Tuesday, July 15, 2003
Masih Tentang Pakistan

Hari Jum'at sore aku diajak berkeliling-keliling oleh seorang pria muda Pakistan, rekan sekerja di kantor. Tinggi langsing agak cakep tapi sayang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kebotakan. Semuanya bermula pada saat acara makan malam ultah seorang rekan dari departemen finance beberapa hari yang lalu. Saat itu aku berkata bahwa aku tertarik pada musik tradisional Pakistan. Ini perkataan jujur bukan cuma demi menarik perhatian si tampan.:D

Lalu Jum'at sore dia muncul di kantorku. “Jalan yok,” katanya. Maka pergilah kami. Pertama ke toko CD. Di situ dia membelikanku 4 buah CD. Salah satu di antaranya adalah album hasil kerjasama Nusrah Fateh Ali Khan, pemusik Pakistan, dengan Peter Gabriel, bekas Genesis formasi lama, yang musiknya banyak kusuka. Tofff..........

Tadinya aku merasa sungkan sekali karena dia membayari CD-CD ini. Sudah kutolak tapi dia memaksa. Akhirnya setelah kutahu harga CD-CD itu murah, kuterima kebaikan hatinya. Tapi aku sempat heran juga, kok CD harganya murah sekali, apakah mungkin karena musik daerah? Keempat CD itu Cuma berharga 500 rupees (75 ribu rupiah) saja. Setelah berkeliling toko barulah aku sadar, bahwa harga VCD, CD dan DVD di sini murah sekali. Maka ini pasti barang bajakan. Tapi susahnya, di sini sepertinya tidak ada yang asli. Setidaknya aku belum pernah melihat yang asli, tidak seperti di Jakarta yang walaupun merupakan salah satu surga VCD, DVD dan CD bajakan, tapi kita masih bisa membeli barang asli.

Yang cukup mengagetkan, ternyata banyak sekali Vcd dan Dvd porno dijual di sini, jumlah dan variasi judulnya kelihatannya tidak kalah dengan Glodok. Cara menawarkannya juga tidak jauh berbeda! :D

Sehabis membeli CD kami pergi ke kafe, yang katanya adalah satu-satunya kafe anak muda di Islamabad. Aku percaya. Kafe itu tampak modern seperti kafe-kafe gaul di Jakarta. ABG-ABG pengunjung kafe juga modis sekali. Para ABG lelaki kelihatan modis memakai kaus ketat tanpa lengan, celana baggy, kalung dst. Sedangkan yang perempuan ada yang masih ber-shalwar khameez, tapi dengan model yang modern dan trendy, agak ketat nempel tubuh dan berbahan tipis. Sebagian lagi memakai baju biasa gaya eropa sepertiku

Walaupun di jalan-jalan jarang sekali kelihatan perempuan berbaju selain shalwar khameez, Ternyata di toko-toko dijual juga baju-baju seksi, jeans ketat model hiphugger, baju-baju tanpa lengan dst. Aku sempet bingung juga, kalau yang menjual banyak, pasti pembelinya juga banyak. Tapi di mana mereka? Mengapa di jalan-jalan hanya kelihatan shalwar khameez? Mungkin mereka baju-baju modern dan seksi itu hanya dipakai dalam pesta-pesta private di rumah atau di antara teman dan keluarga saja

Kembali ke kafe, isinya kelihatannya eksklusif anak-anak muda kaya Islamabad. Tidak jauh berbeda gayanya dengan anak-anak muda kaya Jakarta. Cuma di sini tempat mereka bias kelihatan bebas begini memang terbatas. Di sini cuma ada dua tempat mereka bisa nongkrong, yaitu di kafe ini dan di semacam diskotek yang bernama the Basement di hotel Marriott. Aku belum pernah ke sana. Tiket masuknya kabarnya mahal sekali (hampir sekitar 25an dollar US) dan kita harus datang dengan membawa pasangan (lawan jenis).

Untuk para ekspatriat ada tempat disco remang-remang, namanya Chinese Club. Di Islamabad ada beberapa Club yang dibuat oleh kedutaan-kedutaan besar untuk tempat para pekerja asing berkumpul, dengan alkohol yang bisa dibeli bebas.

Aku sudah pernah berkunjung ke UN Club, Canadian Club, British Club dan Chinese Club. Yang terakhir inilah yang memang agak shady :) Tempatnya gelap dan remang-remang, dengan sebagian besar pengunjung adalah perempuan (di klub-klub lain yang lebih terhormat, perempuan hanya sedikit. Kalaupun ada, biasanya adalah pekerja ekspatriat perempuan seperti aku, atau istri-istri para ekspatriat). Para perempuan yang nongkrong di Chinese Club kelihatannya persis seperti ayam atau bar girls di Indonesia. Di sini mereka disebut fsu's alias ‘former soviet unions’, karena kebanyakan berasal dari Tajikistan, Arkmenistan, Uzbekistan dsb yang adalah bekas negara-negara bagian Uni Sovyet. Di situ ada juga sang Mama alias germo.

Menurut temanku yang orang Pakistan, di sini ada juga prostitusi, tapi terselubung sekali. Untuk mendapat servis dari perempuan pekerja seks, seseorang harus tau nomor telepon yang bisa dihubungi. Katanya beberapa bulan yang lalu ada banyak rumah-rumah mewah yang digeledah polisi karena dicurigai telah dijadikan sebagai dijadikan 'guest house' sekaligus tempat berjualan seks terselubung.

Hari Sabtu sore aku berbelanja kain. Maksudnya aku ingin membuat shalwar khameez seperti yang dipakai gadis-gadis di sini. Tapi di Islamabad tidak ada shopping mall. Adanya hanya deretan toko-toko seperti di Blok M atau di Pasar Senen. Ada banyak barang ber-merek dijual, tapi tidak di dalam shopping mall mewah.

Ternyata kain-kain yang dijual di sini banyak juga yang buatan Indonesia. Aku cukup bangga juga. Pedagangnya berkata, "Yes, we have a very good imported material, maam. Look here. It's nice isn't it? It's soft, cool etc etc etc." Lalu celetukku,"Of course, it's made in my country!" sambil menunjukkan padanya tulisan di ujung kain.

Setelah banyak memilih-milih akhirnya aku memutuskan untuk membeli bahan yang warnanya agak kalem (di sini umumnya perempuan memakai baju dengan warna-warna menyala seperti oranye, kuning, biruatau hijau terang). Warnanya adalah ungu keabu-abuan, dengan motif bunga kecil-kecil yang agak sulit dicari karena di sini banyak perempuan suka dengan pola kembang-kembang besar seperti ibu-ibu di indonesia. Lalu kami bawalah kain tersebut ke tukang jahit. Harga kain untuk khameez (blus tunik panjang), shalwar (celana panjang baggy) dan dupatta (selendang/stole) adalah 450 rupees. Ongkos jahit dan renda 200 rupees. Total yang harus kubayar hanya sekitar sembilan puluh ribuan. Not too bad. Ongkos jahitnya itu yang ternyata murah.

Selama berbelanja dan menjahitkan baju aku ditemani oleh seorang teman perempuan dari departemen HR, yang kuharap bisa jadi temanku di sini. Karena sampai saat ini belum ada orang Pakistan yang bisa jadi teman akrabku. Beberapa malam ini aku selalu pergi ke pub atau restoran sepulang kerja, tapi bukan dengan mereka melainkan dengan teman-teman asing lain di kantor. Jarang sekali ada rekan kerja Pakistan yang menawariku untuk pergi keluar bersama di sore hari. Mungkin karena jarang ada tempat untuk pergi dan keluar bersama di malam hari. Tidak ada shopping mall, kafe pun cuma satu, bioskop tidak ada. Lengkaplah sudah.

Di sisi lain, tawaran dari rekan sesama pekerja asing tidak pernah berhenti. Mungkin mereka kesepian sehingga selalu harus pergi keluar di waktu malam. Maklum kebanyakan dari mereka terpaksa bekerja di sini tanpa keluarga karena sejak tahun lalu saat ada pemboman di sebuah gereja yang menewaskan seorang gadis cilik keluarga para ekspatriat ini diungsikan, ada yang kembali ke negaranya masing-masing, ada yang memilih untuk tinggal di Dubai yang relatif masih dekat dengan Pakistan.

Sebelum berangkat ke Pakistan aku sempat diwanti-wanti bahwa di Pakistan perempuan tidak dibolehkan pergi hanya berdua dengan lelaki yang bukan muhrimnya. Aku sempat bingung juga, apakah itu berarti supirku harus seorang perempuan? Tapi ternyata tidak. Di sini aku selalu diantar oleh supir ke mana pun aku pergi, dan semua supir di kantor kami adalah lelaki. Soal ini juga sempat membuatku serba salah. Di Jakarta aku selalu memilih untuk duduk di sebelah supir, supaya rasanya tidak terlalu seperti bos. Di sini pun pada hari pertama aku langsung saja tanpa berpikir panjang duduk di samping si supir. Baru kemudian aku sadar dan bertanya-tanya apakah ini tidak membuat si supir bingung dan jengah karena harus duduk bersebelahan dengan perempuan yang bukan muhrimnya? Tapi saat itu rasanya sudah terlambat untuk kemudian pindah duduk di belakang karena pasti akan menimbulkan pertanyaan. Tapi rasanya sampai saat ini tidak pernah ada yang protes. Jadi semestinya ini bukan masalah.

Lagipula saat aku pergi berdua dengan si tampan Jum’at lalu di mobil kami juga duduk bersebelahan. Jadi aku makin yakin ini tidak menjadi masalah. Mungkin karena aku ada di Islamabad yang adalah kota besar dan banyak bersentuhan dengan budaya asing. Entahlah. Selama ini paling-paling aku hanya dipandangi saja, lekat-lekat, seperti gaya semua orang Pakistan kalau memandangi hal yang dianggapnya aneh. Dan di sini, aku memang barang aneh. Kadang lelah juga selalu dipandangi seperti itu dan kadang aku ingin berteriak, “Heh, Ngapain liat-liat!” Tapi aku takut. Kebanyakan lelaki di sini buatku berwajah seram, jarang tersenyum dan berjenggot. Maka aku coba saja untuk membiasakan diri.

Dan berusaha untuk tidak terlalu kelihatan menyolok. Sudah kutinggalkan semua pakaian ketatku dan jeans yang berpinggang rendah. Di sini hampir semua bajuku longgar dan seandainya pun aku memakai kaus yang kelihatan agak ketat, pasti kupakai selendang untuk menutupi bagian dada. Selendang ini juga bisa dipakai sebagai kerudung, untuk menutupi rambut, dengan gaya Benazir Bhutto dan Mbak Tutut, gaya yang umum dipakai di sini. Karena di sini malah sangat jarang kulihat perempuan memakai jilbab rapat seperti di Indonesia. Di kantor hanya ada satu perempuan yang memakai selendangnya seperti jilbab, tapi itupun masih memperlihatkan poninya. Tapi kudengar kalau kita hendak pergi ke pedesaan atau ke daerah Peshawar di North West Frontier Province yang menerapkan sharia Islam itu, kerudung akan harus dipakai rapat.

Sebetulnya untuk memakai dupatta alias selendang panjang seperti yang dipakai di pundak oleh perempuan-perempuan di sini cukup dibutuhkan keahlian, untuk menjaga agar kita tidak tersandung oleh selendang itu, dan juga di toilet, menjaga agar si selendang tidak tercemplung ke dalam wc!

Islamabad, 15 Juli 2003


Posted at 06:54 pm by koeniel

anna
September 27, 2013   06:29 PM PDT
 
saya ingin travelling kesana, susah tidak urus visanya?
wiwik rahmawati
February 18, 2013   05:08 PM PST
 
mbak please share no: telponya or email doong
Ella
December 5, 2009   05:39 PM PST
 
My darling orang Pakistan, mbak. dan mau pindah ke indo, bagaimana caranya ya..supaya bisa dpt kerja?apakah ada komunitas Pakistan di Indo? thx ya...

Ella
babyblue.1978@yahoo.com
ellen
February 21, 2008   04:13 PM PST
 
Hi mba...
saya tertarik dengan tulisan mba ini,
jadi penasaran i pakistan itu ada penduduk yg agamanya nasrani ga ya??
hehehe trims yaaa

Ellen
ellendata@yahoo.com
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON