Dua tahun yang lalu aku menulis tentang jodoh. Di situ kubilang tadinya kukira istilah jodoh itu terjemahan dari soulmate. Ternyata bukan. Terjemahan soulmate adalah belahan jiwa, dan jodoh adalah belahan jiwa plus plus. Plus plus di sini adalah perkawinan. Kubilang waktu itu kukira aku sudah menemukan jodohku tapi ternyata belum. Aku sudah menemukan belahan jiwaku, tapi dia bukan jodohku karena dalam lingkup kultur Indonesia ada syarat lain - ikatan perkawinan. Karena itu waktu itu lalu kubilang aku tidak ingin mencari jodoh, aku sudah cukup bahagia dengan belahan jiwaku.
Bukan hal yang gampang karena keputusan itu jelas bertentangan dengan norma dan kultur sekitar. Sampai bosan kami mendengar pertanyaan, "Apa lagi sih yang kalian tunggu?" Mau marah nggak sih, mendengar pertanyaan seperti itu dari orang-orang yang tidak mengerti persoalan yang kami hadapi. Seringkali untuk gampangnya aku pura-pura tidak punya pacar saja. Pura-pura jomblo, lebih gampang.
Tapi aku tidak bisa menipu teman-teman dekat, apalagi mereka tahu ada banyak masalah-masalah lain yang dulu kami hadapi, badai-badai yang membuat hubungan kami naik-turun dan putus-sambung, tapi akhirnya sudah kami selesaikan. Makanya kepada mereka kujelaskan masalah terakhir yang kami hadapi - alasan kenapa kami tidak bisa menikah juga. "Karena menurut Gereja Katolik dia masih menikah." Kepada teman-temanku yang melongo itu kujelaskan bahwa kekasihku pernah saling menerimakan sakramen perkawinan dengan seorang perempuan yang dulu dikasihinya. Mereka sudah bercerai secara hukum tapi di Gereja Katolik tidak ada istilah cerai, dan dia tidak bisa menikah lagi.
"Tapi kan ada annulment Nyil?"
"Kasusnya gak bisa di-nullify, gak ada alasan."
"Bikin-bikin gak bisa ya?"
"Gila lu, emangnya pengadilan kita, bisa dibikin-bikin. Ini Gereja bok. Lagian buat apa si bo'ong. Mo nyari berkah kok pake cara nggak bener. Ya sama aja gak dapet berkahlah."
"Lho lha kalian nikah sipil aja toh."
"Yeeee... kalo bisa begitu mah udah dari kemaren-kemaren bok. Di Indonesia tuh nggak ada nikah sipil, adanya pencatatan. Nikahnya musti tetap secara agama."
"Oh gitu. Ya wis nikah di greja lain aja Nyil, kayak Katon."
"Yah itu mah namanya cuman formalitas, memperalat gereja. Gak lah."
"Nunggu mantannya mati Nyil? Atau pake pembunuh bayaran aja."
"Hehehehe... iya ya. Udah pendosa ini, sekalian aja lebih berdosa lagi hihihi... Tapi males juga kan kalo ketangkep terus dipenjara."
"Iya, brarti lu ma dia kan berdosa banget Nyil, nurut Gereja Katolik. Uda kepikiran gitu?"
"Ya udah si. Ya berat si....... Gak tau gue mau bilang apa. Dosa mana ya klo gue njalanin ini sama klo gue jadi orang miserable."
"Ortulo bilang apa?"
"Ya sedih pastilah."
"Yah, susah dong. Lu ganti cowok aja Nyil."
"Gilalu, kalo mo ganti cowok mah dari dulu-dulu aja. Repot-repot gue jabanin bertahun-tahun mosok sekarang gue lepas. Gak bisa say, gue udeh cinta mati ama yang satu ini. Lu tau sendiri brapa kali gue pacaran, tunangan, putus-sambung. Yang ini yang paling bisa bertahan je."
"Kok lu yakin dia bakal setia ama lu. Istrinya aja dia tinggal."
"Ya gak tau juga sih. Tapi pertanyaannya bisa dibalik, kok dia yakin gue bakal setia ama dia. Udah brapa kali gue gak setia ama tunangan-tunangan gue dulu?"
"Iya ya, kok klean berdua bisa yakin gitu loh, yang ini yang terakhir."
Bagaimana pernah yakin? Tapi kupikir cinta kami saat ini cukup kuat, kami berdua bukan cuma kekasih tapi juga sahabat. Kami bisa saling menerima apa adanya, saling tahu kelemahan-kelemahan kami, dan tidak merasa perlu mengubah si pasangan. Karena dia yang bisa menenangkan gejolak-gejolak jiwaku, yang bisa membuat aku tidak ingin berpaling lagi. Karena aku merasa dia belahan jiwaku.
Waktu berlalu dan akhirnya semua menerima bahwa betul si bandel ini sudah menemukan belahan jiwanya. Mungkin orang tuaku juga sudah putus asa, karena umurku makin bertambah-tambah. Kata Bapakku waktu kekasihku menghadap dan melamarku, sebetulnya beliau tidak setuju karena menurut Gereja Katolik dia masih menikah. Tapi kalau memang cinta kami sedemikian besar, apa boleh buat. Dulu Yakub juga merebut berkah dan hak kesulungan dengan menipu dan berbuat curang, tapi dari keturunannya bisa lahir Sang Penyelamat. Siapa tahu walaupun perkawinan kami tidak sepenuhnya menurut 'jalan yang benar' suatu saat bisa membawa berkah. Yah Pak, paling tidak berkahnya adalah membuatku bahagia, kataku. Beliau cuma tersenyum sedih. Tapi lalu diambilnya kamera dan diberikan padaku lalu dimintanya kekasihku untuk berdiri diantaranya dan ibu. Ah, berarti beliau menerima kekasihku jadi bagian keluarga. Sambil memotret mereka sebetulnya air mataku hampir menitik, ah Bapak dan Ibuku yang baik hati itu.......
Begitulah akhir cerita masa pacaran kami yang penuh liku, maju mundur, putus sambung, yang hampir selalu dijalani berjauhan jarak, yang dibumbui dengan tubrukan antar budaya, yang dibebani dengan sisa-sisa masa lalu. Seperti dalam dongeng tadi pagi kami bergandengan tangan mengucap janji. Sayangnya memang tidak ada adegan berjalan di dalam gereja menuju ke altar. Janji saling setia kami – dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, dalam susah dan senang, dalam kaya dan miskin - 'hanya' diucapkan di muka seorang petugas catatan sipil Singapura, dua orang dekat yang jadi saksi, dan di muka orang-orang yang kami cintai. Apakah ini hubungan yang tidak diberkati? Entahlah, mungkin memang tidak.Bisakah kami melangkah tanpa Berkat? Entah. Tapi yang jelas orang-orang yang kucintai ada di sini, menguatkan.
Di depan mereka dia memasangkan sebuah cincin di jari manis kiriku. Bukan seperti yang lalu yang bermata berlian, yang ini bundar polos. Katanya melambangkan ikatan yang tak terputuskan. Kupasangkan juga cincin yang serupa di jarinya. Semoga harapan itu tercapai - tak terputuskan sampai mati. Hari ini diriku terasa lengkap lagi. Jari manis kiri yang terasa kosong dan ringan semalam karena tidak lagi dilingkari cincin tunangan, sekarang sudah terasa normal lagi. Semoga, kalau memang benar dia jodohku, semoga belahan jiwaku ini akan menemaniku sepanjang hidup.