Monday, April 25, 2005
Tentang Penyu

baby turtle


for more photos please click above picture


Malam itu tidak gelap, cahaya bulan berpendar-pendar dan pantai putih memantulkan cahayanya. Laut surut jauh sekali,  masih kuingat betapa susahnya esok harinya ketika kami harus melintasi dataran pasang-surut itu dengan berjalan kaki dari pantai menuju kapal. Jaraknya jauh, dan harus melewati pasir, permukaan karang yang tajam-tajam dan air setinggi mata kaki atau kadang sebetis. Tidak mudah, berat. Untung kami tidak perlu memanggul sendiri peralatan menyelam seperti di Ambon. Seandainya harus, mungkin aku sudah menyerah setengah jalan.

 

Tapi malam itu kami hanya berjalan di sepanjang pantai di atas butiran pasir karbonat putih kekuningan yang berasal dari hancuran koral dan cangkang binatang laut. Kami berjalan hanya dibantu cahaya bulan yang hampir purnama, supaya tidak membuat takut penyu-penyu yang hendak bertelur yang bisa mengurungkan niatnya bila melihat sumber-sumber cahaya seperti lampu atau senter.

 

Ya malam itu di pulau Sangalaki kami hendak menyaksikan salah satu peristiwa alam yang menakjubkan - penyu bertelur. Pulau Sangalaki adalah salah satu pulau yang tumbuh dari terumbu karang di lepas pantai muara Sungai Berau di Laut Sulawesi. Pulau ini secara administratif merupakan bagian Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. Di lepas pantai muara Berau ini lautnya begitu indah, dan pulau-pulau di situ menjadi salah satu tempat favorit di Indonesia untuk menyelam, seperti pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Samama dan Pulau Kakaban. Pulau-pulau ini bisa dicapai dengan terbang dari Balikpapan dengan pesawat kecil menuju Tanjung Redeb di Berau, lalu dilanjutkan dengan berperahu selama kurang lebih 2 jam di sepanjang sungai Berau yang lebar dengan hutan bakau di tepiannya menuju ke laut lepas.

 

Pulau Sangalaki sendiri adalah pulau kecil, yang bisa habis dikelilingi dalam 20 menit. Di situ ada dua institusi yang satu adalah Sangalaki Dive Lodge yang menjadi tuan rumah kami selama kegiatan menyelam, dan The Turtle Foundation sebuah LSM yang seperti jelas terlihat dari namanya bertujuan menyelamatkan hidup penyu. Mengapa penyu perlu diselamatkan? Karena penyu yang sudah hidup di bumi sejak jauh sebelum Homo sapiens alias manusia ada, diperkirakan akan punah dalam waktu 10 tahun bila tidak dilindungi. (Penyu diperkirakan sudah berevolusi dan hidup di bumi sejak 150 juta tahun yang lalu, malah nenek moyangnya sudah ada dari 210 juta tahun yang lalu jadi sempat hidup berbarengan dengan sepupunya, yaitu dinosaurus. Homo sapiens alias manusia baru ada sekitar 150000 tahun yang lalu, walaupun nenek moyangnya, genus Homo yang tertua yaitu Homo habilis, sudah ada sejak 2 juta tahun yang lalu, tapi itupun masih jauh lebih muda dibanding penyu.)

 

Setelah berjuta-juta tahun hidup tenang di bumi penyu jadi terancam punah setelah manusia berevolusi, memiliki kecerdasan dan akhirnya berkuasa sebagai ujung teratas rantai makanan. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia sudah suka menyantap penyu sejak dahulu sepanjang sejarahnya, maka bagi penyu, jenis binatang yang sukses mengarungi bumi selama jutaan tahun, agen pemusnahnya memang manusia. Yang menyebabkan jumlah mereka menyusut banyak selain karena menjadi santapan manusia dan diburu untuk kulitnya atau dicuri telur-telurnya, adalah karena aktivitas manusia banyak mengganggu kehidupan mereka. Penyu betina haus pergi ke darat untuk bertelur dan membutuhkan tempat di pasir untuk memendam telur-telurnya. Dengan makin banyaknya kegiatan manusia di sepanjang pantai, daerah yang bisa mereka pakai untuk bertelur jadi sangat banyak berkurang.

Malam itu kami menyaksikan sendiri usaha seekor penyu hijau betina berukuran panjang hampir satu meter untuk bertelur dan memendam telur-telurnya agar telur-telur itu terlindung dari predator dan memiliki kelembapan dan suhu yang tepat untuk melangsungkan pertumbuhan mereka. Butuh waktu satu jam untuk si ibu penyu menutupi lubang tempatnya bertelur. Itu dilakukannya dengan mendorong pasir ke belakang dengan siripnya. Setiap 3 kibasan sirip yang melemparkan pasir dengan kuat ke belakang, si induk penyu terengah-engah menarik nafas, lalu melanjutkan lagi tugasnya. Betul-betul mengharukan melihat perjuangannya.

 

Dan menyedihkan juga bila diingat bahwa di banyak tempat setelah si induk pergi para pencuri datang menggali telur-telur penyu untuk dijual. Lebih menyedihkan lagi di banyak tempat kegiatan pengambilan telur penyu memang dilegalkan. Sebuah artikel Kompas di tahun 2000 (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0003/17/iptek/adu19.htm) menunjukkan kegiatan pengambilan telur penyu yang memang dijadikan sumber resmi pendapatan daerah di Derawan. Mereka menyatakan bahwa 10% dari telur-telur yang diambil dibiarkan menetas untuk menjaga kelangsungan hidup penyu. Padahal banyak penelitian menyebutkan bahwa hanya 10% dari tukik yang menetas akan mencapai usia reproduksi. Bila pengambilan telur oleh manusia ikut dihitung, maka dari usaha keras para induk penyu untuk bertelur, hanya akan ada 1% yang nantinya kembali untuk bertelur di pantai ini! Tidak heran kalau mereka hampir punah!

 

Saat ini hanya sebagian kecil spesies yang masih ada, dan hitungan individu per-spesies juga kecil sekali. Maka barulah sebagian sadar dan mulai menggerakkan usaha konservasi. Salah satunya adalah The Turtle Foundation yang adalah LSM asal Jerman yang salah satu proyek perdananya adalah di pulau Sangalaki ini. Menurut mereka sekitar 20-30 tahun yang lalu masih ada sekitar 200an penyu permalam bertelur di pulau ini. Sekarang 50 ekorpun tidak ada. Maka mereka berusaha membuat agar penyu-penyu tetap tertarik bertelur di pulau ini dan melindungi telur-telur dari pencurian. Sejak Januari 2002 penyu-penyu di Sangalaki sudah resmi dilindungi. Ini berarti kegiatan pengambilan telur penyu di Sangalaki seperti yang tertulis di artikel Kompas tahun 2000 tersebut sudah dihapus. Tidak jelas apakah kegiatan penjualan telur penyu masih dilakukan di pulau-pulau lain. Semoga sudah tidak lagi. Yang jelas malam itu para petugas The Turtle Foundation mengambil ke 98 telur yang dikeluarkan sang induk penyu dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman, karena di daerah tempat sang induk bertelur, pasirnya akan terendam air bila pasang naik tiba. Lokasi baru direkam posisinya dan dicatat dengan baik. Dari situ akan muncul tukik-tukik dalam 1-2 bulan.

 

Paginya kami mendapat kesempatan untuk menyaksikan lagi sebuah fenomena alam yang menakjubkan para tukik, anak-anak penyu mungil muncul dari dalam pasir di bawah salah satu pondok tempat kami tinggal. Sangalaki Dive Lodge memang bekerja sama dengan baik dengan The Turtle Foundation. Pondok-pondok mereka yang dibangun di pantai dibangun sebagai rumah panggung sehingga pasir di bawahnya masih bisa digunakan oleh penyu untuk bertelur. Pada malam hari kami juga diminta untuk tidak menyalakan lampu di teras agar penyu-penyu tidak mengurungkan niatnya untuk bertelur.

 

Lagi-lagi kami harus merasa terharu menyaksikan perjuangan para tukik, yang setelah 2-3 hari menggali pasir yang memendam mereka saat menetas dalam telur, masih harus berjuang keras melintasi pasir pantai yang panjang dengan tumpukan dedaunan kering dan jalaran tumbuhannya untuk mencapai laut. Tapi para tukik berjalan atau tepatnya berlari dengan cepat sekali, dalam satu garis lurus menuju laut. Mereka menerjang semua halangan dalam gerakan panik seolah sedang dikejar musuh. Dan memang musuh mereka banyak camar laut, hiu dan berbagai jenis predator menanti mereka. Heran juga melihat mereka bisa otomatis menemukan jalan ke laut. Para peneliti belum bisa mengetahui dengan jelas apakah ini mereka lakukan berdasarkan pantulan cahaya yang banyak sekali dari permukaan laut, atau karena mereka punya semacam built-in kompas yang membantu mereka menentukan arah dengan bantuan medan magnet bumi.

 

Sembari menjepretkan kamera berkali-kali, kami sibuk menyemangati para tukik yang berlari-lari menuju laut. Saat kaki-kaki mereka menyentuh air terharu sekali rasanya. Gerakan panik mereka ketika berlari-lari di darat langsung berubah menjadi gerak renang slow motion yang anggun. Selamat jalan kawan, good luck, semoga sukses, selamat dalam hidup, sehingga kalian bisa datang ke sini untuk bertelur 30 tahun lagi. Dan juga sampai jumpa di bawah laut sana, saat nanti kami menyelam, jangan takut pada kami. Kami tidak akan mengganggu kalian malah kalau ada yang mencoba mengganggu kalian, akan kami tempeleng orang itu.

 

Balikpapan, 25 April 2005

 


Posted at 06:19 pm by koeniel

Martha Meijer
June 5, 2005   07:46 PM PDT
 
Menarik sekali, itu dilema memperbaik akses kepada daerah yang terisolir. Nanti bulan Juli kami berencana berkunjung daerah Berau, dengan tujuan proyek ilmiah untuk river basin management Berau. Ada usulan lanjutan dari Ibu?

terima kasih banyak sebelumnya,

Martha Meijer
titusmeijer@planet.nl
marthameijer@hotmail.com
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON