Tuesday, June 14, 2005
Pisang

Pulang ke kampung halaman, tanah air ibu pertiwi yang konon gemah ripah loh jinawi ini, rasanya seperti ditampar-tampar. Beberapa minggu lalu aku hidup di dunia mimpi, mengalami tinggal dengan enak di tanah eropa yang kejam musimnya - dingin, berlangit abu-abu dan berangin keras, tapi kehidupan masyarakatnya makmur. Begitu pulang langsung disuguhi berita anak-anak kurang gizi dan busung lapar, seorang bapak yang terlalu miskin untuk mengubur anaknya dengan layak, seorang nenek yang mati kelaparan. Rasanya mata ini jadi sedikit pedas, mau basah. Juga ada secuil rasa bersalah di hati ini.

Betapa tidak. Potret Jakarta yang metropolitan dan bertaburan dengan mall dan tempat-tempat mewah untuk membuang duit rasanya tidak pas dengan gambaran seorang nenek yang mati kelaparan. Lalu gambar anak-anak busung lapar rasanya selama ini sangat jauh adanya, di Afrika sana, yang sekarang sedang hiruk-pikuk ditolong oleh Bob Geldof dengan rencana Live Aid seri duanya.

Tanah eropa yang makmur yang barusan kukunjungi itu bukannya tidak menyimpan cerita kemiskinan. Di London cukup banyak gelandangan yang tidur di tempat-tempat umum, di lorong-lorong stasiun atau di taman-taman. Kelihatannya menderita sekali karena mereka sama sekali tak terlindung dari cuaca dingin yang menusuk. Pengemis juga cukup banyak, beberapa rajin nongkrong di halaman Katedral Westminster tempatku biasa ke gereja di sana. Tapi di tempat-tempat umum banyak poster yang menyarankan kita untuk tidak memberikan uang kepada 'gepeng van London' ini, lantaran menurut penelitian, ini tidak membantu mereka. Uang yang kita berikan ternyata membuat mereka lebih suka tinggal di jalan dan banyak dipakai untuk mabuk-mabukan dan mengkonsumsi obat-obat terlarang dan narkotika. Maka publik diminta untuk menyumbang lewat lembaga-lembaga karitas saja, yang jelas programnya dalam membantu mereka mendapatkan hidup yang lebih layak. Atau publik bisa membeli majalah The Big Issue yang dijual oleh sebagian gelandangan. The Big Issue adalah organisasi karitas yang tujuannya membantu gelandangan hidup layak. The Big Issue mengeluarkan majalah berjudul sama yang kemudian bisa dijual di jalanan oleh para gelandangan. Dengan menjual majalah ini mereka mendapatkan uang dan sebagian bisa mendapatkan tempat tinggal untuk tidur di malam hari.

Ketika tiba di Irlandia, berita yang saat itu sedang santer adalah perampokan gedung kantor pos. Aku sempat bertanya-tanya, "Kenapa Kantor Pos yang dirampok, memangnya banyak uang di situ? Bukannya sekarang orang lebih memilih bank untuk urusan keuangan?" Jawabannya, "Oh ya, di kantor pos banyak sekali uang, karena di situlah 'dole' dibagikan." 'Dole' atau uang santunan sosial dari pemerintah diberikan kepada orang-orang yang pendapatannya kurang, orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan, para pensiunan dan mereka-mereka yang tidak mampu. Maka pada tanggal-tanggal tertentu seperti yang kusaksikan sendiri di Kantor Pos Besar di Dublin, antrian warga mengular di depan loket-loket bantuan sosial. Irlandia seperti banyak negara Eropa barat lain memang berusaha keras mewujudkan konsep 'welfare state' yang berarti negara memikul tanggung jawab atas kesejahteraan seluruh warganya, dengan misalnya memberikan garansi upah minimum (yang betul-betul layak untuk hidup, bukan hanya sekedar cukup untuk makan), memberikan tunjangan sosial agar semua warga hidup layak, dan memberikan servis yang terbaik untuk kesejahteraan publik.

Karena itulah di Irlandia dan di Inggris kesehatan seluruh masyarakat ditanggung gratis oleh pemerintah. Maka di sana tidak perlu ada cerita masyarakat miskin meninggal karena tidak mampu berobat. Sekolah juga gratis, jadi tidak pernah terdengar ada cerita tentang petani yang harus menjual tanahnya agar anaknya bisa sekolah. Di negara-negara itu pemerintah yang menanggung kesejahteraan warganya dan warganyapun bisa lepas tangan, setelah membayar pajak yang tinggi dan lalu menyumbang sana sini dalam kegiatan charity mereka tidak perlu dihadapkan secara langsung dan frontal pada kehidupan mengenaskan rakyat miskin. Negara menangani semuanya untuk mereka.

Beda sekali dengan kondisi di kampung halaman, yang pemerintahnya belum mampu (atau belum mau?) berusaha keras melakukan semua itu, sehingga kita juga jadi harus berperan lebih besar, lebih sering ditabrakkan pada realitas kehidupan sehari-hari rakyat miskin yang jelas ada di sekitar kita. Di sini kita jadi tidak bisa lepas tangan seperti teman-teman di negara-negara Eropa tadi. Di sini kita harus selalu siap membantu kanan-kiri dan siap tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri. Tabungan disiapkan bukan hanya untuk masa depan kita tapi juga untuk sewaktu-waktu memberikan pertolongan kepada entah kerabat atau teman yang butuh. Pos pengeluaran meliputi juga sumbangan-sumbangan kanan-kiri. Bukan hal yang gampang. Jelas tidak mudah melepas uang hasil jerih payah sehari-hari untuk orang lain tanpa bisa menikmatinya. Rasanya di kota besar seperti Jakarta ini untuk menjadi altruistik sudah sangat susah. Keinginan untuk menikmati uang tersebut pasti besar karena godaan untuk mendapatkan hiburan dan barang konsumsi sedemikian besar.

Tapi menghindarkan diri dari rasa bersalah juga susah. Ketika kita baru selesai makan di restoran menghamburkan seratus ribu rupiah, di luar kita lihat seorang bapak tua tertatih-tatih memikul dagangan. Lalu baru pulang dari kegiatan menyelam yang jelas memerlukan uang jutaan rupiah kita melewati perkampungan nelayan miskin yang kondisi perumahannya jauh sekali dari sehat. Rasanya akhir-akhir ini makan pun jadi tak enak. Ada rasa bersalah ketika menghadapi sepiring nasi dengan berbagai lauk enak, sementara televisi menyiarkan gambar balita-balita kurus kering. Rasanya walaupun uang sumbangan sudah rutin mengalir deras dari kantongku tetap saja rasa bersalah masih ada.

Tapi kadang terpikir juga, tidak mungkin sendirian menyelamatkan dunia. Seandainya seluruh pendapatanku kusumbangkan pada orang lain dan aku tinggal hanya seadanyapun masih akan selalu ada orang miskin. Dan aku pasti tidak akan bahagia karena aku bukan malaikat atau orang altruistik yang bisa bahagia hidup sederhana karena membantu orang lain. Tapi aku juga bukan orang yang mati rasa tanpa hati yang masih bisa hidup tenang sambil melihat penderitaan orang di kanan-kiri.

Sambil merenung bingung aku duduk di teras rumah dan memandangi anak-anak yang bermain di situ. Karena akhir-akhir ini jadi banyak membaca ciri-ciri anak-anak kurang gizi dan bergizi buruk, aku jadi sadar bahwa Ilham, anak laki-laki kecil tetangga sebelah rumah itu mungkin menderita kekurangan gizi. Saat teman-temannya seumur sudah berlari-lari Ilham belum bisa berjalan. Kaki dan tangannya kurus sekali, mukanya pucat. Lagi diserang rasa bersalah - kenapa aku tidak menyadarinya sejak dulu. Pantas ibuku setiap hari setelah berbelanja selalu meletakkan entah sebuah pisang atau sebuah jeruk, sekaleng kecil susu atau semangkuk bubur kacang hijau di teras gubuk reyot tempat Ilham tinggal bersama ibu dan neneknya. Sekarang ibuku sedang bertugas keluar kota, pasti Ilham belum mendapatkan jatah tambahan gizinya selama beberapa hari terakhir. Maka kuambil sebuah pisang dari meja makan, dan kuberikan padanya. Setidaknya sedikit menghapus rasa bersalahku, walaupun cuma sedikit saja dan cuma untuk kali ini saja.

Jakarta, 14 Juni 2005


Posted at 05:02 pm by koeniel

Karunia
August 31, 2005   11:50 AM PDT
 
Rasanya anda tidak sendirian memikirkan hal tersebut, banyak yang berfikiran serupa namun tidak dalam ikatan yang besar, sehingga seolah olah "we are alone" salam kenal ya dari saya... nice blog
Lili
June 15, 2005   10:20 AM PDT
 
Banyak banget para blogger tulis ttg hal ini, karena sudah banyak Ummi tidak menulis karena sudah cukup terwakili.
Alhamdulillah, ada yayasan PKPU yg langsung turun terjun menangani busung lapar di NTT dan Cirebon. Mereka sih gak ada di TV, tapi para relawannya gerak cepat.
Kalau menunggu pemerintah..wah keburu tambah banyak yg busung lapar.
Mbak Nil, gak usah di NTT di sekitar JABOTABEK saja, aku sering lihat yg masih kelaparan...yok kita bantu.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON