Tentang upacara King Hoo Ping (foto-foto bisa dilihat di: album King Hoo Ping)

Hari Minggu tanggal 12 September 2004, di siang yang terik itu, aku beruntung sekali. Bersama teman-teman Sahabat Museum dan ditemani oleh Bapak Jongkie Tio, penulis buku 'Kota Semarang Dalam Kenangan', dan Ibu Widya Wijayanti yang adalah salah satu pengurus Kopi Semawis atau Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata, aku berkesempatan menyaksikan upacara King Hoo Ping di Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, Semarang.
Upacara King Hoo Ping yang biasanya dilakukan pada bulan ketujuh penanggalan Imlek ini adalah upacara yang indah maknanya. Kata King artinya 'hormat' atau 'persembahan', sedang 'hoo ping' berarti 'sahabat', maka upacara King Hoo Ping bisa diartikan sebagai upacara persembahan untuk para sahabat. Tradisi ini sudah dilaksanakan berabad-abad dan dimaksudkan untuk memberikan penghormatan kepada leluhur, sanak saudara dan sahabat, maupun orang-orang lain yang telah meninggal dunia. Akan tetapi tradisi ini bisa dimaknai lebih dalam, selain untuk memberikan penghormatan kepada para arwah, makanan dipersembahkan kepada mereka yang masih hidup, terutama mereka yang tidak mampu.
Maka seperti yang disebutkan oleh Pastor Aloys Budi Purnomo yang hadir di situ bersama para tokoh agama Islam, Kristen, Hindu dan Buddha, tradisi dan upacara semacam ini adalah baik adanya, karena pada akhirnya membawa misi sosial. Upacara simbolis dimaknai dengan aksi yang sesungguhnya, yang menyentuh manusia-manusia di sekitarnya. Seperti yang terjadi pada upacara indah makna ini - makanan, kue-kue, daging, buah-buahan, segala macam sayur dan lauk pauk, juga bungkusan-bungkusan sembako dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa memandang suku, ras maupun agama - para sahabat yang sesungguhnya yang masih hidup.
Selain indah secara makna, upacara ini juga menarik secara wujud. Hari itu klenteng Tay Kak Sie yang penuh dengan manusia berhias diri. Di halaman depannya didirikan tenda dan warna merah mendominasi suasana. Sebuah perahu kertas raksasa yang berwarna-warni memenuhi satu sisi tenda. Di atasnya ada banyak bendera dan boneka-boneka berbagai warna. Ceria. Meja-meja penuh berisi makanan - ratusan mangkuk berisi nasi, puluhan wadah berisi sayuran dan lauk pauk berupa ikan, ayam, serta kue-kue dan buah-buahan. Di pinggir tenda beberapa ekor babi dan kambing terpajang - sudah mati dan dikuliti, tapi masih berbentuk babi dan kambing, sehingga sesungguhnya agak tidak indah dipandang :)
Upacara dimulai dengan arak-arakan arca dewa diikuti arak-arakan abu. Setelah itu diadakan upacara sembahyangan para lansia, dan diikuti oleh pembacaan ayat-ayat suci. Pembacaan ayat-ayat suci yang diiringi tambur ini terdengar indah sekali, layaknya persembahan nyanyian manusia kepada Yang Kuasa. Setelah itu beberapa genggam uang receh dilemparkan kepada khalayak oleh pemimpin upacara. Orang-orang pun sibuk memperebutkan uang-uang logam bernominal kecil ini, karena itu dipercaya sebagai pembawa berkah dan rejeki.
Sungguh sayang sebenarnya bahwa upacara semenarik ini, dengan makna yang indah ini sempat tidak bisa dinikmati oleh masyarakat luas selama 30 tahun. Selama masa pemerintahan Orde Baru segala bentuk ritual dan upacara, kesenian dan bahkan segala yang berbau budaya Tiongkok dilarang untuk dilakukan secara terbuka seperti ini. Maka selama itu pula masyarakat kita menjadi terasing dengan budaya Tionghoa Indonesia, yang padahal adalah kekayaan budaya kita juga. Selama itu pulalah kita dididik untuk tidak menghargai pluralitas dan kekayaan budaya. Bhinneka Tunggal Ika cuma jadi slogan belaka.
Untunglah pada masa pemerintahan Gus Dur pemasungan itu mulai dihilangkan dan tradisi, kesenian serta upacara-upacara ritual Tionghoa bisa mulai dilakukan kembali. Kita bisa mulai belajar menerima dan mengakui budaya-budaya yang sempat hilang ini sebagai milik kita, dan bagian dari jati diri kita. Masih jauh agaknya langkah untuk menuju ke keadaan seperti di kota kecil Malaka di Malaysia, contoh yang paling jelas tempat budaya Tionghoa berdampingan sama sejajar dengan budaya Melayu, dan dianggap sebagai kekayaan bangsa Malaysia.
Malaka bisa dicontoh sebagai kota yang mengembangkan kawasan Pecinannya sebagai daya tarik pariwisata. Agaknya ini juga yang ingin dilakukan oleh Kopi Semawis - me-revitalisasi kawasan Pecinan Semarang sehingga bisa menjadi tujuan wisata. Modal sudah ada - bangunan-bangunan berarsitektur Cina, upacara-upacara ritual seperti yang diadakan di klenteng Tay Kak Sie ini, juga makanan-makanan. Gang Lombok tempat klenteng ini berada juga adalah tempat orang datang mencari lunpia, makanan khas Semarang yang sudah terkenal itu. Penjual bolang-baling dan cakwe yang sudah turun temurun berjualan bolang-baling paling terkenal di Semarang juga berdagang di mulut Gang Lombok. Pasti masih banyak lagi tempat-tempat makanan khas yang ada di sekitar sini yang bisa dijadikan salah satu daya tarik wisata daerah Pecinan.
Pasti bukan hal yang mudah. Tiga puluh tahun harus menghadapi pemasungan dan hidup dalam kekhawatiran pasti membuat banyak rekan-rekan Tionghoa kita merasa jengah menonjolkan budayanya. Takut bila kejadian-kejadian buruk rasialisme terjadi lagi dan mereka menjadi sasaran lagi. Bisa dimengerti. Memang kita semua harus berlapang dada mengakui bahwa kita masih harus belajar menerima pluralitas.
Maka sangat menyejukkan mendengar bahwa upacara King Hoo Ping yang dihadiri para tokoh berbagai agama itu akhirnya bisa menjadi pencetus sebuah deklarasi, yang disebut Bhinneka Tunggal Dharma. Deklarasi ini menyatakan bahwa tidak ada agama yang paling hebat dibandingkan dengan agama lain, dan forum ini akan berusaha mewujudkan kebajikan dan amal kasih dalam persaudaraan bangsa Indonesia.
Jadi beruntung sekali aku bisa hadir di upacara sepenting ini. Semoga usaha mereka, usaha kita juga, berhasil. Sehingga kita bisa menjadi bangsa yang toleran dan menerima pluralitas dan berhasil menemukan jati diri kita dengan tidak menolak identitas kita sendiri - yang tumbuh dan berkembang bersama teman-teman Tionghoa Indonesia yang adalah bagian dari kita juga.
Jakarta, 16 September 2004