Tuesday, May 06, 2008
Muka Jawa jilid 1

 

Ini sebenarnya tulisan tentang stereotyping. Apa ya bahasa Indonesianya tepatnya? Beberapa kamus mengindonesiakannya sebagai klise, tapi rasanya belum tepat. Yang jelas saya mau bercerita tentang bagaimana kita suka menilai orang hanya berdasarkan penampilannya. Padahal penilaian itu belum tentu benar.

 

Muka saya ini sering dibilang secara bercanda oleh teman-teman dekat sebagai muka yang "eksotis" atau "klasik". Secara gampang bisa dibilang saya ini punya muka khas Jawa. Bukan Jawa yang aristokratik walaupun saya juga konon kata Mbah punya gelar aristokrat yang dibuktikan dengan surat asal-usul yang resmi ditandatangani oleh pejabat kraton Solo, tapi Jawa yang rakyat biasa. Coklat gelap, bulat, dengan tulang pipi rendah dan pipi yang tembam. Lalu kalau dilihat dari samping hampir rata, kerna hidung saya pesek. Masih ingat seleb Srimulat jaman dulu, Yati Pesek? Bisalah kami dibilang bersaudara kalau hanya melihat hidung. Badan saya juga khas Jawa, dengan torso pendek dan semlohai, tidak langsing tipis tinggi seperti perempuan-perempuan cantik modern yang sering terlihat di televisi atau majalah, yang seperti setengah Kaukasian. Makanya saya tidak pernah merasa pantas memakai tank top, kerna badan saya kelihatan lebih pantas berbalut kebaya seperti mbakyu penjual jamu langganan ibu di Jakarta yang seksi moleg dan semok itu. Pokoknya penampilan fisik saya memang bisa dibilang "ndeso" atau "kampung", kalau standar penampilan "modern" dan "kota" itu seperti yang banyak menghiasi majalah-majalah perempuan.

 

Rupanya muka dan penampilan Jawa ndeso pada seorang perempuan muda ini melahirkan stereotyping tertentu. Misalnya di lapangan terbang. Walaupun saya ini geologiwati dengan gelar S2 dari universitas luar negeri, yang bekerja sebagai konsultan di luar negeri dengan gaji setara dengan geologiwan produk luaran, tetap saja saya sering dicegat di pintu keluar Cengkareng, lalu dengan kasar diminta menunjukkan paspor. Rupanya saya dikira TKI yang bekerja sebagai pembantu di negara asing. Sering saya pulang ke Jakarta dari Singapura Jumat malam langsung dari kantor, masih berbaju resmi dengan blazer dan sepatu tinggi, pokoknya seperti pekerja kantoran deh, tapi tetap saja dicegat lalu dimintai paspor dengan kasar. Dikira pura-pura menyamar dengan pakaian kantor padahal bekerja sebagai pembantu.

 

Kalimat terakhir di atas itu bukan interpretasi saya lho. Itu betul kata-kata petugas perempuan yang minggu lalu dengan kasar membentak saya karena saya malas mengeluarkan paspor dari dalam tas dan bertanya mengapa saya harus menunjukkan paspor sedang orang lain tidak.

 

Sebetulnya bukannya saya tidak mau dikira pembantu. Toh jadi pembantu juga pekerjaan terhormat. Apalah bedanya seorang pembantu atau seorang perawat atau seorang dokter atau sekretaris atau insinyur atau geologiwan? Semua pekerjaan yang kalau dilakoni dengan profesional dan jujur ya pekerjaan yang terhormat. Dikira TKI ya juga tidak apa-apa, lha wong memang saya ini TKI kok, karena saya ini orang Indonesia yang bekerja di luar negeri.

 

Yang menyebalkan itu karena perlakuan kasarnya. Entah kenapa para petugas ini kalau menghadapi kekasih saya yang berkulit putih Eropah, atau rekan saya yang berwajah Tionghoa, dan ibu-ibu bersanggul tinggi khas pejabat bisa berlaku sopan. Tapi kalau menghadapi TKI atau orang yang dikira TKI seperti saya dan beberapa teman perempuan muda lain yang berwajah "kampung" lalu berubah perilakunya menjadi arogan dan seringkali kasar pula.  Apa mereka merasa kedudukan dan jabatan mereka lebih tinggi dari "sekedar" pembantu, sehingga merasa jumawa dan layak memandang rendah?

 

Yang saya pertanyakan juga kenapa para TKI ini harus diperlakukan beda saat mau keluar dari bandara? Sebetulnya apa beda saya, yang juga pekerja migran, dengan mereka, sehingga setelah para petugas tahu saya bukan TKI saya bisa keluar lewat jalur biasa, sedangkan mereka harus keluar lewat jalur khusus? Banyak berita soal mereka diperas sana-sini, apakah di "jalur khusus" itu mereka diperas dan dimintai uang ini itu? Sedangkan mereka tidak berani melakukan hal yang sama terhadap saya!

 

Lalu yang terakhir, saya pikir para petugas di bandara yang kerjanya menyortir TKI dan non TKI ini sepertinya masih bermental inlander. Sepertinya kok pada pikiran mereka perempuan muda yang berwajah ndeso hanya bisa jadi pembantu. Sekali lagi bukan bermaksud merendahkan profesi pembantu loh. Saya hanya mau mempertanyakan mengapa mereka tidak bisa membayangkan perempuan-perempuan semodel ini juga bisa jadi pekerja migran terdidik, bisa bekerja di luar negeri dengan profesi lain selain pembantu?

 

(Wah, susah betul menulis tentang hal ini. Saya tidak ingin dibilang arogan atau merendahkan profesi pembantu, seperti berkali-kali saya tegaskan. Tapi susahnya, kalau di dalam masyarakat kita pembedaan itu ada, susah sekali untuk tidak terjebak ke dalam sistem pengkelas-kelasan ini.)

 

Tapi sudahlah, yang penting dipertanyakan sebetulnya, kenapa sih perlu ada semacam pengkastaan, sehingga pekerja migran semacam para mbak-mbak TKW ini perlu diperlakukan berbeda dengan pekerja migran lain semacam saya?

 

Singapura, 6 Mei 2008

 


Posted at 04:26 pm by koeniel

Lili
September 3, 2008   09:37 PM PDT
 
Diskriminasi bukan hanya terjadi jaman baheula dan jg bukan hanya beberapa negara,..yaa ada dimana2. Asalkan kita bukan bagian dari org yg suka berbuat hal itu. Mudah2an
dennisjj2006
August 19, 2008   11:05 AM PDT
 
bukan kamu sahaja yang experience begitu saya juga tapi biar saja ini cara dunia
koeniel
June 10, 2008   12:35 PM PDT
 
mpok b: iyah tuh, maksudnya pemisahan supaya lebih terorganisasi, tapi akhirnya malah jadi sistem pemerahannya yang terorganisasi :(

elyani: trimakasih banyak! :)

geekgirl: tul, saya juga punya banyak teman asing yang merasa aneh, kok orang indonesia suka merendahkan sesama orang indonesia yah? :((

d-eby: yak tul, emang sedih tapi kenyataannya diskriminasi memang selalu ada...

sendirilagi: wah, saya nggak merasa punya pacar bule hebat. biasa aja dan cuma kebetulan aja saya punya pacar bule kerna dia tadinya kolega. saya yakin kalo kolega saya dulu orang indonesia semua, pacar saya juga pasti indonesia. kalo punya pacar bule dibilang hebat itu namanya merendahkan bangsa sendiri doooong, apa bedanya sama mbak-mbak petugas di bandara itu?

Diny: hehehe saya sih merasa diri saya cantik dan oke loh, tapi kenyataannya ornag lain tidak seperti itu. maunya sih biar muka kayak yati pesek juga tidak dianggap rendah dan dikasari, tapi yah, dari pengalaman sendiri memang seperti itu..... soal dianggap negatif kerna pacar bule hahaha nanti saya juga akan cerita itu kapan-kapan...

Min: hehehehe.... memang begitu adanya :)

Q: apa kabar, iya nih, ganti gaya :)
Sendirilagi
May 15, 2008   09:56 AM PDT
 
Wih .. hebat euy .. ternyata mbak biar wajah ndeso punya pacar bule ... hehehe
d-eby
May 13, 2008   08:28 PM PDT
 
yah ikut prihatin....mbak dengan nasibmu yang kena tatapan2 tidak bersahabat di terminal.
yah dimana2 diskriminasi selalu ada eh mbak ?! mau kita kasih training khusus sama pegawai2 imigrasi biar untuk tidak mengkastakan pendatang yah jatuh2nya tetep wae eh...wajah selalu diliat no 1 untuk menilai seseorang.
geekgirl
May 11, 2008   04:58 AM PDT
 
setoejoe mbak..
gak mendukung pembedaan tki2 itu.. pernah ada temen tki korea yg dtg ke indonesia bareng orang migrant workers shelter di korea.. sampe tu org koreanya ikut "menasehati" petugas bandara (kbetulan tu org dah belajar bhs indonesia)..
Elyani
May 8, 2008   09:48 PM PDT
 
Hi Mbak Koenil, salam kenal. Maaf kalau salah sebut nama ya..karena dicredit title foto2 yg ada di web ini tertulis 'koenil' :)
Perihal diskriminasi wajah desa, wajah kota ini memang menyebalkan ya, tapi apa mau dikata iklan2 yg bergentayangan di televisi atau model yg ditampilkan di majalah2 kita mengarahkan orang pada satu stereotyping bahwa berkelas itu putih, wajah setengah indo, rambut ke-pirang2an, pakai kacamata hitam, dan wajah yg mulus kaya porcelain. Saya membayangkan betapa susahnya Tukul mempromosikan dirinya hingga ia bisa setenar sekarang ini. Tapi yg bernasib baik seperti Tukul (wajah ndeso rejeki kota...ini kata Tukul)...jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari. Bagi saya tulisan dan wawasan mbak dalam blog ini jauh lebih cantik dan menggairahkan daripada memandangi wajah2 cantik di majalah yg isinya sering gak bermutu. Saya link di blog saya boleh ya mbak? Terima kasih :)
mpokb
May 7, 2008   03:01 PM PDT
 
nggak beres ya, pemisahan terminal (seperti terminal haji kan juga dipisahin..?) yg mestinya memudahkan malah jadi lahan pemerasan. terlepas dari itu, biarpun disangkal seperti apa pun, manusia memang nggak bisa buta terhadap kelas dan kasta, niel...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry


me:
female, Indonesian
geologist, diver
bookworm
photography hobbyist
Jakartan
lives in Singapore







Travel Photo Album



Book Collection



All About Diving



Movie Page


All About Dog




kotak sapaan:



   






Home


Previous Entries

  • About Books and Films
  • From Diving Trips
  • Travel Notes

  • Sepakbola! Ole Ole Ole!
  • Gempa, Tsunami & Bencana Geologi

  • Tentang Jomblo, Jodoh & Perempuan
  • Tentang Bangsaku
  • Saat Merenung....

  • Keluarga, Teman & Hidup Sehari-hari
  • About Dogs and Puppies
  • Di Negeri Orang

  • Dunia Kerja
  • My Offshore Life

  • Kala hati bicara....


  • Written in English





    'Neighbours'

    Bule Irish
    All About Chocolate
    Krisna
    erwin@terong
    Dongeng Geologi
    Ekonomi Migas
    Indonesia Today
    Bataviase Nouvelles
    Planet Singapura
    Mimbarnya Pak Mimbar
    A Little Bit of Everything
    Beritakan
    Lamunan Sejenak
    Busy Brain
    Di Suatu Hari
    Warung Kopi MpokB
    Razar Media
    Irene's Journeys
    Carpe Dieblog
    Mi Familia
    Deedee's World
    Mia's Lounge
    Qeong Ungu

    'Lounges and Coffee Shops'

    Kapal Selam Underwater Photography
    Kapal Selam Dive Club
    AREK KAJ
    Sahabat Museum
    Sahabat Museum @ Friendster






    Old Musings & Stories


    Dive Notes
    Balinese Underwater Monster
    Butterfly & Layang Layang
    Underwater Countdown
    My First Mola mola
    Mola mola
    Tergila-gila Pada Kehidupan Bawah Air
    Sanghyang, Where Underwater Deities Dwell
    Tentang Penyu
    Life Wins
    Bumi Berguncang Lagi
    Not Just A Shark Tale
    Dari Dasar Laut
    Dari Dasar Kolam


    Travel Notes
    Di Tanah Kering Bebatuan
    Minus
    Beijing
    The Moon Over Alton
    The Way To Travel
    A Rainy Day in Ambon
    The Irish Experience
    Bukan Hantu
    Kota Bata Merah
    Tentang Penyu
    Kampungku Indah
    Persembahan Untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Plesiran Tempo Doeloe
    Mandi Ditemani Pelangi
    Kalau Ingin Menyepi...
    Barcelona
    Coretan Musim Semi: 10. Akhir
    Coretan Musim Semi: 9. Menang
    Coretan Musim Semi: 8. Romansa
    Coretan Musim Semi: 7. Hantu
    Coretan Musim Semi: 6. Sacre Triduum
    Coretan Musim Semi: 5. Granit
    Coretan Musim Semi: 4. Pulau
    Coretan Musim Semi: 3. Matahari
    Coretan Musim Semi: 2. Hujan
    Coretan Musim Semi: 1. Semi
    Monument Valley
    Grand Canyon
    Kisah Musim Dingin: 11. Business Class
    Kisah Musim Dingin: 10. London
    Kisah Musim Dingin: 9. York
    Kisah Musim Dingin: 8. Salju
    Kisah Musim Dingin: 7. Aberdeen lagi
    Kisah Musim Dingin: 6. Edinburgh
    Kisah Musim Dingin: 5. Aberdeen
    Kisah Musim Dingin: 4. Ke Utara
    Kisah Musim Dingin: 3. The Field Trip
    Kisah Musim Dingin: 2. Derbyshire
    Kisah Musim Dingin: 1. London
    from the Peninsula: 17. An enlightening trip
    from the Peninsula: 16. War and other things
    from the Peninsula: 15. Back in Singapore
    from the Peninsula: 14. A night on the bus
    from the Peninsula: 13. Back to Malaysia
    from the Peninsula: 12. The City of Angels
    from the Peninsula: 11. Palaces & Dead Soldiers
    from the Peninsula: 10. the train journey
    from the Peninsula: 9. About Penang
    from the Peninsula: 8. The Drive around Penang
    from the Peninsula: 7. About KL
    from the Peninsula: 6. About Malaka
    from the Peninsula: 5. in old Malaka
    from the Peninsula: 4. Green Singapore
    from the Peninsula: 3. About Museums
    from the Peninsula: 2. the amazing Singapore
    from the Peninsula: 1. my 1st trip abroad
    White beaches, Coconut trees, Gorgeous sunset
    Wild Whirling Wet WhiteWater Adventure!
    Gunung Gede


    Book and Film Reviews
    Bobby
    Babel
    What The [Bleep] Was That?
    Joining The Throng - The Book Baton
    Manusia Kesepian
    Horor
    Mencari Tuhan
    The Last Samurai
    Coretan Musim Semi 7: Hantu


    Kisah-Kisah Bumi
    Negeri Bencana
    Dongeng Tukang Akik Tentang Gempa
    Bukan Supranatural
    Bumi Berguncang Lagi
    Sekilas Tentang Gempa dan Tsunami


    About Dogs and Puppies
    Home is Where the Heart is
    The Hunter
    The Little Dog and The Sea
    No Puppies for Chocolate
    All Dogs Go to Heaven
    Aku Jatuh Cinta


    Football!
    16 Besar
    Tangguh
    Bola Lagi
    The Underdog
    Euro 2004: Lebih baik menyerang
    Euro 2004: Non Partisan
    Euro 2004: Bukan Dongeng Yunani
    Euro 2004: Kursi Panas


    Tentang Perempuan
    Hari Perempuan
    Bencana
    Kartini
    Jodoh
    Sekuhara
    Katakan Aku Cantik
    24
    Dark Energy
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Lagi-Lagi Tentang Diskriminasi
    Perempuan dan Lelaki
    Bahagia Menurut Para Ilmuwan
    Si Lajang
    The Last Samurai
    My Frist Shalwar Khameez


    Tentang Bangsaku
    Negeri Bencana
    Jakarta, The Next Atlantis
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Berebut Cepu
    Milik Siapa?
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    Anak Yang Hilang
    A Dark Cloud Over Bali
    Manusia Kesepian
    Bukan Anak-Anak Yang Salah
    Masih tentang Sopan Santun
    Sopan Santun
    Lampu Hazard
    Macet!!
    Pisang
    SMOS SMOS
    Kampungku Indah
    A Thirst for Knowledge
    Berita dari Aceh
    Bumi Berguncang Lagi
    Ini Bagian dari Kita Juga
    Persembahan untuk Para Sahabat
    Lawang Sewu dan Fullerton, Semarang dan Malaka
    Tanah dan Air
    Pemilu di Kampungku
    TKI vs TKF
    Pemilu yang Membingungkan
    Plesiran Tempo Doeloe
    Orang Indonesia belum layak punya kebun binatang!
    Kalau Ingin Menyepi....
    Sekali Lagi....
    Sesaat
    Damai
    Dunia Yang Marah


    Work Work Work
    Marah
    Belajar Sabar
    Thank you, SQ
    Minus
    Beijing
    Cosmopolitan
    The Way To Travel
    Topi Sombrero
    A Block in The Blog
    Anak Yang Hilang
    To Jump or Not To Jump
    Mencari Tantangan
    A Thirst For Knowledge
    A Prison In the Middle of The Sea
    Lagi-lagi Tentang Diskriminasi
    Tentang Kerja Fisik
    Graveyard Shift
    Tentang Ruang Pribadi
    Tanah dan Air
    Perempuan dan Lelaki
    My Frist Shalwar Khameez
    Mandi Ditemani Pelangi
    One Usual Grey Afternoon
    Yang Terbaik
    Ketidakpastian
    Comfortable With Uncertainty
    Sunsparc or Sunflower
    Exciting!
    Sudah Tertawa Lagi
    Marah
    Sepi
    Tidur
    Capek
    Masih Tentang Kehidupan di Rig
    Serba-serbi hidup di rig...
    Bad Day
    Sebelum drilling dimulai
    Pride Pennsylvania
    Takut
    Pasca Kebakaran
    Kebakaran!


    Home Away From Home
    Hot Whiskey
    Miskin
    Jauh
    Cosmopolitan
    Balada Si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Rumah Hantu
    Indo? Indon? Indonesa? Indonesia?
    A Block in The Blog
    The Kuatir
    Tidak Sendiri
    Nostalgia
    Berubah
    Bukan Hantu
    My First Shalwar Khameez
    Masih tentang Pakistan
    Sekelumit Tentang Pakistan dan Islamabad
    Assalamualaikum & Shukriya
    Jenggot
    One year Flew By...
    Setahun Berlalu Bagai Angin....
    Sepi
    Temptations
    Hari Ini Dunia Tiba-Tiba Berwarna
    Lent
    Dingin Tapi Sehat
    Hartland-Kilve Field Trip
    Masih Miskin, dan lain-lain
    Mahasiswa Miskin
    Jadi Mahasiswa Lagi
    Dari Kampus
    Terdampar...
    Tragedi



    Family and Friends....
    Untuk Pak Ton
    Home is Where the Heart is
    Juara
    Kopdar
    Hot Whiskey
    Jauh
    All Dogs Go To Heaven
    Cinta Jilid 1
    Potongan
    Natal Di Kampungku
    Aku Jatuh Cinta
    Balada si Dengkul
    Kempes
    Bencana
    Menunggu
    Kartini
    Rumah Hantu
    Kuatir
    Tidak Sendiri
    Jodoh
    Sekuhara
    Melindas (Flu) Burung
    Tanpa Listrik
    24
    Dengkulku Somplak
    Dark Energy
    Pisang
    Jetlag
    Oret-Oret Seputaran Valentine
    Masih Banyak Lagi
    Si Lajang
    Pemilu di Kampungku
    The Last Samurai
    Mandi Ditemani Pelangi
    Bukan Kacang....
    Setahun Berlalu Bagai Angin......
    One Usual Grey Afternoon
    Dunia Itu Memang Kadang Sempit
    Pagi Setelah Wanarek
    Duka










  • 2000 Koeniel


    Contact Me


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


    since 25 March 2006
    rss feed

    Blogdrive





    You can copy or forward these writings, but please mention the source and provide the link to this page

    Silakan mengkopi tulisan-tulisan ini tapi sertakan sumbernya dan link ke halaman ini
    http://my-musings.blogdrive.com








    Clip arts courtesy of Barb's Pic, Barry's Clipart and Microsoft Office Clipart Gallery






















    My Favourite Films:












    CURRENT MOON