 |
|
Thursday, December 12, 2002
Kalau ingin menyepi......
Kalau memang ingin benar-benar menyepi, jangan cuma di Jawa, pergilah ke Laut Natuna. Itu hasil pengalamanku ber-long weekend di Kepulauan Anambas nun jauh di pucuk utara Indonesia sana. Di pagi Lebaran hari pertama, bersama para pekerja pemboran minyak kami berlima terbang menembus awan dengan pesawat mungil berbaling-baling, melintasi Laut Jawa, Pulau Bangka dan Selat Malaka, kemudian mendarat di ujung utara Pulau Matak, sebuah tempat yang menjadi basis operasi perusahaan minyak ConocoPhillips dan Premier Oil di Laut Natuna. Dari atas pesawat sudah terlihat birunya laut mengundang ceburan. Biru dan biru sejauh mata memandang, hanya disana-sini diseling onggokan-onggokan hijau dikelilingi cincin putih: pulau dengan hutan perawan dikelilingi pantai berpasir putih, atau bukit-bukit granit putih menyilau mata, tegar diterjang ombak. Inilah Laut Natuna, yang terletak di antara Semenanjung Malaya dan Kalimantan, dengan beberapa kelompok kepulauan, yaitu Natuna, Natuna Selatan, Anambas dan Tambelan yang semuanya termasuk bagian Kepri alias Kepulauan Riau.
Sudah berkali-kali aku mampir menginjakkan kaki di Pulau Matak, setiap kali transit dari pesawat sebelum diterbangkan helikopter menuju lokasi pemboran dan sebaliknya. Tapi baru kali ini aku akan bertemu dengan penduduk asli, yang hidup di luar kompleks basis operasi yang modern ini. Maka dengan penuh semangat pergilah sore itu kami berlima bersama teman-teman yang bekerja di Matak Base menuju ke desa Payalaman di bagian Timur Laut pulau. Matahari terik menyirami desa di pinggir laut dengan rumah-rumah panggung yang bertengger di atas air. Ya, benar-benar di atas air, sehingga dari sela-sela kayu lantai kami bisa mengintip ikan-ikan kecil warna-warni yang berenang-renang riang di air bening. Perahu-perahu kecil mengapung ria ditambatan mereka di depan teras atau di sepanjang jembatan kayu yang menghubungkan rumah dengan daratan. Desa ini cukup maju, dengan parabola-parabola raksasa bertengger di halaman sebagian rumah. Memang inilah satu-satunya cara agar mereka bisa menangkap siaran televisi, dengan antena parabola. Sebagai desa terdekat, Payalaman cukup banyak menerima berkah dari adanya basis operasi perusahaan minyak. Banyak bantuan diterima, dari mulai disediakannya sekolah, guru, diadakannya pelatihan-pelatihan, sampai kesempatan-kesempatan berbisnis kecil yang jadi terbuka akibat adanya pendatang yang bekerja di Matak Base.
Di kota kecamatan Tarempa di pulau Siantan, tetangga sebelah selatan pulau Matak, keadaan tampak lebih makmur lagi. Di sinilah pusat pemerintahan berada, dan di sinilah pada hari kedua kami bersilaturahmi, mengucapkan selamat lebaran dari rumah ke rumah, sambil dijejali makanan, mulai dari makanan tradisi ketupat dan rendang serta bertoples-toples nastar, sampai ke kacang Batam atau manisan buah dari Malaysia. Memang banyak sekali makanan import asal Malaysia dan Singapura di sini. Bahkan softdrink kalengan semua berasal dari Singapura. Rumah-rumah panggung dari kayu berderet-deret di sepanjang tepi pantai dan sungai. Di rumah-rumah itulah segala jenis usaha dijalankan, mulai dari warung kelontong sampai kafe-kafe gaul ala nelayan dan pelaut sederhana, lengkap dengan karaoke dangdutnya! Kemakmuran juga bisa dilihat dari besarnya gelang dan kalung emas yang menggelantungi leher dan tangan-tangan para perempuan. Sungguh menyilaukan mata. Maklum, tidak ada bank di sini sehingga emaslah yang jadi cara menyimpan uang dan menabung. Di bandara mungil Halim sebelum berangkat kami sempat juga berjumpa dengan seorang gadis manis yang juga akan berangkat dengan pesawat yang sama. Dia hendak pulang kampung selama libur dari kuliahnya di Kuala Lumpur. Maka penduduk kepulauan ini bukannya tidak maju dalam pendidikan. Temanku Melati yang asal Tarempa adalah lulusan UnPad dan menjadi geophycisist di BP sedang adiknya Faye yang lulusan ITB menjadi geologist di Conoco.
Tapi itu bagian indahnya, sedikit cerita sukses dari sebuah kepulauan dengan banyak penduduk miskin. Masih banyak penduduk yang tinggal di hutan di lereng perbukitan, dalam rumah panggung kayu yang sangat sederhana. Sang suami berjuang menggali hasil laut, sambil harus bersaing dengan kapal besar berpukat harimau milik nelayan gelap dari Thailand yang menyelundup masuk ke perbatasan kita. Dan masih banyak yang tinggal di pulau-pulau kecil dengan standar kehidupan yang sederhana. Di hari ketiga di kapel kecil dalam komples Matak Base diadakan sebuah perayaan Natal sederhana. Pengunjung yang pertama datang adalah sekelompok anak kecil dari Pulau Mengkait. Sesampai di Matak Base mereka bergegas minta tempat berganti baju, untuk mengganti baju-baju lusuh yang sudah dipakai selama sekitar 4 jam perjalanan dengan perahu kecil dari pulau mereka ke Pulau Matak, dengan baju terbaik yang mereka punya. Lalu muncullah mereka dengan berhias layaknya ke pesta: bedak putih tebal, dengan baju-baju putih yang kebesaran - kelihatannya pemberian orang, sepatu kedodoran atau sandal jepit. Ketika anak-anak kecil ini menyanyi di depan trenyuhlah hati kami. Dalam kesederhanaan ingin menampilkan yang terbaik. Setelah perayaan selesai, buru-buru mereka kami antar kembali ke pelabuhan untuk berlayar pulang ke pulaunya. Empat jam perjalanan dalam perahu kecil terombang-ambing badai.
Memang masalah transportasi jadi persoalan terbesar di kepulauan sini. Masyarakat nelayan seharusnya tidak menganggap laut menjadi halangan. Dalam benakku, perahu harusnya bagaikan mobil bagi mereka. Tapi tidak semudah itu. Di musim angin kencang seperti ini, bahkan bagi nelayan yang sangat berpengalamanpun melaut jadi hal yang sangat berbahaya. Maka sulitlah bagi para penduduk pulau untuk berkunjung ke pulau lain, bahkan untuk hal yang mendesak sekalipun: seperti mencari dokter yang tidak ada di semua pulau untuk menangani masalah gawat. Maka banyaklah cerita kematian karena keterlambatan penanganan. Istri Danramil Tarempa yang tadinya bertugas di Kepulauan Tambelan bercerita, bahwa di pulau tempat mereka bertugas di Tambelan, yang berjarak 14 jam dengan perahu dari Tanjung Pinang atau 6 jam dari Pontianak itu, bahkan pasar pun tidak ada. Bangunan sekolah desa sangat buruk dan para gurupun tidak betah ditempatkan di situ. Seringkali mereka mangkir dari tugas, meninggalkan anak-anak berjuang sendirian belajar tanpa guru selama berbulan-bulan. Kapal besar hanya mampir sebulan sekali, dan di musim-musim angin kencang, kapal inilah yang menjadi penyambung nyawa. Pada saat ia mampir para ibu buru-buru mengambil titipan sayur, lauk pauk, pakaian dan apapun yang dibawa dari peradaban.
Sulit terbayangkan bagiku, terkurung dalam suatu tempat kecil berbulan-bulan, tanpa hiburan dunia modern yang menjadi pelengkap kehidupanku sehari-hari. Maka kupikir teman, kalau anda ingin menyepi, berlayarlah ke Laut Natuna dan tinggallah di salah satu pulau terpencil di sana, menikmati alam. Sungguh, bintang-bintang terlihat terang sekali di langit yang cerah di atas Laut Natuna.........
Jakarta, Desember 2002
Posted at 06:00 pm by koeniel
 |  |  | anak ae sene December 11, 2009 03:07 PM PST
aok klo nak nengok ikan pegi ajok ke ae sene mantap lg...ikan lawa pas waktu di kasih makan pokek seru lah
he...he....hee...e.e.e.e.e.e..e.e.e..e..e. |  |
  |  |  | Name iwandy October 28, 2009 05:05 PM PDT
Aq anak payalaman yg skrg msih tinggal d payalaman law mau cri tau tntang matak-payalaman. NE
Email aq. Andespal139@gmail.com
Payalaman tuch indah laut biru dan pantai putih. |  |
  |  |  | Name toni October 6, 2009 02:51 PM PDT
tarempa.....hm... banyak kenangan yang tak bise aku melupekannya, aku anak terempak..tapi jarang balek kerane sibuk kerje..sekarang lagi ditugaskan oleh pemprov kepri untuk belajar di negeri jiran ( malaysia )..semoge ANAMBAS terus jaye.... |  |
  |  |  | beng liat iskandar August 22, 2009 09:53 PM PDT
aku dolu tarempa, sejak lahir sampai smp tinggol di tarempa, tengah iken dolu dolu tarempa kemonoh ajo..... |  |
  |  |  | deri_konyok July 28, 2009 01:04 PM PDT
tarempa
(tanjung batu balai ) i'll be back !!!
muse.....muse.... lah
pokoknya ai mao balex , udh tax tahan lagi neh.....
he....he.....he....
c_u
ders99@yahoo.com |  |
  |  |  | Ahmad Fuad June 26, 2009 12:44 PM PDT
Saya anak Terempa, lahir dan tinggal di sana sampai kelas 5 SD. Saya tinggal di Jalan Pemuda di rumah nenek, namanya Ibu Zuhair. Sekarang saye tinggal di Jakarta dan udah lebih dari 20 tahun belum pulang. Ingin balik ke sana suatu hari nanti. Bagi orang terempa yang ada di Jakarta bisa mungkin kita ketemu. Saya bisa dihubungi di afuad68@yahoo.com. |  |
  |  |  | Ucok Panggabean April 25, 2009 10:20 PM PDT
Saya mantan anak Terempa dan saat ini tinggal di Jerman. Kenangan2 manis mengenai TEREMPA masih melekat sampai saat ini ketika usia sdh mencapai 48 tahun. Dulu saya tinggal di sana dari 1964 sampai 1967 persisnya di komplek AL dan sekolah di TK Kartini dan SDN1. Ketika itu ayah saya adalah Wakil Komandan Sional Tarempa. Sabtu sore kami sering duduk2 di atas gedung Markas tepi laut melihat2 pemandangan laut yang sangat indah. Pengalaman yang sangat berkesan adalah ketika musim pasar malam tiba dimana selalu diputar film layar tancap dan ramai ditonton penduduk terutama anak2. Salah satu yg sering diputar adalah film Hantu Laut. Saya juga sempat menyaksikan pembangunan restoran tepi laut disamping boom baru (kalau tidak salah dulu namanya Loka Ria/ Gembira dan sekarang berubah fungsi menjadi Hotel). Saya dan teman2 juga sering nangkapin udang pada malam minggu di sungai Sugi samping rumah. Beberapa teman yang saya ingat namanya dan mungkin ada di antara pembaca adalah : Ijon (Padang), Lius (Aceh), Titi (Tionghoa), Sugeng (Jawa), Donald (Ambon). Saya berkeinginan suatu saat dapat berkunjung kembali ke Tarempa atau Terempak yang indah dan penuh kenangan terrsebut.
|  |
  |  |  | mery April 9, 2009 11:38 PM PDT
tarempa tempat yang sangat nyaman..tp semenjak ada motor jadi berisik dan banyak asapnya,polusi dimana2..
yang pasti pantainya bagus2 tp sayangnya trasnpoerasi yang susah untuk ketarempa..
masi banyak yang blon tahu tarempa tempat yang memiliki pulau yang bagus dan makanannya enak2 lagii
jadi kangen neh ma tarempa.. |  |
  |  |  | Richardo April 5, 2009 10:13 PM PDT
Hi pd semua teman2 yg di Terempa dan Matak, saya kepingin putar putar di pulau yg indah sekali. Ada yg mau berteman dgn saya bisa emai di sini .
Saya skrg bekerja di Rig West Berani di Pulau Natuna
ricmeisa@yahoo.com
Malaysia |  |
  |  |  | David Jerry April 1, 2009 03:25 PM PDT
Saya lahir di Terempa, tetapi sudah sejak tamat SMp meninggalkan Terempa. Sekarang saya sudah berumur 47 tahun. Terempa tetap jadi kampung halamanku. Rumahku di belakang SD Siantan. Dulu kakekku berjualan godoh dan air limun di belakang SD Siantan. Alamat emailku: wenwu_liang@yahoo.com |  |
  |  |  | Aziz Zein March 21, 2009 08:47 PM PDT
Hallo Tarempa. Man rindu dengan kawan kawan di Tarempa. 39 tahun meninggalkan Tarempa.Bagaimana perkebangan nya sekarang ini. aziz.zenith@yahoo.com |  |
  |  |  | Idris March 16, 2009 09:52 PM PDT
Hello Semua.. Aku sekarang Berada tarempa kalo ada yang ingin tau tentang Tarempa ( Kab Anambas Sekarang )
Hub aku :Idris.Bakar@starenergy.co.id |  |
  |  |  | Mohd Hidayat February 4, 2009 12:53 AM PST
oh iya.. buat temen2 yang mo kontek aku, lgsung aja krm imel ke echiewolf@yahoo.com... Slm manis tuk temen22 ku... leni tan leni, i'ce, erik, wati, n smua tmn yg dulu di thn 75-84 tinggal di komp. AL tarempa.... Best Regards.... |  |
  |  |  | Mohd Hidayat February 4, 2009 12:42 AM PST
hiii.. woww... rame juga.., aku pernah tinggal (TK n SD) di Tarempa.. sktr thn 76 - 84.. memorinya kebw trus smp sekarang... plg sklh trus nyebur di sungai dismpng sklh, mancing ikan belanak, trus brenang di pantai yg bersih n laut biru.. ehmm yang ku ingat satu yg mnrik adlh mndi laut rame2 smbl makan bakcang (kl gak salah).. Slm rindu buat teman2 ku dulu.. mdh2an ada yg baca... darsa, lim hk kiong, natalia, dll lah.. where r u friends... Terempa i miss u so much... |  |
  |  |  | ariefride December 5, 2008 12:04 AM PST
Tarempa.....
Saya pun pernah disana satu minggu....
Penginapan diatas laut....
Sirine Kapal di pagi hari....
Anak sekolah yang berangkat dengan perahu2 nelayan......
Sungguh tak akan saya lupakan... |  |
  |  |  | elizar ahong November 6, 2008 06:09 PM PST
kalau nak tau kisah terempa wak hubungi ojok man masih tinggol terempa |  |
  |  |  | elizar ahong November 6, 2008 06:08 PM PST
kalau nak tau kisah terempa wak hubungi ojok man masih tinggol terempa |  |
  |  |  | elizar ahong November 6, 2008 06:07 PM PST
kalau nak tau kisah terempa wak hubungi ojok man masih tinggol terempa |  |
  |  |  | Agus Dja'far Nuri November 5, 2008 01:23 PM PST
Ass ww Alhamdulillah.
Saya pernah di Tarempa sekitar tahun 1954 sekulah sr disana satu satunya skolah yg ada ayah saya ABRI tinggal di depan sekolah. Belakang sekolah ada gunung, oh ya ini ingatanku waktu kelas 2 SR dulu. Digunung belakang sekolah aku sering cari udang di batu timbun. Aku punya teman namanya Pandi .Ceritera ini saya buat dengan suka cita karena kenangan Tarempa waktu kecil sangat melekat. Aku kehilangan peta dimana Tarempa itu. Aku kesana melalui Pontianak naik perahu kayu ombak besar menimpa hampir perahuku tenggelam 2 minngu aku baru nyampe Tarempa. Tarempa dulu punya 2 boom atau pelabuhan Boom lama dan boom baru. Pernah ada anak tenggelam di Boom lama. Di boom baru ikan banyak sekali rata dipermukaan air gampang sekali ditangkap. Ayahku pernah beli sepeda lengkap ada spedo meter dan jamnya merek Philips, serta radio Grundig, belinya titip kpal Taypi ke Singgapur, aku ingat sotong.. ingat uang dolar Riau yang lebar ingat ... macam macam sayang hubunganku terputus dg Tarempa untung ada "my-musing" tolong dong kabar dari orang yg sengkatan saya umur 6o tahunan dari Tarempa Wass ww. |  |
  |  |  | Helena Rumonda September 6, 2008 01:53 PM PDT
Tarempa...
pulau indah nan menawan!!!
aku dulu tinggal di Tarempa
tepatnya di perumahan Koramil.
tahun 1990 Bapakku ditugaskan di Tarempa, saat itu usia ku msh 4 tahun. aku sekolah TK disana ampe SD kelas 2.
dulu....di Tarempa ga ada motor
alat transportasi cuma sepeda. bebas polusi...!!!
klo mau keliling pusat kota jalan kaki juga bisa.
klo mau keluar dari Tarempa, kapal yg ada cuma 1 kali seminggu..
waktu aku ke Tanjung Pinang perjalanan di laut 5 hari!!!
yang paling indah dari Tarempa adalah pantainya!!!!
pasirnya putih, lautnya biru, trus banyak lumba-lumba lhO..
duh..jadi kangen mau ke Tarempa lagi
ketemu teman2 disana...
btw, honeymoon disana pasti keren!!
love Tarempa..
|  |
  |  |  | rico August 16, 2008 04:56 PM PDT
satu kata buat TAREMPA. GOKIL! |  |
  |  |  | Name aryon sabri July 29, 2008 05:22 AM PDT
aslm.mat begabong ye,man nompang gok u nules tok pon kalau boleh,sebelum die man nak knal kah man ni aryon tapi d kampong kenak panggel oyon.man lah dolom 2,5 th lom balek terempak macam mane dg keadaan mpong kite sekarang wak man berharap tambah lawa nak,,ape agek kini kan lah jadi ibu kota KKA,boleh ndok man ngajak semu kawan2 u bersatu kite bangun kampong kite jg sampai nantek jd bekecai di buot orang2 yang ndok betanggung jowob"WAHAI PUTRA PUTRI ANAMBAS BERBUAT LAH KEPADA NEGERI MU KEMBALI LAH ENGKAU PADA PANGKUAN IBU MU BERBAKTI LAH PADA TANAH TUMPAH DARAH MU"Bismilah kata pembuka jalan u kita .manrase sekian wak kalau ade kate yang salah man menta maaf,BRAVO NAGRI KU |  |
  |  |  | Steven June 26, 2008 01:56 AM PDT
Matak...,pulau dengan pemandangan yang menakjubkan...
Yang paling asik duduk malam-malam di pelabuhan kayu Payalaman sambil nunggu ikan asap...Wah, pokoknya pengalaman yang tak terlupakan.. |  |
  |  |  | Donni Indra June 13, 2008 12:28 PM PDT
Saya ditugaskan di Terempa periode Desember 2007 - Juni 2008 untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris untuk pemuda/i, pelajar dan masyarkat kec. Siantan yang disponsori oleh ConocoPhillips, KNPI Kec. Siantan, Pemda Kec. Siantan dan JET Indonesia, tempat saya bekerja.
Tidak ada bayangan yang jelas tentang Terempa sewaktu saya akan ditugaskan disana dan belum pernah mendengar sebelumnya nama daerah ini. Yang saya tahu hanya Natuna. Dan saya harus search di internet tentang daerah ini dan sempat mula melihatnya dari google.earth. Tidak banyak info yang saya dapatkan tentang Terempa.
Hari keberangkatan saya dari Halim, Jakarta ke Terempa adalah hari yang deg-degan bagi saya, karena perjalanan kesana harus ditempuh dengan 2 alat transportasi: udara dan laut. dan saya belum pernah naik alat transportasi laut seukuran perahu yang dinamakan 'pompong.'
Ketika saya sampai di Terempa, saya sempat kaget dengan keadaan disini yang jauh dari perkiraan. Saya pikir sebelumnya kalau pulau ini sangat kecil dengan jumlah penduduk yang sedikit. Ternyata sebaliknya.
Hari-hari saya di daerah ini sangat menyenangkan. Hari-hari libur saya selalu diisi dengan jalan-jalan atauy berpetualang ke pulau-pulau yang ada di sekitar Terempa. Hampir semua hot spots yang ada di Terempa dan sekitarnya sudah saya kunjungi. karena saya juga cinta petualangan. Namun masih ada impian-impian lainnya yang belum terwujud.
Semoga saja saya masih ditugaskan di sini sehingga saya dapat memberikan kontribusi yang lebih banyak lagi bagi kemajuan bahasa Inggris di daerah ini. Dan juga semoga saya masih bisa berpetualang ke pulau-pulau lainnya di Kep. Anambas.
Terempa, I'll be back!!!!
by downey_in_2006@yahoo.com or www. friendster.com/donnindra |  |
  |  |  | mohd sidek (spore) June 9, 2008 12:51 AM PDT
saya adalah pengambara tempat memancing laut dalam.banyak tmpt2 di indo telah saya terokai tujuan ada lah hobi & juga untk kabarkan pada club2 mancing & juga pengemar tntg lokasi. pada tngl 16 may 08 satiba nya di Bandara Ranai saya di sambut dgn kekasaran oleh pertugas (militer) dan juga pertugas yg lain. sungguh memalukan, jika keadaan di biarkan pasti Pulau Natuna akan kehilangan daya tarek penunjung & pelabur,tetapi penduduknya sangat ramah & juga alam semulajadi sngt menarek,pemerentah daerah juga harus aggrasif mempromosi Pulau Natuna agar ramai penunjung. |  |
  |  |  | Newin May 18, 2008 07:27 PM PDT
saya ke Terempa beberapa tahun lalu, waktu itu belum ada sepeda motor. Orang banyak berjalan kaki, naik sepeda. Udara tidak terpolusi asap motor. Sayang sekarang sudah polusi oleh asap motor dan bising knalpot. Kalau mau cari udara segar, terpaksa ke pulau. |  |
  |  |  | Savit December 23, 2007 04:44 PM PST
Lebaran lalu saya ke Tarempa, pulau2nya masih indah. Terharu dan menyenangkan kembali bisa melihat keindahannya, walau kadang ssekali ombak mengayun pompong yang membawa kami dari bandara Matak menuju ke Tarempa. Siapapun yang menginginkan pengalaman yang berbeda dan menantang dan hobby jalan2, saya rasa wajib merencanakan bagaimana caranya agar bisa mengunjungi pulau fantastic tsb. |  |
  |  |  | Ari November 28, 2007 08:07 PM PST
Wah....jadi inget pas di Matak...sempet ke pelabuhan kayu yang di payalaman donk...sambil makan nasi padang ala pulau matak...trus jangan lupa beli tongkol asap...enak kali itu tongkol..hiks jadi kangen sama pulau yang satu ini. Kapan yah bisa kesana lagi..... |  |
  |  |  | Taufiq November 21, 2007 03:25 PM PST
wuih,,,, mau ke tarempa neh,, hari senin,, tapi blom dapet bayangan disana,, ada hotel apa nggak, dll..
Naik kapal, ombak lagi besar,, ngerii juga.. |  |
  |  |  | Nameida kade sadnyana October 23, 2007 12:11 PM PDT
saya pernah bertugas di Tarempa kurang lebih satu tahun dari bulan februari 2006 sd bulan agustus 2007.yg jelas natuna kaya akan sumber daya ikan, alam bawah lautnya sangat indah, masyarakatnya ramah. namun sayang pembangunan di Natuna/tarempa kurang mendukung daerah tersebut sbg wilayah kepulauan. seharusnya sarana dan prasarana perhubugan laut yang ditingkatkan spt. dermaga dan transportasi laut antar plau bukan pembangnan jalan istilah orang tarempa SP (semen panjang) yg dibangun dalam 3 APBD. mudah mudahan saat surat ini dibuat sdh terealisasi penerangan dari atam / Tpi ke Tarempa. Smoga tarempa dapat berkembang secara wajar sesuai dengan konsep daerah kepulauan. amin |  |
  |  |  | uka suara dinata June 23, 2007 08:37 PM PDT
Rabu (27/6) besok, saya terbang dari Batam menuju Pulau Matak. Ini kali pertama saya ditugaskan oleh Pimpinan Redaksi POSMETRO untuk liputan ke sana. Pikir saya, tempat itu akan lebih indah pemandangannya ketimbang Pulau Nipah yang pernah saya datangi dengan Kapal Patroli Cepat Sea Reader TNI-AL. Asyik yah??? |  |
  |  |  | Tati Herdawati April 27, 2007 10:30 AM PDT
Salam..saya tati,saya tinggal di Batam.Saya tertarik untuk berlibur ke Kep. natuna. Pengen sekali melihat suasana alam yang masih polos dan sangat indah katanya..tapi,saya takut dg berita keamanan disana..bagaimana dg society masyarakatnya,apakah mereka ramah dan senang menerima orang luar?bahasa apa yang mereka gunakan sehari2?Oya..saya juga seorang dokter..alangkah senangnya bila saya bisa berkumpul dg masyarakat di sana, dan bisa saling tolong-menolong..terima kasih |  |
  |  |  | mohd sidek (spore) February 27, 2007 11:47 AM PST
saya sangat suka mancing, ingin tau bagaimana bisa saya mancing di kepuauan natuna, ada ngak perahu besar atau boat untk di sewakan.Atau ada sesiapa pernah mancing di sana ingin ceritakan pengalaman, kerana saya lihat ini juga bisa menyumbangkan pendapatan nelayan. |  |
  |  |  | Merzawati February 20, 2007 04:04 PM PST
aslkm..... Saya asli dari tarempa, saya kuliah di pekanbaru saya pernah sampai 2 tahun setengah ngak pulang ke tarempa karena ongkosnya mahal banget, pengen dech setiap lebaran pulang tapi ya itu tadi karena terbatasnya biaya jadi yah ngak pulang dech, kangen banget rasanya ama kampung tercinta. Kapan ya saya bisa pulang lagi. |  |
  |  |  | ayudya January 31, 2007 10:45 AM PST
mbak..sy lg neliti ttg pulau Matak neh. bisa bantu gak mengenai keadaan umumnya dr geografis, sosial, budaya, agama, dll? krn sya coba googling jrg bgt infonya dan di perpus gak ada.mhn jawabannya yaa di
ungu5@yahoo.com |  |
  |  |  | barbie December 7, 2006 07:24 PM PST
hai..lam kenal...
saya penduduk asli tarempa yang sekarang bekerja di luar tarempa, saya kira tarempa tempat yang menyenangkan, jangan dipikir penduduk tarempa, khususnya memiliki pendidikan yang rendah untuk jaman sekarang.banya anak - anak tarempa yang sekolah / kuliah diluar negeri dan sukses dinegeri orang |  |
  |  |  | Chong October 18, 2006 04:59 PM PDT
Hi, I'm really fascinated with Anambas and Natuna. I wonder if you are able to provide me with some travelling info and guides. I'm now residing in S'pore. By the way, I love diving too.
|  |
  |  |  | loren April 18, 2006 02:14 PM PDT
Pemandangan alam Tarempa tidak akan terganggu oleh kehidupan masyarakatnya. Justru kedua aspek tersebut akan saling melengkapi :) itu letak uniknya. yang miskin ampe gak makan berhari2 gak ada kayanya.
Klo pemandangan alamnya si jangan ditanya lagi. indah buangget. Sayang sarana transportasi masih kurang memadai. masalah kesehatan ni... parah deh. Dokter masih dikit. sekarang sih udah rada mayan. tapi tetep kurang. Pendidikan juga kurang bagus. tenaga pendidik kurang dan standarnya juga jauh dibawah (menurut saya....).
dolu tarempa. |  |
  |  |  | Ratih March 15, 2006 03:54 PM PST
Hello, salam kenal ya.. hmm saya dokter, baru lulus dan harus melaksanakan kewajiban PTT. di antara pilihan tempat daerah sangat terpencil untuk PTT saya melihat option kep.Natuna. Seperti yang anda tulis penduduk disana benar2 kekurangan akses kesehatan. Kalau boleh tahu, dari cerita penduduk yang anda dengar masalah kesehatan apa yang mereka alami sampai akhirnya ada cerita kematian akibat keterlambatan penanganan. Terima kasih ya..
Ratih
ratih_ayu@hotmail.com |  |
  |  |  | Wahyudi Priyatno November 2, 2005 05:31 PM PST
Kebetulan Lebaran kali ini saya di Matak, perjalanan kedua ke Natuna stelah sebleumnya hanya transit dan langsung ke salah satu Field di Block B ini. Alam Kepulauan Anambas memang indah, pengalaman di atas mungkin lebih menantang bila disertai kegiatan outdoor sehingga bisa di share untuk semua. |  |
  |  |  | Hariadi Saptadji June 29, 2005 07:28 PM PDT
Wah asyik juga alamnya sih ya, sayang juga agak terganggu oleh pemandangan masyarakat yang hidupnya kelihatan tidak mudah |  |
|
|
 |