Saturday, March 18, 2006
Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?

 

 

 

"What's in a name? That which we call a rose By any other word would smell as sweet" Begitu kata Shakespeare dalam drama Romeo dan Julietnya. Tapi kenyataannya nama itu biasanya bukan sekedar harafiah menunjukkan identitas suatu benda, tapi juga mengandung segala macam label, segudang embel-embel dan konotasi yang terlahir dari interaksi sosial antar manusia.

 

Misalnya istilah 'Indon'. Sebelum pindah ke Singapura ini aku sama sekali tidak pernah berpikir panjang soal istilah 'Indon'. Setahuku itu adalah istilah bernada minor, yang digunakan oleh orang-orang Malaysia untuk menyebut orang-orang Indonesia. Entah kenapa aku berpikir istilah itu punya konotasi negatif. Mungkin karena selama ini aku cuma mendengar istilah itu dalam konteks berita-berita negatif mengenai para pekerja tak terlatih Indonesia di Malaysia.

 

Teman-teman yang bersekolah di luar negeri, di Australia, Amerika atau Eropa seringkali kudengar memakai istilah 'Indo' untuk menyebut dirinya maupun negara Indonesia. Misalnya, "Iyah, sebagai orang Indo, gue bla bla bla..." atau "Gue udah lama nih nggak pulang ke Indo." Mungkin karena itu istilah 'Indo' tidak terdengar negatif seperti istilah 'Indon', walaupun aku lebih memilih untuk menggunakan istilah 'Indonesia' (atau seringkali 'Indonesa' :D...).

 

Beberapa hari yang lalu aku membaca berita perminyakan mengenai Indonesia. Sebuah artikel dari koran Eropa menampilkan judul berikut "Indonesian national oil company bla bla bla.." Tapi artikel lain dari koran Singapura menyebut "Indon field bla bla bla..."  Lho, kok? Dalam sebuah koran, bukan kata 'Indonesia' yang dipakai tapi malah kata 'Indon'? Bukannya kata 'Indon' itu konotasinya negatif? Sedang aku saja agak risih mendengarnya. Hmmmm..........

 

Kebetulan banyak teman dari kantor lama yang bekerja atau pernah bekerja di Malaysia dan di perusahaan Malaysia. Maka mereka lalu kutanyai, apakah istilah 'Indon' di Malaysia itu punya konotasi negatif, seperti misalnya (maaf) istilah 'Paki' yang sering digunakan di Inggris untuk menghina orang-orang Pakistan dan jelas tidak disukai oleh orang-orang Pakistan. Atau mungkin istilah 'Indon' ini seperti istilah 'bule' yang oleh banyak orang dianggap istilah netral untuk menyebut orang-orang Caucasian, tapi oleh sebagian lagi tidak disukai karena dianggap punya konotasi negatif dan bernada rasialis? (lihat artikel Don't Call Me Bule).

 

Jawaban teman-teman berbeda-beda. Ada yang menyatakan kita harus melihat konteksnya. Kalau itu dinyatakan oleh orang Malaysia dari kalangan bawah, biasanya memang istilah itu bernada sinis, karena orang-orang itu biasa bertemu dengan para pekerja tak terdidik Indonesia. Tapi kalau dinyatakan oleh kalangan yang berpendidikan, biasanya istilah itu bernada baik, karena banyak pekerja terdidik Indonesia yang memang bagus, pekerja keras dan punya etika tinggi. Ini dinyatakan oleh seorang drilling engineer yang bekerja di perusahaan nasional Malaysia. Harap diketahui banyak sekali profesional perminyakan Indonesia yang bekerja di sektor migas di Malaysia. Seorang drilling engineer lain yang pernah bekerja di Malaysia mengganggap bahwa reaksi ketidaksukaan kita terhadap istilah 'Indon' terlalu berlebihan, karena menurut beliau istilah itu sama saja dengan istilah 'Amrik', 'Londo' atau 'Jepun' yang kita pakai untuk menyebut orang Amerika, Belanda dan Jepang.

 

Teman lain, seorang reservoir engineer yang bekerja sebagai konsultan di kuala Lumpur menyatakan bahwa sebenarnya dia pun enggan menggunakan kata 'Indon', walaupun dia mengakui bahwa mungkin istilah 'Indon' itu netral dan hanya digunakan oleh orang Malaysia karena sebutan itu lebih singkat. Pendapat ini diamini oleh temanku lain, seorang geophysicist yang bekerja di perusahaan Malaysia di Jakarta.

 

Tetapi ternyata aku bukan satu-satunya yang merasa risih dengan istilah 'Indon' ini. Seorang geophysicist yang bekerja di Malaysia berkata bahwa dia juga pernah mengalami 'Sindrom Indon'. Dia menyebutnya sebagai sindrom karena katanya selama beberapa bulan awal kata 'Indon' ini memang memberikan efek menyesakkan. Tapi kemudian disadarinya bahwa sebenarnya kata ini bisa punya konotasi yang berbeda tergantung siapa yang mengucapkan. Beberapa rekan Malaysianya yang peka berusaha menghindarkan diri dari memakai kata 'Indon' ini. Tapi kadang kata itu keluar juga, bahkan pada saat si pemakai sedang memuji-muji Indonesia. Lalu solusi yang dipakai temanku itu adalah membiasakan dirinya mendengar kata 'Indon', walaupun dia tetap mempergunakan kata 'Indonesia'.

 

Beberapa artikel di Internet juga menunjukkan bahwa 'sindrom Indon' ini memang nyata ada. Seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Malaysia, Nasrullah Ali Fauzi, menulis beberapa artikel di web MyIndo, Utusan Malaysia Online dan harian Kompas, menunjukkan protesnya terhadap istilah itu. Walaupun mengakui bahwa istilah itu oleh orang Malaysia tidak dianggap sebagai punya konotasi negatif, tapi dia tetap berharap istilah itu tidak dipakai lagi. Harapan yang sama dilontarkan oleh KBRI di Kuala Lumpur yang mengharapkan agar media mempergunakan kata 'Indonesia' dan bukan 'Indon'.

 

Memang setiap orang bisa punya persepsi yang berbeda-beda terhadap sebuah istilah. Aku dulu cukup kaget mendengar teman-teman berkulit hitam di UK memanggil diri mereka sendiri dengan istilah 'black'. Ternyata buat mereka istilah 'black' itu tidak punya sangkutan dan konotasi negatif. Beda dengan di Amerika, yang sangat sensitif dengan rasisme, sehingga semua sebutan betul-betul harus politically correct. Mungkin ada bagusnya kalau teman-teman di Malaysia bisa sedikit lebih sensitif dan menghindari sebutan Indon, seperti yang diusulkan oleh Fairy Mahdzan seorang perempuan Malaysia yang memiliki web MyIndo. Yudanto, yang tidak suka disebut 'Indon' mengusulkan agar kita sendiri jangan mempergunakan istilah 'Indon' itu. Aku setuju.

 

Di dalam negeri sendiri kita juga sering tidak sensitif terhadap perasaan orang lain. Selain terlihat dalam istilah 'bule' di atas, juga dalam istilah 'orang Cina'. Pernah di sebuah forum dilontarkan bahwa teman-teman keturunan Cina lebih suka disebut Tionghoa atau Chinese, karena dalam sejarah Indonesia memang sebutan 'orang Cina' mengandung banyak konotasi negatif. Maka seharusnya kita pun lebih sensitif dan menghindari sebutan-sebutan yang membuat orang merasa risih atau kesal.

 

Selain itu, seperti yang disebutkan oleh temanku Melati yang penting adalah mengubah kesan  orang lain mengenai bangsa dan negara kita. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian pekerja tak terdidik Indonesia membawa kesan yang mendalam dan cenderung negatif buat warga Malaysia. Tapi mungkin kita bisa pelan-pelan mengubah kesan itu dengan menunjukkan sisi-sisi baik bangsa dan negara kita dan dengan bekerja secara profesional dan bersikap dan beretika baik.

 

Singapura, 18 Maret 2006


Posted at 12:23 pm by koeniel

Indonesian
May 1, 2007   04:19 PM PDT
 
Saya kebetulan tinggal di Brunei, dan istilah Indon disini juga sudah mengakar rumput. Kalau menurut saya pribadi terserah mereka mau menyebut apa karena apapun juga konotasi itu datangnya dari penilaian mereka terhadap bangsa kita (yang setahu saya sudah terlanjur looking down duluan) saya sendiri menyebut orang Malaysia sebagai Malesa dan Brunei sebagai Bruno, ada juga yang memanggilnya Bruneg, karena memang tingkah polah mereka terkadang bikin kita eneg
koeniel
April 4, 2006   12:50 AM PDT
 
Lili: malay itu artinya bangsa malay, bisa orang malaysia bisa orang singapore....

rico: ha apa tuh artinya bhutto, coba ntar aku tanya deh :)

hany: iyah, kita emang ngg boleh ikutan males... :)

mpokb: iya, istilah negro yang paling haram, tapi istilah yang lain pun kaya 'black' juga agak riskan. paling cucok si 'afro-american'

bahtiar: iyah, hidup endosah tanah air beta :)
mpokb
March 21, 2006   11:28 AM PST
 
hehe, lamo dak basuo, sakali basuo di kandang kudo, koeniel..! onde mandeee... :P

hmmm, kukira yang bikin sensi orang kulit hitam itu kata "negro" niel? ternyata nama bisa jadi menimbulkan prasangka juga ya...
Lili
March 18, 2006   03:45 PM PST
 
Dalem banget deh.

Ternyata sempat juga mampir ke site MyIndo itu yah?
KOmentar di sana bermacam2 yah.
Orang Indonesia sering menyebut orang Malaysia dengan sebutan Malay, kira2 mereka keberatan gak yah dgn sebutan itu?
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON