Wednesday, March 02, 2005
Berita dari Aceh


Berita dari Aceh 1

 

Berita-berita dari Aceh sudah banyak disiarkan di media, baik lokal maupun internasional. Tiap hari di televisi disuguhkan berita terbaru dari sana. Untuk apa menambahkan satu catatan lagi. Tapi catatan satu ini buatku unik. Karena asalnya dari sumber-sumber di dekatku.

 

Sahabatku si Petualang itu sekarang sedang berada di Aceh. Mobil off roadnyalah yang kali ini membawanya bertualang. Bersama 9 mobil-mobil off road lainnya mobilnya mengikuti jejak para prajurit TNI yang membuka jalan masuk ke daerah-daerah yang terkena bencana tapi masih belum tersentuh bantuan. Setelah dua minggu di sana, sms-smsnya mulai mengalir bagai air ke telepon genggamku, setiap kali dia punya waktu. Digambarkannya apa yang dia jumpai di sana. Apa yang dilihat dan dipikirkannya.

 

Daerah pesisir, belum tersentuh

 

Sms pertamanya tiba tanggal 18 Februari di sore hari, “Aku lagi di Cot Jeumpa, Aceh Barat, dekat Calang. Di pos marinir. Akhir bulan aku baru akan balik.”

 

Setelah itu sms tidak berjawab. Sms berikut hadir tanggal 20 Februari, saat dia sedang berada di Banda Aceh. Biasanya, katanya, rombongannya bergerak di pesisir barat, daerah Lhok Nga, Leupeung, Lho'ong, Lamno dan sekitarnya. Di tempat-tempat itu akses masih sulit. “Sepanjang pesisir, sekian puluh kilometer, gak ada bangunan berdiri, kecuali puing-puing PT Semen Andalas. Kontras sekali dengan Banda Aceh yang sudah menggeliat bangkit. Di sini masih seperti kuburan, sepi, senyap. Masih rawan GAM. Yang ada cuma spot-spot tenda-tenda militer dan pos-pos relawan Turki dan UNHCR.”

 

Ceritanya tentang kondisi daerah pesisir barat memang mengerikan. Daerah itu memanjang sepanjang pantai, jarak paling lebar antara dataran pantai ini dengan perbukitan terjal di belakangnya cuma 500 meter. “Kamu bayangkan, ini seperti kalau daerah rumahmu yang padat itu, berubah jadi lapangan rata, tinggal puing-puing dan puing-puing itu juga rata dengan tanah. Mayoritas mayat tersapu ke laut. Populasi asli 18 ribu orang berdasarkan data pemilih, yang jelas tidak memasukkan penduduk usia di bawah 17 tahun. Dari sebanyak itu baru 1000 lebih yang melapor. Yang jelas belum ada tanda-tanda areal pesisir dibereskan. Wong nggak ada orang sama sekali.”

 

Memang mengerikan. Gambar-gambar yang disiarkan di televisi dari Aceh sudah cukup menyentakkan hati. Tapi lebih menyentakkan lagi gambar-gambar detil yang diambil oleh temanku Seta yang juga menjadi relawan di sana. Di salah satu bagian terlihat sebuah kapal besar dan tug boatnya terdampar di daratan. Kubatin, seberapa besar kekuatan alam yang menyebabkan ini? Tentang ini si Petualang bercerita,”Itu di daerah PT Semen Andalas. Kapal tongkang penuh batubara plus tug boat pindah ke jalan sekitar 300m jauhnya dari pantai. Sebagian garis pantai hilang jadi laut. Pemukiman penduduk, karyawan dan warung-warung serta kafe lenyap. Tidak ada satu batu bata pun yg menumpang di atas yg lain. Dalam arti harafiah loh. Itu di daerah Leupeung yang memang paling parah. Satu kompi senapan AD di situ juga hilang. Cuma tersisa pondasi. Itulah daerah yang lebar datarannya hanya 500meter dan di belakangnya bukit terjal. Aku kadang lewat situ.”

 

Tentang tentara dan pejabat pemerintah

 

Mengenai mereka-mereka yang dijumpainya, si Petualang menyebut, “Relawan asing yang segelintir mengurusi sisa-sisa yang masih hidup, marinir mencari mayat. Tentara membuka jalan.” 

 

Mendengar cerita si Petualang, aku jadi bisa menghargai kerja tentara. Di saat-saat seperti ini terasa sekali bahwa mereka dibutuhkan. Merekalah tulang punggung proses penyelamatan dan pemulihan daerah bencana terutama yang berada jauh dari kota. Dengan banyak akses hancur dan keamanan minim, hanya mereka yang bisa masuk ke daerah-daerah itu untuk memberikan bantuan. Di daerah-daerah yang hancur total itu, kegiatan satu-satunya adalah pembukaan jalan oleh tentara. Si Petualang menyaksikan sendiri kegiatan pasukan zeni tempur membangun jalan, terutama jembatan. “Memang sedih sekali melihat kegiatan tentara bekerja membuka jalan. Kondisi panas terik, berdebu, dengan alat berat minim, dan mereka harus bekerja sambil menyandang senjata. Bisa dibayangkan repotnya.”

 

“Mereka membagi-bagi tugas. Beberapa regu kecil menyusuri jalan. Sebagian melakukan patroli di bukit-bukit berhutan. Pasukan zeni biasanya memasang patroli di hutan di atas bukit sejajar dengan jalan yang sedang dibuat. Tenda mereka harus berada di tengah-tengah puing. Karena kalau di tepi hutan mudah diserang oleh GAM. Kadang jalan sudah jadi laut, sehingga terpaksa melingkar ke bukit. Bisa dibanyangkan beratnya. Bayangkan membangun jalan memotong bukit.”

 

Selain pasukan zeni disaksikannya juga kegiatan para marinir. “Aku masih nggandul ke pos marinir. Kadang kalau malam mereka ‘berburu’ GAM di hutan. Siang berburu mayat-mayat di reruntuhan. Kadang mayat-mayat dibakar bersama puing-puing, sekalian membersihkan area. Kadang saat tentara membuka jalan kalau mereka menemukan mayat, mayat itu akan mereka bakar, kemudian marinir datang mengumpulkan tulang-tulang. Kalau di kota jelas ini tidak mungkin dilakukan, bisa-bisa disumpahi FPI.”

 

Kadang diikutinya tugas Pasukan Hantu Laut marinir, “Kadang diajak berburu mayat, dengan truk unimog. Baunya minta ampun. Tapi dalam 2-3 jam sudah jadi biasa, lupa dengan bau. Tapi pakaian jadi bau sekali.”

 

Terakhir tanggal 26 Februari di koran dikabarkan bahwa kegiatan pasukan Hantu Laut yang tugasnya ‘berburu’ mayat ini dihentikan secara resmi. Ketika kutanyakan padanya dijawabnya, “Ya secara resmi sudah dihentikan. Mungkin pasukan ini akan dialokasikan untuk tugas rutin. Sedang pencarian mayat mungkin dilakukan secara insidentil. Atau pemerintah punya rencana lain. Gak tau persislah.”

 

Buatnya pejabat pemerintah adalah pihak yang paling menyebalkan dari semua yang dijumpainya di situ. Menurutnya tentara menjadi galak karena stres dengan pekerjaan berat membuka jalan, yang dipersulit karena harus mengejar target dari para petinggi yang dengan mudah menetapkan target tanpa melihat realitas di lapangan. Jalur Banda Aceh-Meulaboh yang sekitar 230 km panjangnya harus diselesaikan pada akhir Maret, padahal dari sekitar 60 jembatan, baru 7 buah yang selesai dibuat.

 

Tentang GAM dan relawan

 

Dia juga tidak senang pada GAM yang membuat upaya penanggulangan bencana jadi sulit karena selain bekerja keras tentara juga harus berkali-kali mengalami kontak senjata dengan mereka. “GAM memang reseh.”  Kadang, seperti di Lho’ong, bantuan logistik yang diberikan juga diteruskan oleh penduduk kepada sanak saudaranya yang anggota GAM yang bersembunyi di hutan-hutan.

 

Waktu kutanya apa sebenarnya pendapat rakyat Aceh tentang GAM, analisisnya begini, “Kalau di kota, orang tidak terlalu peduli mereka lebih memikirkan kehidupan real sehari-hari. GAM adalah urusan petinggi-petinggi, urusan public opinion. Realitas yang dibangun oleh media adalah satu hal, realitas rakyat adalah hal lain. Mungkin kalau sudah benar-benar melarat atau sudah ada penerangan politik, agitasi dan propaganda baru bisa berbeda. Seperti Timor Timur yang punya hero, Xanana, kepada siapa rakyat mengidentifikasikan diri, ikon. Pejuang yang digambarkan gagah berani, ganteng, romantis seperti Che. GAM punya siapa? Cuma seorang Hasan Tiro yang tua dan sakit-sakitan, terdiskreditkan oleh media. Kemerdekaan Aceh adalah cita-cita yang amat jauh dan panjang, padahal perut tidak bisa menunggu. Berbeda dengan Timor Timur yang direpresi ketat. Dan kalaupun GAM menang, apa semua akan jadi baik? GAM jadi besar karena media.”

 

Menurut temanku Seta penduduk Aceh yang ditemuinya semua enggan berbicara baik tentang GAM ataupun tentang TNI. Ketakutan itu terbangun karena mereka tidak bisa pernah tahu dengan pasti siapa yang sedang dihadapi, mata-mata tentarakah, atau pendukung GAM.

 

Tentang relawan, menurutnya kebanyakan berada di Banda Aceh, di kota. Amat jarang yang masuk pesisir barat. Yang dilihatnya di hari-hari pertama cuma 2 regu Muhamadiyah. Katanya, “Mereka tangguh. Kalau tidak, bisa babak belur. Karena daerah-daerah itu masih rawan GAM.”

 

Seminggu kemudian laporannya tentang relawan datang lagi, “Yang dominan dalam pengamatan visual adalah orang-orang asing. Peralatan mereka lengkap euy. Tentara Jerman & Jepang paling rajin mengurusi masalah medis. Truk-truk mereka pergi pagi pulang sore. Di daerah-daerah yang jauh dari kota, UNHCR yang paling dominan, plus tentara Pakistan dan Turki. Yang paling mencolok ya Turki. Ada di mana-mana. Tapi mereka bukan tentara. Yang lokal, PKS. Sampai pelosok-pelosok. Aku salut. Juga PMI tapi posko mereka di kota, nyaman, lengkap, ada tape recorder pula. Maka aku lebih salut pada PKS. Relawan-relawan lain tidak jelas. Cerita-cerita mereka di Jakarta hebat-hebat tapi tidak jelas mereka di mana. Paling sliweran di kota. Keluar kota cuma untuk berfoto. Menyebalkan!”

 

Memang kelihatannya saat ini pergi ke Aceh sebagai relawan menjadi tren. Banyak teman-temanku yang sempat bertugas di sana. Seta, salah satunya, juga menyuarakan hal yang sama – bahwa banyak di antara relawan yang tidak benar-benar membantu dan bekerja efektif. Memang lebih banyak relawan bekerja di Banda Aceh dan pusat-pusat pengungsian, sementara daerah yang terkena bencana langsung masih terbengkalai. Tapi mungkin memang sulit bagi sembarang orang untuk memutuskan bekerja di daerah-daerah itu, karena kondisi keamanan yang tidak terjamin. Lagi-lagi karena GAM. (bersambung)

 

 

Berita dari Aceh 2

 

Ini masih cerita tentang Aceh, yang lahir melalui jemari si Petualang yang menghujani telepon genggamku dengan kisah-kisahnya.

 

Yang indah di Aceh

 

Ceritanya tentang alam dan rakyat Aceh menyiratkan kekaguman. Di sana di pinggir kota dia sudah punya satu kelompok teman orang Aceh asli yang disebutnya ‘pasukan’ yang siap turun tangan membantu bila ada masalah. “Mereka-mereka ini karakternya keras dan blak-blakan, berani-berani. Tapi kuperhatikan, kalau benar, mereka berani sekali tapi kalau salah ya hanya diam.”

 

Dia sering dikira orang asli Aceh. “Di sini aku sering sekali diajak bicara dalam bahasa Aceh, dikira orang Aceh. Kata mereka aku mirip rata-rata orang Aceh: wajah agak tirus, mancung, tinggi ramping, kumis brewok dan hitam hahaha... Tapi aku perhatikan memang rata-rata orang Aceh bertampang seperti itu - tinggi tegap, ramping, gagah, wajah agak tirus dengan hidung mancung.”  Kukatakan padanya bahwa komentarnya yang ini agak terdengar narsis buatku, tapi dia tidak tertawa, tidak berkomentar.

 

Beberapa hari yang lalu diceritakannya dalam sebuah sms, “Terkait dengan kemiripanku dengan orang Aceh, di warung di Lhok Sukon aku disapa banyak orang. Orang-orang tua, anak-anak muda tersenyum, memandangi aku seperti ingin mengajak ngobrol. Ada seorang tua yang akhirnya secara khusus mencegatku saat keluar warung, mengajak ngobrol dalam bahasa Aceh. Sepulang dari situ, temanku bilang bahwa sepertinya aku dikira GAM, semacam anggota dewan pimpinan GAM. Wah, repot nian awak...” Sempat pula dirinya dicegat dan ditanyai provost sewaktu di jalan. Waktu kutanya reaksinya dia bilang biasa saja, dia paham mereka hanya menjalankan tugas.

 

Katanya tentang daerah Aceh, “Kampung-kampung dan kota-kota tertata bagus, enak dilihat. Semua memelihara bunga warna warni, indah sekali. Daerah Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar lebih panas. Yang subur adalah daerah Aceh Piddie (Padang Tiji, Batee, Samalanga dan sekitarnya). Di situ persawahan luas, subur di dataran aluvial, pantai-pantainya penuh tambak. Tanah yang kaya, indah permai. Di pesisir barat perbukitannya lebih terjal tapi pantainya benar-benar membuat iri. Ingin mancing lalu menyelam. Jernih, teluk-teluknya tenang.”

 

Betul Petualang, rasanya aku setuju. Aku belum pernah ke sana tapi pernah kulihat film yang menggambarkan keindahan lautnya. Bahkan sebetulnya seandainya tsunami tidak terjadi tanggal 5 Februari lalu aku bukan menyelam di Ambon, melainkan di ujung utara tanah Aceh, pulau Weh yang lautnya indah. Well, maybe next time. Terakhir kulihat di televisi dalam film bawah laut hasil sorotan Cahyo Alkantana, terumbu karang masih hidup. Di kedalaman sekitar 20 meter semua masih utuh. Yang umumnya bertambah adalah hamparan tipis selimut pasir dan beberapa benda  milik manusia yang tersapu ke laut. Semoga bisa dibersihkan.

 

Betapa kontras semua keindahan ini dengan kehancuran yang terjadi. Dari video temanku bisa terlihat daerah yang rata dengan tanah dan kapal-kapal besar yang terlempar ke darat. Padahal tidak jauh dari situ laut permai berwarna hijau biru dan jernih terlihat tenang.

 

 

Masih tentang orang Aceh

 

Suatu malam smsnya berbunyi, “Semalam aku mencoba ganja hehehe.... Teman-teman mencari ganja malam-malam lalu kami melinting. Dji Sam Soe dibuka lalu diganti ganja.”

 

Protesku dijawabnya begini, “Kamu itu memakai paradigma Jakarta untuk menilai Aceh. Itu salah besar. Di sini ganja cuma seperti rokok biasa. Seperti kacang goreng, menu biasa. Tidak seperti di Jakarta.”

 

“Mereka di sini hanya memakai ganja sesekali saja, untuk iseng. Dan di sini memakai ganja itu biasa saja. Tidak seperti di Jakarta. Aku belum pernah mendengar orang-orang Aceh masuk panti rehabilitasi narkoba.”

 

Waktu kutanya lebih lanjut, apakah ada ‘abuse’ sehingga ganja yang tadinya bagian budaya Aceh lalu diekspor keluar daerah dalam jumlah banyak untuk konsumsi para pemakai obat terlaran, jawabnya begini, “Ganja ditanam di gunung-gunung. Katanya produk di pulau Sabang lebih enak. Tapi mengenai organised crime yang menyelundupkan ganja aku tidak tahu. Mungkin GAM atau aparat juga bermain di situ. Menurutku, dulunya itu tanaman rakyat, seperti halnya cabe rawit, dipakai sebagai bumbu masak atau merokok. Tapi orang-orang di luar Aceh melihat keuntungan dari permintaan besar anak-anak manja pengguna obat terlarang di Jakarta. Karena ada permintaan maka produksi naik pula. Perkara siapa yang mengurus apakah mereka terorganisasi atau tidak aku tidah tahu.”

 

Memang menurut salah seorang temanku yang di masa lalunya sempat berkecimpung di dunia hitam menjual ganja dari Aceh di Jakarta, tentara dan GAM juga banyak berperan dalam melindungi produksi dan perdagangan ganja dari Aceh.

 

Suatu malam keingintahuanku tentang teman-teman Aceh mendorongku untuk bertanya tentang Islam dan pengaruhnya di Aceh. Kutanya padanya apakah ada banyak kaum abangan juga di Aceh seperti di Jawa. Jawabnya, “Kelihatannya banyak abangan juga.”

 

Lalu tentang syariat Islam, “Syariat Islam biasa aja. Cuma melegitimasi apa yang sudah ada. Di sini kalau Jum’at semua kegiatan berhenti. Sama seperti di kampungku, di hari Minggu semua berhenti. Ada hosti dibawa lewat jalan hari apa saja, semua berhenti, langsung berlutut di posisinya, entah di kayu, batu, atau di teras rumah. Seperti itu jugalah yang aku rasakan di sini. Kalau kita baik, wajar, tidak ada masalah.... Mereka terbuka dan blak-blakan. Makanya aku bisa punya ‘pasukan’ di sini hehehe...”

 

Kutanya padanya jadi siapa sebenarnya yang menginginkan negara Islam. Jawabnya, “Yang menginginkan negara Islam adalah GAM. Tapi itu imbas dari perasaan diperlakukan tidak adil secara ekonomis.... Tuntutan lalu berkembang jauh karena soal ketidak adilan tidak ditangani dengan bijaksana sejak awal. Kekecewaanlah yang ada. Juga mungkin janji-janji awal kemerdekaan tidak ditepati, Aceh ternyata dijadikan bagian dari Sumatera Utara. Maka kecewalah mereka. Mereka sudah punya tradisi melawan kolonialisme sejak dulu. Tanpa RI pun Aceh sejak dulu sudah punya hubungan dagang dan diplomatik yg luas. Mungkin seperti itu.”

 

 

Mobil off road, bahaya

 

Kutanya pada si Petualang tentang kehidupannya di sana. Saat-saat awal sms-nya masuk dia masih bersama marinir. “Makan seperti kalau sedang kemah, masak sendiri-sendiri.... Mandi, ya di kali.”  Kalau di sekitarnya ada warung maka mereka makan di situ. Seringkali pula mereka mengopi di ‘keudee’ (kedai?).

 

Mobil off roadnya mengangkuti apa saja yang bisa diangkut, melakukan apa saja yang dibutuhkan – seperti menarik mobil mogok atau tercebur sungai. Pekerjaannya? Serabutan, apa saja yang bisa dan harus dilakukan. “Kerja-kerja babak belur,” begitu istilahnya.

 

Selama itu dia dan rombongannya mengikuti gerakan pasukan zeni yang membuka jalan di daerah-daerah yang belum tersentuh di pesisir barat. “Tidak mungkin mendahului pasukan zeni, karena masih amat rawan GAM.”

 

Bangganya dia pada mobilnya. Katanya, “Aku bawa mobil landrover lorengku itu. Terpal dibuka semua, jadi sangar hehe. Ada 10 mobil off-road dalam rombonganku ini, semua dibawa ke sini dengan kapal perang. Sementara aku dan kawan-kawan diangkut dengan Hercules.”

 

Saat bisa mampir ke kota dibereskannya mobilnya. Tapi sulit mencari suku cadang di kota yang hancur itu. Kalau sempat pula dibawanya mobil ke ‘doorsmer’ untuk dicuci bersih. Sedangkan kalau ban bocor, dibawanya ke tukang ‘tempel ban’.

 

Bukan tidak bahaya hal yang dilakukannya. Saat mengikuti truk unimog Hantu Laut marinir kelompok pemburu mayat itu, kaca depan dan samping dipasangi plat besi, dengan menyisakan sebuah lubang kecil untuk si supir melihat. Bak juga dilapisi plat besi. Saat berkonvoi di pesisir barat, sepanjang jalan di kaki bukit semua mengokang senjata, dengan moncong diarahkan ke arah hutan di ketinggian bukit. Katanya, “GAM menembak dari atas. Mereka menang posisi.”

 

Kadang kala dia harus ikut patroli malam. “Marinir memang kacau. Kadang mereka justru suka memilih jalur rawan GAM, mungkin gatal tangan mereka.”

 

 

Tentang bencana

 

Melihatnya menghadapi bahaya secara sukarela begitu aku jadi bertanya-tanya, “What exactly are you doing there Kang? Maksudku apa yang kaucari?”  Dia cuma tertawa dan menjawab bercanda, “Yang aku cari? Aku cari GAM hehehe.”

 

Kucoba mengorek perasaannya tentang semua yang dilihatnya. Tidak banyak yang bisa keluar. Jawabannya kosong dari emosi. Dingin.

 

“Aku? Ah cuma jengkel saja pada pejabat yang seenaknya menetapkan target tanpa melihat kondisi lapangan. Kalau tentang jumlah korban ya kaget juga tapi setelah itu biasa aja. Wajar-wajar saja kalau tsunami seperti itu. Apalagi daerah ini di tepi laut. Kalau mereka mati terkena tsunami ya itu konsekuensi logis dari hubungan sebab akibat. Kalau ada kehidupan di seberang sana mereka cuma ‘transmigrasi’ saja toh? Bagi yang masih hidup, banyak teman senasib jadi kenyataan ini lebih mudah dihadapi. Apalagi seluruh dunia peduli, memberikan perhatian, simpati. Kehidupan harus berjalan as usual.”

 

Beberapa hari yang lalu kucoba lagi mengorek perasaannya. Kembali jawabannya hanya begini, “Keadaan biasa-biasa saja, menurutku. Aku sudah tidak asing dengan situasi bencana seperti ini. Yang jelas di sini panas euy.” Petualang, pengalaman apa saja yang sudah ada dalam hidupmu sehingga jawabmu bisa enteng seperti ini?

 

Tidak semudah itu menerima kenyataan tentunya buat orang Aceh yang mengalami bencana. Kutanya padanya apakah di sana mereka juga menganggap ini hukuman atau peringatan dari Tuhan, sebuah pendapat yang sering terdengar terlontar di sini.

 

Jawabnya, “Aku tidak tahu. Kelihatannya mereka hanya berpikir bagaimana cepat bangkit kembali. Kalau 1 tewas, itu tragedi. Kalau 5 tewas, itu musibah. Kalau puluhan atau ratusan ribu tewas, itu statistik! Yang menyatakan ini hukuman Tuhan itu hanya orang-orang sesat pikir. Tsunami punya mekanisme alamiah. Orang-orang yang ada di jalur sapuan tsunami jelas jadi korban. Wajar. Kalau dikaitkan dengan hukuman Tuhan, itu kesalahan kategori logika. Atau lebih tepat, tsunami dijadikan ‘komoditas’ supaya ustadz-ustadz, pastor, dan orang-orang sok saleh punya bahan ceramah, laku, dapat duit atau terkenal. Semakin jago dia menakut-nakuti org, makin laku dia, makin kelihatan saleh, mengerti agama dan sebagainya. Mereka sebenarnya orang-orang sesat yang menyesatkan makin banyak orang.”

 

Bukannya menjawab pertanyaanku malahan nasehat yang (seperti biasa) terlontar, “Persoalan penderitaan manusia sejak dulu masih belum memperlihatkan titik terang. Sejak Perjanjian Lama: tentang Ayub, lalu filsuf yunani kuno Epikurus, dilanjutkan ke Leibniz, Albert Camus, Sartre, D'Holbach sampai sekarang masih jadi skandal yg ramai. Yang cepat-cepat melemparkan semua sebagai tanggung jawab Tuhan adalah orang-orang ngawur. Jumping to conclusion. Kamu bisa coba baca novel filsuf eksistensial Albert Camus: Sampar/Pes, La Peste. Akan jelas dari situ. Atau novelnya iwan simatupang:Ziarah...”

 

Aku protes padanya, karena aku tahu semua itu dan yang kutanyakan adalah bagaimana mereka di Aceh memandang bencana ini. Jawabnya, “Bencana bagi mereka ya bencana saja, tidak ada urusan dengan Tuhan. Justru mereka merasa lebih terkesan dengan orang-orang asing yang datang membantu. Solidaritas membuat mereka terhibur. Soal musibah, karena banyak teman senasib jadi bisa lebih ringan. Mereka ingin bangkit kembali. Dikait-kaitkan dengan Tuhan? Aku tidak dengar itu.”

 

Jawabnya ini berbeda dengan jawaban sobatku Seta yang menyatakan bahwa banyak korban bencana yang dijumpainya memandang ini sebagai peringatan. Mereka menunjuk bukti gedung-gedung yang tidak hancur, seperti mesjid, yang buat mereka menunjukkan perlindungan Tuhan di situ. Atau gedung-gedung yang hancur yang menurut mereka dibangun dengan hasil korupsi.

 

Ah apapun yang dirasakan mereka semoga mereka bisa bangkit kembali. Semoga bantuan kita berarti. Begitu pikirku.

 

Penutup

 

Petualang, begini cuma bisaku menyampaikan pesan-pesan yang terlahir dari jemarimu lewat sms. Semoga ini yang kauinginkan. Selamat jalan, hati-hati dalam menyelusuri jalan lintas Sumatra bersama landrover kesayanganmu. Semoga selamat sampai kembali ke Jakarta.

 

Jakarta, 2 Maret 2005

niel


Posted at 11:31 pm by koeniel

exsanok@yahoo.com
October 12, 2005   03:03 PM PDT
 
kalau sahabat mo kembali ke Aceh jangan lupa berkhabar, indahnya gapang dan pantai iboih di Pulau Weh itu, walau tsunami pantai-pantai Aceh tetep indah woy? Kopi Aceh Mie rebus kepiting udang.............ngak bisa dituker dengan 1000 Monas dan Eifel, trs sejuk pegunungan Burni Telong di Gayo luar biasa...rasakan dengan hati, ....tanah rakyat negeri utara
Lili
April 1, 2005   06:20 AM PST
 
Yang sedih tuh, jusrtu balik lagi ke Pemerintah. Lambat banget yah mbak? dengan dana bantuan asing kemarin dan juga swadaya masyarakat seluruh dunia, kok sepertinya cuman slow motion ajah gituh. Kenapa gak beli 5 helicopter utk SAR di sana, supaya gak ada alasan daerahnya sulit terjangkau bila lewat darat. Wah, panjang deh kalau ngomong. Aku juga sedih bantuan yg di Nias, kok lambat banget yah. Apakah orang Indo sudah bosen sama berita gempa sehingga sudah tidak sensitif lagi seperti kejadian pertama yg menimpa Aceh??
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON