
Ini sebenarnya tulisan tentang stereotyping. Apa ya bahasa Indonesianya tepatnya? Beberapa kamus mengindonesiakannya sebagai klise, tapi rasanya belum tepat. Yang jelas saya mau bercerita tentang bagaimana kita suka menilai orang hanya berdasarkan penampilannya. Padahal penilaian itu belum tentu benar.
Muka saya ini sering dibilang secara bercanda oleh teman-teman dekat sebagai muka yang "eksotis" atau "klasik". Secara gampang bisa dibilang saya ini punya muka khas Jawa. Bukan Jawa yang aristokratik walaupun saya juga konon kata Mbah punya gelar aristokrat yang dibuktikan dengan surat asal-usul yang resmi ditandatangani oleh pejabat kraton Solo, tapi Jawa yang rakyat biasa. Coklat gelap, bulat, dengan tulang pipi rendah dan pipi yang tembam. Lalu kalau dilihat dari samping hampir rata, kerna hidung saya pesek. Masih ingat seleb Srimulat jaman dulu, Yati Pesek? Bisalah kami dibilang bersaudara kalau hanya melihat hidung. Badan saya juga khas Jawa, dengan torso pendek dan semlohai, tidak langsing tipis tinggi seperti perempuan-perempuan cantik modern yang sering terlihat di televisi atau majalah, yang seperti setengah Kaukasian. Makanya saya tidak pernah merasa pantas memakai tank top, kerna badan saya kelihatan lebih pantas berbalut kebaya seperti mbakyu penjual jamu langganan ibu di Jakarta yang seksi moleg dan semok itu. Pokoknya penampilan fisik saya memang bisa dibilang "ndeso" atau "kampung", kalau standar penampilan "modern" dan "kota" itu seperti yang banyak menghiasi majalah-majalah perempuan.
Rupanya muka dan penampilan Jawa ndeso pada seorang perempuan muda ini melahirkan stereotyping tertentu. Misalnya di lapangan terbang. Walaupun saya ini geologiwati dengan gelar S2 dari universitas luar negeri, yang bekerja sebagai konsultan di luar negeri dengan gaji setara dengan geologiwan produk luaran, tetap saja saya sering dicegat di pintu keluar Cengkareng, lalu dengan kasar diminta menunjukkan paspor. Rupanya saya dikira TKI yang bekerja sebagai pembantu di negara asing. Sering saya pulang ke Jakarta dari Singapura Jumat malam langsung dari kantor, masih berbaju resmi dengan blazer dan sepatu tinggi, pokoknya seperti pekerja kantoran deh, tapi tetap saja dicegat lalu dimintai paspor dengan kasar. Dikira pura-pura menyamar dengan pakaian kantor padahal bekerja sebagai pembantu.
Kalimat terakhir di atas itu bukan interpretasi saya lho. Itu betul kata-kata petugas perempuan yang minggu lalu dengan kasar membentak saya karena saya malas mengeluarkan paspor dari dalam tas dan bertanya mengapa saya harus menunjukkan paspor sedang orang lain tidak.
Sebetulnya bukannya saya tidak mau dikira pembantu. Toh jadi pembantu juga pekerjaan terhormat. Apalah bedanya seorang pembantu atau seorang perawat atau seorang dokter atau sekretaris atau insinyur atau geologiwan? Semua pekerjaan yang kalau dilakoni dengan profesional dan jujur ya pekerjaan yang terhormat. Dikira TKI ya juga tidak apa-apa, lha wong memang saya ini TKI kok, karena saya ini orang Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Yang menyebalkan itu karena perlakuan kasarnya. Entah kenapa para petugas ini kalau menghadapi kekasih saya yang berkulit putih Eropah, atau rekan saya yang berwajah Tionghoa, dan ibu-ibu bersanggul tinggi khas pejabat bisa berlaku sopan. Tapi kalau menghadapi TKI atau orang yang dikira TKI seperti saya dan beberapa teman perempuan muda lain yang berwajah "kampung" lalu berubah perilakunya menjadi arogan dan seringkali kasar pula. Apa mereka merasa kedudukan dan jabatan mereka lebih tinggi dari "sekedar" pembantu, sehingga merasa jumawa dan layak memandang rendah?
Yang saya pertanyakan juga kenapa para TKI ini harus diperlakukan beda saat mau keluar dari bandara? Sebetulnya apa beda saya, yang juga pekerja migran, dengan mereka, sehingga setelah para petugas tahu saya bukan TKI saya bisa keluar lewat jalur biasa, sedangkan mereka harus keluar lewat jalur khusus? Banyak berita soal mereka diperas sana-sini, apakah di "jalur khusus" itu mereka diperas dan dimintai uang ini itu? Sedangkan mereka tidak berani melakukan hal yang sama terhadap saya!
Lalu yang terakhir, saya pikir para petugas di bandara yang kerjanya menyortir TKI dan non TKI ini sepertinya masih bermental inlander. Sepertinya kok pada pikiran mereka perempuan muda yang berwajah ndeso hanya bisa jadi pembantu. Sekali lagi bukan bermaksud merendahkan profesi pembantu loh. Saya hanya mau mempertanyakan mengapa mereka tidak bisa membayangkan perempuan-perempuan semodel ini juga bisa jadi pekerja migran terdidik, bisa bekerja di luar negeri dengan profesi lain selain pembantu?
(Wah, susah betul menulis tentang hal ini. Saya tidak ingin dibilang arogan atau merendahkan profesi pembantu, seperti berkali-kali saya tegaskan. Tapi susahnya, kalau di dalam masyarakat kita pembedaan itu ada, susah sekali untuk tidak terjebak ke dalam sistem pengkelas-kelasan ini.)
Tapi sudahlah, yang penting dipertanyakan sebetulnya, kenapa sih perlu ada semacam pengkastaan, sehingga pekerja migran semacam para mbak-mbak TKW ini perlu diperlakukan berbeda dengan pekerja migran lain semacam saya?
Singapura, 6 Mei 2008