Monday, April 30, 2007
Untuk Pak Ton

 

Namanya Wartono Rahardjo, tapi kami semua memanggilnya Pak Ton. Kulitnya hitam, perawakannya 'subur' tapi walaupun begitu beliau aktiif sekali, senang sekali field trip dan pergi ke lapangan. Beliau dosen di Jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada. Beliau dulu dosen pembimbingku. Banyak betul bantuan Pak Ton buatku. Maka waktu ada permintaan untuk menulis sesuatu tentang dan untuk beliau, buru-buru kupenuhi. Rupanya Pak Ton sebentar lagi pensiun, purna tugas. Dan koleganya serta bekas-bekas muridnya ingin membuat sebuah buku kenangan tentang dan untuk beliau, salah satu isinya adalah semacam yang kutulis berikut ini.....

----------------

Manusia itu perlu belajar mengenali dirinya sendiri; dan hampir selalu
kita belajar mengenali diri sendiri dari orang-orang yang berhubungan
dengan kita. Nah, dalam hidupku, dalam prosesku mengenali diri
sendiri, Pak Ton adalah salah satu dari orang-orang seperti itu.

Karena beliau adalah dosen favoritku, maka tanpa berpikir dua kali aku
mohon beliau untuk jadi dosen pembimbing. Padahal orang-orang sudah
bilang - jadi anak bimbingan Pak Ton tu nggak gampang loh! Harus kerja
keras. Ah ya tidak apa-apalah. Aku sih tidak takut untuk kerja keras.
Begitu tadinya pikirku.

Ternyata setelah mulai menjalankan Tugas Akhir, terasa betul tidak
gampangnya dan harus kerja kerasnya. Memang pemetaan lapangan bukan
'forte'ku. Ada orang-orang yang bagus sekali dalam pekerjaan lapangan
– mata tajam 'membaca' singkapan. Sementara aku bukan yang semodel
begitu. Di lapangannya sih suka – tapi kalau di lapangan sambil
bekerja? Wah! Begitulah maka pemetaanku jadi tersendat-sendat. Setelah
pemetaan selesai, rasanya sulit sekali untuk menganalisis data dan
mensintesiskannya jadi sebuah peta geologi dengan kisah geologi yang
lengkap yang cukup memuaskan beliau. Baru satu bab diajukan,
coretan-coretan sudah banyak sekali. Itu sih tidak apa-apa, karena
coretan-coretan beliau betul-betul membantu. Tapi
pertanyaan-pertanyaan beliau yang tak bisa kujawab itu?

Dan selanjutnya aku tersandung oleh kesulitanku sendiri dalam
menganalisis data dan membangun sejarah geologi. Rasanya tidak ada
fakta yang 'sambung', tidak ada yang bisa dirangkai. Buntu. Sampai
putus asa, takut, sebal dan kesal pada segala yang berhubungan dengan
TA, dan aku melarikan diri. Sibuk naik gunung atau mancing di tebing
Wonosari. Berbulan-bulan semua dokumen TA tersimpan di dalam lemari,
tidak tersentuh. Kalau ada yang bertanya tentang TA aku menutup
kuping.

Sampai tiba-tiba suatu hari ada pesan: 'Nil, lu dicari sama Pak Ton.
Penting banget.' Waduh! Setelah memberani-beranikan diri akhirnya
sampai juga ke depan kantor beliau. Tapi beliau tidak ada. Hanya ada
kertas di depan pintunya. Isinya? Ultimatum. Kalau aku tidak
menyerahkan draft lengkap dalam satu bulan, aku akan dicoret dari
daftar mahasiswa bimbingan beliau. Gedubrak!

Ketakutan akan ancaman Pak Ton tiba-tiba mengalahkan ketakutanku akan
TA. Dalam satu bulan semua pekerjaan yang kutinggalkan selama hampir
setahun kuselesaikan. Satu hari sebelum hari ultimatum berakhir draft
lengkap kubawa pada beliau. Dua bulan kemudian aku maju kolokium, lalu
sebulan kemudian maju ujian.

Waktu kemudian aku minta referensi untuk mencari kerja Pak Ton sambil
tertawa bertanya apa aku benar-benar mau referensi dari beliau, karena
apa yang akan beliau tuliskan di situ adalah yang sebenarnya, yang
sejujurnya. Waduh, apa ya maksud beliau? Ternyata setelah menuliskan
kekuatan-kekuatanku, di bagian bawah Pak Ton menyatakan bahwa walaupun
pekerja keras, aku butuh cambukan dan tekanan untuk bisa berprestasi
dengan cemerlang. Tidak ingat lagi kalimat tepatnya bagaimana, tapi
kira-kira begitu. Hmmm..... aku pulang sambil bertanya-tanya dalam
hati.

Sekarang setelah hampir sepuluh tahun bekerja aku jadi tahu betul
maksud Pak Ton, dan pengamatannya betul-betul tepat. Aku memang butuh
tekanan, butuh tantangan, butuh tenggat waktu, butuh stres, singkatnya
butuh adrenalin untuk bisa menelurkan hasil yang baik. Karena itulah
aku ada di posisiku sekarang, karena pekerjaanku memberikan itu semua
sehingga aku bisa bekerja dengan baik. Kadang saat sedang sibuk
mengerjakan laporan untuk klien aku tersenyum-senyum ingat Pak Ton.
Betapa betulnya beliau. Sebelum aku berhasil mengenal diriku sendiri
dan pola kerjaku, Pak Ton sudah tahu lebih dulu.

----------------

Sebetulnya tulisan yang diminta cuma 200-300 kata, atau maksimal 500 kata. Tapi tulisanku di atas 520 kata. memang aku tidak pernah bisa menulis singkat, kecuali kalau terpaksa. Beberapa kali menulis untuk majalah juga begitu, si editor harus memotong tulisanu habis-habisan :)   Tapi ini juga kelemahan yang sudah dikenali Pak Ton. Saat memeriksa pekerjaanku dulu beliau bolak-balik mengeluh bahwa aku ini bukan menulis tesis tapi menulis novel :)

Singapura, 30 April 2007


 


Posted at 10:59 am by koeniel

Ferro, geologi 93
December 23, 2007   12:48 AM PST
 
Luar biasa, Pak Ton memang salah satu yang paling betul2 geologist. Tapi ya itu, kebanyakan aku dan teman2 pada ngeriiiiiii milih Pak Ton jadi pembimbing TA, ya karena disiplinnya itu. Sekali lagi, salut buat Pak Ton atas pengabdiannya untuk geologi di Indonesia.
dewi
July 13, 2007   04:44 PM PDT
 
Yupes....
HT Sudibyo
June 7, 2007   03:00 PM PDT
 
Aku juga ngirim corat-coret utk Mas Ton-yg akan purna tugas...
--------------------------------------
Konon, karakter seseorang itu bisa dilihat dari tanda tangannya, atau sebaliknya tandatangan itu mencerminkan karakter seseorang...he,he,he,..lha kok diwolak-walik. Tapi,entah kenapa saya senang dengan tanda tangan yang mudah dibaca seperti tanda tangan Presiden RI Pertama, Soekarno misalnya. Sekali lewat saja kita bisa baca itu tandatangan Bung Karno.Tanda tangan itu terkesan terus terang, lugas, tegas, apa adanya,mudah dimengerti dan komunikatif.

Klo kita cermati tanda tangan Mas Wartono Rahardjo yang dibubuhkan pada tahun 1976 ini,...lha kok ”pating cringih” gitu, banyak lancip-lancipnya dan nggak bisa terbaca sebagai ”Wartono Rahardjo”.Waktu itu, tandatangan ini sangat populer,terpampang dan bertebaran hampir disetiap sudut papan pengumuman Kampus nJetis, karena saat itu beliau menjabat selaku Ketua Bagian Teknik Geologi ngU Ge eM. Saking ”pating cringih”nya itu , kawan-kawan ngeledeknya sebagai tanda tangan ”untu buto”.

Tapi, jujur saya katakan tandatangan Mas Ton itu indah, punya estetika, meskipun sulit dibaca tapi jelas ada kesan tegas dan terus terang. Apakah ini mencerminkan karakter beliau?,...jawabannya adalah ”Ya”. Mas Ton -begitu kami dan kawan2 memanggilnya- adalah seorang kakak,teman,bapak dan guru sejati yang setiap saat siap diajak diskusi meski sampai pagi. Bisa duduk ngobrol asyik dan ngikut ”nyek-nyek-an” diatas ”Kothak nJetis” , bisa sama2 kluyuran ber-motor ria menelusuri Pegunungan Selatan dari Piyungan,Wonosari terus ke mBayat. Bisa enak dipanggil ”Mas” dan bukan ”Bapak”.

Kata orang bijak..”kebanggaan guru yang paling besar adalah apabila muridnya melampaui dirinya”,....Semoga saja Mas Ton bangga karena tidak saja muridnya telah melampaui dirinya, tapi juga muridnya telah juga pandai bersyukur dan mengingat jasa guru-gurunya.

Matur nuwun Mas Ton. Sungkem katur mBak Narti ugi salam buat Iwung,Ari,Nana dan cucu2 tersayang.

Stephen Newton
May 9, 2007   02:42 AM PDT
 
So good to visit here again. Is Singapore a magical place to live?
zuki
May 6, 2007   07:23 PM PDT
 
sangat mengesankan ... pengalaman yang berharga ya ... :)
nila
May 2, 2007   01:42 AM PDT
 
kayaknya....aku juga begitu tuh....perlu cambukan, tantangan, tekanan, dedlen....
untuk dapat maju.....keluar dr comfort zone......

salud buat pak ton......
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • ©2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON