
for more photos please click above picture
Malam itu tidak gelap, cahaya bulan berpendar-pendar dan pantai putih memantulkan cahayanya. Laut surut jauh sekali, masih kuingat betapa susahnya esok harinya ketika kami harus melintasi dataran pasang-surut itu dengan berjalan kaki dari pantai menuju kapal. Jaraknya jauh, dan harus melewati pasir, permukaan karang yang tajam-tajam dan air setinggi mata kaki atau kadang sebetis. Tidak mudah, berat. Untung kami tidak perlu memanggul sendiri peralatan menyelam seperti di Ambon. Seandainya harus, mungkin aku sudah menyerah setengah jalan.
Tapi malam itu kami hanya berjalan di sepanjang pantai di atas butiran pasir karbonat putih kekuningan yang berasal dari hancuran koral dan cangkang binatang laut. Kami berjalan hanya dibantu cahaya bulan yang hampir purnama, supaya tidak membuat takut penyu-penyu yang hendak bertelur yang bisa mengurungkan niatnya bila melihat sumber-sumber cahaya seperti lampu atau senter.
Ya malam itu di pulau Sangalaki kami hendak menyaksikan salah satu peristiwa alam yang menakjubkan - penyu bertelur. Pulau Sangalaki adalah salah satu pulau yang tumbuh dari terumbu karang di lepas pantai muara Sungai Berau di Laut Sulawesi. Pulau ini secara administratif merupakan bagian Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. Di lepas pantai muara Berau ini lautnya begitu indah, dan pulau-pulau di situ menjadi salah satu tempat favorit di Indonesia untuk menyelam, seperti pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Samama dan Pulau Kakaban. Pulau-pulau ini bisa dicapai dengan terbang dari Balikpapan dengan pesawat kecil menuju Tanjung Redeb di Berau, lalu dilanjutkan dengan berperahu selama kurang lebih 2 jam di sepanjang sungai Berau yang lebar dengan hutan bakau di tepiannya menuju ke laut lepas.
Pulau Sangalaki sendiri adalah pulau kecil, yang bisa habis dikelilingi dalam 20 menit. Di situ ada dua institusi – yang satu adalah Sangalaki Dive Lodge yang menjadi tuan rumah kami selama kegiatan menyelam, dan The Turtle Foundation sebuah LSM yang seperti jelas terlihat dari namanya bertujuan menyelamatkan hidup penyu. Mengapa penyu perlu diselamatkan? Karena penyu yang sudah hidup di bumi sejak jauh sebelum Homo sapiens alias manusia ada, diperkirakan akan punah dalam waktu 10 tahun bila tidak dilindungi. (Penyu diperkirakan sudah berevolusi dan hidup di bumi sejak 150 juta tahun yang lalu, malah nenek moyangnya sudah ada dari 210 juta tahun yang lalu – jadi sempat hidup berbarengan dengan sepupunya, yaitu dinosaurus. Homo sapiens alias manusia baru ada sekitar 150000 tahun yang lalu, walaupun nenek moyangnya, genus Homo yang tertua yaitu Homo habilis, sudah ada sejak 2 juta tahun yang lalu, tapi itupun masih jauh lebih muda dibanding penyu.)
Setelah berjuta-juta tahun hidup tenang di bumi penyu jadi terancam punah setelah manusia berevolusi, memiliki kecerdasan dan akhirnya berkuasa sebagai ujung teratas rantai makanan. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia sudah suka menyantap penyu sejak dahulu sepanjang sejarahnya, maka bagi penyu, jenis binatang yang sukses mengarungi bumi selama jutaan tahun, agen pemusnahnya memang manusia. Yang menyebabkan jumlah mereka menyusut banyak selain karena menjadi santapan manusia dan diburu untuk kulitnya atau dicuri telur-telurnya, adalah karena aktivitas manusia banyak mengganggu kehidupan mereka. Penyu betina haus pergi ke darat untuk bertelur dan membutuhkan tempat di pasir untuk memendam telur-telurnya. Dengan makin banyaknya kegiatan manusia di sepanjang pantai, daerah yang bisa mereka pakai untuk bertelur jadi sangat banyak berkurang.
Malam itu kami menyaksikan sendiri usaha seekor penyu hijau betina berukuran panjang hampir satu meter untuk bertelur dan memendam telur-telurnya agar telur-telur itu terlindung dari predator dan memiliki kelembapan dan suhu yang tepat untuk melangsungkan pertumbuhan mereka. Butuh waktu satu jam untuk si ibu penyu menutupi lubang tempatnya bertelur. Itu dilakukannya dengan mendorong pasir ke belakang dengan siripnya. Setiap 3 kibasan sirip yang melemparkan pasir dengan kuat ke belakang, si induk penyu terengah-engah menarik nafas, lalu melanjutkan lagi tugasnya. Betul-betul mengharukan melihat perjuangannya.
Dan menyedihkan juga bila diingat bahwa di banyak tempat setelah si induk pergi para pencuri datang menggali telur-telur penyu untuk dijual. Lebih menyedihkan lagi di banyak tempat kegiatan pengambilan telur penyu memang dilegalkan. Sebuah artikel Kompas di tahun 2000 (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0003/17/iptek/adu19.htm) menunjukkan kegiatan pengambilan telur penyu yang memang dijadikan sumber resmi pendapatan daerah di Derawan. Mereka menyatakan bahwa 10% dari telur-telur yang diambil dibiarkan menetas untuk menjaga kelangsungan hidup penyu. Padahal banyak penelitian menyebutkan bahwa hanya 10% dari tukik yang menetas akan mencapai usia reproduksi. Bila pengambilan telur oleh manusia ikut dihitung, maka dari usaha keras para induk penyu untuk bertelur, hanya akan ada 1% yang nantinya kembali untuk bertelur di pantai ini! Tidak heran kalau mereka hampir punah!
Saat ini hanya sebagian kecil spesies yang masih ada, dan hitungan individu per-spesies juga kecil sekali. Maka barulah sebagian sadar dan mulai menggerakkan usaha konservasi. Salah satunya adalah The Turtle Foundation yang adalah LSM asal Jerman yang salah satu proyek perdananya adalah di pulau Sangalaki ini. Menurut mereka sekitar 20-30 tahun yang lalu masih ada sekitar 200an penyu permalam bertelur di pulau ini. Sekarang 50 ekorpun tidak ada. Maka mereka berusaha membuat agar penyu-penyu tetap tertarik bertelur di pulau ini dan melindungi telur-telur dari pencurian. Sejak Januari 2002 penyu-penyu di Sangalaki sudah resmi dilindungi. Ini berarti kegiatan pengambilan telur penyu di Sangalaki seperti yang tertulis di artikel Kompas tahun 2000 tersebut sudah dihapus. Tidak jelas apakah kegiatan penjualan telur penyu masih dilakukan di pulau-pulau lain. Semoga sudah tidak lagi. Yang jelas malam itu para petugas The Turtle Foundation mengambil ke 98 telur yang dikeluarkan sang induk penyu dan memindahkannya ke tempat yang lebih aman, karena di daerah tempat sang induk bertelur, pasirnya akan terendam air bila pasang naik tiba. Lokasi baru direkam posisinya dan dicatat dengan baik. Dari situ akan muncul tukik-tukik dalam 1-2 bulan.
Paginya kami mendapat kesempatan untuk menyaksikan lagi sebuah fenomena alam yang menakjubkan – para tukik, anak-anak penyu mungil muncul dari dalam pasir di bawah salah satu pondok tempat kami tinggal. Sangalaki Dive Lodge memang bekerja sama dengan baik dengan The Turtle Foundation. Pondok-pondok mereka yang dibangun di pantai dibangun sebagai rumah panggung sehingga pasir di bawahnya masih bisa digunakan oleh penyu untuk bertelur. Pada malam hari kami juga diminta untuk tidak menyalakan lampu di teras agar penyu-penyu tidak mengurungkan niatnya untuk bertelur.
Lagi-lagi kami harus merasa terharu menyaksikan perjuangan para tukik, yang setelah 2-3 hari menggali pasir yang memendam mereka saat menetas dalam telur, masih harus berjuang keras melintasi pasir pantai yang panjang dengan tumpukan dedaunan kering dan jalaran tumbuhannya untuk mencapai laut. Tapi para tukik berjalan – atau tepatnya – berlari dengan cepat sekali, dalam satu garis lurus menuju laut. Mereka menerjang semua halangan dalam gerakan panik seolah sedang dikejar musuh. Dan memang musuh mereka banyak – camar laut, hiu dan berbagai jenis predator menanti mereka. Heran juga melihat mereka bisa otomatis menemukan jalan ke laut. Para peneliti belum bisa mengetahui dengan jelas apakah ini mereka lakukan berdasarkan pantulan cahaya yang banyak sekali dari permukaan laut, atau karena mereka punya semacam built-in kompas yang membantu mereka menentukan arah dengan bantuan medan magnet bumi.
Sembari menjepretkan kamera berkali-kali, kami sibuk menyemangati para tukik yang berlari-lari menuju laut. Saat kaki-kaki mereka menyentuh air – terharu sekali rasanya. Gerakan panik mereka ketika berlari-lari di darat langsung berubah menjadi gerak renang slow motion yang anggun. Selamat jalan kawan, good luck, semoga sukses, selamat dalam hidup, sehingga kalian bisa datang ke sini untuk bertelur 30 tahun lagi. Dan juga sampai jumpa di bawah laut sana, saat nanti kami menyelam, jangan takut pada kami. Kami tidak akan mengganggu kalian malah kalau ada yang mencoba mengganggu kalian, akan kami tempeleng orang itu.
Balikpapan, 25 April 2005