Friday, July 15, 2005
Masih Tentang Sopan Santun

Sehabis kemarin menulis tentang sopan santun, sembari berbaring menunggu kantuk aku jadi makin banyak berpikir soal keherananku mengapa bangsa kita yang katanya ramah, sopan, punya banyak ewuh-pekewuh atau kesungkanan dan punya toleransi tinggi ini bisa tidak peka terhadap kepentingan orang lain seperti sesama pengemudi atau orang-orang bukan perokok.

 

Lalu aku jadi ingat sebuah artikel di Jakarta Post yang dikirimkan padaku beberapa hari lalu. Di situ seorang laki-laki yang baru kembali ke Indonesia lagi setelah tinggal beberapa lama di Amerika Serikat mengeluhkan kurangnya sopan-santun publik dan courtesy pada orang lain di masyarakat Indonesia. Contoh yang dia kemukakan salah satunya adalah bagaimana orang-orang kita seringkali sibuk menyerobot masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka, sehingga menghalangi orang yang akan keluar. Contoh ini juga diberikan oleh Rini yang berkomentar di tulisanku terdahulu.

 

Itu memang sering kulihat sendiri. Lalu contoh lain yang dikemukakannya juga sering kualami. Di masyarakat Eropa Barat setiap kita melewati pintu ayun, di mall misalnya, orang akan memegangkan pintu sampai orang di belakangnya sudah siap menahan pintu itu sembari lewat, sehingga pintu tidak terbanting di mukanya. Tapi sering kualami orang di depanku melepaskan pintu itu dengan seenaknya saja sehingga kalau tanganku tidak siap menahan pintu maka mukaku akan jadi korban tertampar pintu.

 

Atau sikap banyak masyarakat kita kalau sedang menggunakan eskalator. Seringkali mereka berhenti di ujung atas atau bawah eskalator setelah naik atau turun melaluinya. Apakah tidak terpikir bahwa itu membuat orang-orang yang menggunakan eskalator di belakangnya menjadi susah karena mereka jelas tidak bisa mengerem laju eskalator?

 

Hal-hal kecil seperti ini banyak dijumpai di sekitar kita, dan harus diakui terjadi. Semoga ini bukan Indo-bashing seperti yang ditakutkan oleh Mr Leprechaun yang memberi komentar di tulisanku yang lalu tentang sopan santun. Menurutku ini adalah mengakui kenyataan bahwa kita yang sering membangga-banggakan diri sebagai bangsa yang sopan dan sering dengan meremehkan berkomentar bahwa ‘bule’ itu tidak tahu sopan santun, juga bisa dianggap tidak tahu sopan santun dan etika yang umum diakui publik.

 

Memang standar sopan santun di dunia itu berbeda-beda. Teman Amerikaku misalnya, tidak merasa melakukan hal yang tidak sopan ketika menunjukkan sesuatu yang memang ada di bawah dengan kaki, sementara buat kita, terutama orang Jawa, itu tabu sekali. Sementara walaupun mengupil itu sebenarnya tidak sopan, banyak kita lihat di tempat umum di negara kita orang-orang mengupil. Itu dianggap tabu sekali oleh teman Eropaku. Lalu temanku yang bekerja di sebuah perusahaan dari negara tetangga mengeluh bahwa rekan-rekan kerja dari negara tetangga itu sering sekali bersendawa keras-keras. Rupanya buat mereka bersendawa itu tidak dianggap tidak sopan.

 

Beberapa saat yang lalu BBC News membuka forum untuk publik Afrika untuk menyatakan pendapat mereka tentang standar sopan-santun dan etiket publik. Ternyata memang standar sopan-santun menurut berbagai orang bisa bermacam-macam. Tetapi yang tampak dari situ adalah bahwa ada hal-hal yang diakui oleh semua orang sebagai mengganggu bila dilakukan atau tidak dilakukan. Jadi ada yang kurang lebih sama dalam hal etika publik.

 

Yang jelas yang bisa membantu kita untuk punya etika publik yang baik adalah kepekaan terhadap kebutuhan orang lain dan kesediaan untuk menunjukkan courtesy (sulit diterjemahkan ke dalam satu kata bahasa Indonesia. Menurut kamus artinya bisa kesopanan, rasa hormat dan kebaikan hati, dan untuk konteks ini memang rasanya adalah gabungan dari ketiganya). Apabila kita punya dua ini niscaya kita akan mengerti dan punya etiket publik.

 

Karena dengan punya kedua hal di atas kita akan jadi bisa mengerti bahwa kita perlu memberi jalan kepada orang lain untuk keluar dari lift sebelum kita masuk, bahwa kita perlu memperhatikan kepentingan orang-orang yang tidak merokok, bahwa kalau kita tiba-tiba berhenti di ujung elevator itu mengganggu orang-orang di belakang kita, bahwa kita perlu mengantri dan tidak main serobot pada saat mau membayar atau mau membeli sesuatu.

 

Mengenai budaya antri ini kita bisa lihat bahwa sudah mulai ada perbaikan, di tempat-tempat seperti di supermarket dan bank orang bisa mengantri. Tapi jeleknya, bila aturan dan batasan dilepas, maka kebiasaan mengantri pun hilang! Seperti ketika macet terjadi, karena jarang ada polisi, bukannya dengan sabar menunggu giliran malah merangsek menyerobot jalur dari kiri (bahu jalan!) atau kanan yang bukan jalurnya. Itu berarti sebenarnya kebiasaan antri masih belum jadi budaya.

 

Masih banyak memang yang harus diperbaiki oleh kita dalam hal bersikap sopan dan baik hati di tempat publik. Entah bagaimana memperbaikinya. Mungkin dengan meningkatkan kedisiplinan, atau mungkin yang jelas, dengan pendidikan di rumah dan di sekolah!

 

Jakarta 15 Juli 2005


Posted at 03:21 pm by koeniel

Zonapan
November 19, 2008   07:30 PM PST
 
MANG RAJIN YA KAMU MEMBUAT CERITA SEBANYAK INI TERMASUK DALAM KATEGORI
Lili
July 20, 2005   09:52 PM PDT
 
Di Sing kemarin ada kejadian lucu, salah satu tas kami tertinggal di Tempat internet gratisan, lama baru kami ngeh dan suamiku cepat2 pergi ketempat semula dan ternyata masih di sana ditunggui salah satu orang bule yg tahu kalau kita meninggalkan tas kita dengan tidak sengaja.....huebat kan?

Tapi aku mencoba membalasnya dengan kejadian kemarin di PIM, seorang bule cari handphone tapi nyasar ke toko TV, terus si penjaga toko gak ngerti maunya si bule itu apa, yg disodorin cuman IPOD ajah.

Gak tahan aku ikut campur, aku langsung kasih informasi lengkap tempat beli handphone yg murah di Jakarta dari Mall casablanca, Carefour sampe ROXI, semua aku catetin untuk dia...wah betapa senangnya bisa membalas kebaikkan yg pernah kita terima sebelumnya.
Holly
July 17, 2005   12:38 PM PDT
 
Kalau menurutku sih benar tuh kadar sopan santun masing masing negara berbeda.
negara kita memang terkenal ramah, tapi itu zaman kapan? makin kesini orang sudah malas buat berbuat kebaikan dan berbasa basi, sementara di Negara maju semakin maju , mereka mendukung banget saling menghargai antar sesama. Kadang aku liat orang Indonesia ngerasa sudah hebat jadi nggak perlu mengikuti peraturan yang ada atau menghargai sesama.
Aku dulu pernah ngantri berjam jam di depan loket bank, eh tiba tiba ditutup, tapi ada cewek muda baru datang langsung ngomong dan nyelonong sama CSnya , dia masih mau ngeladenin? nah dimana keadilan dan tenggang rasa itu? nggak ada kan?. itulah Negara kita yang katanya ramah tamah, dan murah senyum ( kalau menguntungkan buat mereka ..itu mungkin)
zuki
July 16, 2005   08:39 PM PDT
 
Perubahan perlu waktu, komitmen, konsistensi, dan kesabaran.

Mungkin perlu waktu 1 generasi? Tapi setidaknya kita bisa mulai dari sekarang, dari diri kita sendiri .. :-)
rouf
July 15, 2005   08:35 PM PDT
 
Tentang sopan santun. Tidak sama memang tingkatan sopan dan rule di setiap tempat. Diperlukan suatu empati dari tiap individu utk melihat apakah suatu hal itu pantas dilakukan atau tidak. Dan tentu saja, kesediaan untuk sedikit berpikir. Bahasa Belandanya: "Mikir, mas-mbak....mikir...nek arep tumandang ki dipikir" sik...utek'e dinggo!" (^_^)v
The \"Leprechaun\"
July 15, 2005   08:02 PM PDT
 
Honey another good article - wrote a comment on it but it became longer than I expected, almost a blog itself :D so have emailed it onto you. Interested to hear ur comments.

Keep on writing!
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON