Saturday, January 01, 2005
Horor

Horor

 

Sebetulnya aku heran, kenapa orang suka menonton film horor. Aku sendiri betul-betul tidak suka. Tapi dua hari terakhir ini, entah kenapa, aku bersedia diajak menonton film horor. Curiosity, mungkin.

 

Sebetulnya pengalaman menonton dua film horor ini - Bangsal 13 dan The Grudge - semakin menguatkan perasaanku yang tidak suka akan film horor. Dan sebetulnya di dalam bioskop aku menderita sekali. Untung lelaki yang menemaniku menonton tidak keberatan lengannya kujadikan tameng perlindungan. Mungkin lengan itu jadi lebam biru-biru karena jepitan genggaman tanganku yang keras manakala adegan terasa menakutkan. Untung dia tidak mengeluh, dan yang kuhargai pula, temanku yang satu ini tidak sibuk mentertawakan ketakutanku.

 

Yang jelas setelah bertahun-tahun sama sekali menghindarkan diri dari film horor sekarang aku jadi ingat kembali, mengapa aku tidak suka film-film seperti itu. Sebetulnya, aku bukan orang yang percaya tahayul, seperti yang berkali-kali kujelaskan pada lelaki itu. Bisa dibilang 90% waktuku terisi oleh pikiran dingin logis yang menurun dari bapakku. Aku tidak percaya segala macam hantu, setan, kuntilanak dan penampakan. Aku mencibir segala acara televisi berbau misteri yang disukai orang-orang. Ketika bersama teman-teman Sahabat Museum mengunjungi bangunan tua indah yang tak terurus Lawang Sewu di Semarang, aku merasa kecewa karena teman-teman malahan sibuk membicarakan masalah 'penampakan' - bukan konservasi gedung tua atau sejarah gedung Lawang Sewu yang tebal melekat di dinding-dindingnya.

 

Aku tidak pernah takut kalau harus bekerja sendirian tengah malam di kantor. Mengambil dokumen sendirian malam-malam dari lemari di belakang meja kerja rekanku Dede, seorang drilling engineer yang beberapa bulan yang lalu meninggal dunia, bukan hal yang menakutkan. Walaupun meja kerjanya kebetulan juga terletak di sebelah kamar Willie seorang manajer yang meninggal dua minggu sebelum Dede. Aku juga tidak pernah takut setiap bertugas di London dan harus tinggal sendirian di flat yang terletak di lantai 6 gedung kantor, bersebelahan dengan ruang rapat besar. Padahal tidak seperti kantor di Jakarta yang dijaga banyak satpam, di kantor London pada malam hari hanya ada seorang satpam di lantai satu dan tamu yang tinggal di flat di lantai 6. Lantai sisanya yang siangnya digunakan sebagai perkantoran jelas kosong di waktu malam. Pun saat tidak ada tamu lain di flat ini sehingga aku benar-benar sendirian, aku juga tidak takut. Padahal konon kabarnya di salah satu kamar mandi di flat itu ada hantu, yang pernah ditemui oleh seorang rekan Indonesia yang bertugas di sana. Tapi selama aku tinggal sendirian di flat itupun si hantu tidak menampakkan batang hidungnya padaku. Mungkin karena aku tidak percaya dia ada.

 

Maka heran juga aku mengapa bisa merasa terteror sekali oleh film horor. Menurut berbagai tulisan di internet tentang film horor, ada dua jenis film yang bermain-main dengan rasa takut, yaitu film teror dan film horor yang sebenarnya (true horror). Film teror umumnya mempergunakan kekejaman, darah dan kesadisan untuk menakuti penontonnya. Sedangkan film true horror menakuti penonton dengan cara yang lebih psikologis, melalui antisipasi. Penonton jadi merasa tegang dan takut karena membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan mengantisipasi kejadian akibat tata suara atau tata lampu yang memang dibuat untuk mendukung suasana tegang.

 

Film The Grudge yang kutonton tadi dipuji banyak orang karena sangat pandai memanfaatkan sisi psikologis ini. Film ini tidak bergantung pada kekejaman atau darah, dan tidak banyak menggunakan efek spesial. Ketakutan penonton dibangun melalui kesunyian – saat-saat tanpa suara sama sekali, atau sudut kamera tertentu, atau melalui efek suara halus untuk menimbulkan ketegangan. Dan memang berhasil. Aku betul-betul merasa tegang sekali, setiap kali mendengar suara musik latar belakang menurun, menjadi bunyi sederhana  satu nada atau malah menjadi sunyi sama sekali. Pasti sesuatu akan terjadi. Dan memang selalu benar, setelah itu pasti aku harus menyembunyikan mukaku, atau menjerit kaget.

 

Jadi benar-benar selama film diputar aku menderita karena ketakutan. Tapi kenapa begitu banyak orang menyukai film horor? Dalam sebuah artikel di Journal of Media Psychology yang kutemukan di internet yang berjudul “Understanding The Popular Appeal of Horror Cinema: An Integrated-Interactive Model” karya Glenn Walters disebutkan bermacam alasan mengapa orang tertarik menonton film horor.

 

Freud misalnya, menyatakan bahwa film horor jadi menarik karena memanifestasikan pikiran dan perasaan yang tak masuk akal yang sebenarnya ada dalam pikiran manusia tetapi direpresi oleh ego. Aristoteles percaya bahwa tontonan drama horor menarik karena menjadi katarsis, menawarkan kesempatan pada manusia untuk membuang emosi negatifnya pada saat menonton. Seorang psikolog bernama Zuckermann menyatakan bahwa film horor menarik karena menawarkan sensasi yang kuat pada orang-orang yang memang menyukai sensasi. Ahli lain Caroll menyebutkan alasan keingintahuan. Peneliti bernama Zillman menyebutkan bahwa film horor menjadi menarik karena menawarkan kesempatan pada penonton untuk mengidentifikasikan diri dengan kuat dengan nilai yang dibawa dalam film tersebut. Misalnya si penonton percaya bahwa melakukan hubungan seks di luar pernikahan itu perbuatan dosa maka saat menonton film yang menunjukkan bahwa seorang gadis yang melakukan hubungan seks di luar pernikahan mengalami berbagai kejadian yang menakutkan, si penonton sebenarnya diam-diam setuju dan karenanya suka pada hal itu.

 

Yang lucu ada suatu studi jender yang menyatakan bahwa ada banyak orang yang tertarik pada film horor karena di situ ada kesempatan bagi penonton laki-laki untuk menunjukkan kejantanan, keperkasaan dan kemampuannya untuk melindungi, dan bagi penonton perempuan untuk merasa ketakutan sehingga dilindungi oleh pasangan lelakinya. Teori ini disebut the snuggle theory.

 

Jadi banyak orang menonton film horor untuk mencari kesempatan? Lucu juga. Mungkin aku dan lelaki yang menemaniku melakukan hal yang sama. Entahlah. Yang jelas kalau keingintahuan yang menyebabkan aku pergi menonton The Grudge dan Bangsal 13, hal itu sudah sangat terpenuhi dan kurasa aku tidak akan pergi nanton film horor lagi untuk waktu yang sangat lama.

 

 

 

Jakarta, 1 Januari 2005 

setelah kemarin malam menyambut tahun baru dengan menonton Bangsal 13 dan tadi menapaki hari pertama tahun 2005 dengan menonton The Grudge. Hiiiii....

 

 


Posted at 11:25 pm by koeniel

Name
April 11, 2007   03:57 PM PDT
 
wah anda mungkin tidak percaya Tuhan juga yah??? anda ini agama apa sih?? belum baca kitab Suci yahh??
crimecorp
August 14, 2006   04:44 PM PDT
 
menurut km lebih serem mana film horor indonesia dg film horor luar negeri?
derin
February 18, 2006   10:59 AM PST
 
coba tonton film the grudge yang versi jepang...ada 3 seri...Film amerika itu niru bgt sama JU-ON, the grudge versi jepang...Lebih kereeeen.....
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON