi habis dalam setengah jam ini) dan selalu berusaha dengan bahasa Inggrisnya yang patah-patah untuk menjadi pemandu tur yang baik. Sebetulnya kebaikan hati mereka bisa membuatku merasa gugup juga. Hafeez Jr ini selalu memanggilku dengan sebutan ‘memsaab’ alias maam sahib. Seperti masih di jaman kolonial!! Padahal aku kan bukan penjajah! Lihat Hafeez, kita sama-sama manusia yang sejajar! Untungnya sudah berhasil kuhilangkan kebiasaannya membawakan tasku!

Ada satu kebiasaan orang Pakistan yang sangat jelas tampak di mata: minum teh. Mereka tergila-gila pada teh, jauh melebihi orang Inggris. Mug berisi teh selalu bisa dilihat di setiap meja. Kalau di lantai 4 kantorku di Jakarta, aqua dispenser ada di mana-mana sedangkan tea/coffee station hanya ada di dua tempat, di sini tea station hampir ada di tiap sudut bersama aqua dispenser, tapi hanya khusus untuk air panas untuk membuat teh!!! Maka terpaksalah aku harus bolak-balik berjalan ke dapur untuk minta air mineral dingin. “Another bottle of mineral water?” tanya sang chief chef dengan bahasa Inggris logat Indianya. “Yes, please,” jawabku. “Why?” tanyanya. “Well, I don’t really like tea or coffee, I prefer plain water.” sahutku. Dan dia memandangiku dengan ternganga. Satu lagi keanehanku bagi mereka.......

Islamabad, 29 June 2003


Posted at 10:10 pm by koeniel

tata
December 31, 2012   02:25 PM PST
 
Bagaimana dengan orang-orang disana,sebelumnya aku dengar mereka sangat cantik-cantik dan tampan? :)
Safar el Munawy
April 13, 2010   06:05 PM PDT
 
Mf saudari koeniel,,, dalam diri setiap anak adam memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis alias nafsu baik dia pria maupun wanita. Memenejnya bukan saja dengan memenej nafsu saja tapi dengan meminimalisir jalan yang menghantar kepada kejahatan hawa nafsu itu. So, jaga hati, jaga kehormatan diri and yang tak kalah penting jaga aurat tubuh sebagai pembeda antara manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain.
koeniel
March 3, 2007   12:29 AM PST
 
maaf saudara safar, sepertinya malah lelaki2 berpandangan sempit seperti anda yang harus merubah paradigma. jangan suruh kami yang menutupi badan kami kalau anda tidak bisa memanajemen nafsu-nafsu anda. dan kalau anda memang terbudak oleh nafsu birahi, jangan harap kami kaum perempuan bisa menghormati anda.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON