Thursday, June 23, 2005
Macet!!

Kemarin pagi jam sudah menunjukkan pukul 8.15 WIB ketika aku sampai di kantor - yang berarti aku sudah terlambat satu jam lebih karena di kantorku jam kerja dimulai jam 7 pagi. Keterlambatan ini gara-gara macet luar biasa di jalan MT Haryono yang menjadi jalurku setiap pagi dari rumah di daerah Halim ke kantor di daerah Kemang. Macet itu luar biasa karena memang benar-benar luar biasa macet - mobilku bergerak senti demi senti sehingga dalam 40 menit hanya menempuh jarak beberapa meter. Juga luar biasa karena memang tidak biasanya ada kemacetan seperti itu sepagi itu di tempat itu. Menurut kabar burung dari sms-sms yang kuterima selama macet, ada kecelakaan di sekitar perempatan Kuningan. Begitu banyak yang terjebak kemacetan ini, termasuk bapakku yang berangkat 10 menit lebih dulu dan terjebak satu kilometer di depanku serta beberapa teman yang akhirnya saling mengirim sms untuk tukar menukar informasi dan keluh kesah.

Terlepas dari kejadian tidak biasa yang menimbulkan kemacetan, sehari-hari memang Jakarta sudah penuh dengan kemacetan. Kemacetan-kemacetan ini menimbulkan tumpukan stres pada para warganya, termasuk aku yang memang sebal sekali kalau harus terjebak kemacetan. Bukan cuma kemacetan sebenarnya yang menggangguku. Bahkan sebenarnya kemarahan karena terjebak di kemacetan bisa kuatasi dengan cukup gampang - misalnya dengan mendengarkan musik dari koleksi CDku yang lumayan banyak itu (yang semuanya asli karena aku tidak suka membeli barang bajakan, walaupun harganya jauh murah), atau mengobrol di telepon dengan teman.

Yang sebenarnya lebih sering membuatku marah dan mengalami road rage adalah minimnya disiplin dan toleransi yang diperlihatkan para pengguna jalan. Rasanya buat para pengemudi di Indonesia - tidak peduli apakah latar belakang pendidikannya tinggi atau rendah, dan apakah dia kaya atau miskin, yang terlihat dari jenis mobilnya - mengemudi di bahu jalan bukan hal yang salah. Lalu melanggar rambu-rambu kecepatan maksimum juga hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Melanggar marka jalan apalagi, itu hal yang sudah lumrah sekali.

Sebagian besar pengemudi motor malah kelihatan sama sekali tidak tahu aturan lalu lintas. Mereka selalu mau mendahului kendaraan di depannya, tanpa mau tahu kenapa kendaraan tersebut melambat atau berhenti. Dan ini juga dilakukan di tikungan jalan. Di jalan-jalan di Kemang yang sempit dan berliku-liku sehari-hari berpuluh-puluh sumpah serapah kutumpahkan pada para pengemudi motor yang karena berusaha mendahului kendaraan di depannya, mengambil jalur jalanku, bahkan di tikungan jalan sekalipun. Seandainya mereka terserempet atau tertabrak olehku, pastilah aku sebagai pengemudi mobil yang disalahkan. Padahal mereka yang tidak tahu aturan dan tidak bisa membaca marka jalan - sehingga garis tidak putus pun, yang sebenarnya tidak boleh dilewati, mereka terjang saja.

Perempatan jalan yang macet sering jadi saksi betapa tidak disiplinnya pengguna jalan di Jakarta. Jalan yang sudah dibagi-bagi menjadi dua atau tiga jalur dengan marka tiba-tiba jadi seperti jalan yang tidak berjalur. Garis dan marka jalan sudah tidak ada artinya lagi. Jalan yang harusnya hanya dua jalur tiba-tiba menjadi tiga atau bahkan empat karena banyak kendaraan yang nyelonong dengan seenaknya menggunakan ruang di antara dua mobil supaya dia bisa mengantri di depan.

Itu baru masalah disiplin, belum masalah toleransi. Kalau ada dua jalur yang bergabung menjadi satu, pasti terjadi rebutan dan mobil-mobil harus saling mendesak supaya mendapatkan jalan. Jarang sekali ada yang rela untuk memberikan jalur dan seandainya jalur sudah diberikan kendaraan-kendaraan yang mendapatkan kesempatan juga jarang membalas kebaikan hati itu dengan bergiliran memberikan jalan satu per satu. Lain sekali dengan lalu lintas di negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis atau Irlandia. Di sana apabila ada dua jalur yang bergabung menjadi satu, kendaraan-kendaraan bergantian memasuki jalur di depan, satu dari kiri kemudian satu dari kanan dan seterusnya. Jarang sekali ada yang menyerobot dan tidak mau memberi jalan. Padahal kita ini terkenal sebagai bangsa yang katanya ramah dan penuh toleransi. Nyatanya rasa toleransi itu tidak tampak sama sekali di jalan!

Satu hal lagi tentang toleransi yang nyata-nyata tampak di negara-negara Eropa itu tapi tidak tampak di sini: toleransi pada para penyeberang jalan yang menyeberang di zebra cross. Di Inggris dan Perancis, begitu pejalan kaki kelihatan mendekati zone penyeberangan jalan yang seperti punggung zebra itu, kendaraan segera melambat dan berhenti untuk memberikan waktu kepada pejalan kaki untuk lewat, walaupun tidak ada lampu lalu lintas yang menyatakan mereka harus berhenti. Sedangkan di sini apa yang terjadi? Walaupun pejalan kaki menyeberang di zebra cross yang memang disediakan untuk penyeberang, mobil-mobil tidak mau berhenti, malah sibuk membunyikan klakson agar penyeberang jalan menyingkir! Memang penyeberang jalan di Jakarta juga sering tidak disiplin, sudah disediakan jembatan penyeberangan masih memilih untuk menyeberang di bawahnya sembari menerobos pagar pembatas jalan. Jadi dua-duanya sama parahnya, pengemudi yang tidak bertoleransi dan pejalan kaki yang tidak patuh aturan.

"Tapi, kalau kita memberikan jalan pada mereka, mereka tidak mau gantian memberikan jalan pada kita sih!" Itu alasan yang sering kudengar kalau kutanyakan kepada supir atau teman yang menyetir mobil mengapa mereka tidak mau memberikan jalan kepada kendaraan lain. Sedangkan kalau kutanya apakah mereka tidak tahu bahwa bahu jalan tidak boleh dilewati, jawabannya biasanya begini, "Kalau nggak begini, kapan sampainya?" atau "Lho itu yang lain banyak juga yang melakukan." Sedih sekali mendengar jawaban-jawaban ini, karena kalau kita tidak memulai lalu siapa yang akan memulai? Semua orang bisa memberikan alasan yang sama dan lalu lintas Jakarta akan terus menerus ruwet.

Menurutku berantakannya lalu lintas Jakarta selain karena masalah terlalu banyaknya kendaraan dibanding panjang jalan yang ada juga karena masalah di atas tadi - ketidakdisiplinan pengguna jalan dan minimnya toleransi antar pengguna. Di negara-negara Eropa yang pernah kukunjungi bukannya tidak ada kemacetan. London, Dublin, Paris dan kota-kota besar di negara-negara itu juga punya jam-jam macet, dengan kendaraan mengantri panjang berkilo-kilometer. Tapi bedanya, antrian kendaraan itu rapi dan teratur, yang dua jalur tetap dua jalur, yang tiga tetap tiga. Tidak ada kendaraan berusaha menyelip menciptakan jalur baru dan tidak ada yang menggunakan bahu jalan. Tidak ada saling berebut dan semua bergantian memberikan jalan.

Jadi apa yang menyebabkan suasana seperti itu tidak pernah terlihat di Jakarta? Karena memang kita bukan sekelompok manusia yang bisa dikatakan disiplin. Hukum di Indonesia jadi bahan tertawaan dan permainan sandiwara, sehingga orang tidak pernah menganggap pelanggaran lalu lintas adalah sesuatu yang serius. Seandainya ditilang polisi kita bisa bebas dengan membayar, baik membayar polisi langsung maupun menyogok 'pemain' di pengadilan.

Padahal orang-orang yang menyogok polisi itu juga sering ribut mengeluh tentang korupsi yang dilakukan para pejabat pemerintahan. Apa bedanya? Para pengemudi yang melecehkan hukum ini juga menyuburkan budaya korupsi dan menggampangkan sesuatu. Menurutku keluhan itu sama dengan maling teriak maling. Bedanya cuma yang satu berurusan denagn uang milyaran rupiah dan satu lagi dengan selembar uang lima puluh ribu. Menurutku sama saja.

Pagi tadi sembari bersumpah-serapah pada pengendara motor dari arah berlawanan yang merebut jalurku dan seolah sudah bosan hidup mau menabrakkan motornya ke mobilku, aku lagi-lagi berpikir tentang disiplin dan toleransi ini. Kapan kita bisa mengemudi dengan enak di Jakarta tanpa harus menjadi stres karena road rage, karena walaupun macet tapi pengendara dan pengguna jalan sudah sopan dan disiplin semua? Ah cuma mimpi. Selamat ulang tahun Jakartaku.

Jakarta, 23 Juni 2005



Posted at 07:52 pm by koeniel

nayan
March 11, 2007   08:06 PM PDT
 
makanya , sebaiknya masyrakat jkt perlu memanfaatkan busway dengan sebesar2nya, agar G macet lgi...
lili
March 3, 2007   12:03 AM PST
 
Jakarta Ulang Tahun, kadonya yah tambah macet itu...duh bikin BT yah. Gimana 5 tahun dari sekarang yah kalau pertambahan mobil terus menerus, sementara jalannya segitu2 ajah, bahkan dipotong oleh Bus Way. Soalnya public transport belum bisa menjamin sih yah?

Satu lagi,
Mbak, beneran gak membandingkan kok. Justru Mbak itu cewek pertama yg bikin Ummi terinspirasi, beneran ini dari lubuk hati yg paling dalam...cieeeee.
Jadi kasih tahu dong, diposting kapan ttg hari2 mbak di Rig, nanti Ummi cari terus boleh dong nyontek2 dikit untuk bahan tulisannya, tapi juga nanti cerita versi asli mbak Ummi link, boleh yah?...please..hi..hi..maksa nih.
mpokb
June 28, 2005   01:43 PM PDT
 
macetnya karena semua kegiatan terpusat di jakarta. kalo daerah dikembangkan, gak perlu ada arus urbanisasi yak.. jakarta gak bakal sepadat sekarang, dan ngaturnya jadi lebih mudah, apalagi kalo kendaraan umum dipentingin (kalo sekarang kan cuma buat syarat aja kayaknya.. hehehe.. :) ah, tapi lebih enakan jadi penjual mobil kayaknya daripada pengusaha angkutan umum... :)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON