Selama hampir dua minggu jam-jam bebas, jam-jam tidur, jam-jam istirahat dan hari-hari weekend-ku dirampok oleh kegiatan pemboran sehingga hampir setiap menitnya harus dihabiskan di kantor. Atau di rumah, tapi dengan HP yang selalu harus siap dihubungi dan laptop yang siap pakai 24 jam, 7 hari seminggu. Maka sewaktu kegiatan mulai menurun sementara, dengan nekat kuterima ajakan rekanku dari Arek Panton dan Heru untuk mengunjungi 'istana' rekan kami Kang Kosim yang nyentrik di Ciawi sana weekend lalu. Maka berjanjilah kami untuk meluncur bersama hari Jumat malam. Sayang, sampai saat perjanjian ketemu jam 10 malam aku masih harus duduk bersama bos-bosku - bukannya untuk minum bir bersama - tapi untuk berkonferensi jarak jauh dengan kantor pusat. Hiks, maka batallah kepergianku.
Untungnya Sabtu siang kegiatan sudah menurun, maka tergodalah aku untuk berangkat juga. Padahal perutku sudah mulai terasa kembung, masuk angin. Tapi kesuntukan memandang dinding-dinding kantor sudah sangat memuncak. Maka setelah laporan terakhir terkirim kuculiklah temanku Ucup (yang ini asli perempuan walaupun nama julukannya berbau kecowokan) untuk menemaniku melaju ke selatan sana.
Lalu sampailah kami di sana, dan lalu mata menjadi segar karena pemandangan padi di sawah yang hijau, dan langit yang biru muda. Cerah. Apalagi setelah Rangga anak buah Kosim mengajakku berjalan-jalan memandang gunung yang sedang menggeret matahari untuk tenggelam di baliknya. Indah. Luas. Tanpa dinding-dinding pembatas. Pun gubuk bambu tempat tinggal Kosim dan anak buahnya tidak terbatasi dinding. Hati jadi segar bermain dengan dan mendengar cerita tentang binatang-binatang peliharaan mereka: Lenin dan Rossa para angsa, Gajul, Tomingse dan Sancay, Rida-Sita-Dewi para ayam. Otot-otot yang kaku karena selalu duduk menghadapi benda bernama komputer jadi lemas, karena bisa berbaring santai. Wajah yang tadinya dihiasi kerutan dahi lalu jadi dihiasi gelak tawa.
Lalu malam turun menyentuh sawah-sawah. Dan pohon-pohon kelapa jadi siluet. Dan suara nyanyian, gitar dan kemercik sungai lalu digabungi paduan suara katak, kodok dan jengkerik. Dan cahaya perak bundar berpendar di langit. Dewi purnama berkenan hadir, wajahnya cantik melebihi lampu neon, menemani kami bersantap nasi-ikan asin-tempe goreng-daun singkong rebus-sambal pedas hmmm nyam nyam slurp slurp. Diakhiri sruputt sruputt teh pahit dan kopi nasgitel panassssss. Mat, kata Umar Kayam. Lalu sambil separuh mengobrol separuh bersendawa (kan lagi masuk angin!) aku tertidur berbalut jaket pinjaman, dielus-elus bayu.... Mimpi malam minggu....
Paginya saat mendung mewarnai langit aku dan Ucup terbangun, memenuhi panggilan alam (i.e. kebelet pipis :D...). Maka bermainlah kami dengan air pancuran yang dingin segar di tepi kebun. Membebaskan tubuh dari balutan pakaian membiarkan seluruh kulit tersengat dingin memamerkan ketelanjangan pada awan-awan. Seperti bayi (bayi tuek...:D...). Tiba-tiba langit mengirimkan warna - peri pelangi tersenyum memandang bumi. Buatku suatu kemewahan - mandi ditemani pelangi. Hadiah surga - mandi ditemani pelangi.
Maka biarpun setelah itu kami buru-buru turun gunung kembali ke kota dan aku buru-buru kembali ke bilik kantor menerima data-menganalisis-mengirim laporan, sambil harus berkali-kali ke kamar mandi (masuk angin boooo......), masih segar jua rasanya. Banggaku membalas dendam - haha! weekend ini daku tidak sepenuhnya terbelenggu olehmu sumurku! haha! kulanggar janjiku! aku pergi lebih dari radius 1 jam dari kantor! Haha! Tapi juga karena di kepala masih terbayang hadiah alam - mandi ditemani pelangi............
Kemang, 22 Jan 2003