Thursday, May 10, 2007
Belajar Sabar

Semenjak bekerja di perusahaan konsultan ini aku memang belajar banyak. Di setiap proyek pasti banyak ilmu baru yang dipelajari, karena proyek-proyek di sini sangat terpadu antar bidang sifatnya, juga karena kolegaku semua jauh lebih senior rata-rata mereka sudah punya lebih dari 20 tahun pengalaman di industri minyak.

 

Tapi di proyek kali ini rasanya lebih banyak EQ skill yang kupelajari ketimbang kemampuan teknis. Pekerjaan yang kami lakukan kali ini di India biasa-biasa saja, sudah kulakukan puluhan kali, jadi tidak banyak ilmu baru kupelajari. Tapi kali ini ada yang istimewa memperdalam Emotional Intelligence. Alasannya? Anggota tim yang 5 orang itu 3 di antaranya bukan 'team player' yang baik, dan 1 di antaranya yang kebetulan adalah pemimpin proyek adalah orang yang sangat sulit dihadapi. Terpaksa belajar sabar.

 

Pemimpin proyek kali ini adalah seorang lelaki tua driller berbangsa Amerika asal Texas. Orangnya benar-benar sulit dan snobbish. Sombongnya minta ampun. Dia bisa dengan santai pamer soal mobil sport miliknya, mobil SUV milik istrinya dan tv layar datar mereka yang  sangat besar serta semua peralatan digital di rumah mereka yang besar dan mewah di Texas sana. Waktu kukomentari dengan sinis soal global warming dia hanya tertawa meremehkan, malah sibuk menghina-hina Al Gore yang banyak berkampanye soal lingkungan. Jelas idolanya adalah si bodoh George W Bush.

 

Sebetulnya tidak masalah sih berhadapan dengan orang sombong semacam ini. Para kolegaku memang kebanyakan orang-orang yang sangat senior dan sudah diakui sangat ahli di bidangnya sehingga kelemahan mereka biasanya diterima saja oleh lingkungan sekitarnya. Ada yang sombong, ada yang galak, ada yang suka bercanda tidak lucu, ada yang tidak pernah mau mendengarkan orang lain, ada yang sangat tidak sabar. Pokoknya antik-antik. Jadi yang satu ini tidak aneh.

 

Cuma masalahnya, dia itu suka sekali menghina negara-negara 'Dunia Ketiga'. Kalau sudah membicarakan 'Third World Countries' terutama India, wah, nadanya sangat-sangat menyakitkan. Walaupun hinaannya semua ditujukan ke negara dan bangsa India atau kadang-kadang Cina, rasanya sakit juga mendengarnya. Soalnya mau tidak mau kan Indonesia termasuk ke jajaran 'developing countries' juga. Ini istilah lebih halus dan politically correct dari istilah 'Third World Countries', tapi dia keras kepala tidak pernah mau memakainya. Hobi sekali dia membanding-bandingkan 'First World' dan 'Third World'.

 

Herannya, orang satu ini sudah puluhan tahun tinggal di luar negeri pujaannya, Amerika Serikat. Setengah umurnya mungkin habis di negara-negara di luar negara-negara maju. Dan dia cukup banyak punya proyek di India. Kok bisa begitu menghinanya. Biasanya orang yang banyak bepergian seperti kebanyakan kolegaku yang lain pikirannya lebih terbuka, sudah biasa menerima budaya dan kebiasaan-kebiasaan bangsa lain. Tapi yang satu ini kok bisa tetap berpikiran picik dan tidak bisa menghargai dan menghormati budaya orang lain.

 

Seperti kaset rusak berulang-ulang diceritakannya anekdot-anekdot sinis tentang negara-negara berkembang. Rasanya sampai capek sekali mendengarnya dan sering aku ingin marah dan menonjok kepalanya. Kebetulan aku memang bertemperamen tinggi. Tapi kan tidak profesional sekali kalau berkelahi, atau bahkan hanya bertengkar mulutpun, dengan kolega dan rekan satu tim. Apalagi kami sedang bekerja di lingkungan klien. Bisa merusak kredibilitas perusahaan dan kami bisa kehilangan proyek. Jadi bolak-balik kutelan kemarahan, kusabar-sabarkan diri. Makanya kubilang proyek ini penuh dengan pelajaran emotional skill bukan technical skill buatku.

 

Tapi aku memang bukan murid yang baik. Sudah beberapa hari ini kupasang muka sebal setiap kali mendengar ceramahnya tentang keburukan bangsa India dan negara berkembang lain, serta kehebatan Maha Amerikanya. Huh kalau begini tidak perlu teroris, aku juga bisa dengan mudah membunuhnya. Sebetulnya aku sudah kepingin melempar piring ke mukanya, tapi kucoba praktekkan nasehat kekasihku: sabar, tarik nafas panjang, bayangkan hal-hal yang indah dan tulikan telinga terhadap suaranya. Yang paling kuingat adalah nasehat terakhirnya, "Don't get mad, get even."

 

Dan pagi itu kudapati kesempatan itu. Si driller Amerika tua bangka itu sedang sibuk menghina mutu pendidikan di India. Katanya bagaimana sistem pendidikan bisa bagus, karena para profesor di India keluar negeripun tidak pernah. Hahaha aku langsung tertawa terbahak-bahak. "Bukannya orang Amerika yang terkenal tidak pernah pergi ke luar negeri dan tidak pernah merasa perlu tahu tentang bangsa lain? Waktu aku ke sana, banyak sekali orang-orang yang tidak tahu letak Indonesia. Boro-boro Indonesia, Singapura saja bisa tidak tahu. Pelajaran geografinya gimana tuh? Lha kalo orang India walopun miskin di mana-mana di pojok dunia mereka ada." Mukanya langsung merah, sempat terbata-bata. Sayang tidak ada orang lain di situ, jadi tidak ada yang jadi saksi melihat dia dipermalukan. Tapi tidak lama lalu aji-ajiannya keluar lagi, "Yah tapi walaupun banyak orang Amerika belum pernah keluar negeri tapi kan sistem pendidikannya jauh lebih baik. Beda dong dengan negara dunia ketiga!"

 

Ah, ya sudahlah, kalau yang sudah sering keluar negeri saja masih berpikiran sempit begini, mungkin kita dan dunia tidak butuh mereka. Aku mencoba belajar sabar dan mengantongi tinjuku. Anggap ini kursus EQ. Dan EQ itu penting loh. Coba saja lihat berapa banyak orang yang kemampuan emosionalnya kurang lalu menjadi pemurung dan menjadi pembunuh, semacam anak-anak muda yang menembaki teman kuliah atau teman sekolahnya di Amerika itu. Jadi kuanggap saja ini pelajaran yang sangat berharga, menghadapi manusia sulit tanpa harus terpancing menjadi emosi juga.

 

 

Dehradun, 9 Mei 2007

 


Posted at 02:12 am by koeniel

Lili
May 15, 2007   09:13 AM PDT
 
Kasih tau mbak NIla, di Amerika, kalau kita kerumah sakit2 di sana, kebanyakan dokternya adalah orang India, walupun udah jadi WN amerika.

Terus di Silicon Valley yg terkenal itu. semua IT2 di sana adalah orang India dan hampir semparuh yg tiggal di tempat itu adalh orang2 india yg pintar, yg membuat program computer paling handal di dunia, dan yg membuat laku Windows....he.he..

ini beneran....
mahli
May 14, 2007   05:52 AM PDT
 
Salam kenal. Entry yg bagus. Baru pertama kali mendengar cerita tentang kalangan yg higher up. Maklum, biasanya cuma tau cerita-cerita kalangan menengah ke bawah saja.

Untungnya orang tua bangka seperti itu tidak banyak, dan mudah-mudahan tidak bisa menyebar seperti jamur.

Semoga bisa sering get even :)
nila
May 10, 2007   09:46 AM PDT
 
heuheuheu....hebat......bersyukur punya kesempatan dan kesadaran utk menjadikan si sombong arogan itu jd proses pembelajaran dirimu......

kalo lulus pun pointnya langsung dihitung oleh NYA....jd ayo ngumpulin point sebanyak banyak nyaaaaa
Qeong Ungu
May 10, 2007   02:55 AM PDT
 
Siip, Mbak. Jadi yg sebenar benarnya kelas untuk belajar itu ya diluar ruangan, saat harus berinteraksi. Sementara kelas yg pake dinding itu cuma reminder, review aja. Good luck deh.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON