Monday, July 25, 2005
Manusia Kesepian

Tentang Soe Hok Gie dan film Gie

 

Menonton film Gie adalah menonton potret manusia kesepian. Gie, atau Soe, adalah panggilan Soe Hok Gie, seorang aktivis dan mahasiswa idealis tahun 60an yang banyak menulis, menyuarakan ketidakadilan dan mengkritik pemerintah. Ia juga mahasiswa pecinta alam yang merasa perlu mereguk kekuatan di gunung ketika susah dan bahkan mati muda di puncak Gunung Semeru, yang sekarang masih menyimpan tugu kenangan dengan namanya.

 

Catatan harian Gie diterbitkan menjadi buku Catatan Seorang Demonstran oleh LP3ES dan menjadi buku ‘wajib baca’ bagi aktivis mahasiswa. Buku ini kemudian menjadi dasar film Gie.

 

Dalam buku itu terekam betul jiwa Soe Hok Gie yang gelisah dan penuh pemberontakan bahkan sejak masih sangat muda, yang membuatnya jadi kelihatan berbeda dari teman-teman sebayanya. Buku milikku yang sudah tua, kertasnya menguning dan gampang sobek inilah yang kuambil dari rak dan kubaca kembali setelah menonton film Gie.

 

Gie, lahir tahun 1942 di sebuah keluarga Tionghoa, dari ayah yang seorang sastrawan. Ayah yang digambarkan apatis dalam film itu sebetulnya adalah seorang sastrawan besar pada jamannya. Gie adalah adik Soe Hok Djien alias Arief Budiman, seorang intelektual Indonesia yang vokal. Sejak mudanya Gie memang sudah kelihatan berbeda dari anak-anak lain, dia punya jiwa yang berani menyuarakan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran, bahkan kalau itu harus membuatnya bergesekan dengan ‘kekuasaan’, yang dalam hal seorang anak SMP adalah guru-guru dan pejabat sekolah.

 

Selain protesnya terhadap guru yang tidak mau disalahkan, catatan hariannya semasa SMP masih mencatat hal-hal sehari-hari yang dialami seorang anak SMP. Perubahan besar terasa setelah dia belajar di tingkat berikut di SMA Kanisius – bacaannya makin serius, pemikirannya makin tajam dan protesnya makin lantang. Patut dikagumi keberaniannya menyuarakan kritik pada pemerintah di umurnya yang baru 17an tahun – ingat, ini adalah jaman yang belum begitu terbuka. Tapi jadi terasa betapa makin berbedanya si kutu buku Gie dengan anak seusianya.

 

Semasa kuliah di Fakultas Sastra UI kemampuannya makin di asah. Ia makin lantang dan makin tajam. Mungkin pendapat-pendapatnya bukan tanpa kesalahan, tapi semangatnya yang luar biasa dan kepekaannya pada kemiskinan serta pembelaannya pada rakyat membuat protesnya bergema. Di tengah kisruhnya suasana politik saat itu, ia juga ikut turun ke jalan, karena menurutnya lebih baik mahasiswa turun sebelum rakyat akhirnya tak tahan dan memberontak menghasilkan chaos.

 

Gambaran masa kuliah Gie di dalam film mengingatkanku pada masa-masa di kampus dulu. Di tahun 90an di UGM politik aliran seperti yang terlahir di jaman Gie masih ada. Mahasiswa terpecah-pecah, terutama saat-saat pemilihan anggota Himpunan Mahasiswa dan Senat. Kampus jadi terkota-kotak dalam warna-warni merah, hijau, putih dan entah warna lain. Gie jadi teladan yang baik karena bisa berdiri di tengah, tidak kanan maupun kiri.

 

Pada jamanku kuliah dulu mahasiswa yang tidak terjun ke ‘politik kampus’ sering dicibir. Mereka-mereka yang ‘hanya’ giat di bidang kesenian atau olahraga sering dianggap apatis. Padahal Gie menunjukkan bahwa membawa bendera Mapala yang merangkul semua orang bukan berarti tidak punya perhatian terhadap masalah bangsa. Malah sebaliknya, ia membesarkan Mapala UI tapi juga tidak melepaskan dari persoalan-persoalan bangsa.

 

Gie si manusia yang kesepian bukan tidak punya teman. Temannya banyak dan setia padanya. Ia kelihatan kesepian karena ia begitu kelihatan berbeda dari orang-orang di sekitarnya, karena kekeraskepalaannya untuk selalu bersikap oposisif dan mengoreksi pemerintah atau lingkungan tempat dia berada, termasuk di lingkungan FSUI tempat dia akhirnya mengajar. Dalam film kesepian Gie tergambarkan dengan berjalan sendirian di lorong-lorong kampus.

 

Kata-kata Gie yang paling terkenal mungkin adalah kutipan ini: "Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."  Dan akhirnya dia pun mengalami itu, mati muda. Tapi setelah banyak berkarya, menulis dan menulis. Perjuangan dan pemikiran Gie diingat dan dikenal karena dilahirkan dalam bentuk tulisan. Mungkin banyak mahasiswa lain sejamannya yang idealis dan juga berjuang, tapi tidak lagi diingat karena tidak melahirkan tulisan. Satu contoh lain intelektual muda yang diingat karena banyak menulis adalah Ahmad Wahib, yang bukunya Pergolakan Pemikiran Islam juga jadi bacaan ‘wajib’ aktivis mahasiswa.

 

Menonton film Gie sempat membawa kenangan ketakutan, karena ada saat-saat yang mengingatkan pada film Pemberontakan G30S PKI yang dulu saat SD setiap tahun harus kutonton bersama teman-teman sekelas, dan selalu menimbulkan mimpi buruk di malam harinya. Suasana gelap penuh asap rokok dan lirikan-lirikan tajam penuh curiga mewakili suasana ketidakpastian di sekitar tahun 1965, saat mana lawan mana kawan tidak jelas kelihatan. Dalam catatan harian Gie yang dibukukan, tidak ada catatan peristiwa-peristiwa sekitar tahun 1965. Tokoh Han sahabat karibnya ketika kecil dalam film yang kemudian menjadi anggota PKI dan hilang tak tentu rimbanya juga tidak ada

 

Film Gie jadi terasa melengkapi bukunya. Film ini menunjukkan kehidupan Gie sebagai manusia, bukan cuma Gie sang idola. Tentu saja si Gie manusia yang ditunjukkan dalam film ini adalah Gie menurut interpretasi sutradara Riri Riza. Kisah cintanya yang tertuang di catatan hariannya agak berbeda dengan yang ditunjukkan dalam film. Dalam film juga kelihatannya hubungannya dengan Djien (Arief) kaku sekali, padahal dari buku aku menganggap mereka cukup dekat. Mungkin perbedaan-perbedaan ini adalah bagian interpretasi Riri Riza atau bisa juga merupakan masukan dari keluarga dan teman-teman Gie yang memberi masukan untuk film ini.

 

Karena dibuat dari catatan harian, aliran cerita yang ditampilkan kadang agak terputus-putus. Juga kadang dialog Gie jadi terasa seperti monolog. Tapi film ini menampilkan gambar-gambar indah dengan komposisi yang bagus dan permainan cahaya yang menarik, patut diatungi jempol. Potret Gie yang membaca buku di ruang kumuh rumahnya dengan cahaya samar dari jendela kelihatan begitu puitis. Rekonstruksi kehidupan Indonesia tahun 1960an juga bagus, lengkap dengan mobil-mobil tuanya. Walaupun latar belakang kisah adalah di Jakarta, shooting dilakukan di Jakarta dan Semarang dan ini bisa dilihat dengan jelas oleh kami dari Sahabat Museum yang bisa mengenali dengan jelas daerah-daerah Kota Lama Semarang.

 

Keberanian sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana untuk mengangkat film ini patut dikagumi. Di sini mereka menampilkan bendera PKI yang bagi sebagian masyarakat dan pemerintah kita masih jadi momok. Juga adegan pembantaian orang-orang yang dianggap pengikut PKI, mungkin baru pertama kali terlihat dalam sebuah film Indonesia. Selain itu film ini yang diakui sendiri oleh Mira sebagai bukan film komersial ini dibuat dengan biaya mahal. Apakah mereka yakin akan berhasil?

 

Ada kompromi-kompromi yang harus dibuat tentunya. Budaya pop jadi mau tak mau terasa karena wajah pemeran Nicholas Saputra yang identik dengan potret anak muda masa kini, yang jelas bukan potret Gie. Tapi bisa dimaklumi – wajahnya menjadi daya tarik untuk film ini, dan menjadi penyeimbang tempo film yang lambat dan durasinya yang panjang. Tapi bahkan wajah Nicholas pun tidak bisa menahan sebagian penonton keluar dari gedung bioskop sebelum selesai. Memang banyak penonton kita yang sudah terlalu terbiasa dengan tempo cepat film-film Hollywood sehingga kurang bisa menonton film-film alternatif seperti ini.

 

Kita berharap film ini bisa diterima di kalangan muda, bahkan bagus kalau Gie bisa jadi ikon baru anak muda Indonesia. Tapi semoga ini tidak akan hanya berhenti jadi budaya pop, dengan pin-pin dan kaus-kaus bergambar Gie bertebaran di mall-mall seperti yang sudah terjadi pada Che Guevara. Anak-anak muda menganggap memakai kausnya terlihat keren, tanpa tahu benar siapa itu Che dan apa yang diperjuangkannya.

 

Mungkin ada banyak aktivis dan intelektual yang merasa kesal karena pem-budayapop-an kisah Soe Hok Gie, seperti mengapa buku Catatan Seorang Demonstran harus dicetak ulang dengan gambar sampul seorang Nicholas Saputra, yang jelas-jelas bukan Gie. Tapi semoga dengan itu jadi lebih banyak lagi orang yang mau membaca buku Gie. Karena akan baik kalau profil Gie semakin dikenal. Semangat dan idealismenya bisa jadi teladan yang baik buat kita.

 

Jakarta, 25 Juli 2005

 

 

 


Posted at 04:48 pm by koeniel

dewi
July 28, 2005   06:00 PM PDT
 
Hihihi belom sempet nonton filmnya niy...tapi jadi makin pengen nonton. thanks yaa mbak review buku n filmnya :) dulu aktivis juga pasti
Nona
July 28, 2005   12:59 PM PDT
 
Pengen nonton ke bioskop... tapi siapa yang jaga bayi gua nih... so...kalo ada vcd/dvd-nya mau donk koen gua dikirimin...maklum di bali mah yang kaya2 gitu kurannnggg...
apey
July 28, 2005   08:11 AM PDT
 
helo jeng...udh baca bbrp blog temen ttg Gie. Baca tulisanmu jadi tambah pengen nonton and baca bukunya nih...great review madame :)
Lili
July 27, 2005   02:38 AM PDT
 
Kemarin ke PIM, maunya nonton GIe, tapi Abinya Fawwaz gak mau...duh payah.
Eeehh malah ketemuan sama Raflin, Farid, Dwina di sana.
Ninta
July 26, 2005   08:16 PM PDT
 
Hai Niel, walaupun kemaren waktu nonton kuping rada pengeng karena soundnya yg gak gitu bagus (apa ini tergantung bioskopnya juga ya?) , tapi seneng banget karena gue kenal banget ama lokasi shootingnya..tempat2 yang pernah kita lewatin waktu di Semarang ama PTD di NHM
Anggi Kusumah
July 26, 2005   04:54 PM PDT
 
I still looking friends to accompany me to watch d movie.

anyway, nice to meet u...
mpokb
July 26, 2005   01:17 PM PDT
 
konon gie dan kakaknya memang sering berbeda pandangan dalam banyak hal. yah, usaha riri riza sangat patut dihargai. kalo toh ada ketidakpuasan di sana-sini, mungkin malah menjadi trigger untuk mereka yg bisa bikin lebih baik lagi ;)
nomi
July 26, 2005   12:42 PM PDT
 
Menarik sekali ceritanya, aku jadi pengen baca bukunya, masih dicetak gak ya? Bisa didapat dimana mbak ?

Salam kenal ya..senang bisa kenal blog ini. Bagus-bagus sekali tulisannya :)
Anton
July 26, 2005   11:26 AM PDT
 
ulasan yang bagus. Dah dengar rangkumnya dikit-dikit. Tp lom punya buku atau VCDnya. Nanti aku liat di Gm deh. Cheers.. :)
zuki
July 25, 2005   08:10 PM PDT
 
serius banget nih reviewnya ... tapi memang saya penasaran, ntar ah nunggu VCDnya keluar. Biar enak nontonnya di rumah .. :-)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON