Wednesday, September 15, 2004
Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka

Catatan dari perjalanan ke kota tua Semarang

 lawang sewu

For more photos click: Gereja Blenduk & Lawang Sewu & Semarang, The Old Town

Lawang Sewu
Melihat gedung tua Lawang Sewu di tengah kota Semarang aku jadi terbayang Hotel Fullerton di Singapura. Hotel megah dan mewah yang berada di tepi sungai ini tadinya adalah sebuah gedung kantor pos yang dibangun pada tahun 1928. Gedung dengan gaya arsitektur Palladian dengan banyak kolom / tiang bergaya doric ini besar dan megah, dan ditinggalkan oleh jawatan pos pada tahun 1971. Setelah berubah fungsi beberapa kali akhirnya gedung ini direnovasi dan dijadikan hotel mewah seperti yang bisa dilihat sekarang. Mengapa jadi terbayang Fullerton? Karena gedung Lawang Sewu di jantung kota Semarang ini juga gedung besar dan megah dengan arsitektur cantik, yang punya potensi yang sama seperti Fullerton untuk menjadi bangunan kuno dan megah yang berfungsi baru.

Gedung Lawang Sewu yang dibangun pada awal abad kedua puluh dan diselesaikan pada tahun 1908 ini dimiliki oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij atau Jawatan Kereta Api Pemerintah Hindia Belanda dan merupakan Kantor Pusat jawatan tersebut sampai kemerdekaan RI. Arsiteknya adalah Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag yang merupakan arsitek-arsitek Belanda ternama saat itu. Gedung ini terletak di sudut jalan. Bagian depannya dihiasi oleh menara kembar yang mengingatkan pada bentuk menara-menara gothic. Di belakang menara gedung ini membelah menjadi dua sayap, masing-masing memanjang jauh ke belakang.

Oleh masyarakat Semarang gedung ini disebut Lawang Sewu yang artinya Pintu Seribu, karena memang gedung besar dan panjang ini memiliki banyak pintu di sepanjang sayap-sayapnya. Pintu-pintu berjejer-jejer di ruangan-ruangannya yang panjang dan beratap tinggi. Menurut Ibu Widya Wijayanti yang seorang arsitek sekaligus pakar konservasi cagar budaya dan penggerak Kopi Semawis atau Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata, arsitektur gedung ini unik karena menunjukkan adaptasi arsitektur Eropa terhadap iklim tropis. Mungkin karena itu pintunya banyak.

Setelah kemerdekaan gedung tersebut sempat dipakai oleh Kodam IV dan kemudian dikembalikan kepada Jawatan Kereta Api, yang sekarang adalah PT KAI. Setelah PT KAI pindah, gedung ini sempat dipakai sebagai Kantor Wilayah Departemen Perhubungan sampai tahun 1994. Setelah itu, gedung yang resminya masih menjadi milik PT KAI ini ditinggalkan kosong dan tak terpakai. Kosong dan tak terpakai selama 10 tahun menjadikan gedung ini kotor dan berdebu, gelap dan bocor bila hujan. Sebagian kayu-kayunya terlihat mulai lapuk. Kondisi inilah yang kami jumpai dalam perjalanan Sahabat Museum ke Semarang tanggal 11-13 September 2004.

Memasuki gedung mata harus dibiasakan dalam gelap, tapi segera setelah terbiasa langsung kami disambut pemandangan indah - dinding di puncak anak tangga utama dihiasi kaca patri yang berpola warna-warni indah. Memasuki salah satu sayap gedung nafas menjadi sesak karena debu, dan hati menjadi tersayat melihat kondisi bagian dalam gedung indah ini. Dinding dan tiang-tiangnya masih kokoh, tapi kayu-kayu jendela dan pintu sebagian mulai lapuk. Di sana-sini tampak ruangan sempit berbau tahi kelelawar dan di lantai tampak genangan-genangan air bekas bocor. Sayang sekali. Padahal gedung ini begitu kokoh dan indah. Kalau kita keluar dan berdiri di salah satu balkonnya yang menghadap ke jalan raya, kita disuguhi pemandangan taman kota di tengah bundaran jalan. Bukan pemandangan yang jelek.

Setelah menelusuri bagian atas kami turun ke lantai dasar dan menghitung pintu-pintu yang berjajar di sayap gedung. Pintu-pintu itu berjajar-jajar serupa, sehingga rasanya kalau aku harus berkantor di sini pasti bakalan sering tersasar! Dari lantai dasar kami menuju ke ruangan bawah tanah yang digenangi air. Alangkah sayangnya, kayu-kayu lapuk di sana-sini, walaupun secara keseluruhan ruang bawah tanah ini tampak masih kokoh.

Kembali bayanganku melayang ke Fullerton Hotel, sebuah contoh pemanfaatan gedung tua, yang bisa kita tiru. Tetapi ini bukan masalah gampang, karena biaya yang dikeluarkan pasti harus besar dan investor harus memikirkan bagaimana uang itu bisa kembali. Menurut berita di koran telah sempat ada rencana pemanfaatan gedung ini menjadi hotel, tapi rencana tersebut harus kandas karena serangan krisis ekonomi. Saat ini konon sudah ada pula proposal yang masuk menawarkan kerjasama pemanfaatan kembali Lawang Sewu dan kedua proposal ini masih dipelajari oleh PT KAI.

Apabila memang gedung ini akan dimanfaatkan kembali, tentunya renovasi yang dilakukan jangan sampai merusak struktur dan bentuk arsitektur gedung asli. Maka semoga pekerjaan pemasangan instalasi air, AC, listrik dan refurbishing dilakukan oleh mereka-mereka yang mengerti tentang renovasi dan konservasi gedung tua, bukan asal sembarangan saja. Memang jadinya pekerjaan ini akan memakan biaya yang jauh lebih tinggi ketimbang membangun gedung baru. Tapi apakah kita akan selalu berpatokan pada masalah ekonomi dan finansial selalu dan mengesampingkan soal sejarah, budaya dan etika? Semoga tidak. Karena selain indah dipandang, gedung tua ini juga sempat jadi saksi sejarah, karena pertempuran 5 hari di Semarang tanggal 14-19 Oktober 1945 antara pemuda pejuang Indonesia melawan tentara Jepang yang menolak menyerahkan senjata, terjadi di sekitar tempat bangunan ini berada. Bahkan di halaman gedung ini ada sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang para pegawai Jawatan Kereta Api yang meninggal dalam pertempuran tersebut.

Kembali ke soal pemanfaatan Lawang Sewu, memang menjadikannya sebuah hotel adalah gagasan yang paling mudah terpikirkan, mengingat banyak sekali gedung-gedung tua indah di dunia ini yang dijadikan hotel, seperti contoh Hotel Fullerton di Singapore di atas, juga beberapa hotel yang pernah kukunjungi di negara Inggris. tetapi menjadikannya sebuah hotel mewah juga bakalan menjadikan bangunan ini menjadi tidak dapat diakses oleh publik. Hotel Fullerton yang adalah hotel mewah itu mematok harga S$ 470-S$ 670 per kamar semalam, maka tidak semua orang bisa datang dan menginap di situ untuk menikmati keindahannya. Tapi mungkin ini bisa diatasi dengan cara pihak hotel mengadakan tur-tur untuk publik, seperti yang dilakukan di istana Buckingham misalnya. Ada ruangan-ruangan yang bisa diakses oleh publik. Atau hotel itu nantinya harus sering mengadakan pameran-pameran seni misalnya, yang bisa diakses oleh masyarakat umum, sehingga masyarakat Semarang juga tidak kehilangan kekayaannya.

Gereja Blenduk, Kota Lama & Pecinan
Kalau memikirkan tentang konservasi di Semarang, bukan cuma Lawang Sewu saja yang menjadi pusat perhatian. Di daerah kota lama Semarang banyak sekali bangunan tua indah yang patut diperhatikan kelestariannya. Sebagian bangunan yang ada masih terpelihara dengan baik, semisal Gereja Blenduk yang dibangun tahun 1753 dan direnovasi tahun 1894, atau gedung Jiwasraya yang ada di seberangnya. Gereja Blenduk yang dinamai Blenduk karena kubahnya yang setengah bola, sehingga terlihat 'mblenduk' ini sampai sekarang masih dipergunakan sebagai bangunan ibadah, sehingga kondisinya masih terawat. Begitu juga gedung Jiwasraya di seberangnya.

Tapi masih banyak lagi gedung-gedung tua di kota lama yang membutuhkan perawatan sehingga terhindar dari kehancuran. Beberapa gedung dengan arsitektur khas jaman kolonial tampak ditumbuhi pepohonan di temboknya. Sayang sekali. Semoga bangunan-bangunan ini tidak mengalami bahaya pembongkaran untuk dijadikan bangunan baru dan pertokoan yang lebih banyak menghasilkan uang, tapi menghancurkan jejak sejarah kita.

Sebetulnya kelihatannya Pemda Semarang bukan tidak berbuat apa-apa. Jelas daerah Kota Lama Semarang sangat jauh lebih baik kondisinya daripada Oud Batavia di Jakarta. Di seputaran Kota Lama jalan-jalan dibuat rapi dengan con-block, lampu-lampu bergaya tua masih ada di sepanjang jalan, dan got-got kelihatan bersih, sehingga berjalan di seputaran daerah ini menjadi cukup menyenangkan. Bandingkan dengan berjalan kaki di sekitar Stasiun Jakarta Kota dan Museum Fatahillah!

Daerah Pecinan di Semarang, seperti daerah Pecinan-Pecinan lain di seluruh dunia, menurutku juga punya potensi besar menjadi tujuan wisata dan sumber pendapatan daerah. Biasanya daerah Pecinan punya tiga modal utama untuk ini - 1. arsitektur yang khas 2. klenteng-klenteng yang menjadi pusat kegiatan relijius dan budaya dengan upacara-upcaranya, serta 3. makanan. Rasa-rasanya daerah Pecinan Semarang punya semua ini sehingga bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik.

Tapi masalahnya sekarang, sudahkah para rekan Tionghoa berhasil mengatasi ketakutannya akan pasungan selama 30 tahun yang diberlakukan pada mereka, dan sudahkah kita belajar untuk menerima budaya Tionghoa Indonesia sebagai milik kita juga? Lagi-lagi aku harus menyebut Malaka sebagai tempat kita harusnya berkiblat. Di sana budaya Melayu dan Budaya Tionghoa berbau Melayu yang khas disebut Baba & Nyonya sama-sama dianggap kekayaan budaya Malaysia dan bisa menjadi modal pariwisata Malaka.

Satu lagi daerah yang cukup menarik untuk dikunjungi dalam perjalanan ke Semarang, yaitu daerah di sekitar Hotel Candi Baru yang adalah tempat kami menginap di sana. Hotel inipun juga bangunan tua, dibangun pada awal abad keduapuluh, dan sejak saat itu memang selalu berfungsi sebagai hotel. Bangunan bergaya Eropa yang unik dengan banyak pernik menghiasi dinding-dindingnya ini terletak di puncak bukit, dengan jendela-jendela kamar dan balkon yang menyuguhkan pemandangan indah ke lembah dan dataran Semarang. Tak heran dulu hotel ini dinamai Bellevue.

Hotel ini sendiri cukup menyenangkan. Walaupun tidak punya kemewahan layaknya hotel-hotel modern, tapi hotel ini punya atmosfer unik yang bisa menggantikan kekurangan di sisi kemewahan. Kamar-kamarnya besar dan beratap tinggi, dengan lantai terbuat dari ubin gaya lama yang terasa dingin di kaki.

Di sekitar hotel di sana-sini masih terlihat beberapa bangunan tua. Beberapa bangunan yang menunjukkan gaya arsitektur unik dari tahun 1920-an tampak masih terawat, salah satunya adalah Puri Gedeh yang menjadi tempat kediaman gubernur. Tak jauh dari situ ada lagi rumah besar dan tua yang kelihatannya aslinya punya bentuk yang indah, tapi sayangnya sekarang tidak terawat lagi. Menurut penunjuk jalan kami, gedung besar itu sekarang dihuni oleh banyak pedagang kaki lima. Yang jelas, kebunnya yang cukup luas tampak dimanfaatkan, berbagai tanaman seperti singkong dan pepaya tampak tumbuh subur di situ.

Yang cukup menarik juga di daerah ini adalah Kuburan Belanda, yang adalah tempat beristirahat orang-orang Belanda yang meninggal di tahun 1930-40an. Pemakaman itu seperti layaknya pemakaman eropa tampak rapi, salib-salib berjejer geometris, di sana-sini diseling pohon cemara. Di latar belakangnya tampak siluet gunung Muria. Sayangnya tempat indah ini tidak boleh dimasuki. Padahal di Eropa banyak pemakaman jadi tempat tujuan wisata dan ziarah. Salah satu tempat yang paling mengesankan yang kukunjungi di Paris adalah Pemakaman Pere LaChaise dengan nisan-nisannya yang megah dan antik dan patung-patungnya.

Begitulah, dalam perjalanan 3 hari di Semarang ini banyak sekali yang kudapat. Paling tidak aku sudah mengintip sejarah panjang bangsa kita dari abad 15 saat Laksamana Cheng Ho mengunjungi Nusantara sampai ke abad-abad pendudukan Belanda sampai sekarang. Memang seharusnya belajar sejarah dilakukan secara menyenangkan seperti ini, sambil berjalan-jalan dan menikmati makanan khas daerah.... :)

Jakarta, 15 September 2004


Posted at 07:27 pm by koeniel

Name brendha
March 5, 2009   09:15 AM PST
 
hai,lms kenal brendha,w trtrk bngt ma gmbr2'x,kern2 bngt gmbr'x
asya
December 4, 2008   08:18 PM PST
 
aku jg tertarik bgd sama ceruta nya.aku lagi nyari2 sesuatu tentang semarang niiiiiiiiiiii>>>>>>>> nanti klu da informasi kbr in aku ya........... hehe
isenk kaleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
bagas
September 19, 2007   06:32 PM PDT
 
semarang emang exotic
Petz
April 25, 2006   02:25 PM PDT
 
Saya lagi pelajari BLOG, maklum sebagai org IT pabrik, banyak ngurusin ERP ketimbang 'binatang baru' IT. Terkesan oleh blog-nya Koenil, simple-minimalis-bermakna, itulah gaya yg di dunia properti sering dibilang born again & again.Saya pernah ketemu anda di arena Arek, sekali-kalinya.Trus saya yg menghilang, kesannya memang arekers "mumpuni". salam dari jauh.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON