
click above picture for photo album with more pictures
Hari Sabtu lalu bersama teman-teman aku menyelam di lokasi bangkai kapal perang Amerika heavy cruiser USS Houston yang ditenggelamkan armada Jepang pada tanggal 1 Maret 1942 di lepas pantai Teluk Banten. Tapi itu kisah lain lagi yang akan kuceritakan nanti setelah bahan-bahan riset sejarahku cukup lengkap. Yang mau kuceritakan sekarang adalah tentang keindahan kampungku, kampung kita.
Sepulang dari menyelam di kapal perang itu kami mendarat di sebuah pelabuhan nelayan mungil Grenyang di daerah Bojonegara, dekat Cilegon. Daerah Bojonegara ini bisa dicapai dengan membelok ke kanan setelah keluar dari pintu tol Cilegon Timur.
Bayanganku tentang Cilegon selama ini adalah pabrik-pabrik dan susunan besi-besi raksasa - daerah industri yang sangat tidak menawan. Lautnya pun tidak biru indah, melainkan coklat tidak menarik. Langitnya pun dalam bayanganku coklat berpolusi – tidak indah. Maka tidak terpikirkan olehku untuk membawa kamera Canon 300D Rebel kesayanganku.
Ternyata, disiram cahaya matahari yang hampir tenggelam, tempat ini indah juga! Di pelabuhan kecil itu sendiri sudah ada banyak obyek pemandangan menarik yang bisa diabadikan. Lalu baru sepenggal perjalanan dengan mobil, sudah berkali-kali aku minta berhenti untuk mengabadikan bagunan pabrik atau gudang atau entah apa yang berada di tepi pantai. Untung lelaki yang menemaniku saat itu cukup sabar dan berbaik hati memenuhi permintaanku, yang akhirnya menjepret pemandangan dengan kamera digital compact kecil Olympus yang biasa kupakai untuk memotret di bawah air. Rasanya menyesal sekali tidak membawa ‘senjata’ andalan Canon Rebel, karena langit yang sore itu begitu cerah begitu berwarna biru dan membuat daerah ini sangat fotogenik. Foto bangunan di tepi pantai dengan laut dan langit biru di belakangnya dan rerumputan kuning di depannya malah mengingatkanku pada pemandangan di Eropa, bukan di Cilegon. Maka foto itu kuberi judul ‘This is Not Aberdeen’.
Impian pergi keluar negeri seringkali membuat kita lupa bahwa banyak sekali tempat di kampung kita sendiri ini yang sangat layak dikunjungi, baik karena keindahan alamnya maupun keunikan budayanya. Kita sering lupa bahwa bahkan daerah sedekat dan sebiasa Cilegon pun bisa indah.
Sebenarnya kampung kita ini indah sekali. Ini makin kusadari setelah aku jatuh cinta pada kegiatan menyelam. Aku suka sekali berkelana dan bepergian jauh. Dulu daftar daerah impian yang ingin kukunjungi penuh dengan nama-nama tempat di Eropa dan Amerika Selatan. Dulu uang kuhabiskan untuk ber-backpacking di Semenanjung Malaya, di sebagian Eropa dan sebagian bagian barat Amerika. Sekarang aku juga masih ingin mengunjungi tempat-tempat lain di situ, tapi prioritas sudah bergeser – nama-nama tempat yang ada di daftar paling atas tempat-tempat yang ingin kukunjungi adalah nama-nama tempat di Indonesia: Bunaken, Komodo, Alor, Gorontalo, Wakatobi, Kapoposang, Takabonerate, dan yang paling impian: Raja Ampat, sebuah tempat di Papua yang sangat terkenal keindahan dunia bawah lautnya. Di sela-sela kegiatan menyelam biasanya waktu kuhabiskan untuk berburu foto. Merekam sebanyak-banyaknya kecantikan alam kampungku. Sudah beratus bahkan mungkin beribu jepretan kuambil tentang pemandangan alam kampungku. Dan aku belum bosan.
Bulan Maret lalu aku pergi ke Yogya dan di sana sempat menemani seorang pengelana asing berjalan-jalan di sekitar candi Prambanan dan Ratu Boko. Serunya tak henti-henti kagum melihat keindahan alam di situ. Padahal buatku kampung halamannya di Eropa sana juga indah sekali. Ada satu komentarnya yang membuatku jadi berpikir: “Your country has zero unemployment – everyone so creatively created employment for him/herself!” Begitu serunya kala melihat pengamen di perempatan jalan, tukang parkir, polisi cepek, pedagang asongan dan tukang becak. Belum pernah aku melihat masalah itu dari sudut pandang ini. Kalau melihat sektor informal itu pasti yang kupikirkan adalah ketidakbecusan pemerintah dalam mengurus negara sehingga banyak pengangguran.
jadi kusadari, betapa sering aku melihat negaraku ini hanya dari sisi buruknya saja – korup, terbelakang, banyak pengangguran, miskin, tidak bisa bersaing di dunia dan sebagainya. Ternyata perlu mata segar seorang asing untuk bisa menuntunku melihat itu dari sudut pandang yang lain dan melihat bahwa negeriku tidak melulu jelek. Kampungku juga indah.
Jakarta, 12 April 2005