Monday, November 08, 2004
Ini Bagian dari Kita Juga

tentang Wayang Potehi, seni yang hampir terbunuh oleh kita

Sore kemarin (Minggu, 7 November 2004) aku dan teman-teman dari Sahabat Museum masuk ke dalam sebuah gang kecil di dalam pasar Jatinegara. Di situ ada sebuah klenteng bernama Amurva Bhumi dan di depan klenteng tersebut, tepat di tepi gang pasar, dipasang tenda dan panggung kecil. Di depan panggung itu, di tengah segala kesibukan pasar di Minggu sore seminggu sebelum Lebaran, kami menonton Wayang Potehi.

Wayang Potehi adalah sebuah pertunjukan boneka atau wayang semacam wayang golek yang dimainkan di atas panggung kecil dan mempertontonkan berbagai kisah klasik Cina. Potehi berasal dari Poo yang berarti kain, tay yang berarti kantung dan hay yang berarti wayang. Jadi wayang potehi adalah wayang kantung kain. Dan memang badan wayang adalah berupa kantung kain, yang sekaligus menjadi baju si tokoh wayang yang berwarna-warni dan berpola indah. Di bagian atas kantung ada kepala wayang terbuat dari kayu dan di cat dengan berbagai mimik muka yang berbeda. Ada yang tampak baik hati, ada yang bengis sekali. Kalau pada wayang golek dalang menggerakkan wayang menggunakan tongkat yang tertempel di ujung tangan wayang, dalang wayang potehi memasukkan tangannya ke dalam kantung kain alias badan wayang dan menggunakan jemarinya untuk menggerakkan kepala dan kedua tangan si wayang.

Dalang mahir semacam Bapak Thio Tiong Gie atau asistennya bisa menggerakkan wayang-wayang dalam sebuah adegan perang sehingga mereka tampak hidup. Sebuah wayang yang memegang pedang dimainkan bertempur dengan wayang yang memegang tombak bagaikan adegan dalam film silat, gerakannya mengalir dengan lancar, dan boneka tampak hidup. Menakjubkan sekali melihat mereka memainkan adegan seperti ini. Tidak semua kisah yang ditampilkan dalam wayang potehi berupa adegan silat. Episode yang kami tonton kemarin malah kebanyakan berupa adegan percakapan. Aslinya sebuah kisah yang ditampilkan dalam wayang potehi ditampilkan secara berseri selama berhari-hari. Tapi di masa sekarang ini kebanyakan kisah-kisah tersebut ditampilkan tidak lengkap hanya beberapa cuplikan yang menarik saja.

Menurut Thio Tiong Gie sebetulnya kisah-kisah wayang potehi banyak yang sudah diadaptasi menjadi lakon-lakon ketoprak, sehingga sudah cukup akrab bagi masyarakat Jawa. Semisal Sie Jin Kwie, dalam dunia ketoprak dia dikenal sebagai Joko Sudiro dan Prabu Lie Sie Bien sebagai Prabu Lisan Puro. Seni wayang ini aslinya lahir di daratan Cina pada masa Dinasti Jin (abad 3-5) dan berkembang pada masa Dinasti Song (abad 10-13). Konon lahirnya wayang potehi bermula dari adanya lima orang yang akan dijatuhi hukuman mati. Ketimbang bersedih menunggu ajal, mereka berpikir bahwa lebih baik menghibur diri. Maka dengan menggunakan barang-barang yang ada di sel seperti panci dan piring mereka mulai memainkan musik tetabuhan untuk mengiringi permainan wayang. Kaisar yang mendengar bebunyian menarik ini akhirnya memberi mereka pengampunan.

Pada saat pertama masuk ke nusantara wayang ini masih dimainkan dalam bahasa asli suku Hokkian. Namun pada perkembangannya akhirnya cerita dimainkan dalam bahasa Indonesia, yang terdengar khas karena kadang lebih mirip bahasa Indonesia jaman dulu, dengan disisipi istilah-istilah dalam bahasa asli di sana-sini. Iringan musiknya adalah beberapa macam tetabuhan dan semacam rebab. Musik iringan wayang ini juga menarik sekali dan membuat pertunjukan jadi hidup. Thio Tiong Gie yang sudah berusia 72 tahun ini adalah satu-satunya dalang wayang potehi yang masih tersisa di Semarang. Dalam pertunjukkannya kemarin beliau dibantu oleh seorang asisten dalang dan juga oleh 3 orang pengiring musik, yang semuanya berasal dari suku Jawa. Karena grup wayang potehi Thio yang bernama Tek Gie Hien sudah bubar, ketiga pemain musik yang dibawanya ini harus di-'impor' dari Surabaya, yang masih punya lebih banyak grup wayang potehi ketimbang Semarang. Di Surabaya pula masih ada pengrajin wayang potehi.

Pak Thio yang mulai mendalang sejak berumur 27 tahun mengalami jaman saat pertunjukan wayang potehi populer sekali. Beliau diminta mengisi berbagai acara hajatan dan bisa manggung selama sembilan bulan dalam setahun. Lalu tiba-tiba pada tahun 1967 beliau tidak bisa lagi mementaskan wayang potehi di tempat umum, karena pemerintah Orde Baru melarang segala bentuk kesenian dan budaya Tionghoa. Setelah pemerintahan Gus Dur mencabut larangan itu di tahun 1999, kesenian ini sudah mulai dipentaskan kembali. Tetapi tetap tidak seramai dulu. Saat kesenian Tionghoa marak kembali dan - seperti ciri khas masyarakat modern kita - dipentaskan di mall-mall, wayang potehi tetap terkesampingkan, kalah oleh kepopuleran barongsai, yang harus diakui memang lebih mudah menarik perhatian.

Jelas terlihat bahwa seni wayang potehi ini adalah seni yang hampir saja mati terbunuh. Ironisnya, tidak seperti banyak bentuk kesenian dan budaya tradisional lain yang mati perlahan oleh serbuan televisi dan berbagai macam hiburan modern, wayang potehi sekarat karena selain gempuran tadi kesenian ini juga dipasung selama 30 tahun bersama segala bentuk kesenian dan budaya Tionghoa. Fobia yang keterlaluan ini membuat budaya Tionghoa di negara kita tidak dianggap sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.

Sewaktu backpacking di Malaysia beberapa tahun yang lalu aku sempat kaget melihat betapa suburnya budaya Tionghoa di negara itu, betapa budaya Tionghoa bisa berdiri berdampingan dan dianggap sebagai kekayaan budaya yang sama dengan budaya Melayu. Di Malaka, sebuah kota di pantai barat Malaysia yang pada abad 16-17 adalah salah satu pelabuhan utama di kawasan Asia Tenggara, kekayaan budaya orang-orang Tionghoa adalah salah satu daya tarik wisata yang punya nilai jual tinggi. Di sini rumah-rumah bergaya arsitektur Cina dirawat seperti bangunan-bangunan kolonial dan dijadikan tempat tujuan wisata. Begitu pula di Penang, sebuah pulau di barat Malaysia.

Di sinilah, di Malaysia, aku baru sadar tentang adanya budaya khas the Strait Chinese yang adalah budaya orang-orang Tionghoa yang sudah lama hidup di tanah Melayu dan sudah mengadopsi bagian-bagian budaya melayu dan menggabungkannya dengan budaya mereka. Salah satu bentuk adopsi yang tampak adalah pada pakaian para Nyonya Tionghoa kala itu, yang memakai kebaya. Pada saat menjelajahi Museum Baba & Nyonya yang menunjukkan budaya khas ini aku sempat terhenyak - ternyata sebetulnya banyak bagian-bagian dari budaya itu yang mirip dengan budaya orang-orang Tionghoa di Indonesia! Menurutku sungguh tragis bahwa aku harus belajar tentang budaya the Strait Chinese yang juga kita miliki, justru dari negeri tetangga. Sepertinya di negara tetangga kita itu, budaya kaum Tionghoa diterima dan dianggap sebagai bagian dari kekayaan budaya Malaysia. Lalu mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama? Mengapa di Taman Mini ada berbagai jenis bangunan tradisional dan seni budaya suku-suku di Indonesia, tapi tidak ada bangunan tradisional atau seni budaya Tionghoa? Yang sebetulnya dalam hidup sehari-hari saja bisa kita lihat dengan mudah di sekeliling kita.

Aku berharap bahwa sekarang ini akhirnya kita sudah bisa mulai membuka diri dan mau mengakui bahwa budaya teman-teman Tionghoa, upacara-upacara mereka, pertunjukan dan tari-tarian seperti wayang potehi ini adalah milik kita juga, bagian dari jati diri bangsa kita. Semoga dengan ini wayang potehi bisa kembali bangkit, menjadi populer seperti pertunjukan wayang kulit Jawa, sehingga kita tidak perlu kehilangan milik kita yang berharga.

Jakarta, 8 November 2004

Sebagian informasi di atas diambil dari Majalah Tempo No. 51/XXX/18 - 24 Februari 2002 dan Tabloid Seputar Semarang (Suplemen Suara Merdeka) edisi 30 tahun I 9-15 Maret 2004


Posted at 04:49 pm by koeniel

beni
May 25, 2008   02:24 PM PDT
 
4 juni 08 di Klenteng Tay kak Sie Semarang pagelaran Sam Po Kecil
ada wayang Po te hie juga
lies
March 25, 2008   05:44 PM PDT
 
nihao!!!!

wo yao wen:

klenteng yg mgadakan wayang potehi slain d jatinegara,(khususnya di daerah jkrta) dmn lg yaa???
ktanya ada yang di daerah jembtan tiga,itu dmn yaa???


henduoxie
Name Widjaja
March 25, 2008   09:16 AM PDT
 
Mau tanya siapa dan alamatnya dimana untuk pembuat wayang potehi di surabay, thanks
koeniel
July 9, 2007   10:04 AM PDT
 
dear artha senna dan teman2 lain, mohon maaf tapi saya sama sekali tidak punya alamat maupun nomor telepon pak Thio. Waktu itu saya dan teman2 cuma datang untuk nonton, lalu sempat ngobrol2 sebentar sesudahnya tapi saya juga (begonya) nggak minta data beliau tuh... maaf ya :(( mungkin kalau perlu sekali bisa kontak ke klenteng di Jatinegara itu (di dlm gang, nggak jauh dari kantor polisi) karena mereka dulu yang menyellenggarakan pertunjukkannya. sekali lagi maaf....
Name
July 9, 2007   09:59 AM PDT
 
mba, saya artha senna dari radio Utan kayu 68h, kebetulan dalam beberapa pekan depan saya kan ke semarang untuk berkunjung ke Bapak Thio Tiong Gie. Noleh nda saya mendapat nomer kontak tekp/hp beliau sehingga saya bis awawancara lansung untuk membuat feature radionya.

saya sangat berterima kasih jika mba bisa memberikan infromasi nomer kontaknya ke saya di email artha_senna@yahoo.com atau HP saya di 0 818 475 472.

terima kasih banyak ya mba, sukses.

salam, artha senna
danny
May 3, 2007   05:26 AM PDT
 
mbak...bisa minta foto2 tentang wang potehi gak?? kalo bisa n ada tolong kirim ke email gw ya... papsipappap@yahoo.com
saya tunggu...soalnya lg butuh bgt buat tugas akhir.....
thx.... =)
Rachma
April 26, 2007   12:10 PM PDT
 
mbak,,, mau tau lebih banyak tentang wayang potehi bisa ga'? tolong kalo' bisa kirim info2 lebih jelas ke raxma_465@yahoo.com,,, tolong ya mbak...
yanee
March 3, 2007   12:20 AM PST
 
yth Mbak, apakah saya bisa nama dan alamat wayang potehi di Jakarta? kalau ada mohon email saya: yaneelasahido@yahoo.com atau yanee_lasahido@agungsedayu.com Mobile: 021-700 33424 atau ktr/021-6231 3000 ext. 1104-1105 direct 6231 3339 Terimkasih
dewi
March 3, 2007   12:19 AM PST
 
Pas lagi cari bahan buat tulisan wayang potehi di google, blog mbak ada di urutan pertama :D wahhh gimana kabar niy? semoga sehat selalu, kangen banget gak pernah mampir :) boleh gak niy ambil sebagian data di tulisan ini hehehehhehe :D
nigar
November 5, 2005   11:27 PM PST
 
Saya ingin membuat feature mengenai wayang potehi. Bisakah anda memberikan nama dan alamat nara sumber d Jakarta.

Salam.\,

Nigar
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON