tentang kesadaran & kendali diri
Tulisan ini memang oleh-oleh dari dasar kolam. Tepatnya dasar kolam renang Cilandak Sport Centre, di belakang Citos, tempat hura-hura favoritku. Memang benar-benar dari dasar kolam, bukan dari permukaan atau pinggirannya. Yaitu dari pengalaman menelusuri sudut-sudut dan dasar kolam seperti ikan selama 4 jam. Walaupun, oleh-oleh sebenarnya baru terbentuk setelah kemudian aku duduk melamun di tepinya sambil menikmati malam dan menyeruput teh panas. Ya, lamunan ini lahir setelah pengalaman pertama berlatih 'SCUBA diving' alias menyelam di dasar kolam. Ada dua hal yang buatku sangat mengesan, yaitu - perubahan total dan kesadaran, serta takut dan kendali diri.
Perubahan total, betul-betul perubahan totallah yang kualami pada latihan pertama itu. Aku harus mengubah total kebiasaan bernafas - menarik dan menghembus udara - melalui hidung, menjadi bernafas melalui mulut. Ah gampang, kata temanku yang jago berenang tapi belum pernah menyelam. Tapi tidak buatku. Karena mengubah kebiasaan tidaklah mudah. Manusia itu harus diakui banyak bergantung pada 'habit', kebiasaan.
Dan mengubah kebiasaan tidaklah mudah, apa lagi kebiasaan yang sudah menyangkut refleks mempertahankan hidup. Tanpa bernafas manusia akan mati, maka daya pertahanan hidup menggariskan bahwa otak kita pasti memerintahkan otot-otot dan peralatan nafas kita untuk selalu melakukan kegiatan itu, tanpa perlu diperintah oleh kesadaran. Maka secara refleks nafas dilakukan, dan karena kita hidup merenangi udara, maka bernafas dilakukan melalui hidung. Tidak mudah mengubahnya menjadi kegiatan bernafas melalui mulut. Apalagi karena di dalam kegiatan menyelam masih diperlukan kegiatan meniupkan udara melalui hidung - tapi menyedot udara melalui hidung tetap terlarang, karena airlah yang bisa tersedot hhkkk.... srkkk.......uhuk...uhuk...
Maka untuk itu betul-betul kesadaranlah yang jadi salah satu senjata utama selama menelusuri dasar kolam. Selama berjam-jam merambahi dasar kolam, kesadaran jadi kunci. Pikiran harus tetap fokus. Lamunan terlarang untuk datang. Khayalan yang biasanya memenuhi hari-hariku harus ditinggal terkunci rapat di balik gudang otak. Sadar. Atur nafas. Tarik, buang, tarik, buang, tarik, buang. Semua melalui mulut. Ketika alat nafas - saluran udara penyambung nyawa itu - harus dilepas di bawah air, juga kesadaran yang diperlukan. Fokus, buang nafas pelan-pelan melalui mulut. Cari alat nafas yang copot tadi. Pasang lagi, tiup melalui mulut. Tarik nafas melalui mulut. Mulut. Mulut. Mulut. Ketika masker berembun tarik sedikit bagian atas, biarkan air masuk memenuhi masker lalu tekan bagian atas lalu tiup udara keras-keras melalui hidung supaya air keluar. Tiup keras. Tapi INGAT, setelah itu tarik nafas melalui mulut. MULUT. Bukan hidung. Konsentrasi. Fokus. Konsentrasi. Mulut. Tarik, tiup. Mulut. Tarik, tiup. Fokus.
Dalam kehidupan sehari-hari aku adalah orang yang sangat pelupa. Sudah sering aku dikritik - kurang konsentrasi! Kurang kesadaran. Memang harus kuakui, aku terlalu banyak melamun. Membiarkan otak melayang-layang terbawa mimpi atau arus pikiran. Akibatnya telepon genggam tertinggal, kacamata hilang, dompet tertinggal. Aku juga manusia yang sangat tergantung kebiasaaan, yang menggantikan kesadaran untuk mengarahkanku selama pikiranku melayang. Sehari-hari membawa mobil ke dan dari kantor melalui jalur yang selalu sama, sehingga kadang ketika hendak melakukan hal yang lain - semisal harus mampir berbelanja di Carrefour - karena melamun, jadi belokan yang harusnya diambil sudah terlewati. Grrrhhhh....... Salahku sendiri.
Maka latihan menyelam jadi terapi yang baik juga untukku. Karena selama 4 jam aku berlatih tanpa kehilangan kesadaran pikiran, selalu konsentrasi, fokus pada berbagai kegiatan rumit yang harus dilakukan demi keselamatan di bawah air. Nafas melalui mulut, tarik, tiup, tarik, tiup. Kuping sakit, auw, maka lakukan 'equalisation' alias penyeimbangan tekanan antara rongga-rongga di kepala dengan tekanan air. Sambil jangan lupa tarik, tiup lewat mulut. Masker berembun. Bersihkan, tiup udara lewat hidung tapi tarik nafas lewat mulut. Cek kawan. Cek kedalaman. Cek tekanan gas. Nafas lewat mulut, tarik-tiup. Menabrak dasar kolam auch.... Kembungkan pelampung sedikit. Jaga supaya badan tidak langsung melesat ke permukaan. Tenang. Tarik-tiup.... Terapi yang baik, terapi kesadaran.
Senjata utama yang lain yang diperlukan ketika menyelam adalah kendali diri. 'SCUBA diving' bukanlah sekedar 'snorkeling' yang sudah biasa aku lakukan. Ketika ber-snorkeling kalau kita kesulitan bernafas yang perlu dilakukan adalah menyembulkan kepala ke permukaan maka udara yang bersahabatlah yang dijumpai. Tapi saat menyelam tidak akan ada lagi kemewahan itu. Udara hanya akan datang dari tabung bertekanan di pundak, melalui selang nafas. Selang nafas bisa tersenggol dan terlepas. Masker dan hidung bisa penuh terisi air. Dan air yang berkerapatan jauh lebih besar dari udara mengantar gelombang suara lebih cepat, sehingga suara terdengar keras, aneh dan tidak tentu arah. Air dengan kerapatan tinggi juga membuat pandangan terdistorsi. Benda-benda jadi lebih besar, jadi lebih dekat. Teman yang terlihat bisa diraih ternyata masih jauh. Semua begitu berbeda dan menakutkan. Membuat takut. Panik. Tapi takut dan panik adalah musuh terutama. Maka, aku berlatih untuk tenang. Mengandalikan diri dan pikiran. Berhenti untuk tenang, bernafas. Berpikir. Jangan terbawa panik. Tenang. Ini adalah terapi yang bagus untukku yang sangat emosional ini. Yang gampang panik, marah dan bersumpah serapah, ketika menyetir misalnya. Berhenti, bernafas, tenang, berpikir. Terapi bagus.
Maka, selain memenuhi nafsu berpetualangku, maka latihan menyelam ini juga sebetulnya memberikan dua terapi bagus - melatih kesadaran dan kendali diri. Berguna buat hidupku sehari-hari. Setelah berhasil mengendalikan rasa takut dan berkonsentrasi penuh selama 4 jam, dari pinggir kolam aku tersenyum. Mengingat sulitnya berenang di dasar kolam. Mengembungkan dan mengempiskan pelampung, menjaga supaya tidak terantuk dasar, tapi juga tidak melesat ke permukaan. Atau supaya tidak terguling ketika membelok. Menjaga keseimbangan dan arah. Aku jadi bisa mengapresiasi sulitnya Harry Potter dan Ron Weasley belajar terbang di sapu terbang :) Dan ternyata menjadi Deni Manusia Ikan atau si Mark Harris the Man from Atlantis tidaklah mudah........
Cilandak, Kamis 18 Maret 2004