Thursday, July 28, 2005
Melindas (Flu) Burung


burung cantik  jangan kuatir. bukan burung cantik seperti ini yang tak sengaja kulindas



“Nduk, kamu tadi nabrak burungnya Toto. Mati,” begitu bunyi sms dari bapak di suatu siang saat aku sedang berada di sebuah mall.

 

“Again?!?!?!?!” sumpah serapahku keluar karena kesal. Ini sudah kejadian kedua mobilku menabrak mati burung tetangga, tanpa kusadari. Sewaktu kejadian pertama aku harus merelakan 50000 rupiah sebagai pengganti burung yang sebenarnya kucurigai sudah sakit itu. Pasalnya burung yang sehat biasanya langsung terbang sebelum mobilku sempat melindas mereka, karena di gang sesempit itu mobilku toh hanya bisa berjalan pelan sekali, jadi mereka punya banyak waktu untuk minggir atau terbang sebelum aku lewat. Selama ini aku mestinya sudah melewati beratus-ratus burung dan mereka tidak pernah tertabrak. Mungkin yang dua ini memang ingin bunuh diri, at my expense, huh!

 

Kali kedua 75000 rupiah melayang karena katanya itu burung juara. ‘Lha burung juara kok nggak bisa melarikan diri dari mobil yang berjalan pelan sekali,’ gerutuku dalam hati. Tapi berhubung ingin menjaga keharmonisan hubungan dengan tetangga-tetangga kaum Betawi yang temperamennya cukup tinggi itu, ya kupasrahkan saja uang itu.

 

Rumah kami terletak di sebuah kampung di daerah Halim, di dalam gang sempit yang ukurannya pas sekali dengan lebar badan mobil. Di kiri-kanan jalan itu berderet-deret rumah petak milik tetangga.

 

Sebenarnya hubungan kami dengan para tetangga baik sekali. Satu dari mereka jadi pembantu harian kami. Satu lagi jadi supir cabutan kalau diperlukan. Dia juga menyuplai ikan hasil mancingnya pada kami (maksudnya setiap kali dia mancing dan menawarkan hasilnya pada kami, ibuku tidak pernah menolak membelinya). Satu lagi adalah seorang pembuat kue, setiap ada keperluan kami pasti mengambil kue dari perempuan janda buta huruf ini – memang kue-kuenya enak sekali. Kalau di rumah ada kegiatan semacam arisan atau pertemuan keluarga mereka kami rekrut untuk membantu di dapur.

 

Pendeknya kami selalu berbagi kemakmuran, dan mereka juga membalasnya dengan kesetiaan luar biasa – rumah tidak dikuncipun akan aman karena mereka sering bermain di halaman rumah kami, yang kebetulan adalah satu-satunya tempat terbuka di seputaran RT (bahkan acara 17 Agustusan pun selalu diadakan di halaman rumah kami yang sebenarnya tidak besar ini).

 

Tapi bukan berarti hubungan jadi mulus-mulus saja. Hubungan itu harus terus dijaga dengan hati-hati, karena kebanyakan dari mereka ini selain bertemperamen tinggi juga berpendidikan rendah. Fakta ini dan kecintaan mereka yang amat sangat pada burung-burung mereka kali ini bergabung jadi satu masalah: flu burung.

 

Walaupun berita tentang flu burung sudah menyebar ke mana-mana dan jadi bahan pembicaraan, tetangga-tetanggaku yang banyak yang buta huruf ini tidak bisa menangkap apa yang terjadi. Mereka tetap saja memelihara burung dengan sembarangan, tahi-tahinya tersebar di gang depan rumah. Kandangnya kotor dan boro-boro mencuci tangan setelah memegang burung, mereka bisa makan sambil bermain-main burung dan masak di sebelah kandang burung.

 

Betapa kuatirnya kami. Masalahnya mereka membuat kami juga beresiko terkena flu burung. Tapi untuk menegur secara langsung bisa berbahaya karena mereka bisa marah karena salah pengertian. Kami harus mencoba mencari jalan keluar lain.

 

Kemarin ibuku membacakan selebaran cara pencegahan penyakit flu burung kepada pembantu harian kami. Dia diam saja, tapi tampak berpikir. Lalu berkata, “Bude, (memang semua orang di kampung memanggil ibuku Bude dan bapakku Pakde) berarti burung-burung di depan itu bisa bahaya ya? Bisa bikin meninggal ya?” Ibuku mengiyakan. Lalu katanya lagi, “Ya ampun Bude, cucu saya kan sering  makan sambil mainan burung, duduk di gang padahal gangnya penuh tahi.”  Lagi ibuku mengiyakan, dan menekankan bahwa itu berbahaya. “Tapi gimana caranya ya Bude, mbilangin mereka?”  Bahkan diapun yang bersaudara dengan pemilik-pemilik burung itu bingung bagaimana menyampaikan fakta tentang bahaya flu burung ini.

 

Yah mungkin memang mesti dilakukan pelan-pelan karena tetangga kami sangat fanatik pada burung-burung mereka. Selain mencoba pelan-pelan menerangkan pada yang masih mau mendengar, kami berencana untuk memberitahukan pada Pak RT dan Pak Lurah mengenai ini, dan mengusulkan untuk memanggil pihak puskesmas misalnya, untuk memberi penyuluhan. Karena kalau yang memberikan penyadaran pihak kelurahan mereka kami harap mau mendengar.

 

Semoga. Sementara itu kami dengan was-was menjaga daya tahan tubuh dan kebersihan. Cuci tangan. Cuci tangan. Cuci tangan. Atau kadang timbul senyum jahat dan tanduk di kepala, ingin mengikuti usulan temanku, "Udeh, lindes aja lagi pake mobil lo...!"

 

Jakarta, 28 Juli 2005

 


Posted at 08:34 am by koeniel

mpokb
July 30, 2005   05:16 PM PDT
 
rumahnya di halim? hehe, tiap ari gw "melipir" halim, alias naik turun bus di uki.. si mami sabar juga ya? hidup di jakarta nan padat memang penuh problematika dan romantika. jadi, hanya satu saranku.. tabahkan hatimu.. :) *becanda non*
The "Leprechaun"
July 29, 2005   08:53 PM PDT
 
Good article honey, it may just be easier to run over a few of the birds. Unfortunately it may require for one of the kids from the neighbourhood to get ill and have it linked back to the brids and hygiene before your message really gets across. But dont give up but do cut down or out paying these people for birds that get killed by ur car, why not get back at them first next time give one of them the bill for cleaning ur car of the remains of the bird and for the disenfectant u had to use as you were worried about health implications :D now thats a way to get a message across to these poeple - through their pockets - then they will listen to you!! And once worrd gets out that you expect them to pay you instead of the other way around I bet not too many sick birds find their way under ur wheels :D
zuki
July 29, 2005   08:52 PM PDT
 
hebat amat tuh burung, matinya kepingin on the expense of a famous geologist hehehe ... hv a nice weekend ya Niel.
Lili
July 29, 2005   06:04 PM PDT
 
Wa kak kak kak, kok bisa 2 kali gituh yah mbak Nil. Itu jenis burung dara gituh yah? kok dilepas saenake dewe, gak di kurung sih??
HIlang satu tumbuh seribu, maksudnya hilang 75000 dapet ganti gak yah?..hi..hi..
what a day!!
kere kemplu
July 29, 2005   04:34 PM PDT
 
berbagi kemakmuran. wow! saya juga mau ndaftar sebagai penerima pembagian. tapi nggak bayar pake kesetiaan lho :)
dewi
July 28, 2005   06:07 PM PDT
 
:) lucu banget ceritanya, jadi keinget dulu pernah masuk gang kecil deket palmerah, ada ibu2 tereak ke arah mobil, awasss ayamm! kalo semaput bayar 10.000 tapi kalo mati ganti 25.000. huhuhuhuhu ada2 aja. waaa jadi kangen ma rumah niy....Lebaran masih lama lageee :)
Nona
July 28, 2005   01:06 PM PDT
 
Sampe tadi pagi gua masih sebel aja ama laki gua gara2 ngungsiin burung dan ayam kesayangannya si Joshua! Gua kaga tega ngeliat balita kami itu nyari2in binatang2 kesayangannya yang biasanya tiap pagi udah main2 ama dia... tapi tulisan elo ini jadi nyadarin gua kalo tindakan laki gua ngungsiin tuh binatang udah tepat!
Thanks koen...

Miss you,
Nona-Abe
& little Joshua
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON