click picture for more photos
Pertandingan Italia lawan Amerika tadi pagi membuat aku banyak berpikir. Orang-orang ini – para pemain dan wasit – benar-benar punya jiwa tangguh.
Ambil misalnya si wasit asal Uruguay Jorge Larrionda yang mengumbar kartu merah kanan-kiri. Itu bukan hal yang mudah lho. Kartu merah punya konsekuensi besar pada tim, baik pada saat permainan itu sendiri maupun selanjutnya. Pada saat permainan jelas, dengan terkena kartu merah anggota tim jadi berkurang, dan jadi repot karena jadi kalah jumlah dengan tim lawan. Maka kekecewaan pasti besar dan wasit harus siap dicaci maki. Untung dia tidak memimpin pertandingan di
Indonesia antar dua tim Indonesia. Kalau iya, mungkin dia sudah babak belur oleh lemparan botol atau malah tonjokan langsung dari para suporter.
Untung di ajang Piala Dunia ini wasit sangat dihormati; sekontroversial apa pun keputusannya, pasti tetap dituruti. Buatku kartu merah pertama tidak kontroversial dan memang layak dikeluarkan untuk de Rossi yang menyikut McBride. Kartu merah kedua apakah pantas? Mungkin. Yang jelas kontroversial atau tidak, wasit tetap berkuasa dan keputusannya dihormati. Walaupun itu tidak akan menghentikan para kritikus untuk mengkritik wasit yang tidak disukai habis-habisan di media. Tapi si wasit Uruguay ini tidak takut, dan dengan tegas mengeluarkan kartu merah satu demi satu. Dalam sejarah Piala Dunia baru ada 3 kali pertandingan dengan 3 kartu merah seperti pertandingan selamam. Maka hebat juga dia bisa tetap yakin dengan keputusannya, walaupun keputusan itu mungkin tidak populer.
Hebat. Karena aku tidak pernah bisa begitu. Aku ini sering takut berbeda dari orang lain. Takut membuat keputusan-keputusan yang tidak populer. Takut salah, takut dikritik. Akibatnya aku jadi sering tidak bisa membuat keputusan. Betul-betul berbeda dengan si Jorge Larrionda.
De Rossi, yang diusir keluar lapangan, dan Zaccardo yang membuat gol bunuh diri, juga mungkin bisa jadi contoh ketangguhan. Kita lihat saja nanti. Pasti berat rasanya membuat kesalahan yang merugikan tim sendiri. Mereka pasti merasa tertekan, malu dan dibebani rasa bersalah. Belum lagi mereka harus menanggung kekesalan atau gerutuan para suporter tim mereka. Akankah mereka bisa tetap bermain dengan baik walaupun dibebani persoalan seperti ini? Kalau iya, berarti mereka juga tangguh, dan bisa jadi panutan buatku.
Bekerja di perusahaan konsultan seperti tempatku bekerja sekarang, kami dituntut untuk membuat keputusan demi keputusan secara mandiri, dalam waktu yang sempit dan tekanan tinggi. Maka peluang membuat kesalahan juga jadi besar. Dalam beberapa bulan pertama aku sudah beberapa kali membuat kesalahan. Wah, rasanya tertekan sekali. Setelah membuat kesalahan pertama - yang untungnya tidak begitu fatal karena sudah terdeteksi oleh seniorku sebelum sampai ke klien, tapi tetap juga membuat malu – aku sempat merasa down sekali. Tidak bisa tidur, menangis dan ingin sekali melenyapkan diri dari permukaan bumi. Susah sekali untuk bangkit selama seminggu aku jadi tidak bersemangat dan takut membuat keputusan. Aku jadi tidak bisa bekerja dengan baik.
Padahal kalau aku bisa menerima bahwa aku bersalah, lalu berjanji dan bekerja sekuat tenaga untuk tidak membuat kesalahan lagi, keadaannya akan jauh lebih baik. Seperti kata temanku, tidak ada gunanya menyembunyikan diri. Terima bahwa kesalahan sudah dibuat. Terima teguran yang diberikan. Berjanji untuk lebih teliti. Lalu bekerja dengan lebih baik dan teliti. Lupakan rasa malu dan bersalah.
Dengan kata lain, belajar dari para pemain bola tangguh itu.
Singapura 18 Juni 2006