Tuesday, July 19, 2005
Tanpa Listrik

Hari Sabtu lalu ada pengumuman bahwa daerah kami akan mengalami pemadaman listrik selama beberapa jam di esok harinya. Langsung sore itu kami bersiap-siap: memenuhi ember-ember dan bak dengan air, menyiapkan lilin dan lampu minyak, karena siapa tahu pemadaman berlangsung sampai malam. Telepon genggam dan laptop langsung di-charge penuh, karena dengan baterai penuh paling tidak laptop bisa dipakai selama tiga jam tanpa aliran listrik. Tidak lupa kipas-kipas tangan disiapkan supaya kami tidak perlu terlalu berkeringat di dalam rumah, terutama di kamar-kamar loteng yang panas karena terbakar terik matahari setiap siang. Isi kulkas diperiksa untuk melihat apakah ada makanan yang cepat busuk. Begitu ada segera dimasak atau dihidangkan daripada tidak bisa dimakan setelah beberapa jam listrik mati.

 

Setelah itu kami menunggu dengan harap-harap cemas. Sembari menggerutu tentunya, karena kegiatan istirahat hari Minggu pasti akan terganggu. Rencana mengedit foto dan menulis artikel terpaksa bakal tertunda. Malah kami jadi merencanakan pergi keluar rumah bersama-sama, 'mengungsi' di gedung bioskop dan mall, mencari kesejukan udara berpendingin ruangan.

 

Nyata benar bahwa kami sudah tidak bisa lagi hidup tanpa listrik. Begitu listrik menghilang dari kehidupan selama beberapa jam saja, semua kelabakan. Badan berkeringat dan kepanasan, kegiatan pengisi waktu juga jadi tidak jelas. Membaca buku masih bisa dilakukan tapi hanya siang hari, karena membaca di bawah sinar lampu minyak atau lilin menyakitkan mata. Bekerja atau bermain dengan komputer jelas tidak bisa. Nonton televisi juga tidak bisa. Seandainya pemadaman dilakukan tanpa pengumuman dulu, sudah pasti kami kesulitan air, dan hanya bisa mandi di kamar mandi belakang yang masih tradisional ber-bak mandi.

 

Padahal aku masih ingat hidup tanpa listrik. Ketika aku lahir di awal tahun 70an kami tinggal di rumah separuh kayu separuh gedhek alias bilik bambu. Jelas tanpa listrik. Kemudian ketika pindah ke rumah kayu berlantai semen, masih juga tanpa listrik. Tiap sore kami menyalakan lampu minyak sampai Bapak pulang dari kantor dan menyalakan lampu petromaks. Di bawah lampu petromaks inilah pekerjaan rumah dibuat, buku dibaca. Air diambil dari pompa tangan. Televisi mungil hitam-putih dinyalakan dengan aki mobil. Saat aki mobil di-stroom di bengkel tetangga, selama satu malam kami tidak nonton tv.

 

Lalu pelan-pelan semua berubah. Saat itu kampung kami di daerah Halim juga mulai berubah. Ada yang positif, jalan yang tadinya cuma jalan berbatu lalu diaspal. Tapi ada pula yang negatif, karena sawah-sawah padi dan kangkung serta kebun-kebun yang ada di sekeliling kampung kemudian cepat sekali menghilang, diganti rumah-rumah petak yang berhimpit-himpit. Seiring dengan perubahan itu kami pindah ke rumah bata, yang lebih besar dan bagus, berlantai keramik. Jelas berlistrik, dengan lampu-lampu pijar dan air mengalir dari pompa listrik. Kami lalu punya telepon, punya televisi berwarna, punya tape recorder, punya video, punya kipas angin, mesin cuci, kulkas dan rice cooker. Tahun beranjak, kami punya komputer, tv yang lebih besar, multi disc player dan akhirnya juga memasang pendingin ruangan di beberapa kamar.

 

Kehidupan yang tadinya sederhana tanpa ketergantungan pada listrik lalu jadi lebih rumit dan sangat bergantung pada listrik. Tapi jelas lebih nyaman. Seandainya masih hidup tanpa listrik jelas aku tidak akan seproduktif ini menulis ataupun berburu foto dan memamerkannya di internet. Bekerja juga lebih sulit. Laporan-laporan masih akan harus ditulis dengan tangan dan data-data dihitung dan diolah manual. Hidup pasti akan berjalan jauh lebih lambat. Kemajuan teknologi juga tidak akan secepat ini. Pacaran jarak jauh sulit berjalan baik, karena intensitas komunikasi jadi menurun, tidak seperti sekarang yang full intensity, dengan media email, chatting, webcam, VoIP dan telepon.

 

Tidak. Memang kami, dan mungkin kita semua, sudah tidak bisa lagi hidup tanpa listrik. Dan itulah yang membuat kita jadi lemah seperti ini, saat listrik padam, semua bubar. Jadi bagaimana? Ya berharap pemerintah bisa memperbaiki manajemen energi di negara ini, sementara kita sendiri ya harus belajar berhemat semuanya harus dimulai dari skala yang kecil, karena percuma berteriak marah kepada pemerintah kalau kita juga tidak menunjukkan sikap yang baik.

 

Ternyata Minggu siang itu listrik tidak jadi mati. Hanya berkedip saja beberapa kali. Kami lega. Tidak jadi kepanasan.

 

Jakarta, 19 July 2005


click here for more musings or here for more stories


Posted at 10:07 pm by koeniel

eni
March 2, 2007   11:47 PM PST
 
Emang ga kebayang klo skrg hrs hidup tanpa listrik :D
Mbak salam kenal :), seneng nih baca blognya, apa aja topiknya pasti enak dibaca.
rouf
July 27, 2005   06:17 PM PDT
 
...dan ketika akan menekan 'control' -'s', listrik pun padam....hihihihi....tersenyum saja, drpd lali jiwaaa... ;p
Lili
July 20, 2005   09:46 PM PDT
 
maaf yah baru kunjung lagi.
Syukurlah kalau gak jadi mati, ntar gak bisa tidur lagi gara2 kepanasan..he.he.

Aku lagi coba2 jeprat jepret nih mbak Nil, tapi masih pake Canon Digital yg biasa ajah.

Coba lihat hasilnya dipostingan aku yg baru yah, kasih komen utk photonya..he.he..maksa.

BTW, tadinya mau lanjut ke Bangkok tapi tiket pulang ke JKT-nya gak pasti jadi di cancel.
The Leprachaun
July 20, 2005   11:55 AM PDT
 
Its always had to go backwards after advancement isnt it? Every day here in Assam I drive past bamboo cabins / huts surrounded by rice fields and they have no electricity, no paved roads no bus service and no medical facilities or services. Your article certainly brings it all home to me witnessing this on a daily basis. We take so much for granted nowadays - and those only a few years behind you wouldnt even know what you were talking about probably as they have always been living in the electronic age.

Good article honey gets me - and I hope others thinking and appreciating how well off we truly are.


D-eby
July 20, 2005   11:39 AM PDT
 
Sedih juga ama kondisi Indonesia sekarang ini yah semua serba berhemat. Perasaan jadi kayak jaman bahoelak punya ninen2 kita dulu, tapi mungkin ada baiknya juga on the other hand...jadi belajar hemat untuk segala hal dan mudah2an bisa diambil manfaatnya kelak. Keep posting...
eni
July 20, 2005   10:22 AM PDT
 
Emang ga kebayang klo skrg hrs hidup tanpa listrik :D
Mbak Nila salam kenal :), seneng nih baca blognya, apa aja topiknya pasti enak dibaca.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON