Sudah dua hari ini teman-teman sekantor menggodaku: apa sudah siap kedinginan, apa dengkulku tidak akan kenapa-kenapa lagi karena dingin, dan berbagai candaan lain mereka lontarkan sembari ketawa-ketawa. Kupikir ini agak menghina, lha wong walaupun manusia tropis tapi aku kan sudah pernah tinggal di negeri 4 musim. Mengalami musim dingin juga bukan cuma sekali. Musim dingin di Beijing, yang akan kukunjungi minggu depan, kupikir paling ya tidak akan jauh berbeda dengan musim dingin di Inggris atau Skotlandia.
Waktu kujawab begitu rekanku Alex, seorang insinyur perminyakan tua dari Amerika tertawa terbahak-bahak. "Try to check your itinerary," katanya sambil ngeloyor pergi. Hmmm..... langsung kucek imil dari bagian travel kemarin. Betul kok. Singapore-Beijing dengan Singapore Airlines. Eh tapi... ternyata ada lanjutannya, Beijing-Changchun dengan Air China. Hmmm...... di mana ya Changchun itu, pikirku sembari memeriksa peta dunia di dinding kamar kerjaku.
Hah!!!! Ternyata Changchun itu jauh di utara Beijing! Letaknya di tenggara Mongolia, di selatan Siberia, sejajar dengan Hokkaido di Jepang. Buru-buru kubuka internet dan kucari-cari ramalan cuaca untuk Changchun. Gedubrak krompyang!!!!! Suhu siang hari minggu ini berkisar antara MINUS 3 sampai MINUS 9 derajat celcius. Suhu malam hari terendah adalah minus 18 derajat celcius. Pantas bosku kemarin sambil ketawa-ketawa bertanya apa aku sudah menyiapkan baju-baju tebal!
Setelah kucek lagi, ternyata sebetulnya Beijing juga jauh lebih dingin dari Aberdeen (lihat tabel di bawah), jadi musim dingin di Cina lebih parah daripada musim dingin di Inggris. Padahal posisi Inggris dan Skotlandia jauh lebih utara dibanding Beijing dan Changchun sekalipun. Tapi ya memang sudah diajarkan di pelajaran geografi toh, ini karena kepulauan Inggris 'dihangatkan' oleh Gulf Stream. Sementara daratan Cina jauh dari arus hangat semacam itu. Padahal Aberdeenpun suddah dingin banget menurutku. Apalagi Changchun? Huh, minus 9 di siang hari. Seperti apa ya rasanya.
Tidak lama kolega lain dari Australia lewat dan melihatku melamun memandangi peta negri Cina dia tertawa, lalu bertanya apa aku sudah membaca proposal dengan teliti. Kujawab belum, karena aku juga baru menerima detil proyek ini kemarin dan aku masih terlibat proyek yang lain. Dia tertawa terkikik-kikik sambil mengatakan bahwa akan ada kunjungan lapangan dalam perjalananku.
Hah? Kunjungan lapangan di suhu di bawah nol?!?! Teman lain dari Inggris mendekati dan berkata, "Sebetulnya suhu di bawah nol itu tidak apa-apa. Kamu sudah mengalami suhu mendekati nol kan?" Kujawab ya, sewaktu aku tinggal di Inggris dulu di musim dingin sempat suhu terendah siang hari mencapai 4 derajat celcius, malam hari bisa 2 derajat. "Yah, tidak jauh beda," Katanya lagi. Baru lega sedikit, dia berkata lagi, "Tapi, anginnya itu lho. Anginnya bisa menurunkan suhu jadi jauuuuh lebih dingin dari cuma minus tujuh atau sembilan." Lalu mereka berdua pergi sambil tertawa-tawa.
Bah, ternyata itu sebabnya aku jadi bahan tertawaan. Yang lain rupanya tidak ingin pergi ke sana, jadi pekerjaan ini dilemparkanlah kepada si junior penurut yang tidak pernah menolak proyek apapun. Bah! Bah! Bah!
