
Pas betul. hari ini hari Bumi dan tadi pagi hujan deras sekali. Seperti Ibu Gaia menangis mengingatkan kita bahwa manusia sudah terlalu banyak merusak bumi atas nama pembangunan, kesejahteraan, kemajuan ekonomi dan sebagainya. Rakus. Tapi sudahlah, sudah banyak toh yang pastinya akan berbicara tentang ini, yang penting dilakukan hari ini adalah mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih bisa dilakukan untuk gantian memberi kepada Gaia, jangan cuma mengambil saja.
Beberapa hari yang lalu seorang rekan kerja, Sidsel perempuan muda asal Denmark yang idealis sekali, datang lalu menjogrokkan pantatnya ke kursi di seberang meja kerja saya. Dia bilang dia merasa dia sudah mengkhianati prinsip hidupnya dengan bekerja di dunia minyak. "Harusnya aku bukan jadi petroleum geologist tapi jadi volcanologist saja," katanya. Setelah dia selesai berkeluh kesah panjang lebar saya bilang bahwa saya percaya seorang pekerja minyakpun bisa jadi pecinta lingkungan.Bukan cuma menghibur diri sebagai salah satu pekerja minyak, tapi saya memang termasuk yang percaya bahwa setiap orang bisa berbuat sesuatu, dan walaupun kelihatannya impact-nya cuma kecil, tapi kalau semua orang melakukan, hasilnya bakal terasa juga. Industri minyak toh tetap harus ada. Aktivis lingkungan juga butuh bensin untuk naik kendaraan untuk berkampanye. Yang penting gaya hidup kita sehari-hari yang harus ditata sebaik mungkin supaya lebih ramah lingkungan.
Jadi hari ini saya sisihkan satu jam selama makan siang untuk berhitung, hal apa yang sudah saya lakukan dan apa yang masih bisa saya lakukan. Tentu saja hari ini makan siang saya tidak mengandung daging merah sama sekali, karena seperti yang diberitakan di Discovery News baru-baru ini, beberapa studi menunjukkan bahwa daging merah adalah penghasil gas rumah kaca terbesar dibanding sumber protein lain seperti ikan atau ayam. Walaupun saya penggemar berat daging babi dan sapi, akhir-akhir ini konsumsi kedua jenis daging itu saya kurangi. Yah, lebih bagus juga sih untuk kesehatan.
Oke mari berhitung. Semenjak pindah ke Singapura saya tidak lagi memakai mobil pribadi. Buat apa, wong transportasi umum di sini bagus sekali kok. Satu poin saya berikan pada Ibu Gaia. Sayangnya saya masih sering sekali terbang, baik untuk pekerjaan maupun pribadi. Lha bagaimana, semua yang saya cintai – belahan jiwa, dua anjing kesayangan, serta keluarga saya masih di Jakarta semua je. Ah, berarti satu poin untuk Ibu Gaia tadi jadi terambil lagi. Sedihnya.
Tapi saya menanam tanam-tanaman yang saya taruh di balkon. Lalu saya juga mendaur ulang semua sampah kertas, botol plastik dan kaleng. Botol plastik dan kaleng saya cuci dan keringkan lalu saya kumpulkan dan seminggu sekali saya bawa ke tempat sampah daur ulang di kantor. Sampah kertas juga begitu. Yang penting-penting saya hancurkan dulu dengan mesin shredder (yang pakai tenaga tangan bukan tenaga listrik). Yang lain saya pisah-pisahkan lalu saya buang di tempat sampah daur ulang di kantor. Kadang orang di kereta bingung melihat bawaan saya – tampang pekerja kantoran, tapi bawaannya kayak tukang pungut barang bekas :)
Beberapa teman heran kok saya mau repot-repot membuang waktu menyortir sampah lalu menggotong-gotongnya ke tempat sampah khusus. Saya belajar dari calon ibu mertua saya. Di Irlandia masyarakat dipaksa untuk mendaur ulang sampah-sampahnya. Sampah daur ulang diangkut gratis oleh pemerintah, tapi sampah yang tidka disortir dan didaur ulang dihargai tinggi. Semakin banyak sampah tidak didaur ulang semakin tinggi dendanya. Akibatnya masyarakat di sana terpaksa sadar lingkungan. Tiap hari calon ibu mertua saya memproses sampah rumah tangganya, mencuci dan menyortirnya, lalu menaruhnya di luar sesuai jadwal. Hari Senin sampah plastik, hari Rabu sampah kertas, hari Jumat sampah kaleng, dan seterusnya. Sampah organik beliau jadikan kompos di sudut halaman.
Saya dan kekasih sedang membangun rumah di Jakarta. Di rumah kami juga akan ada sudut untuk membuat kompos. Akan ada biopores dan sumur resapan. Kami akan pakai panel surya untuk lampu halaman dan pemanas air. Rumah dirancang dengan banyak ventilasi dan atap dan dinding dipasangi insulasi supaya tidak perlu terlalu banyak energi dipakai untuk mendinginkan ruangan di dalamnya. Kami akan coba kombinasi kipas angin dan dehumidifier ketimbang AC. Kami akan melapisi dinding dengan tanaman rambat dan memasang taman di atas dak atap. Yang paling ambisius adalah sistem greywater, alias kami akan mendaur ulang air bekas cuci dan dari wastafel, mencampurnya dengan air hujan dan memakainya lagi untuk menyiram toilet, menyiram tanaman dan sebagainya.
Kami juga meminta kontraktor sebisa mungkin memastikan kayu-kayu yang dipakai bukan hasil penebangan liar. Entah ini mungkin atau tidak, tapi kami bilang bahwa kami tidak ingin kayu murah yang hasil rampokan bumi. Shower head dan keran-keran juag dipilih yang punya sistem mencampurkan udara ke dalam semprotan air, sehingga air tetap terasa mengalir kencang walaupun volume yang dikeluarkan lebih kecil dari yang biasa. Memang dengan segala rupa permintaan supaya rumah kami jadi lebih ramah lingkungan ini akhirnya biaya jadi membengkak. Tapi kami sudah bertekad. Kalau kita tidak memulai dari diri sendiri, tidak bakal ada perubahan.
Ini baru sebagian usaha kami mengurangi perampokan atas Ibu Gaia. Besok saya coba ingat-ingat lagi, apa yang sudah dan masih bisa kami lakukan.
Singapura, Hari Bumi 2008