Sunday, May 28, 2006
Bencana

 click picture for more photos

 

 

Akhirnya setelah seharian menunggu dengan kuatir sore menjelang malam ada kabar dari adik perempuanku (Baca kisah sebelumnya: Menunggu). Dia menelepon ke rumah dari wartel. Saat itu ibu sedang ke gereja, hanya ada pembantu mingguan kami si Mang. Pesannya, "Aku tidak apa-apa, hanya HPku mati dan saluran telepon di Yogya banyak yang mati. Aku masih di rumah sakit, banyak sekali korban."

 

Pagi ini cerita lengkapnya baru kuketahui. Sekitar jam enam kemarin pagi saat gempa terjadi adikku masih berjaga di Rumah Sakit Panti Nugroho di Pakem, Kaliurang. Dia memang bekerja di sini 3 malam dalam seminggu, selain bekerja dan belajar (dia sedang mengejar spesialisasinya di bidang internal medicine) di Rumah Sakit Sardjito UGM. Gempa terasa kuat sekali, bahkan di daerah utara Yogya itu. Semua orang di situ mengira gempa itu akibat aktivitas Merapi. Dan ketika mereka keluar, memang terlihat guguran lava dan awan panas disertai hujan abu keluar dari puncak Merapi. Maka adikku yang dokter UGD di rumah sakit di kaki Merapi itu segera menyiapkan peralatan untuk menghadapi luka bakar.

 

Ternyata yang datang malah pasien dengan trauma dan luka-luka akibat benturan. Orang muda, orang tua, anak-anak berduyun-duyun memenuhi rumah sakit dengan darah berceceran. Mereka tertimpa dinding atau atap rumah yang runtuh. Para dokter dan perawat langsung sibuk merawat dan tak lama pasien berdatangan dari rumah-rumah sakit di sebelah selatan yang sudah lebih parah kebanjiran pasien.

 

Karena keterbatasan ruang dan tempat tidur akhirnya pasien ditidurkan di ruang tunggu di lantai dengan alas karpet. Banyak pasien menderita retak dan patah tulang, maka dokter dan teknisi radiologi bekerja keras sepanjang waktu untuk melakukan X-Ray. Semua petugas kesehatan bekerja tak henti sampai jauh malam, dan baru saat malam menjelang pagi itulah mereka sempat bergantian mandi dan beristirahat sebentar.

 

Tidak berapa lama setelah gempa jalan Kaliurang menuju puncak tiba-tiba penuh dengan mobil dan orang menuju ke utara. Isu tsunami pun sampai ke ruang gawat darurat rumah sakit. Melihat banyak orang lari menuju ke arah ketinggian pasien pun banyak yang ikut melarikan diri. "Ada yang kakinya patah dan belum sempat ditangani, langsung berdiri terpincang-pincang dan lari. Ada yang masih dijahit lukanya juga langsung lari. Suasana panik sekali."

 

Padahal rumah sakit itu letaknya di Pakem, di Jalan Kaliurang Km 18, yang sudah berada di ketinggian dan sulit dicapai gelombang tsunami, kalaupun ada. "Yah aku rasa Mbak, orang-orang tidak sempat berpikir begitu. Mereka panik, melihat semua orang melarikan diri ke arah Merapi mereka semua ikut. Tidak ingin jadi korban seperti di Aceh." Waktu kutanya, apa dia tidak ikut panik dan ikut lari, katanya, "Yah, Mbak, begitu banyak pasien harus ditangani, waktu itu kupikir kalaupun gelombang sampai sini ya aku bisa apa. Pasrah aja."

 

"Aku sampai nggak ingat berapa banyak pasien yang kujahit luka-lukanya Mbak." Lanjut adikku di telepon. "Kami berusaha sebaik mungkin, untuk luka-luka dan fracture biasa kami bisa menangani. Tapi banyak sekali yang mengalami spinal injuries yang kompleks. Yang begini perlu ditangani oleh ahli bedah ortopedik, padahal rumah sakit kecil mereka tidak punya ahli bedah ortopedik dan semua ahli bedah ortopedik yang ada di Yogya pasti sedang sibuk di rumah-sakit rumah sakit besar."

 

"Suaramu bindeng. Kamu sakit ya?" Tanyaku. "Yah, kurang tidur ya jadi begini Mbak. Aku udah capek sekali, makanya aku memutuskan pulang. Apalagi lama-lama aku nggak tahan juga melihat begitu banyak orang menderita dan nggak berdaya, tapi nggak bisa membantu lebih lagi. Kebayang nggak Mbak, orang-orang ini kan petani. Petani kan harus banyak pake punggung. Gimana nantinya mereka akan bekerja kalau banyak yang terkena spinal injury begini? Tadi pagi aku udah capek sekali, terus aku lihat bapak tua satu ini, dia kelihatan miskin, tua, nggak berdaya. Kakinya dua-duanya patah. Tapi dia nggak punya keluarga sama sekali, nggak ada yang mengurusi. Entah tercerai-berai atau meninggal. Tiba-tiba aku jadi nggak tahan, maka aku minta kesempatan pulang dan istirahat."

 

Aku juga tidak bisa berkata apa-apa. Terbayang frustrasinya melihat begitu banyak orang butuh bantuan tapi bantuannya terbatas. Akhirnya kubilang dia harus tidur dan menghimpun tenaga dulu baru kembali ke rumah sakit lagi, lalu kuletakkan gagang telepon.

 

Tapi aku sendiri jadi merasa ikut frustrasi. Membayangkan para keluarga petani yang terkena bencana itu. Betul kata adikku bagaimana nanti mereka bisa melanjutkan bekerja mencari nafkah kalau punggungnya cedera begitu? Bencana yang cuma sesaat ini bisa punya ekor yang panjang sekali. Kehilangan tempat tinggal adalah tragedi, tapi tempat tinggal masih bisa dibangun lagi. Tapi kehilangan kemampuan bekerja? Lalu siapa yang akan mencari nafkah untuk mereka?

 

Itu masih masalah di masa depan. Masalah yang sekarang masih harus dihadapi. Temanku Rita masih berjuang di sana menolong keluarga-keluarga yang jadi korban, "Yang susah cari tenda Niel." Makanan masih bisa dicari. Tapi bensin juga langka jadi angkutan juga susah dicari.

 

"It would have been more frustrating if you had seen the victims of the earthquake in Pakistan" kata lelaki itu. "Take heart. The victims in Yogya don't have to face a cold winter night like in the mountain in northern Pakistan." Tapi kalau hujan? Pasti mereka menderita sekali.

 

"It's not very useful for you to get stressed over it." Katanya lagi, "It's not that I don't have heart, but the best thing is to control what you can control."  Susah untuk tidak terlibat secara emosional. Yogya begitu dekat! Yogya adalah tempat orangtuaku berasal. Aku sendiri kuliah bertahun-tahun di situ. Banyak sekali saudara, kerabat, teman dan kenalan tinggal di Yogya. Bencana di Aceh atau di Pakistan memang mengerikan juga dan menyentuh perasaan, tapi bencana di Yogya jauh lebih dekat. Aku kenal dengan orang-orang yang mengalaminya. Banyak keluarga dan kerabat rekan-rekanku terkena langsung bancana ini. Bagaimana aku bisa tidak terlalu terlibat emosional? Tapi memang benar juga sih. Tidak ada gunanya mendramatisir diri. Aku akan coba membantu sebisanya saja, dari jauh. Teman-teman Arek KAJ sudah mengumpulkan dana dan mengorganisasi pengiriman bantuan ke Yogya. Aku ikut bergabung membantu lewat situ saja.

 

Singapura, 28 Mei 2006

 

 


Posted at 06:47 pm by koeniel

geekgirl
June 18, 2006   11:35 PM PDT
 
emotionally bound by that disaster?
it's normal!
it's coz you've got compassion.
yeah, the rare thing that people have today.
good that you still have it..
Lili
June 6, 2006   11:20 PM PDT
 
mUdah2an udah gak sedih lagi yaa Mbak nil? But semua itu pasti ada hikmahnya...
ayo kita bantu sebisa kita, baik bantu secara fisik ataupun materil bahkan jg dengan doa.
Salut utk para dokter, suster dan semua sukarelawan yg bekerja keras di sana
zuki
June 1, 2006   04:03 PM PDT
 
Menyalurkan dana secara rutin mudah-mudahan bisa membantu keinginan hati untuk bisa lebih berperan.

Apa kabar? :)
Dian
May 29, 2006   01:30 AM PDT
 
duh, kasian sekali ya.

oh kaliurang tuh daerah tinggi ya ? ortunya temanku disana
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON