Monday, March 12, 2007
Miskin

 click picture for more photos

Beberapa waktu lalu boks dekoder tv kabelku njeblug. Besoknya seorang teknisi datang mengganti. Teknisi ini seorang lelaki yang kelihatannya berumur hampir lima puluh tahunan. Kalau di Jakarta biasanya dia akan kita panggil Bapak, tapi di Singapura biasanya mereka disapa dengan panggilan 'Uncle' alias Paman.

Si Paman bekerja cekatan mengganti boks digital itu. Lalu sembari menunggu saluran tersambung kembali beliau membuka obrolan. "You Malaysian?" Bukan, kujawab, kukatakan aku dari Indonesia. Berapa lama sudah tinggal di sini, tanyanya lagi. Kujawab setahun lebih sedikit.

Lalu dia bertanya lagi,"You like Singapore? You think life good here?"  Ya tentunya kujawab iya. Pertama karena memang menurutku hidup di sini menyenangkan. Kedua sebagai tamu (bagaimanapun juga aku, seorang Indonesia, ya masih tamu toh di Singapura) demi kesopanan kupikir kita juga harus menyenangkan tuan rumah toh? Seandainya aku sebal sekali tinggal di sini pun pasti akan kujawab ya, life's good here. Soalnya aku sudah beberapa kali bertemu teman ekspatriat yang tinggal di Jakarta tapi lalu menjelek-jelekkan Jakarta dan menyatakan bahwa kehidupan di Jakarta itu menyebalkan sekali. Kesal kan, mendengar yang begitu? Biasanya kusahuti, ya sudah kalau tidak senang tinggal di sini pulang saja ke kampungmu sana.

Oke balik ke cerita semula. Kujawab bahwa ya, life is good in Singapore. Kupikir dia akan senang karena bangga akan negerinya. Ternyata tidak. Jawaban itu meluncurkan sebuah monolog panjang dan lebar dan berapi-api dalam bahasa Singlish yang kadang tidak kupahami dengan baik.

"You think life good here ha? You think life easy here ha? Only because you foreigner lah. You live alone in a condo ha you have cable tv ha. You must have very good salary lah. That's why you think life good in Singapore ha. For us local we must work hard lah and salary very low low. For us life not good lah.... bla bla bla..."  Panjang deh pokoknya, dengan suara keras menggebu-gebu seperti marah. Aku harus bolak-balik mengingatkan diri bahwa kebanyakan uncle dan auntie di sini memang bersuara keras seperti membentak-bentak, pun saat berbicara biasa. Cukup mengagetkan buat orang Jawa sepertiku, tapi di sini itu biasa.

Lalu dia tiba-tiba bertanya,"What you think ha the difference between rich and poor in here ha?" Karena takut dia semakin terprovokasi aku menjawab tidak tahu. "You must know lah, you can guess lah. Come, guess. How many time rich people's income compared to us ha?" Aku tetap menjawab tidak tahu tapi beliau memaksa terus, lalu akhirnya kujawab bahwa berapapun pasti masih jauh lebih kecil dibanding dengan perbedaan di Indonesia.

Wah, jawaban yang salah, karena dia langsung meledak lagi."You think normal Singaporean better than Indonesian ha? No lah. No lah. Same situation here and there lah. You think Indonesians poorer ha? No lah. Singaporeans poor too.... bla bla bla.... Many Indonesians very rich lah, you want example ha? Here an example ha. You rich, I'm poorer than you...bla bla bla..."

Waduh, belum pernah aku diserang seperti ini. Jadi teringat teman-teman ekspatriat di Jakarta, mereka dulu juga sering mengeluh karena teman-teman Indonesia sering menyindir tentang betapa orang asing dibayar berlebihan, jauh lebih banyak daripada pekerja lokal. Pasti begini rasanya. Dalam hati dongkol juga sih. Lho kan bukan salahku kalau negerimu nggak punya ahli-ahli teknis perminyakan. Lha bukan salahku juga kan kalau aku dibayar lebih tinggi untuk biaya berada jauh dari kampung halaman. Persis seperti jawaban teman-teman ekspatriat dulu.

Tapi aku tidak betul-betul kesal padanya. Malah kasihan. Pasti dia sedang bingung, tidak punya uang. Mungkin anaknya ada yang sakit. Walaupun dibantu subsidi dan asuransi, mereka tetap harus membayar biaya kesehatan, tidak gratis seperti di Eropa yang biaya kesehatannya ditanggung pemerintah. Atau anak-anaknya butuh les ini itu yang mahal harganya tapi penting supaya bisa bersaing. Memang di Singapura ini bukannya tidak ada orang miskin. Banyak sekali uncle dan auntie yang sudah sangat tua tapi masih harus bekerja keras. Di depan pintu stasiun MRT dekat kantor ada seorang paman tua yang setiap hari mengumpulkan koran bekas. Badannya yang sudah bungkuk jadi makin bungkuk menjinjing tas-tas plastik berisi koran bekas.

Tapi semiskin-miskinnya mereka setidaknya masih punya pekerjaan dan tempat tinggal, tidak seperti di Indonesia. Lalu pemerintahnya juga perhatian sekali, memberikan subsidi untuk orang miskin yang betul-betul sampai ke tangan mereka. Ada temanku sesama warga Indonesia yang bekerja di sini yang bilang bahwa dia lebih suka menyumbang di Indonesia dibanding di sini, karena di Indonesia lebih banyak orang yang butuh bantuan dan di Indonesia pemerintahnya tidak bisa diharapkan jadi rakyat harus saling membantu sendiri.

Sementara pikiranku melayang si Paman masih sibuk menyerocos tentang susahnya hidup di sini. Waktu si Paman menarik nafas kusela, kukatakan di Indonesia banyak orang tidak punya rumah sehingga mereka perlu tidur di kolong jembatan atau bantaran sungai, sedang di Singapura kulihat tidak ada gelandangan, karena pemerintah membantu rakyatnya untuk punya tempat tinggal. Wah, dia semakin marah, mukanya memerah dan urat-urat lehernya terlihat. Tapi kali ini kemarahannya tertuju kepada tingginya harga tempat tinggal. Katanya walaupun kebijakan pemerintah membuat semua orang bisa punya tempat tinggal tapi harga sebuah unit rusun (yang di sini disebut HDB) tetap tinggi, sehingga mereka harus membayarnya seumur hidup.

Langsung kusela kubilang bahwa paling tidak dia memiliki sendiri tempat tinggalnya, tidak cuma menyewa seperti aku. Dan kalau harga rumah sangat tinggi tapi dia tetap punya rumah, berarti dia cukup kaya. Nadanya langsung menurun sedikit lalu sambil tertawa dia bilang bahwa sebetulnya dirinya bernilai sedikitnya seperempat juta dolar Singapura, karena itulah harga unit HDBnya. Langsung kusambut, wah paman, berarti anda kaya kan. Itu kan jumlah yang banyak sekali. Kubilang aku tidak akan mampu membeli tempat tinggal seharga itu.

Dia menarik nafas panjang lalu berkata bahwa walaupun sebetulnya dia punya kekayaan sejumlah itu, tapi kekayaan itu terikat dalam bentuk rumah, dan dia tidak punya uang tunai. Uang tunai hanya cukup untuk hidup dari hari ke hari dan menyekolahkan anak-anaknya. Dan dia kuatir anak-anaknya nanti bahkan untuk membeli rumahpun tidak akan mampu. Karena harga sebuah unit HDB makin mahal saja dari tahun ke tahun. Mungkin dia harus menang lotere supaya anak-anaknya bisa hidup layak. Lalu dia melamun. Kubiarkan saja dia melamun.

Kadang kupikir apa aku mesti merasa bersalah karena punya hidup lebih baik dari orang lain. Aku ingat dulu seorng teman bilang,"Nggak usah merasa bersalah. Lu kan punya duit bukan hasil nyuri ato nipu. Ya kalo ada orang susah lu bantuin, sumbanglah tu orang yang butuh sana sini. Abis itu ya udah, lo udah melakukan peranlo di dunia. Cukup. Toh kita gak mungkin bantu semua orang." Yah, wajar juga jawaban temanku itu.

Tidak lama kemudian saluran tv sudah tersambung kembali. Lalu sambil menggeleng melepas diri dari lamunan dia menyodorkan surat untuk kutandatangani. Tapi sambil melangkah keluar dia berkata lagi, "You believe me now lah. Indonesians not poorer than Singaporeans lah. Singaporeans poor too."

Apa yang bisa kukatakan padanya selain ya, dan bahwa aku berharap suatu hari dia akan menang lotere?

Singapura, 12 March 2007


 


Posted at 02:58 pm by koeniel

niken
April 12, 2007   09:05 PM PDT
 
halo, i think the main idea tulisannya adalah, Singapore dan Indonesia sama2 ada orang miskinnya.Jadi kalo ada beberapa orang yang berpikiran untuk pindah ke Singapore (atau kemanapun)karena ingin meningkatkan taraf hidup yah sebaiknya pikir2 lagi (apalagi setelah membaca tulisa ini). karena ternyata Indonesia sama Singapore sama aja, sama2 ada orang miskinnya.

udah lama gak ke blog ini, selalu belajar sesuatu kalo baca blog ini. Good blog!

Thankie
andini
March 22, 2007   04:20 PM PDT
 
mba.., pa kabar ni..?
apa waktu liputan ttg negeri kita hanya ngebahas tingkat korupsi aja kali ya..? atau dari sinetron or film indo yg nggak membumi?
trus kriminalitas or bencana apa lewat begitu saja..?

aku pikir si uncle emg nggak pernah nge update ttg indo. krn memang mutlak perbandingan jumlah serta tingkat kesenjangan lebih parah di indo..
zuki
March 21, 2007   06:50 PM PDT
 
fotonya cakep banget ... :)
rini
March 17, 2007   01:40 PM PDT
 
gua enjoy banget baca posting ini.

terang aja si uncle sewot, orang indo yg seliweran di singapore ho ho ho tajir-tajir!!!
Holly
March 16, 2007   01:44 PM PDT
 
Lama sekali aku tidak mampir kesini, terakhir aku baca waktu Koenil baru di singapore, dan ibu bapak datang berkunjung, nggak kerasa sudah hampir setahun ya.. pakabar nih...
aku baca baca dulu deh ya..banyak cerita menarik kayaknya nih :)
PF
March 16, 2007   12:17 PM PDT
 
hello, salam kenal. Dapet link nya dari comment yg di post ke blog fecelin :-). btw, cara berceritanya enak banget loh. thanks for sharing.

S7 sama comment diatas, mereka liatnya orang Indonesia yg ada disini soalnya, turis/PR/EP, yg rata2 single/keluarga muda dan punya skill sehingga bisa punya income lebih dari si uncle. Perbandingannya udah salah. Kalau si uncle dah pernah ke indonesia dan ngeliat sendiri gimana yg poor itu bener2 poor baru deh, si uncle bisa lebih bersyukur dengan kehidupannya yg sekarang, punya pemerintah yg care (bukan hanya kata2, betul2 ada program/subsidi2 dll).

S7 memang, bahwa berat buat manula (lebih2 yg dari muda sampai tua selalu pas2an). kalau hidup sendiri tanpa support dari anak/saudara. Dimana pun.

Spore vs Indonesia? Sudah pasti di Indonesia lebih berat. Tapi mereka lebih tahan banting karena sudah terbiasa menderita (hiks...), dan mungkin rata2 tidak berumur panjang? (Habis kalau gak ada uang kalau sakit gimana bisa berobat? Dan selain cara halal, ADA jg yg ambil jalan pintas berbuat kejahatan (tapi ini yg muda2 ya), kemungkinannya ya masuk penjara bertahun2/terbunuh (jadi gak sempet tua kan...). Salut buat yg walau poor tapi tetep semangat hidup, kerja halal, dan tetap bersyukur (bahkan ADA yg masih bisa MEMBERI dari yang sedikit yg dia miliki ke orang lain, dan gotong royong).

Sementara di Spore pada sehat2, aman2, jadi sampai tua masih tetep hidup, dan tetap harus BEKERJA (tidak ada dana pensiun dari CPF karena dari muda pas2an dan tidak contribute CPF). Padahal justru si uncle sangat beruntung, masih ada LAPANGAN PEKERJAAN di Spore. Di Indonesia mereka tidak keberatan walau 'harus' bekerja. Justru banyak yang bersedia/setengah mati INGIN PUNYA PEKERJAAN, tapi tidak ada lapangan pekerjaan yg tersedia. Jangankan untuk manula, yang muda2 berijasah aja susah dapat pekerjaan. Ya kan?

Jadiiii.... kalau kita liat para orang tua bekerja di Spore, ada 2 sisi mata uang: #1. kasian sudah tua2 masih bekerja -gak salah untuk punya perasaan kasian kepada mereka, apapun status sosialnya, seharusnya manula sudah bisa beristirahat- #2. mereka beruntung, sudah tua tapi masih bisa mempunyai pekerjaan (untuk bisa punya sudut pandang#2, syaratnya jangan dibandingkan dengan para orang tua di Indonesia menengah ke atas, tapi bandingkan dengan para orang2tua dari yg poor juga).

Btw, tidak semua Sporean berpendapat seperti uncle ini, ada juga yang memang maunya tetap bekerja. Mereka merasa lebih mandiri dan berguna kalau tetap bekerja, walau ada anak2 yg support. Tapi memang lebih enak kalau kita sudah tua, mau bekerja atau tidak bisa memilih. Bukan HARUS bekerja supaya bisa hidup. Jadi selagi kita masih muda dan diberi kesempatan menata hidup, yuuk... (tahu dong mesti ngapain hiih....)

Btw, walau setelah si uncle menggerutu, pasti dia jadi legaaaaaa.... udah keluarin unek2 ke koeniel hehe...
Tiwi/Miniez
March 14, 2007   03:21 PM PDT
 
makasih Koenil udah sudi mampir tempatku...

nimbrung deh ya, kalo di Belanda sih tiap orang tetep bayar asuransi kesehatan loh, bayar pajak juga tinggi. cuman soal kesenjangan engga gede kek di Indo. bahkan pelarian2 dari negara perang pada dikasih subsidi dan tinggal di panti, yang homeless dikasih tunjangan juga. Ya itu semua dari bayaran pajak penduduknya.
neng santhy
March 14, 2007   01:15 PM PDT
 
Sepakat dengan Indra, di setiap negara pasti akan selaul ada org miskin. Esensinya sih... gmn cara bersyukur di tengah-tengah keterbatasan :)
Btw, salah satu kalimat yg paling aku suka adalah bhw kita gak mesti merasa bersalah kalo punya kehidupan yg lebih baik. Sepakat... :)
Sirik tanda tak mampu hehehehe. Si uncle mah sirik kali... halah!
mpokb
March 14, 2007   12:59 PM PDT
 
si paman bisa bicara begitu, mungkin karena liat sebagian orang indonesia di singapura banyak yg kaya.. apalagi denger2 banyak koruptor kabur ke sono.. :D gini aja, gimana kalo si paman diajak berlibur ke indonesia. liat kondisi sesungguhnya, betapa njomplangnya.. dan betapa tidak terjaminnya hidup sebagai fakir miskin - sekalipun kata uud '45, fakir miskin dipelihara oleh negara :(..
nila
March 14, 2007   07:41 AM PDT
 
hahahaha...dialog yg melelahkan tapi membuat kita berpikir....
jangan selalu berpikir negeri sendiri lebih miskin dari negeri org...
kadang kita harus bersyukur jd org indo...
bukan begitu auntie?

thx for coming & comment yak...
arief
March 13, 2007   10:56 AM PDT
 
Di negeri yg kapitalisme-nya sudah kelewatan spt Singapura, wong cilik lebih gak bisa ngapa2in terutama dalam hal pendapatan. Untung pemerintahnya masih baik: orang "dipaksa" punya HDB lewat CPF, biaya kesehatan dipotong dari Medisave. Di sini, orang Cina bilang bu pien (no choice) mengenai rendahnya pendapatan - ini bentuk nrimo juga; kalo kebiasaan nggrundel ini mmg ciri Singaporean, apa2 ya mengeluh. Sampeyan wis bener, dirungokno ae, didungakno entuk lotere hehe ....
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON