
Ini bukan dongeng Indonesia, tapi yang teringat di kepala sepanjang perjalanan ini malah sebait lagu Indonesia, tepatnya lagu Ebiet G. Ade:
".....Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
hati tergetar menatap kering rerumputan
perjalanan ini seperti jadi saksi
gembala kecil menangis sedih....."
Kalau ditanya kota Dehradun itu seperti apa, jawabannya kira-kira seperti daerah pasar Jatinegara tapi gede banget. Sebetulnya Dehradun tidak sebesar dan sepadat Jakarta. Dehradun, ibu kota negara bagian Uttarakhand yang baru dibentuk 7 tahun yang lalu, hanyalah sebuah kota kecil, kalau dibanding dengan kota-kota lain di India yang besar-besar seperti Mumbai, Kolkatta, Delhi, Chennai, Hyderabad dsb. Letaknya di lembah di kaki Himalaya, 240km di utara New Delhi, pada ketinggian 640m di atas muka laut. Walaupun tidak sepadat Jakarta dan masih punya daerah pinggiran dan pedesaan yang cukup luas, Dehradun terasa seperti pasar Jatinegara yang besar karena kekumuhannya.
Sebetulnya kota ini terkenal sebagai kota dengan banyak sekolah bagus. Salah satunya adalah The Doon School, sekolah berasrama semodel pendidikan Inggris, tempat banyak politisi dan pembesar India bersekolah, termasuk Rajiv dan Sanjay Gandhi. Juga banyak sekali institut dan berbagai pusat penelitian di sini, termasuk sebuah kompleks militer, atau disebut cantonment, yang rapi, bersih dan cukup rimbun. Tapi entah kenapa kotanya tetap terlihat sangat kumuh.
Salah satu penyebabnya jelas iklim dan cuaca. India adalah sebuah subkontinen yang besar dan Dehradun letaknya tersembunyi di kaki pegunungan Himalaya, jauh dari laut. Kota kecil tetangganya, Mussoorie letaknya jauh lebih tinggi jadi masih dingin dan basah. Tidak Dehradun, iklimnya sangat kering. Hujan datang 2-3 bulan dalam setahun dalam jumlah cukup besar, tapi sisanya kering kerontang. Kalau bukan karena sungai-sungai yang bersumber dari lelehan salju dari Himalaya daerah ini bakal tidak bisa ditempati. Suhu bisa sampai 38 derajat Celcius. Sehari-hari panas terik membakar tanah coklat berdebu. Rumah, jalan, kendaraan, pakaian, wajah, semua coklat penuh debu.
Selain iklim, Dehradun jadi kumuh karena penduduknya. Sebetulnya di mana-mana di India kelihatannya masalahnya sama. Dehradun cuma salah satu potret kecil. Dengan populasi 1,1 milyar, sebagian besar tinggal di pedesaan di daerah gurun dan semi gurun, dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, dengan tingkat buta huruf yang tinggi, India punya banyak masalah kekumuhan. Ternyata tingkat kemiskinan dan melek huruf di India lebih buruk dari di Indonesia! Padahal India punya bilyuner terbanyak di Asia dan pasar, toko, pusat-pusat bisnis kelihatan ramai. Ekonomi jelas bergerak. Tapi tidak semuanya, kerna banyak yang ketinggalan.

Satu yang kelihatannya jadi masalah besar di India adalah masalah kasta. Dari hari ke hari di koran selalu saja ada artikel, tulisan, laporan dan liputan tentang masalah kasta. Tapi sepertinya masalah itu begitu ruwet, mendarah daging dan tidak berakhir. Ini masalah yang menurut banyak tulisan harus diatasi karena efeknya buruk sekali – memelihara kemiskinan – tapi terlalu ruwet untuk diatasi dengan mudah. Sudah mendarah daging, karena sebenarnya kasta bukan hanya berlaku di masyarakat Hindu, tapi juga masih terasa di masyarakat Muslim dan Kristen di sana. Seorang pastor Indonesia yang pernah bertugas di India bercerita bahwa umat Gereja Katolik di salah satu paroki di India pernah protes karena pastor kepala parokinya diganti oleh seorang pastor dari kaum Dalit, alias kaum 'tak tersentuh', yang terendah dari semua kasta yang ada. Padahal umatnya dari kasta-kasta tinggi. Ha? Di mana ajaran Yesus kasih untuk sesama manusia? Tapi rupanya budaya itu sudah mendarah daging sedemikian rupa.
Sebetulnya praktek diskriminasi berdasarkan kasta sudah dihapuskan dalam konstitusi India dan India juga punya pembesar dan politisi dari kasta rendah. Tapi kalau menurut artikel-artikel di koran masalah kemiskinan dan rendahnya pendidikan masih ada sangkut pautnya juga dengan masalah kasta. Selalu mereka yang berasal dari 'backward castes' yang ketinggalan dalam masalah kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan.
Kalau kita berjalan di pasar – entah di Dehradun atau di Delhi, atau mungkin di kota-kota lainnya, apalagi kota super besar dan padat semacam Kolkatta atau Mumbai – begitu banyak orang miskin, cacat, peminta-minta berkeleleran di jalan. Penyandang tuna ganda merambat-rambat di pinggir jalan. Betul-betul pemandangan yang menyakitkan. Dari kereta bisa terlihat begitu banyak gelandangan, anak-anak kecil yang mencari makan di tumpukan sampah. Mungkin sebagian besar dari mereka adalah kaum kasta rendah. Bahkan di daerah terkumuh di Jakarta tidak sampai begitu keadaannya.
Tidak heran Ibu Teresa menjadikan India tempat mengabdinya. Sentuhan yang diberikan Ibu Teresa sangat sederhana – memberikan dignity, harga diri, pada kaum miskin dan Dalits. Memang kelihatannya itu yang pertama-tama sangat mereka butuhkan.
Singapore, 13 May 2007