Hari Minggu kemarin adalah kali kedua aku mengikuti Plesiran Tempo Doeloe di seputaran tempat-tempat bersejarah Jakarta, yang diadakan oleh teman-teman Sahabat Museum. Satu hal yang membuatku sempat terhenyak - ternyata kota kelahiranku ini, yang sepintas kelihatannya hanya penuh dengan mall ini, punya banyak potensi untuk menjadi tempat turisme sejarah!
Dari dulu aku memang suka berjalan-jalan 'mblusuk-mblusuk' di tempat-tempat bersejarah. Ketika teman-teman sibuk berbelanja barang-barang bermerek harga murah, aku lebih suka menyisiri jalan-jalan kota kecil Malaka di pantai barat Semenanjung Malaya dan Georgetown di Pulau Penang, atau Chinatown dan Little India di Singapura, untuk melihat perpaduan budaya Cina, Muslim, Hindu dan Eropa. Untuk memotret orang-orang yang bersembahyang di kelenteng, gedung-gedung tua bergaya kolonial, meriam-meriam tua, gereja, mesjid dan makam-makam Muslim tua. Memotret sembari menyusuri kastil dan jalan-jalan di kota-kota tua di Eropa juga sangat menyenangkan - karena di situ rasanya tokoh-tokoh dari novel-novel sejarah yang kubaca jadi seperti berlompatan keluar dari halaman-halaman buku dan berlakon langsung di depan mata.
Tapi, di negeri lahir sendiri ternyata itu tidak sering kulakukan! Selain tempat-tempat bersejarah yang high-profile seperti Prambanan, Borobudur dan Istana Ratu Boko, atau istana-istana di Yogya dan Solo, rasanya aku belum pernah melakukan turisme sejarah di negeri sendiri. Maka acara Plesiran Tempoe Doeloe di hari Minggu terakhir bulan Januari dan Februari kemarin jadi terasa menyegarkan - menambah pengetahuan. Sepulang plesiran kubeli buku Adolf Heuken, The Historical Sights of Jakarta. Tulisan Romo Heuken tentang betapa warga Jakarta tidak ingin mengenal kampung dan sejarahnya jadi terasa menyindir sekali. Maka berniatlah aku belajar tentang kota lahirku ini.
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa Jakarta memang tidak setua Beijing (+/- 300 BC), Hanoi (8M) atau Kyoto (794),tapi masih lebih tua dari ibu kota-ibu kota lain di sekitarnya seperti Bangkok (1796), Sidney (1788), Kuala Lumpur (awal abad 19) atau Singapura (1819). Menurut Heuken Jakarta tidak punya pamandangan menakjubkan seperti Hongkong, juga tidak punya istana-istana dengan patung emas seperti Bangkok, tidak punya daerah-daerah hijau di tengah kota seperti Singapura, atau keteraturan dan kehijauan seperti Kuala Lumpur, tetapi Jakarta adalah kota tua yang punya jejak sejarah, yang bila dilestarikan bisa menjadikannya kota istimewa, bukan sekedar kota modern yang hiruk pikuk dengan jejak kehidupan modern.
Dalam bayanganku, bila pemerintah, masyarakat pariwisata dan kita semua serius menyadari bahwa jejak sejarah jangan sampai terhapus, maka Jakarta bisa serius menjual pariwisata sejarah, pariwisata kota, seperti Malaka atau Georgetown. Memang mungkin secara perhitungan ekonomi hasilnya kecil dibanding apabila bangunan-bangunan tua dirombak dan diganti dengan pusat perbelanjaan, tetapi apakah kita ingin menjadi bangsa yang tidak berakar? Bila tidak ada keterikatan sejarah, maka tidak ada keterikatan emosional. Bia tidak ada keterikatan emosional, maka tidak ada cinta untuk Jakarta dari penduduknya, begitu kata Sarwono Kusumaatmaja.
Plesiran Tempo Doeloe naar Passer Baroe di bulan Januari mengajak kami selama satu jam menyusuri Pasar Baru, melihat bangunan-bangunan tua bergaya Cina dan Eropa art deco yang masih tersisa, mendengar cerita tentang pengusaha Tio Tek Hong yang jejak-jejaknya masih tersisa di Pasar Baru. Kami berkesempatan memotret Gedung Pos, Gedung Kesenian Jakarta yang punya sejarah panjang, juga sekolah Ursulin (yang adalah sekolahku dulu :P...). Kami juga disuguhi film pendek yang menggambarkan situasi kota Batavia di awal abad 20, yang sudah memiliki 'busway' versi jaman dulu - yaitu trem.
Hari Minggu kemarin Plesiran Tempo Doeloe naar Chineesche Kamp mengajak kami mengitari daerah sekitar Glodok, yang konon namanya berasal dari pelafalan lidah Cina terhadap bunyi air "grojok... grojok... grojok." Kami diajak menyusuri gang-gang sempit yang menyembunyikan keindahan Klenteng Kim Tek Ie dan Toa Sai Bio, yang tidak kalah menarik dari klenteng-klenteng di Malaka. Kami juga disuguhi pemandangan menarik sebuah gereja Katolik dengan bangunan kuno bergaya Cina, lengkap dengan inskripsi di bubungan atap. Lalu kami mampir pula di gedung SMA Negri 19, yang punya sejarah panjang. Sungguh perjalanan yang menarik untuk mencari obyek fotografi.
Menyusuri jalan-jalan di sekitarnya yang masih ditaburi di sana-sini dengan bangunan-bangunan bergaya Cina yang tua dan sayangnya banyak tidak terawat, aku jadi bisa membayangkan maraknya perdagangan dan hiruk-pikuk kehidupan kampung ini di masa lalu. Apalagi ditambah setelah itu memandangi foto-foto dan lukisan tentang daerah tersebut dari buku Heuken. Sepulang jalan-jalan, berputar-putarlah aku dengan mobil di daerah sekitar kota, menikmati detil bangunan bergaya Cina yang punya sentuhan art deco juga, diselingi gedung-gedung peninggalan pemerintahan kolonial. Betapa sesungguhnya daerah ini bisa jadi tujuan wisata yang unik dan menarik - jika didandani dan dirawat!
Begitulah, dengan acara jalan-jalan Minggu pagi yang mengalirkan banyak keringat ini maka aku jadi sedikit mengenal warisan sejarah Jakarta, dan jadi menghargai mereka-mereka yang berjuang melestarikan gedung-gedung tua warisan sejarah, tanpa banyak bantuan dari pemerintah maupun masyarakat. Aku juga jadi sangat menghargai teman-teman dari Sahabat Museum yang dengan semangat sukarelawannya sudah berkiprah dalam proses mengangkat Jakarta menjadi kota yang punya jati diri.
Jakarta, Selasa 2 Maret 2004