Wednesday, March 07, 2007
Negeri Bencana

 click for more photos

Kemarin Singapura ikut goncang sewaktu gempa di Solok terjadi, karena getarannya terasa sampai ke sini. Pagi ini koran dipasangi foto besar bergambar rumah-rumah yang hancur di tanah Sumatra. Lalu sekarang ada lagi berita pesawat terbakar di Yogya. Pasti besok di koran Singapura ada lagi berita tentang tanah airku, negeri yang sering sekali dirundung bencana.

Seperti biasa, berita tentang tanah air di koran internasional kebanyakan ada hubungannya dengan bencana. Akhir-akhir ini saja banyak sekali headlines dari Indonesia. Mulai dari tsunami Aceh Desember 2004, gempa Nias Maret 2005, lalu ada gempa di Yogya Mei 2006, gempa dan tsunami Pangandaran juli 2006, awan panas dari Merapi, banjir lumpur LUSI, banjir besar Jakarta, banjir lahar dari Merapi, tanah longsor di mana-mana, sampai feri terbakar, feri tenggelam, kereta terguling dan pesawat jatuh. Lalu sekarang gempa Solok dan pesawat terbakar. Jangan lupa berita bom dan teroris dari beberapa tahun yang lalu. Pokoknya Indonesia itu terkenal dengan bencana-bencananya.

Ada teman yang habis mendengar berita tentang terbakarnya pesawat Garuda tadi pagi langsung bersujud dan memohon ampun pada Tuhan dan meminta supaya bangsa ini jangan dihukum terus-menerus dengan bencana. Lho kok jadi menyalahkan Tuhan. Lho tapi anugrah dan bencana itu kan adalah kehendakNya, sanggah dia. Ah, aku tidak ingin berdebat soal itu, lebih baik kita lihat dulu, kenapa bencana-bencana itu terjadi dan apa peran manusia di dalamnya dan apa yang bisa dilakukan.

Kalau dilihat secara garis besar kupikir ada tiga kelompok bencana di sini: bencana alam, bencana alam dengan campur tangan manusia dan bencana akibat kelalaian atau ulah manusia.

Di kelompok pertama ada gempa, tsunami, gunung meletus, banjir lahar. Ini sebetulnya kejadian alam biasa, yang didasari hukum-hukum dan proses-proses alam. Karena posisi geologisnya yang berada di pertemuan lempeng, kepulauan Nusantara memang sejak dulu rawan terhadap bahaya alam atau natural hazard semacam ini - gempa, tsunami, gunung meletus. Kejadian alam yang biasa terjadi ini lalu jadi bencana alam atau natural disaster setelah manusia datang dan hidup di Nusantara lalu menjadi korban dalam kejadian alam itu.

Apa yang bisa dilakukan untuk ini? Untuk menghalangi terjadinya natural hazard ya tidak bisa. Memang sudah bagian dari proses alam. Supaya natural hazard tidak menjadi bencana dalam arti tidak memakan hidup manusia dan harta benda dibutuhkan kebijakan tata ruang supaya tidak terlalu banyak penduduk tinggal di daerah berpotensi bencana, dan manajemen bencana, sistem peringatan dini serta pendidikan pada masyarakat supaya bisa menghindarkan diri dari bencana.

Tipe kedua sebetulnya juga kejadian alam, tapi disebabkan atau diperparah oleh manusia. Misalnya longsor, banjir besar di Jakarta dan semburan lumpur LUSI. Longsor sebetulnya kejadian alam biasa. Kalau ada lereng yang terlalu curam dengan batuan yang tidak stabil ya akan terjadi longsor. Longsor bisa disebabkan oleh curah hujan yang tinggi atau gempa, tapi seringkali longsor juga disebabkan oleh ulah manusia yang dengan rakusnya menggunduli bukit-bukit dari pepohonan.

Banjir semacam di Jakarta atau Semarang bagian utara memang bisa digolongkan kejadian alam biasa. Karena posisinya memang hanya sedikit di atas permukaan air laut atau malah lebih rendah dan dilewati banyak sungai, maka kalau air laut sedang pasang tinggi, lalu curah hujan juga tinggi banjir memang akan datang. Tapi banjir besar di Jakarta bukan hanya akibat pasang dan curah hujan tinggi. Seandainya Jakarta punya banyak daerah resapan, seandainya daerah hulu sungai-sungai yang melewati Jakarta tidak digunduli dengan rakusnya, seandainya Jakarta punya sistem drainase yang memadai dan seandainya sungai-sungai Jakarta tidak dipenuhi sampah, rasanya banjir Jakarta bisa lebih dikendalikan.

Banjir lumpur di sekitar areal pemboran Lapindo yang banyak menimbulkan kontroversi dan perdebatan di antara para ahli kebumian itu, kalau menurutku masuk dalam kategori kedua ini. Karena sebetulnya mud volcano adalah kejadian alam biasa. Hanya yang ini kebetulan terpicu oleh kegiatan pemboran walaupun ada yang mengganggap kejadian ini ditimbulkan oleh gempa Yogya.

Lalu apa yang bisa dilakukan dalam hal ini? Sama seperti untuk tipe pertama, di sini diperlukan kebijakan tata ruang yang memperhatikan keseimbangan alam dan hukum harus ditegakkan. Jangan hanya karena rakus dan mengatasnamakan 'pembangunan' lalu semua ruang terbuka dan pepohonan disikat habis diganti bangunan.

Tipe ketiga, bencana yang disebabkan ulah atau kelalaian manusia sudah banyak contohnya di bumi Nusantara tercinta. Feri terbakar, feri tenggelam, kereta terbalik, pesawat jatuh, pesawat terbakar. Panjang daftarnya. Memang kemungkinan ada faktor alam juga yang ikut berperan - badai, cuaca buruk, hujan lebat bisa membuat feri tenggelam, kereta terguling atau pesawat tergelincir. Tidak bermaksud mendahului para penyelidik dari Komite Nasional Keamanan Transportasi, tapi rasa-rasanya kita sudah bisa melihat bahwa salah satu sebab yang harus dicurigai adalah rendahnya standar keselamatan transportasi di Indonesia. Karena tidak ada standar yang ketat, pengawasan kurang dan hukum lemah, operator sarana transportasi bisa mengoperasikan kapal, kereta dan pesawat dengan faktor keselamatan yang diabaikan, demi menghemat biaya atau memang tidak punya biaya.

Dalam hal ini tentu banyak sekali yang bisa dilakukan. Memperbaiki standar, meningkatkan pengawasan, menegakkan hukum, memperbaiki tingkat pendidikan.

Buatku, sebelum kita sibuk mencari-cari makna dibalik bencana yang menimpa Indonesia lalu menyalahkan hal-hal lain di luar diri kita, sebaiknya kita berkaca dan meneliti apa yang sudah dan belum kita lakukan atau apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Rasanya dari sini sudah ketahuan bahwa sumber bencana itu adalah manusia sendiri atau kalau seandainya bukan kita ya sebetulnya kita bisa mengurangi dampaknya.

Singapura, 7 Maret 2007

PS:

kalau mau tau lebih banyak lagi tentang bencana alam kunjungi blog temanku ini: http://rovicky.wordpress.com

 

 


 


Posted at 10:31 pm by koeniel

mpokb
March 8, 2007   06:09 PM PST
 
karakter manusia juga terbentuk oleh lingkungan tempat tinggalnya. iklim indonesia yg cenderung adem ayem dan nyaman, ditambah penerapan regulasi yg kedodoran, membuat kita jadi bangsa ceroboh. hidup di iklim ekstrem, dengan suhu minus sekian di bawah nol, misalnya, membuat manusia jadi lebih waswas terhadap bahaya. kita? bahkan setelah banjir berkali2 pun, masih sulit untuk mengubah kebiasaan.. jangan2, kita ini bangsa masokis.. :P
Since
March 8, 2007   05:11 PM PST
 
Itu dia. Bangsa ini sudah tercuci otaknya dengan kalimat "hukuman dari Tuhan", dan termanja dengan kata-kata "cobaan dari Tuhan".

Well, mulai dari diri sendiri, walaupun itu termasuk juga sebuah perjuangan.
dewipraz
March 8, 2007   04:28 PM PST
 
iya..
serem bnaget ya sekarang banyak musibah...
geekgirl
March 8, 2007   01:21 PM PST
 
iya lumayan nih baca blog pak rovicky itu.. sejak jaman gempa jogja dulu itu.. banyak info menarik..
buderfly
March 8, 2007   08:05 AM PST
 
Intinya, sebagian besar bencana mungkin karena akumulasi ulah manusia, sebagian lagi mungkin karena umur bumi yang makin tua ya Niel?

Dan setuju, memulai perbaikan dari diri sendiri...

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON