Friday, May 11, 2007
Marah

 

Hampir sebulan berurusan dengan si Bapak Tua menyebalkan aku jadi pandai mengenali subyek satu ini: marah. Sebaiknya kuterangkan dulu siapa si tua ini. Dia seorang driller tua asal Amerika yang memimpin proyek kami sekarang ini di India. Orangnya sombong dan snobbish, suka memandang rendah bangsa lain, di luar bangsa yang menurutnya terhebat di dunia, bangsanya sendiri, Amerika (yang kulit putih tentunya, bukan kulit berwarna).

 

Dia hobi sekali merendahkan bangsa India. Memang tidak di depan mereka langsung sih. Yang sering dilakukannya langsung di depan mereka adalah mengejek cara klien kami menjalankan bisnis minyak, mulai dari eksplorasi sampai pengeboran dan produksi. Maklum memang mereka punya standar sendiri yang sering beda dengan standar Internasional. Misalnya mereka pakai satuan metrik ton bukan barrel, dan meter kubik untuk gas, bukan kaki kubik.

 

Menurutku ini sih normal, ya ndak papa toh kalau mereka mau beda? Nyatanya di Amerika dan Inggris satuan Imperial yang dipakai sementara di daratan Eropa dan Asia satuan metrik. Orang menyetir di sebelah kiri jalan di Inggris, Australia dan sebagian besar Asia, dan di sebelah kanan jalan di Amerika, daratan Eropa dan Cina. Jadi tidak perlu mengejek toh? Malah membuat hidup jadi susah, karena klien jadi sebal dan enggan bekerja sama. Tidak si Bapak Tua, dia sering sekali mencibir cara kerja klien. Lha klien kan jadi kesal. Tadi salah seorang dari mereka mengeluh, "Duh orang itu sulit sekali dihadapi." Aku benar-benar bersimpati padanya.

 

Si Bapak Tua bolak-balik kesal soal orang-orang India yang keras kepala. Padahal sih menurutku mereka biasa-biasa saja. Siapa sih yang senang diaudit? Semua orang pasti bersikap defensif kalau sedang diaudit. Mau bangsa India kek, Cina, Thailand, Indonesia, atau Australia dan Eropa sama saja, pasti jadi defensif dan keras kepala kalau sedang diaudit. Pengalamanku menangani proyek audit cadangan minyak dan gas di berbagai perusahaan berhadapan dengan berbagai bangsa menunjukkan hal yang sama. Memang sih ada bedanya sedikit. Orang Eropa dan Australia banyak protes tapi gampang dikendalikan dengan argumentasi yang baik. Orang Indonesia dan Thailand biasanya lebih gampang dihadapi, mereka banyak tersenyum, walaupun mungkin di belakang sebal juga pada kami :)   Nah orang India dan Cina itu tidak seperti bangsa Asia Tenggara, mereka punya pendapat yang kuat dan tidak segan protes atau beda pendapat. Memang lebih susah dihadapi, tapi sebenarnya ya tidak jauh beda juga dengan klien-klien kami yang lain.

 

Makanya aku sebal sekali dengan si Bapak Tua ini. Kok senang sekali menghina bangsa lain, terutama negara dunia ketiga. Kalau sudah menyatakan "Third World Countries" nadanya penuh hinaan sekali. Ini tipikal komentar-komentarnya:

 

1. Dalam perjalanan ke kantor di Dehradun, kami lewat sebuah tembok yang di atasnya dipasangi pecahan kaca. Baru berpikir wah di Indonesia juga banyak ditemui model begini, tiba-tiba komentar sinisnya keluar, "Itu tuh ciri khas negara dunia ketiga. Simbol rasa tidak aman. Padahal di baliknya juga tidak ada yang layak dicuri."

 

2. Suatu hari jalanan macet karena ada sapi, yang di India diahormati, berjalan santai di tengah jalan. Katanya sinis, "Ciri khas dunia ketiga, tidak rasional, masak sapi dihormati!"  Lho piye toh orang ini? Apa dia nggak belajar sejarah? Sebelum bangsa Amerika kulit putih ada, orang-orang yang melahirkan agama Hindu sudah punya budaya tinggi.

 

3. Kami sedang ngobrol-ngobrol tentang go-go bar di Bangkok. Katanya, "Ah, aku sih sudah tidak tertarik lagi sama subyek itu. Sudah terlalu lama melanglang buana di negara dunia ketiga yang penuh tempat-tempat murahan begitu."  Lho kayak di negaranya nggak ada penari erotis saja!

 

4. Buat pegawai perusahaan minyak India dikirim ke negara bagian Assam itu seperti dihukum, karena dikirim ke bagian India yang termasuk paling tidak maju. Katanya tentang ini, "Padahal orang-orang ini hidupnya di tempat kumuh dan menjijikkan kayak begini. Apa bedanya dengan di Assam?"

 

Komentar-komentar begini kan membuat naik darah toh? Walaupun hinaan bukan ditujukan kepada bangsa Indonesia, rasa solidaritas kepada teman-teman India sebagai sesama penduduk negara berkembang dan sebagai sesama manusia langsung membuatku kepingin marah.

 

Biasanya begitu komentar-komentarnya keluar aku langsung marah. Kalau dilihat dalam gerak lambat prosesnya begini: tiba-tiba aku seperti tersengat, lalu kepala jadi panas, mbun-mbun mungkin bisa kelihatan berasap, dan otak spontan membentuk rangkaian kata-kata panas, yang siap diluncurkan mulut, sembari tangan gemetar terkepal, mata mengerenyit. Kata kolegaku kalau aku sedang begini pandanganku kejam sekali, seperti bisa membunuh. Kata-kata yang terbentuk biasanya bernada melawan, pokoknya kontra. Supaya membuat dia sebal juga. Beberapa kali kata-kata sinis semacam itu tak tertahan keluar dari mulutku. Pernah yang keluar kata-kata kasar, keras.

 

Aku tahu betul ini bukan reaksi yang baik. Karena ini berarti aku jatuh ke perangkapnya, jatuh ke emosi negatif marah. Tapi mengerem kemarahan memang susah. Untungnya setelah beberapa lama tiap hari hampir terpancing, aku sudah bisa mengenali tanda-tanda kemarahan seperti di atas. Biasanya lalu kucoba menarik nafas panjang, sambil berhitung satu, dua, tiga, dan seterusnya, sampai kemarahan hilang.

 

Setelah beberapa kali diam-diam mempraktekkan cara ini salah seorang kolega tim berkomentar, "Bagus Nil, memang harus sabar. Nggak ada gunanya memperhatikan orang gila."  Lho emang kelihatan? Jelas kelihatan, katanya. Katanya mukaku biasanya langsung kelihatan judes dan jutek sekali, tapi lalu otot-otot yang mengencang itu berangsur mengendur, bibir tidak lagi tertarik kencang dan tanganku jadi santai, tidak lagi mengepal.

 

Hehehe ternyata lucu juga yah, seluruh emosiku bisa tertumpah di wajah. Memang bukan pemain poker. Tapi nggak apa-apalah. Yang penting sudah sempat belajar satu langkah maju mengendalikan kemarahan.

 

Dehradun, 11 Mei 2007

 

 


Posted at 09:43 am by koeniel

koeniel
May 25, 2007   11:47 AM PDT
 
rawins: salam kenal juga, sampai sekarang buatsaya juga masih susah :)

wieda: hahaha pinter sih dia, cuma nggak cerdas secara emosional aja :)

mpok: yap tul, untung yang lain nggak kayak gitu!

lili: iya, gerry kirim foto anak-istrinya ke aku wektu masih di india. anaknya gede kek bapaknya ya:)

awi: yah begitulah, banyak orang yang sombong, tapi jadi membantu kita berkaca juga sih

mel!!!! apa kabar :) hahaha kamu punya pengalaman ngliat aku marah ya:D samakayak minarwan n doddymereka semua bilang bisa ngebayangin hehehe

juleha!! iya betul,seharusnya gue nggak terjebak ya. untung yang kaya si bapak tua ini sedikit ya :)

Julinda
May 18, 2007   08:19 PM PDT
 
Koenil, ampun deh loe bisa ketemu orang Amrik kayak gitu. Selama 7 tahun gue tinggal and kerja di Atlanta nggak pernah ketemu bule Amrik sekejam itu. Mungkin di Amrik juga dia nggak dapet kerjaan makanya lari ke luar Amrik hahaha. Di kantor gue malah orang Asia dianggep smart and diligent. Jangan kebawa pikiran Nil, ntar loe nya yang depresi, dia mah nggak bakalan mikir karna udah bawaan orok lah hai.

Lili, Congratulations ya. Apa kabar dikau? Sorry Nil, numpang ya.
melati
May 17, 2007   02:39 PM PDT
 
:))kebayang ekspresimu mbak, udah kayak banteng siap nyruduk :))
tahniah (=selamat) ya, untuk prestasi nahan amarahnya:)
awi
May 15, 2007   12:24 PM PDT
 
belajar sabar menghadapi orang seperti ini. kenapa ya selalu saja ada orang yg menganggap orang lain lebih rendah, di manapun kita berada.
Lili
May 15, 2007   09:09 AM PDT
 
Mbak ada cerita lucu pas lagi mau melahirkan. Kan ibu yg sudah mau melahirakan sebelum masuk ruang bersalin di taruh di kamar2 yg kecil yg hanya di kasih pembatas gorden.

Pas lagi mules2, samar2 aku dengar suara yg aku kenal... sambil meringis kesakitan aku panggil nama org yg aku pikir pasti dia. "Gerry...Gerry, it's that you?"

Dia kaget setengah hidup, dia pikir ada hantu yg panggil2 nama dia..ha..ha..
Ternyata dia melongok ke kamar sebelahnya hanya dengan membuka gordennya saja.

Waaaa "Lili" dia teriak sambil nyamperin aku dan kita salaman.

Ternyata istrinya barengan sama aku lahiran anaknya. Iya, itu si Gerry McGinn. BUle yg lembut dan baik hati.. dia menikah dgn temanya Siska namanya Shinta.

Walhasil, kamar kita nginep juga sebelah2am. Dan Gary Selbie beserta keluarga jadinya juga sekalian nengokin aku..he.he.

seru deh.

maaf komennya gak nyambung
mpokb
May 14, 2007   04:36 PM PDT
 
lain kali kalo dia bilang "third world" lagi, bilang aja. lho, dunia ada tiga toh? bukannya cuma satu? picik banget, maunya dipandang dari sisi dia doang. untung nggak semua orang amrik red neck seperti dia :P
Name : Wieda
May 14, 2007   07:28 AM PDT
 
brarti bapak bule satu itu ga pinter..makanya dia berlaga jadi orang penting.....bagus tuh niel..lain ladang lain belalang kan? lain kepala lain pula pendapatan nya...eh salah...pendapat nya
rawins
May 13, 2007   12:03 AM PDT
 
wuuahh.. itu saya blum bisa melakukan : mengendalikan kemarahan.
deuh.. susah juga. semestinya memang sering berlatih pengendalian emosi ya.

butuh lebih banyak kontemplasi kali' yah.

salam kenal dan makasih sudah berkunjung..

rawins
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON