Hari ini saya sedang sial. Eh, bisa dilihat sial bisa dilihat untung sih. Ceritanya begini. Saya dan seorang kolega mendadak diminta ke Jakarta oleh seorang klien untuk mengevaluasi secara teknis dan ekonomis sebuah aset minyak dan gas yang mau mereka beli. Ternyata sesampainya di Jakarta kami baru tahu bahwa si pemilik aset merasa belum siap membuka data-datanya. Akibatnya kami jadi setengah menganggur. Loh kok bisa urusan jutaan dolar begini tidak terorganisasinya. Ya bisa saja. Sekarang ini di Indonesia banyak “pemain baru”, kelompok-kelompok yang punya duit lebih yang kepingin ikut menikmati rejeki emas hitam alias minyak yang harganya menjulang tinggi ini, seringkali tanpa punya gambaran jelas bagaimana bisnis minyak, terutama dari sisi teknis, dijalankan.
Dari satu sisi ini untung karena saya jadi bisa berada di Jakarta gratis, bertemu dengan keluarga, makan makanan Indonesia yang enak-enak dan seterusnya, tanpa harus bekerja terlalu keras. Di sisi lain sial karena saya hari ini jadi terkatung-katung tidak punya kantor atau tempat untuk bekerja, padahal proyek-proyek lain masih banyak yang harus dikerjakan juga.
Akhirnya yang saya lakukan adalah membuka ‘kantor’ di sudut sebuah jaringan warung kopi internasional. Di sini saya membuka laptop, menyambungkan modem yang berisi sebuah sim card yang bisa menghubungkan komputer saya dengan jaringan 3.5G, dan mulailah saya berhubungan dengan kolega-kolega di kantor. Sesekali imil dan telepon berdering. Dan pekerjaan pun bisa dilaksanakan dengan lancar tanpa saya harus duduk di kantor saya, dan saya bisa bekerja sembari menyeruput minuman dan mengunyah penganan yang enak tapi berkalori tinggi. Dan ah ya, saya bisa ‘beristirahat’ sewaktu-waktu dari bekerja untuk mengisi blog saya seperti ini (oke, oke, ini namanya korupsi waktu kerja, tapi saya toh tidak akan mengklaim waktu setengah jam yang saya buang untuk kegiatan personal ini sebagai waktu kerja – ini namanya bekerja dengan flexible hour hehehe...)
Dari dulu saya memang penggemar teknologi. Bagaimana tidak, sebagian besar masa pacaran, dari dulu hingga sekarang, hampir selalu saya jalani dengan jarak jauh. Makanya teknologi tinggi jadi penting. Mulai dari sekedar telepon, sms, imil, chatting. Di tas laptop saya selalu ada web camera kecil, yang bisa kami pakai untuk saling memandang kalau kangen.
Kolega saya sering terkesima kalau melihat berbagai gadget dan pernak-pernik elektrik yang ada di tas komputer saya. Mereka pikir saya ini canggih sekali. Padahal tidak juga, banyak istilah-istilah aneh yang sering dipakai anak-anak muda jaman sekarang, atau teman-teman IT yang saya tidak mengerti. Tapi teknologi yang penting dipakai untuk berkomunikasi jarak jauh selalu saya coba ikuti. Supaya komunikasi dengan kekasih saya tetap lancar, saya memang tidak boleh terlalu gaptek. Efek sampingnya ya begini ini, saya bisa buka kantor di mana saja tanpa kesulitan, tidak seperti kolega lain yang harus memanfaatkan fasilitas business centre di hotel.
Eh, tapi hari ini saya tidak perlu memakai teknologi tinggi buat memandang wajah kekasih saya. Bisa langsung!
Jakarta, 10 Juni 2008