Saturday, May 21, 2005
SMOS SMOS

SMOS SMOS

 

“SMOS SMOS. Susah melihat orang senang, senang melihat orang susah, itulah payahnya bangsa kita,” begitu kata seorang teman di kantor suatu ketika dengan nada kecewa. Aku jadi teringat kata-katanya itu ketika kemaren sore mendengarkan kisah Salman sembari minum bir di sebuah pub di dekat stasiun kereta Victoria. Salman pemuda Pakistan yang jangkung, kurus, ganteng, cerdas dan menyenangkan itu kukenal dekat saat aku bertugas di unit bisnis Pakistan. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan S2 di University of London dengan beasiswa the British Chevening Award. Sembari kuliah kadang dia diminta bekerja paruh waktu di kantor pusat perusahaan kami di London karena memang dia cerdas, tekun dan berprestasi.

 

Saat kutanya kapan terakhir pulang kampung dia tertawa dan berkata bahwa seharusnya saat itu dia sedang berada di Pakistan. Ternyata sebetulnya minggu lalu Salman diminta oleh bosnya di kantor London ini untuk bekerja di lokasi pengeboran di Pakistan selama beberapa minggu. Dua hari sebelum berangkat, rencana tiba-tiba dibatalkan. Ternyata rekan-rekan kerja di unit bisnis Pakistan bersepakat untuk menolak kedatangannya. Alasannya – Salman adalah sesama orang Pakistan dan juga pernah bekerja di unit bisnis Pakistan, maka kalau dia tiba-tiba datang lagi dari London dan bekerja di Pakistan dengan bayaran seperti orang asing, mereka tidak mau menerima. Menurut mereka layak bagi seorang kulit putih dibayar tinggi tapi untuk seorang Salman dibayar sebanyak itu, berarti tidak adil bagi mereka yang sesama orang Pakistan. Maka batallah ia berangkat.

 

Karena aku cuma melongo kaget, dia tertawa. “Yeah, I was very disappointed, but somehow I wasn’t surprised. I know my own people. Envy, jealousy, it’s a normal thing.” Maka aku jadi teringat istilah SMOS SMOS temanku tadi, yang ia nyatakan saat mendengar gerutuan banyak orang terhadap kenaikan pangkatnya. Jadi fenomena cemburu macam ini bukan cuma milik orang Pakistan saja. Di Indonesia juga sangat merajalela, paling tidak di perusahaan minyak, yang sudah dikenal punya karakteristik jurang yang besar antara gaji pegawai asing dan pegawai lokal. Ada banyak kejadian di kantor kami di Jakarta yang menunjukkan hal ini. Orang yang bolak-balik mendapat kesempatan training di luar negeri pasti digosipkan. Protes disampaikan ke bagian kepegawaian karena seseorang dipromosikan dua tingkat. Ada yang tiba-tiba dimusuhi karena ada gosip gaji orang itu naik banyak sekali. Orang lain digosipkan karena sebagai pegawai yang dikontrak karena keahlian khususnya dia menerima gaji harian yang tinggi sekali hampir seperti pegawai asing.

 

Seolah kita tidak pernah rela teman kita lebih sukses dari kita. Padahal kadang kita tidak tahu apa yang menjadi alasan kesuksesan itu. Misalnya si pegawai kontrak dengan gaji harian memang keahliannya sangat khusus dan sangat dibutuhkan perusahaan, maka perusahaan rela saja membayar dia dengan besar. Lalu orang lain yang dipromosi dua tingkat memang job descriptionnya bertambah sehingga dia perlu promosi. Kadang kita membutakan diri terhadap usaha keras yang dilakukan orang dan ingin semuanya sama rata sejajar. Semua harus adil. Tapi adilkah? Apakah usaha keras individu tidak perlu dihargai? Padahal harusnya memang selayaknya begitu, perusahaan menghargai usaha keras individu. Karena toh kalau perusahaan tidak melakukan itu, si pegawai cemerlang bisa dengan mudah pindah ke perusahaan lain yang memberikan penghargaan yang lebih baik. Karena perusahaan swasta semacam tempat kami bekerja banyak punya saingan. Jadi tidak seperti menjadi pegawai negeri, yang menurut istilah teman lain ‘pintar-globlok rajin-malas gaji tetap sama.’

 

Bukan berarti lalu kita harus selalu bersaing dan menendang kanan-kiri untuk kepentingan sendiri. Aku juga anggota Serikat Pekerja di kantor dan setuju dengan banyak perjuangan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan; misalnya memperjuangkan diberikannya bonus, atau dinaikkannya tunjangan transport.  Tapi ada batasnya dan penghargaan kepada usaha keras individu juga tetap harus ada.

 

Apalagi untuk kami yang bekerja di perusahaan asing yang mempekerjakan banyak sekali pegawai asing untuk sibuk menggali keuntungan dari sumber daya alam Indonesia. Ada banyak keuntungan bila kita punya orang-orang yang maju cepat melesat menembus jajaran pegawai elit asing. Karena itu berarti kemampuan bangsa kita dihargai, dianggap layak untuk diberi penghargaan yang sejajar. Akhirnya yang beruntung bangsa kita juga. Uang yang dibayarkan kepada si pegawai cemerlang tinggal di Indonesia, tidak mengalir ke negara lain. Akhirnya juga perusahaan akan terpaksa melihat kemampuan para ahli lokal dan lebih banyak memanfaatkan kita daripada harus mengimpor pegawai mahal dari kampungnya.

 

Kalau seorang Salman bisa dianggap punya keahlian yang sejajar dengan orang asing sehingga layak mendapat bayaran yang sama dengan mereka, mengapa teman-teman sebangsanya tidak bisa bangga? Seharusnya mereka bangga dan menghargai salman yang sudah membuka pintu, sehingga selanjutnya mungkin akan ada lagi tenaga-tenaga ahli Pakistan lain yang dihargai sama dengan tenaga ahli dari Eropa.

 

Sama halnya dengan yang terjadi di unit bisnis di Indonesia. Kalau seorang pegawai Indonesia bolak-balik dikirim keluar negeri untuk training atau mengerjakan proyek di unit bisnis lain, harusnya rekan-rekannya di Indonesia bangga karena keberhasilan sesama rekan sebangsa. Lain kali mereka bisa menunjukkan bahwa mereka juga punya keahlian lebih dan bisa meminta kesempatan yang sama. Seharusnya kita semua beramai-ramai menunjukkan bahwa bangsa kita juga punya keahlian dan bermutu tinggi, sama seperti para pegawai atau konsultan asing. Bukannya malah saling tendang sana-sini menjegal kesuksesan orang lain.

 

Entah mengapa kita dan bangsa Pakistan punya penyakit cemburu macam ini. Mungkin karena kita sama-sama bangsa Asia yang pernah dijajah bangsa Eropa. Jauh di lubuk hati di alam bawah sadar mungkin bangsa Indonesia dan Pakistan masih punya rasa minder dan rasa terjajah. Maka kita bisa saja melihat pegawai berkulit putih mendapat gaji tinggi tapi tidak rela melihat rekan sendiri sesama bangsa berkulit coklat mendapat gaji yang sama. Rasialis. Kadang kupikir memang kita sendiri yang salah kalau sampai sekarang kita belum semaju bangsa Eropa. Ini mirip dengan banyak kejadian di pintu imigrasi. Di Pakistan pasporku pasti diperiksa dengan seksama saat melewati pintu imigrasi. Sedang teman seperjalananku yang berkulit putih bisa masuk tanpa diperiksa. Apakah aku lebih punya tampang teroris dibanding dia? Memang kita bangsa Asia seringkali rasialis juga, memandang rendah sesama saudara. Ini penyakit yang berbahaya dan harus diberantas. Karena, kapan kita akan benar-benar bisa bebas dari penjajahan kalau kita sendiri masih selalu merasa dijajah?

 

Karena kapan lagi kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri? Menggali sumber daya alam kita dengan keahlian kita dan menikmati hasilnya sendiri, sehingga tidak perlu sakit hati melihat sebegitu banyak uang hasil sumber daya alam Indonesia mengalir keluar untuk dinikmati orang asing?

 

Salman, Salman, simpatiku untukmu. Semoga bangsa kita tidak selamanya begini.

 

London, 21 Mei 2005

 

 


Posted at 02:31 pm by koeniel

Lili
June 7, 2005   11:24 PM PDT
 
apdet apdet...makasih yah mampir ke blgo aku..lagi dong?
Nona
May 23, 2005   11:59 AM PDT
 
Hehehe...bravo!!!
"A tiger dies leaving his stripes, a man dies leaving his words and memories"

Love you,
Nona-Abe
and little Joshua
Lili
May 23, 2005   12:22 AM PDT
 
Mbak Nil, itulah mental bangsa yg masih terjajah...Kasihan yah kita?
Aku jg pernah ada di posisi yg di kasak kusukkan, tapi cuek ajah yg penting pembuktian...iya gak?
hidup kerja keras...hidup berjung...kalau gak berartikan gak hidup..apa coba?
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON