Tuesday, January 17, 2006
Kuatir

 click picture for more photos
 
Sudah satu setengah bulan aku tinggal di negeri kecil serba sempurna - bersih, lalu lintasnya teratur, udaranya tidak terlalu berpolusi, peraturan dipegang ketat - yang bernama Singapura ini. Tapi baru 3 minggu aku tinggal di apartemenku sendiri.
 
"Seperti apa tempat tinggalmu nduk?" Tanya Ibu
"Kecil, mam. Imut banget. Model 4L itu lho, lu lagi, lu lagi. Kamarnya sih dua, kamar mandinya juga dua, ada ruang tamu dan ruang makan sambung jadi satu, lalu ada dapur, tapi semuanya imut. Pokoknya terkurung deh, kadang sumpek juga."
"Lho kan bisa keluar ke halaman?"
"Halaman gimana mam, ini apartemen, menjulang di langit nggak ada tanahnya."
 
Rupanya Ibuku susah sekali membayangkan bagaimana tinggal di apartemen. Setiap aku telepon selalu ditanyakannya hal-hal kecil tentang tempat tinggal dan kehidupanku. Maka akhirnya kubilang saja, "Udah, gimana kalo Ibu sama Bapak ke sini aja. Nanti tiketnya aku urus. Bisanya tanggal berapa?"
 
Lalu akhirnya mereka datang. Beberapa hari kuhabiskan untuk membersihkan dan membuat apartemen yang masih setengah kosong ini jadi nyaman untuk Bapak-Ibu. Tak lupa benda-benda yang bisa membuat mereka kuatir akan tingkah laku anaknya yang bandel ini kusembunyikan. Setelah lantai dan kaca tampak kinclong, Jumat sore kujemput mereka di Changi airport yang super modern itu.
 
Dari sehari sebelumnya aku sudah cerewet sekali meng-sms mereka berulang kali, memberikan petunjuk detil supaya mereka tidak terlalu bingung dan sebagainya. Ini memang bukan kali pertama mereka pergi keluar negeri, tapi 2 tahun lalu saat berziarah ke Jerusalem, Vatikan dan Lourdes mereka ditemani pemandu yang selalu mendampingi, juga teman-teman lain dalam sebuah grup besar. Ini pertama kalinya mereka bepergian sendiri. "Kuatir amat sih. Mereka kan bukan anak ayam." Kata seorang teman. "Kamu ini ndak tau." Kataku, "Ibuku itu naik pesawat aja jarang. Bahasa Inggris juga nggak bisa. Ngisi form imigrasi pasti bingung.  Dan dia sudah tua. Wajar dong kalo aku kuatir."  Sahutnya, "Tapi kan ada Bapakmu. Bapakmu kan bisa bahasa Inggris."  Iya juga sih.
 
Mereka senang sekali melihat tempat tinggalku. Bapakku berdiri berjam-jam di depan kaca jendela memandang keluar ke aktivitas di bawah. Padahal kantornya juga di gedung tinggi. Tapi mungkin beda rumah di ketinggian dengan kantor. Ditunjukkannya hal-hal kecil yang dilihatnya dari situ, yang tidak pernah kuperhatikan sebelumnya. Ibuku sepertinya jatuh cinta pada dapurku yang mungil itu. Awalnya beliau masih takut-takut mempergunakan berbagai peralatan modern yang ada di situ. Tapi setelah kuajari cara memakai kompor listrik, pemanas air, oven microwave dan sebagainya beliau terus-menerus berada di dapur memakai segala macam peralatan.
 
"Ayo bu, makan di luar yok. Ngerasain masakan sini. Makanan di sini nggak enak sih, tapi kan patut dirasain." Ajakku.
Kata beliau, "Ayo jalan-jalan, tapi nggak usah makan di luar ya. Ibu mau masak."  Segala alasan dipakai beliau untuk bisa memakai dapur.
 
Tadinya kemana-mana mereka kubawa naik taksi, tapi karena mereka ingin tahu bagaimana aku pergi ke kantor tiap hari, akhirnya kuajak juga mereka naik MRT. Bapakku senang sekali pada mesin otomatis tempat membeli karcis. Beliau berdiri memandangi orang-orang memakai mesin itu. Persis seperti saat aku pertama kali ke negeri ini dan memakai mesin itu untuk membeli karcis, dulu 8 tahun yang lalu. Ibuku senang sekali dengan kereta MRT, karena cepat, bersih dan dingin. Mereka bolak-balik mengajakku naik MRT saja ketimbang naik taksi. Padahal Ibuku kelihatan limbung setiap kali harus naik turun tangga berjalan. Aku jadi was-was setiap kali melihat beliau memakai tangga berjalan.
 
Setelah akhir minggu lewat dan aku harus kembali bekerja, mereka harus berjalan-jalan sendirian. Bolak-balik kupesani, kalau ada apa-apa langsung telepon saja. Teleponku dua-duanya menyala, baik yang Telkomsel maupun yang Singtel. Kubekali juga mereka dengan catatan dan alamat-alamat tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi dan cara detil menuju ke sana. Lalu kuantar mereka berjalan. Sewaktu harus berpisah, aku menuju stasiun MRT dan mereka menuju ke pusat kota, rasanya enggan sekali aku meninggalkan mereka. Kupandangi saja mereka berjalan menjauh. Lalu Bapakku menengok, dan begitu melihatku masih berdiri di tangga stasiun tangannya melambai kesal, mengusirku untuk segera berangkat ke kantor.
 
Seharian bolak-balik kulirik kedua telepon genggamku tapi tidak ada sms maupun telepon yang masuk. Yah, moga-moga saja mereka sedang menikmati liburannya. Sorenya kutanya apakah mereka menghadapi masalah saat berjalan-jalan berdua saja. Mereka tertawa dengan sedikit kesal, menyatakan bahwa mereka bukan anak-anak lagi dan bisa berjalan-jalan sendiri tanpa perlu pengasuh.
 
Hari terakhir saat mengantar mereka ke pelabuhan udara untuk terbang ke Jakarta, lagi-lagi dengan cerewet aku berpesan ini itu dan menunggui sampai mereka melewati pintu imigrasi. Setelah itu aku duduk di warung kopi Starbuck sampai pesawat mereka dinyatakan lepas landas. Barulah aku pulang. Itupun setelah meng-sms mereka lagi untuk memberi tahu saat sudah mendarat di Jakarta.
 
Sampai di rumah temanku menelepon, "Udah balik Nyil nyak-bokaplo?"
"Udah. Barusan aja terbang. Kenapa gitu?"
"Nggak. Cuman berarti lu udah normal lagi sekarang, jadi anak muda lagi. Kemaren-kemaren lu kayak ibu-ibu punya anak kecil. Dikit-dikit kuatir, mana cerewetnya menta ampun. Gue jadi kesian ama orang tualo."
"Lho gue kan cerewet karena sayang, gue pengen mereka hepi dan enjoy dan safe."
"Makanya lu jangan suka kesel kalo nyokaplo kuatir n crewet. Mereka alasannya pasti sama ama elo."
 
Ha? Iya juga yah. Kadang aku sering kesal karena kecerewetan orang tuaku dan karena mereka tampak selalu kuatir dan tidak percaya bahwa anak-anaknya bisa mandiri dan 'survive'. Mereka juga kelihatan kuatir sekali dan enggan saat aku menyatakan akan pindah keluar dari Indonesia. Padahal itu pasti mereka lakukan karena kuatir kami akan jatuh atau terluka atau gagal atau terjerumus. Pasti sebuah perjuangan yang berat bagi mereka untuk melepas kepergianku dan adik-adikku melanglang buana dan memberikan kebebasan bagi kami untuk membuat pilihan-pilihan, tanpa mereka bisa terlalu mempengaruhi. Pasti kalau mereka bisa, mereka lebih suka terus melindungi dan membimbing kami. Nyatanya, pasti dengan susah payah menahan diri, mereka membiarkan kami berjalan sendiri.
 
Dua malam berikutnya, saat menelepon Ibu berkata, "Nduk, itu kunci pintu udah dibenerin belum?"
"Udah mam."
"Tukang yang betulin?"
"Bukan bu, aku sendiri. Aku bisa kok."
"Lho tapi mendingan panggil tukang, karena mereka lebih ahli. Daripada rusak lagi, nanti kamu kekurung di dalam nggak ada yang bisa nolong. Trus, udah jadi bikin lubang intip di pintu belum? Ibu dan Bapak tuh kuatir, kamu perempuan hidup sendirian di tempat yang nggak kenal tetangga kayak gitu...bla...bla...bla..."
 
Biasanya wejangan panjang seperti itu sudah kusahuti dengan canda atau dengan nada agak kesal. Tapi kali ini tidak, memang suara ibu jadi menghilang saat pikiranku melayang, tapi paling tidak aku tidak menyahuti, karena aku tahu itu seperti kecerewetanku yang sayang pada mereka.....
 
 
Singapore 17 Januari 2005
(hasil sentilan mas Bakul Sengsu :D.... Sori temans, jarang nulis lagi, soalnya masih riweeehhhh.........)

Posted at 08:24 am by koeniel

Demona
March 17, 2006   01:00 PM PST
 
I wish my relationship like yours.........
Qee
March 7, 2006   02:23 PM PST
 
Akhirnya muncul juga.
Lili
March 2, 2006   12:22 AM PST
 
horeee aku yg pertama terus nih, soalnya udah kangen beratz sama tulisanmu Mbak...trenyuh dan haru..kayaknya aku udah mulai kayak ibumu sama Fawwaz. Padahal kan dia masih kecil..duh aku perlu terus banyak belajar.

Membanyangkan kedua ortu mbak Nila yg enjoy banget sama Singapore..jadi iri. Kapan yah diJakarta para ortu bisa jalan2 seaman di sana?..kapan2...

salam manis dari aku, kalau lagi gak riweh mampir lagi yah ke blog aku..
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON