Catatan dari perjalanan ke kota tua Semarang

For more photos click: Gereja Blenduk & Lawang Sewu & Semarang, The Old Town
Lawang Sewu
Melihat gedung tua Lawang Sewu di tengah kota Semarang aku jadi terbayang Hotel Fullerton di Singapura. Hotel megah dan mewah yang berada di tepi sungai ini tadinya adalah sebuah gedung kantor pos yang dibangun pada tahun 1928. Gedung dengan gaya arsitektur Palladian dengan banyak kolom / tiang bergaya doric ini besar dan megah, dan ditinggalkan oleh jawatan pos pada tahun 1971. Setelah berubah fungsi beberapa kali akhirnya gedung ini direnovasi dan dijadikan hotel mewah seperti yang bisa dilihat sekarang. Mengapa jadi terbayang Fullerton? Karena gedung Lawang Sewu di jantung kota Semarang ini juga gedung besar dan megah dengan arsitektur cantik, yang punya potensi yang sama seperti Fullerton untuk menjadi bangunan kuno dan megah yang berfungsi baru.
Gedung Lawang Sewu yang dibangun pada awal abad kedua puluh dan diselesaikan pada tahun 1908 ini dimiliki oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij atau Jawatan Kereta Api Pemerintah Hindia Belanda dan merupakan Kantor Pusat jawatan tersebut sampai kemerdekaan RI. Arsiteknya adalah Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag yang merupakan arsitek-arsitek Belanda ternama saat itu. Gedung ini terletak di sudut jalan. Bagian depannya dihiasi oleh menara kembar yang mengingatkan pada bentuk menara-menara gothic. Di belakang menara gedung ini membelah menjadi dua sayap, masing-masing memanjang jauh ke belakang.
Oleh masyarakat Semarang gedung ini disebut Lawang Sewu yang artinya Pintu Seribu, karena memang gedung besar dan panjang ini memiliki banyak pintu di sepanjang sayap-sayapnya. Pintu-pintu berjejer-jejer di ruangan-ruangannya yang panjang dan beratap tinggi. Menurut Ibu Widya Wijayanti yang seorang arsitek sekaligus pakar konservasi cagar budaya dan penggerak Kopi Semawis atau Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata, arsitektur gedung ini unik karena menunjukkan adaptasi arsitektur Eropa terhadap iklim tropis. Mungkin karena itu pintunya banyak.
Setelah kemerdekaan gedung tersebut sempat dipakai oleh Kodam IV dan kemudian dikembalikan kepada Jawatan Kereta Api, yang sekarang adalah PT KAI. Setelah PT KAI pindah, gedung ini sempat dipakai sebagai Kantor Wilayah Departemen Perhubungan sampai tahun 1994. Setelah itu, gedung yang resminya masih menjadi milik PT KAI ini ditinggalkan kosong dan tak terpakai. Kosong dan tak terpakai selama 10 tahun menjadikan gedung ini kotor dan berdebu, gelap dan bocor bila hujan. Sebagian kayu-kayunya terlihat mulai lapuk. Kondisi inilah yang kami jumpai dalam perjalanan Sahabat Museum ke Semarang tanggal 11-13 September 2004.
Memasuki gedung mata harus dibiasakan dalam gelap, tapi segera setelah terbiasa langsung kami disambut pemandangan indah - dinding di puncak anak tangga utama dihiasi kaca patri yang berpola warna-warni indah. Memasuki salah satu sayap gedung nafas menjadi sesak karena debu, dan hati menjadi tersayat melihat kondisi bagian dalam gedung indah ini. Dinding dan tiang-tiangnya masih kokoh, tapi kayu-kayu jendela dan pintu sebagian mulai lapuk. Di sana-sini tampak ruangan sempit berbau tahi kelelawar dan di lantai tampak genangan-genangan air bekas bocor. Sayang sekali. Padahal gedung ini begitu kokoh dan indah. Kalau kita keluar dan berdiri di salah satu balkonnya yang menghadap ke jalan raya, kita disuguhi pemandangan taman kota di tengah bundaran jalan. Bukan pemandangan yang jelek.
Setelah menelusuri bagian atas kami turun ke lantai dasar dan menghitung pintu-pintu yang berjajar di sayap gedung. Pintu-pintu itu berjajar-jajar serupa, sehingga rasanya kalau aku harus berkantor di sini pasti bakalan sering tersasar! Dari lantai dasar kami menuju ke ruangan bawah tanah yang digenangi air. Alangkah sayangnya, kayu-kayu lapuk di sana-sini, walaupun secara keseluruhan ruang bawah tanah ini tampak masih kokoh.
Kembali bayanganku melayang ke Fullerton Hotel, sebuah contoh pemanfaatan gedung tua, yang bisa kita tiru. Tetapi ini bukan masalah gampang, karena biaya yang dikeluarkan pasti harus besar dan investor harus memikirkan bagaimana uang itu bisa kembali. Menurut berita di koran telah sempat ada rencana pemanfaatan gedung ini menjadi hotel, tapi rencana tersebut harus kandas karena serangan krisis ekonomi. Saat ini konon sudah ada pula proposal yang masuk menawarkan kerjasama pemanfaatan kembali Lawang Sewu dan kedua proposal ini masih dipelajari oleh PT KAI.
Apabila memang gedung ini akan dimanfaatkan kembali, tentunya renovasi yang dilakukan jangan sampai merusak struktur dan bentuk arsitektur gedung asli. Maka semoga pekerjaan pemasangan instalasi air, AC, listrik dan refurbishing dilakukan oleh mereka-mereka yang mengerti tentang renovasi dan konservasi gedung tua, bukan asal sembarangan saja. Memang jadinya pekerjaan ini akan memakan biaya yang jauh lebih tinggi ketimbang membangun gedung baru. Tapi apakah kita akan selalu berpatokan pada masalah ekonomi dan finansial selalu dan mengesampingkan soal sejarah, budaya dan etika? Semoga tidak. Karena selain indah dipandang, gedung tua ini juga sempat jadi saksi sejarah, karena pertempuran 5 hari di Semarang tanggal 14-19 Oktober 1945 antara pemuda pejuang Indonesia melawan tentara Jepang yang menolak menyerahkan senjata, terjadi di sekitar tempat bangunan ini berada. Bahkan di halaman gedung ini ada sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang para pegawai Jawatan Kereta Api yang meninggal dalam pertempuran tersebut.
Kembali ke soal pemanfaatan Lawang Sewu, memang menjadikannya sebuah hotel adalah gagasan yang paling mudah terpikirkan, mengingat banyak sekali gedung-gedung tua indah di dunia ini yang dijadikan hotel, seperti contoh Hotel Fullerton di Singapore di atas, juga beberapa hotel yang pernah kukunjungi di negara Inggris. tetapi menjadikannya sebuah hotel mewah juga bakalan menjadikan bangunan ini menjadi tidak dapat diakses oleh publik. Hotel Fullerton yang adalah hotel mewah itu mematok harga S$ 470-S$ 670 per kamar semalam, maka tidak semua orang bisa datang dan menginap di situ untuk menikmati keindahannya. Tapi mungkin ini bisa diatasi dengan cara pihak hotel mengadakan tur-tur untuk publik, seperti yang dilakukan di istana Buckingham misalnya. Ada ruangan-ruangan yang bisa diakses oleh publik. Atau hotel itu nantinya harus sering mengadakan pameran-pameran seni misalnya, yang bisa diakses oleh masyarakat umum, sehingga masyarakat Semarang juga tidak kehilangan kekayaannya.
Gereja Blenduk, Kota Lama & Pecinan
Kalau memikirkan tentang konservasi di Semarang, bukan cuma Lawang Sewu saja yang menjadi pusat perhatian. Di daerah kota lama Semarang banyak sekali bangunan tua indah yang patut diperhatikan kelestariannya. Sebagian bangunan yang ada masih terpelihara dengan baik, semisal Gereja Blenduk yang dibangun tahun 1753 dan direnovasi tahun 1894, atau gedung Jiwasraya yang ada di seberangnya. Gereja Blenduk yang dinamai Blenduk karena kubahnya yang setengah bola, sehingga terlihat 'mblenduk' ini sampai sekarang masih dipergunakan sebagai bangunan ibadah, sehingga kondisinya masih terawat. Begitu juga gedung Jiwasraya di seberangnya.
Tapi masih banyak lagi gedung-gedung tua di kota lama yang membutuhkan perawatan sehingga terhindar dari kehancuran. Beberapa gedung dengan arsitektur khas jaman kolonial tampak ditumbuhi pepohonan di temboknya. Sayang sekali. Semoga bangunan-bangunan ini tidak mengalami bahaya pembongkaran untuk dijadikan bangunan baru dan pertokoan yang lebih banyak menghasilkan uang, tapi menghancurkan jejak sejarah kita.
Sebetulnya kelihatannya Pemda Semarang bukan tidak berbuat apa-apa. Jelas daerah Kota Lama Semarang sangat jauh lebih baik kondisinya daripada Oud Batavia di Jakarta. Di seputaran Kota Lama jalan-jalan dibuat rapi dengan con-block, lampu-lampu bergaya tua masih ada di sepanjang jalan, dan got-got kelihatan bersih, sehingga berjalan di seputaran daerah ini menjadi cukup menyenangkan. Bandingkan dengan berjalan kaki di sekitar Stasiun Jakarta Kota dan Museum Fatahillah!
Daerah Pecinan di Semarang, seperti daerah Pecinan-Pecinan lain di seluruh dunia, menurutku juga punya potensi besar menjadi tujuan wisata dan sumber pendapatan daerah. Biasanya daerah Pecinan punya tiga modal utama untuk ini - 1. arsitektur yang khas 2. klenteng-klenteng yang menjadi pusat kegiatan relijius dan budaya dengan upacara-upcaranya, serta 3. makanan. Rasa-rasanya daerah Pecinan Semarang punya semua ini sehingga bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik.
Tapi masalahnya sekarang, sudahkah para rekan Tionghoa berhasil mengatasi ketakutannya akan pasungan selama 30 tahun yang diberlakukan pada mereka, dan sudahkah kita belajar untuk menerima budaya Tionghoa Indonesia sebagai milik kita juga? Lagi-lagi aku harus menyebut Malaka sebagai tempat kita harusnya berkiblat. Di sana budaya Melayu dan Budaya Tionghoa berbau Melayu yang khas disebut Baba & Nyonya sama-sama dianggap kekayaan budaya Malaysia dan bisa menjadi modal pariwisata Malaka.
Satu lagi daerah yang cukup menarik untuk dikunjungi dalam perjalanan ke Semarang, yaitu daerah di sekitar Hotel Candi Baru yang adalah tempat kami menginap di sana. Hotel inipun juga bangunan tua, dibangun pada awal abad keduapuluh, dan sejak saat itu memang selalu berfungsi sebagai hotel. Bangunan bergaya Eropa yang unik dengan banyak pernik menghiasi dinding-dindingnya ini terletak di puncak bukit, dengan jendela-jendela kamar dan balkon yang menyuguhkan pemandangan indah ke lembah dan dataran Semarang. Tak heran dulu hotel ini dinamai Bellevue.
Hotel ini sendiri cukup menyenangkan. Walaupun tidak punya kemewahan layaknya hotel-hotel modern, tapi hotel ini punya atmosfer unik yang bisa menggantikan kekurangan di sisi kemewahan. Kamar-kamarnya besar dan beratap tinggi, dengan lantai terbuat dari ubin gaya lama yang terasa dingin di kaki.
Di sekitar hotel di sana-sini masih terlihat beberapa bangunan tua. Beberapa bangunan yang menunjukkan gaya arsitektur unik dari tahun 1920-an tampak masih terawat, salah satunya adalah Puri Gedeh yang menjadi tempat kediaman gubernur. Tak jauh dari situ ada lagi rumah besar dan tua yang kelihatannya aslinya punya bentuk yang indah, tapi sayangnya sekarang tidak terawat lagi. Menurut penunjuk jalan kami, gedung besar itu sekarang dihuni oleh banyak pedagang kaki lima. Yang jelas, kebunnya yang cukup luas tampak dimanfaatkan, berbagai tanaman seperti singkong dan pepaya tampak tumbuh subur di situ.
Yang cukup menarik juga di daerah ini adalah Kuburan Belanda, yang adalah tempat beristirahat orang-orang Belanda yang meninggal di tahun 1930-40an. Pemakaman itu seperti layaknya pemakaman eropa tampak rapi, salib-salib berjejer geometris, di sana-sini diseling pohon cemara. Di latar belakangnya tampak siluet gunung Muria. Sayangnya tempat indah ini tidak boleh dimasuki. Padahal di Eropa banyak pemakaman jadi tempat tujuan wisata dan ziarah. Salah satu tempat yang paling mengesankan yang kukunjungi di Paris adalah Pemakaman Pere LaChaise dengan nisan-nisannya yang megah dan antik dan patung-patungnya.
Begitulah, dalam perjalanan 3 hari di Semarang ini banyak sekali yang kudapat. Paling tidak aku sudah mengintip sejarah panjang bangsa kita dari abad 15 saat Laksamana Cheng Ho mengunjungi Nusantara sampai ke abad-abad pendudukan Belanda sampai sekarang. Memang seharusnya belajar sejarah dilakukan secara menyenangkan seperti ini, sambil berjalan-jalan dan menikmati makanan khas daerah.... :)
Jakarta, 15 September 2004