Coretan Musim Semi: 2. Hujan
Sore yang dingin. Kuhabiskan pagi dan siang dan sore yang indah bermandikan
matahari di dalam gedung megah dan modern, bergulat dengan seismic sections
dan konsep-konsep stratigrafi, berusaha memahami bagaimana memprediksi di
mana ada minyak, supaya kekayaan bumi itu bisa kukuras lagi dan kukuras
lagi.... Sesekali kulongokkan kepala keluar jendela, menikmati indahnya
bunga-bunga bersemi.
Pertama kali kuinjakkan kaki di kota kecil ini kemarin siang. Kota kecil
yang indah, dan tipikal. Gedung-gedung tua, gereja-gereja. kuhitung ada
lebih dari sepuluh gereja dan kapel-kapel tua. Entah pengunjungnya. Mungkin
tidak banyak.
Kami langkahkan kaki di sepanjang sungai Thames, dan berjumpalah kami
dengan sesuatu yang spektakuler, reruntuhan Biara dari abad 11. Maka
tenggelamlah aku dalam lamunan dan bayangan. Betapa ratusan tahun yang
lalu, tembok batu tua yang setengah runtuh ini adalah bangunan biara yang
kokoh, dengan para biarawan berkeliaran di antara dinding-dindingnya, dan
nyanyian gregorian terdengar tanpa henti.
Sayangnya, rekan seperjalananku bukan tipe penikmat sejarah sepertiku.
Dengan wajah impasifnya dia berdiri di sudut tanpa sabar, mengajak aku
mampir ke supermarket dan pulang ke hotel kecil tempat kami tinggal. Hah.
Kutanya padanya, 'Tidakkah kau rasa getar-getar sejarah dalam darahmu?'
Manusia modern ini hanya menggeleng, matanya menyipit dan mulutnya nyengir.
Lalu kukotbahi dia tentang Henry VIII dan manusia yang sehari-harinya
dihabiskan di muka komputer ini hanya tertawa. Dia lebih tergetar
memandangi gedung Oracle dan Microsoft yang juga bermarkas di tempat ini,
dibanding memandang reruntuhan Biara tua!! Di matanya manusia-manusia yang
turun dari bis kami dan berlarian menuju gedung Microsoft (dalam bayanganku
semacam Anton dan Lucky dua teman 'nerd'ku) lebih menarik daripada biarawan yang disiksa dan
digantung oleh Henry VIII karena tidak mau mengkhianati kepercayaannya.
Saat ini, dia ada di sebelahku, dengan asyiknya mengarungi dunia maya. Tapi
kali ini kunikmati juga dunia maya itu kawan, karena itu berarti aku bisa
menumpahkan perasaanku padamu. Di sore ini, di tengah hujan yang dingin.
Dingin sekali.........
Reading, 2 April 2001
Posted at 02:37 pm by
koeniel